
Sebelum baca, jangan lupa di Vote, bayar pakai poin kalian ya. Happy Reading...
******
Iman sedang duduk di teras rumah Ki Romo seraya mengunyah cokelat yang diberikan pria paruh baya itu. Kemudian, anak muda nan tambun itu merasakan pusing di bagian kepalanya. Ia tergeletak di atas kursi panjang yang terbuat dari kayu itu.
"Lho, baru mau dikasih minum udah pingsan duluan," ucap Ki Romo.
Pria itu berusaha membopong tubuh gemuk Iman tapi tak kuasa karena terlalu berat untuknya.
"Makan apa ini anak, ya, berat banget," keluh Ki Romo.
Ia masih mencoba mengangkat tubuh Iman sampai akhirnya ia seret tubuh anak tambun itu dengan menarik kedua tangannya.
"Enggak bakalan bisa naik ke atas meja ini mah, udahlah di sini aja pakai plastik," gumam Ki Romo.
Ia meraih plastik lebar transparan yang digunakan untuk menguliti tubuh Iman. Sebelum itu, ia siapkan segala alat yang dibutuhkan untuk menguliti kulit mulus milik anak muda itu.
***
Anta dan yang lainnya sampai di sebuah rumah yang kemarin dilihat oleh gadis itu. Dia langsung menghentikan langkahnya dan membuat Arga dan Arya juga ikut menghentikan langkahnya.
"Sssttt jangan berisik, kita harus pelan-pelan supaya enggak ketahuan," ucap Anta.
Brug!
Pocong Uli yang sedari tadi melompat sambil mengobrol dengan Ratna sampai tak melihat kalau Arya sudah menghentikan langkahnya. Pocong itu menabrak punggung Arya sampai membuat anak muda itu terjatuh.
"Ihhh... Om Uli gimana, sih?" pekik Arya yang langsung menarik ikatan pocong Uli dan berguling menindih tubuh Pocong itu ala smack down The Rock.
"Ini pada berisik banget, sih, dibilang jangan buat keributan badung banget," keluh Silla seraya memicing tajam.
"Tau, nih, sama pocong aja diajak ribut," sahut Arga.
"Lah, dia duluan yang mulai coba, tuh!" tunjuk Arya.
"Arya, dia pocong, lho, gak takut?" celetuk Anta.
"Terus kenapa memangnya kalau dia po—"
Arya menoleh ke arah Uli yang wajahnya mulai menghitam dan bola mata memerah perlahan-lahan meneteskan cairan darah.
"Gue lupa, maafin gue ya, Om Uli," ucap Arya langsung bangkit dan bersembunyi di belakang Anta.
"Udah sekarang kita sergap dalang kampret itu, Arya sama Silla sama Uli sergap dari depan, aku sama Anta sama mbak yang itu dari pintu belakang, gimana?" tanya Arga.
"Gak bisa, Anta sama gue!" pinta Arya.
"Hayo kita berenam hompimpa yang tiga telapak tangan satu tim yang tiga punggung tangan satu tim," ucap Anta.
"Oke, hompimpa alaium gambreng..."
"Om Uli, ini telapak tangan apa punggung tangan sih, habis warnanya hitam semua?" celetuk Anta sembari mengangkat tangan Uli yang keluar dari ikatan kafannya.
"Ini telapak tangan, Nta, kan udah gue bilang badan gue rada gosong waktu itu," sahut Uli.
Semua yang ada di situ menahan tawa mendengar jawaban dari Uli.
"Oh iya ya, jadi ini telapak tangan. Oke kalau gitu Om Uli sama Anta sama Silla, terus Arga sama Arya sama Mbak Ratna."
"Yakin, Nta, Ki Romo kan cuma lihat kamu doang, gak bisa lihat Silla sama Uli?" tanya Arga.
"Yakin, ayo kita sergap nanti keburu Iman kenapa-kenapa," ucap Anta.
Mereka semua bergegas mengendap-endap menuju rumah Ki Romo. Di dalam sana pria paruh baya itu sudah menyayat kulit Iman di bagian kaki kanannya.
