
Jangan lupa bayar cerita ini dengan cara kumpulin poin buat VOTE ya ke Anta. terima kasih...
******
Selesai dari menyantap nasi goreng, Arga dan Arya mengantar Mey dan Anta untuk pulang menuju Apartemen Emas.
"Elo naik apa ke sini tadi?" tanya Arga pada Arya.
"Gue naik taxi, elo naik apa?" Arya bertanya balik.
Arga mengarahkan sebuah kunci mobil untuk mematikan tanda alarm mobilnya. Sebuah pajero warna hitam terparkir di halaman apartemen.
"Uwuuu, Arga udah bisa bawa mobil," puji Anta.
"Memangnya elo punya SIM?" tanya Arya.
"Gue kan udah tujuh belas tahun, jadi gue udah punya SIM," jawab Arga.
"Aduh, buruan yuk, Nta, perut aku mules," ucap Mey.
"Kamu duluan aja, Anta mau lihat mobil Arga dulu," ucap Anta.
"Ya udah kalau gitu, aku duluan, ya," ucap Mey yang buru-buru melangkah menuju lift.
"Matre banget, luh, baru lihat mobil gitu aja udah girang," ucap Arya menarik rambut Anta.
"Awww! Sakit tau! Bukan gitu, maksud Anta kan kebenaran Mey duluan ke atas jadi Anta mau ngenalin Arga sama Dion," jawab Anta menepuk bahu Arya dengan keras.
"Duh, nih cewek pukulannya bikin panas juga," batin Arya sambil mengusap bahunya.
"Ya udah, kita ke mobil gue aja, gimana?" ajak Arga.
"Boleh, yuk!"
Anta melangkah sambil melompat-lompat kecil menuju mobil Arga.
"Gemesin banget si Anta," ucap Arga.
"Apa elo bilang? Cewek petakilan gitu gemesin, picek mata elo!" sahut Arya.
"Yakin gue, dalam hati elo tuh juga suka sama Anta, iya, kan?" terus Arga melirik tajam ke arah Arya.
"Juga suka, berarti elo suka sama Anta?" gantian Arya melirik tajam.
"Iya, gue suka sama Anta, dari dulu."
Arga melangkah mendahului Arya, ia membiarkan pemuda di belakangnya itu bersungut-sungut kesal.
Anta memanggil sosok Dion yang sudah berdiri di sampingnya. Gadis itu memperkenalkan pemuda di sampingnya pada Arga.
"Ini siapa, kenapa bisa lihat aku?" tanya Dion.
"Ini Arga, dia temen Anta, dari kecil juga udah bisa lihat yang enggak kelihatan kayak Anta lihat hantu, gitu," jawab Anta.
Arga mengulurkan tangannya pada Dion yang disambut hangat oleh anak muda itu.
"Tuh kan bener, gantengan ini sama Arya," ucap Arga mencibir Arya.
"Apa elo bilang, nih ya gue berharap kalau gue bisa jadi manusia lagi dengan tampang gue sendiri gue bakal buktiin kalau gue lebih ganteng dari kalian," ucap Arya yang langsung memiting leher Arga dengan kesal.
"Tuh kan, buktinya sekarang tinggi elo sama ama gue, coba kalau pakai badan elo sendiri mana nyampe elo ke leher gue gini," ucap Arga seraya melepas tangan Arya dari lehernya.
Arga langsung menekuk tangan anak muda itu ke belakang punggung Arya sendiri.
"Aw... sakit, Ga!" pekik Arya.
"Temen kamu pada kocak ya," ucap Dion tersenyum pada Anta.
Ia melihat sehelai daun jatuh di atas rambut gadis itu dan langsung meraihnya serta membersihkannya. Arga dan Arya melihat perlakuan manis Dion tersebut pada Anta. Mereka langsung melepas diri satu sama lain. Keduanya menghampiri dan mendorong tubuh Dion menjauh dari Anta.
"Pada kenapa, sih?" tanya Dion tak mengerti.
"Awas, ya pegang-pegang Anta lagi," ancam Arga.
Sementara Arya hanya menatap Dion dengan tajam penuh ancaman juga.
"Pada kenapa sih, cuma bersihin rambut Anta doang dari daun, kok, pada sewot gitu?" tanya Anta.
Belum juga Arga dan Arya menjawab terlihat mobil Pak Herdi terparkir di samping mobil Arga. Arya langsung diam seribu bahasa dan ingin memeluk sang ayah kala pria itu ke luar dari dalam mobilnya.
"Ayah..." Arya langsung memeluk Pak Herdi.
"Eh, kamu siapa?" tanya Pak Herdi dengan raut wajah bingung sambil menatap ke arah Anta.
"Ayah, ini Arya," ucap Arya.
Anta datang mendekat dan menganggukan kepalanya.
Anta menceritakan kondisi Arya yang terjebak di dalam tubuh Dion itu. Seketika itu juga Pak Herdi langsung menarik sosok Arya dalam tubuh Dion itu dan memeluknya kembali.
