Anta's Diary

Anta's Diary
BBQ Party (Part 2)



Happy Reading...


*****


"Anta enggak apa-apa, kan?" tanya Dion.


"Udah sana, ini urusan gue!" sahut Arya.


"Udah deh jangan pada ribut, Anta kesel tau dengernya, ini kaki Anta juga udah mendingan. Makan dulu aja yuk!" ajak Anta.


Mereka yang ada di kolam renang lantas naik ke permukaan. Mereka lalu menyantap makanan yang sudah di sediakan. Ria datang membawa sebuah kado untuk Dion.


"Ini, buat Abang."


"Apa ini?" tanya Dion.


"Buka aja."


Dion membuka kotak bingkisan yang berisi tas ransel keluaran brand terbaru dan juga model terbaru.


"Ya ampun Ria, ini tuh bagus banget, makasih ya Dek."


"Sama-sama, aku mau Abang inget sama aku terus pas kuliah di sana," ucap Ria.


"Wah, Anta enggak bawa hadiah buat kenang-kenangan, nanti ya pas acara di restoran Papa Andri," ucap Anta.


"Hati kamu itu aja buat aku, itu bakal aku jaga terus dan bikin aku semangat menjalani hidup di sana, Nta."


"Cie... abang Dion," goda Ria.


"Woi, elo enggak mikir ya, kalau hati si Anta elo ambil ya dia bisa mati dong kaga punya hati, ya enggak, Ga? Kaga belajar IPA kali ya di sekolah," sahut Arya.


"Sumpah elu garing!" sahut Arga yang enggan membela Arya kala itu.


"Udah sih jangan ribut terus, kita ambil foto bersama aja, Yuk!" ajak Ria. Ia meraih kamera miliknya dari kamar.


Ria langsung menangkap gambar tingkah-tingkah pada kawannya di tepi kolam itu. Sampai sesuatu mengganggunya kala itu.


"Gais, lihat deh!" ucap Ria seraya menunjukkan gambar di kertas polaroid itu.


Di gambar itu terlihat Raja sedang bermain bola voli dengan hantu pengamen tadi.


"Kalian ke sini bawa hantu, ya?" tanya Ria.


"Ummm... ya gitu deh, maaf ya dia tadi korban kecelakaan gitu minta dicari tau siapa yang udah nabrak," sahut Anta.


"Lagian si Arga yang salah," sahut Arya seraya meraih sosis di hadapan Anta. Sosis yang sama yang hendak Anta ambil.


Tatapan gadis itu langsung sinis kala ia kalah cepat mengambil sosis itu dari Arya.


"Kenapa Arga bisa salah?" tanya Ria.


"Tadi aku bohongin dia kalau ada kamtib yang ngejar dia, terus dia lari. Nah, saat dia lari itu kayaknya dia ketabrak," ucap Arga merasa bersalah.


"Ya itu mah bukan salah kamu, itu takdir, Ga. Udah jangan dipikirin," ucap Ria seraya menenangkan Arga dengan memeluknya.


"Kenapa jadi adegan pelukan gitu, sih?" sahut Arya minumpuk Ria dan Arga dengan irisan mentimun.


"Eh, kenapa ya jadi peluk-peluk gini, maaf ya, Ga," ucap Ria.


"Enggak apa, makasih ya," sahut Arga tampak kikuk dan salah tingkah.


"Iyalah enggak apa, masa iya dipeluk cewek ditolak, cie Ria..." ledek Dion seraya merangkul bahu Arya.


"Yoi, Bro. Pasti keduanya udah pada demen nih," sahut Arya menimpali.


Anta yang tersadar dengan keakraban Dion dan Arya langsung menangkap gambar kedua pemuda itu.


"Ngapain luh foto diem-diem gitu?" tanya Arya.


"Fotoin kalian, habisnya akrab banget," sahut Anta.


Dion dan Arya lalu tersadar dan langsung menjauh seketika.


"Idih, ngapain luh pegang-pegang gue?" Arya sekolah mengusap bahunya dari kotoran.


"Yee namanya juga reflek, kalau gue sadar juga ogah gue pegang elo, najis!"


Kedua pemuda itu makin ribut. Dion dan Arya saling adu mulut dan malah membuat Anta terus menangkap gambar keduanya. Sementara itu, Arga dan Ria terlihat bertatapan dan saling malu-malu.


"Kamu mau steak yang ini enggak?" tanya Ria.


"Boleh, sama kentang goreng enak kali ya," sahut Arga.


Keduanya langsung meraih kentang goreng secara bersamaan dan tak sengaja kedua tangan mereka bersentuhan. Kedua mata Arga dan Ria saling bertatapan dan tersipu malu.


"Hmmm... tetetetew... emang aneh ya anak remaja sekarang, mau pacaran aja banyak gengsi banyak drama pakai malu-malu bukannya langsung tembak aja," gumam Raja dari dalam kolam yang menepikan kedua tangannya di ubin tepi kolam itu.


"Gaya banget ih kamu, masih kecil sok-sokan kayak udah ngerti aja, tua luh!" sahut Hantu Yeti yang berada di samping Raja.


"Oh, jangan salah Tante, biarpun Raja kayak gini tapi pikiran aku dewasa, enggak kayak mereka, kalau soal cewek mah beuh... banyak yang antri rebutin aku," sahut Raja dengan nada sombong.


"Idih... bocil somplak! Pasti korban sinetron nih," gumam Hantu Yeti.


***


Siang itu, Dita tertidur di beranda rumah panti asuhan. Padahal ia sedang menunggu paket mesin jahit yang ia pesan tadi pagi. Ia berniat belajar menjahit pakaian bersama Ibu Aiko dan akan menjual hasil karyanya itu nanti.


Dita bermimpi berada di sebuah gua yang bercahaya berwarna ungu. Aroma wangi lavender terhirup sampai hidung. Di tengahnya ada kolam yang terdengar gemericik air yang bersahutan.


Lantas, wanita itu didatangi seorang putri yang memakai pakaian adat khas jawa berwarna ungu. Perlahan tapi pasti sang putri itu mendekat dan membuatnya tersentak. Wajah sosok itu mirip sekali dengannya.


"Si-si-siapa, siapa kau?" Dita memundurkan kedua kakinya sampai terpojok di sudut ruangan yang bernuansa ungu itu.


"Aku adalah dirimu, aku adalah Ratu Kencana Ungu, sudah saatnya aku bangkit dan menetap di dalam tubuhmu."


"Ratu Kencana Ungu?"


"Iya, Anandita Mikhaela. Ada hal buruk yang akan terjadi, yang aku takutkan terjadi dan menimpa Anta putriku, putrimu juga," ucap sang ratu.


"Maksudnya, hal buruk bagaimana?" tanya Dita.


"Aku juga belum tau, hanya saja aura buruk itu makin kuat dan membahayakan," sahutnya.


"Lalu?"


"Lalu kita akan berusaha untuk menjaga Anta, bersama Anan."


"Anan?"


"Iya, Anan. Jodoh kita sampai akhir hayat."


Sosok Ratu Kencana Ungu itu perlahan masuk ke dalam tubuh Dita. Seketika itu juga cuplikan kenangan bersama Anan saat masih dalam bentuk pocong muncul. Perlahan ia melihat gambaran bertemu dengan kembaran Anan yaitu Manan. Lalu, ada cuplikan pernikahan keduanya dan sampai Anan berkorban saat melawan Ibu Aiko dan Ratu Masako.


Dita juga ingat telah melahirkan Anta sendirian. Sampai ia dan Anan berkorban dan menitipkan Raja ke rahim Tante Dewi. Rasa sesak bercampur haru terasa menghimpit wanita itu. Dita langsung tersentak dan terbangun. Ia merasa sesak napas dan langsung lega kala ia tersadar dari mimpinya tadi.


Tiba-tiba, seseorang mengejutkan wanita itu dah melambaikan tangan di hadapan wajahnya.


"Hai, pules amat itu tidurnya sampai ngiler begitu," tegur Anan yang baru saja sampai dan memandangi Dita yang sedang tertidur itu.


Dita langsung memeluk Anan seketika.


"Gue mimpi apaan ya dapat rezeki nomplok nyamperin sendiri kayak gini," lirih Anan.


"Aku inget semuanya, aku inget semuanya," ucap Dita.


"Inget apaan, Ta?" tanya Anan.


"Inget semuanya, inget kamu, inget Anta, inget Raja, semuanya aku ingat," ucap Dita masih memeluk Anan sambil menangis.


"Ceritain sama aku pelan-pelan, aku akan dengerin semuanya tentang ingatan kamu," ucap Anan.


Sore itu keduanya terlibat perbincangan seru. Anan yang tadinya hendak mengajak Dita pergi ke tempat wisata kuliner yang baru itu jadi memilih untuk tetap tinggal mendengarkan semua cerita dari Dita. Sebuah kesempatan emas yang tak akan ia sia-siakan kala itu.


*****


To be continue...


Jangan lupa update Noveltoon biar bisa kasih vote sama hadiah ya. Ayo dong, mana votenya.🥰🥰🥰


Selamat menjalankan ibadah puasa.