"Ayah pikir kamu marah sama Ayah, soalnya kamu enggak pernah datang ke rumah lagi," ucap Pak Herdi yang tak bisa menahan linangan air matanya.
"Masalahnya, aku emang udah enggak bisa masuk rumah Ayah, karena Tante Hyena sudah memberi pagar gaib di sana," ucap Arya.
Pak Herdi mengajak Arya untuk kembali pulang meski dalam tubuh Dion tapi anaknya itu menolak. Ia menceritakan kejadian malam itu, kejadian saat Hyena mengaku mengendalikan Pak Herdi dan tergabung dengan suku Ro sebagai penyembah iblis Ro yang sesat.
Bila Hyena tau kalau Arya ada dalam tubuh Dion, maka ia yakin wanita jahat itu akan mengincar tubuh Dion. Oleh karena itu, Arya akan tetap berada di rumah Dion.
Sebenarnya Pak Herdi percaya dengan penuturan Arya, tapi memang dia merasa dirinya terkadang dikendalikan oleh Hyena dan membuatnya tak dapat menolak.
"Hentikan pernikahan Ayah besok!" pinta Arya.
"Ayah, Ayah enggak bisa, Nak," jawab Pak Herdi.
"Ayah pasti bisa menolak Tante Hyena, aku enggak mau punya ibu tiri seperti itu," ucap Arya.
"Ayah enggak bisa, tidakkah kamu berpikir kalau memang dia anggota sekte sesat itu jika besok pernikahan kami gagal karena Ayah enggak mau menikah dengannya, mungkin saja ada yang dia korbankan karena kekecewaannya pada Ayah, dan Ayah enggak mau hal itu menimpa pada orang-orang di sekitar Ayah," tutur pria itu menjelaskan.
Arga teringat masa kecilnya saat ditolong sosok Pak Herdi masa lalu dari suku Ro. Ia juga menjelaskan pada Arya bagaimana kejamnya suku tersebut dan bagaimana mengerikannya sosok iblis Ro jika berhasil di panggil ke dunia ini kembali.
"Tapi, Yah..." pinta Arya.
"Biarkanlah Ayah seperti boneka yang dikendalikan Hyena, asal Ayah bisa ketemu terus sama kamu dan melihat orang-orang di sekitar Ayah baik-baik saja," ucapnya.
Malam itu, Arya dan ayahnya berpisah. Pak Herdi masuk ke dalam apartemen bersama Anta. Sementara Arya pulang diantar oleh Arga bersama Dion.
Anta tau hati pria di sampingnya itu sangat terluka karena harus menjalani pernikahan paksa esok hari. Pak Herdi terlihat menahan tangisnya saat berada di dalam lift. Gadis itu berpikir keras seandainya ia punya rencana untuk menggagalkan pernikahan pria itu, tapi ia belum menemukan idenya.
"Saya duluan ya, Nta, kamu bisa sendiri, kan?" tanya Pak Herdi saat tiba di lantai sepuluh.
"Bisa, tenang aja, dah Om Herdi," ucap Anta menutup pintu lift seraya tersenyum.
Sosok Nenek Tua tiba-tiba muncul melayang mendekati tubuh belakang Anta. Wajahnya pucat dengan mata warna hitam. Terlihat bekas luka dikepala dengan darah mengering sampai ke pelipis. Sosok hantu itu mencoba menempel pada kaki Anta. Dia berbisik dan mengembuskan udara di leher belakang gadis itu untuk membuat takut.
"Ehem, ehem, hantu baru ya di sini?" tanya Anta.
"Kok tau, cucu bisa lihat Nenek?" tanyanya terkejut saat tau gadis itu dapat melihatnya.
"Hai, Nenek, sejak kapan sampai sini?" tanya Anta.
"Sejak tadi sore, Nenek ngikutin cucu Nenek, si Yoga."
"Oh, Pak Yoga yang satpam baru?" terka Anta.
"Iya, dia satpam, kamu kenal?"
"Kenal."
"Kalau begitu, Nenek bisa minta tolong sama kamu buat sampaikan pesan Nenek?" tanya hantu paruh baya itu.
"Bisa, sih. Tapi, besok aja ya, Nek. Sekarang Anta ngantuk udah malam," ucap Anta yang ke luar dari lift saat tiba di lantai apartemen tempat ia tinggal.
"Baiklah, Nenek tunggu besok, ya."
Anta melambaikan tangannya pada hantu Nenek itu.
***
Pagi-pagi sekali Arya datang ke Apartemen Emas menggunakan taxi online. Hari itu adalah hari pernikahan ayahnya dan Hyena. Tapi, bulan rumah ayahnya yang ia ketuk melainkan rumah Mama Dewi.
"Kamu siapa, ya?" tanya Mama Dewi saat membuka pintu rumahnya.
"Saya—"
"Kak Arya, ngapain pagi-pagi ke sini?" tanya Raja yang muncul dari belakang.
"A-Arya?"
*******
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni
Dan mampir juga ke novelku lainnya.