"Duh, dikunci, lewat mana, nih?" Ucap Arga.
"Kita dobrak, gimana?" tanya Arya.
"Berisik dong nantinya," ucap Arga.
Ratna mencolek bahu Arga.
"Kenapa sih, nyolek-nyolek terus dari tadi?" keluh Arga.
"Itu," ucap Ratna yang menunjuk ke arah tiga hantu tanpa kulit itu.
"Aduh, geli banget gue ngeliatnya, macam lagi praktek biologi gitu, mana belatungnya pada cilukba lagi," ucap Arga.
"Ho oh, belatungnya ke luar masuk gitu di kulit mereka yang udah pada busuk, mana bau banget lagi," keluh Arya menutup hidungnya.
"Heh, jangan gitu, mereka mau nolong kalian, tuh!" ucap Ratna.
Klik. Ceklek.
Pintu belakang rumah Ki Romo terbuka. Hantu tersebut yang membuka kunci pintu itu dari dalam. Gelap gulita tak ada cahaya dari dalam rumah tersebut.
"Ga, gelap ini," ucap Arya dengan berbisik.
"Pinjem senter, punya gue batrenya habis," pinta Arga yang meraih senter dari tangan Arya.
Kedua anak muda itu melangkah ke dalam mengendap-endap dengan langkah hati-hati. Arya melihat sebuah kamar yang tiba-tiba terbuka itu. Bau obat pengawet mayat seperti formalin menyeruak menusuk hidung. Lembaran kulit manusia itu menempel di wajah Arga saat ia hendak mengamati sekitarnya.
Tiba-tiba, bagian bokong Arya menabrak sesuatu dan membuatnya hampir berteriak tapi Silla sudah sigap membekap mulut Arya.
"Sssttt gak usah pakai teriak, bisa?" hardik Silla.
"Habisnya gue kaget gue pikir tadi apa taunya bemper tepos si Anta!" seru Arya meskipun suaranya masih berbisik.
Anta menoyor kepala Arya dengan kesal.
"Rese banget mulutnya belum pernah Anta jahit pakai usus manusia nih," ucap Anta.
"Idih, jorok, luh!"
"Heh, udah-udah, ini pada nyadar gak sih gelap banget rumah ini, tapi gak ada si Iman sama Ki Romo," sahut Arga.
"Oh, iya, iya, di mana ya kira-kira si Dalang itu sama Iman?" tanya Anta seraya mengetuk dahinya sendiri.
"Di bawah situ, di balik meja ada pintu menuju ruang bawah tanah," ucap Ratna.
"Ayo, kita ke sana!" ajak Arga.
Ia memulai membuka pintu kayu di balik meja tersebut yang sudah mereka pindahkan perlahan. Mereka menuruni anak tangga tersebut secara beriringan.
"Heh, kalian pada ngapain ke sini! Mau nganter nyawa kalian, ya?"
Suara Ki Romo menggelegar mengejutkan semuanya.
"Lepaskan kawan saya!" teriak Arga menunjuk tubuh Iman yang kulit di kaki kanannya sudah hilang.
Kedua mata Iman menoleh ke arah tiga sekawan itu. Tangisannya bercucuran karena tak bisa menggerakkan badannya yang dalam pengaruh obat bius itu. Tadinya ia sudah pasrah menghadapi kematian, karena mungkin itu cara satu-satunya ia bertemu dengan kedua orang tuanya. Namun, melihat tiga kawannya itu yang dengan sangat berani menyelamatkan dia, keinginan Iman untuk hidup mulai timbul lagi.
Ki Romo mengacungkan pisau bedah di tangannya kepada Arga.
"Hati-hati, Ga, dia lebih jahat dari iblis," ucap Anta.
"Ingat kalung di lehernya, kalau bisa ambil itu agar aku dan para hantu lainnya bisa menyentuh pria jahat itu," ucap Silla.
Anta mengangguk, ia memberanikan diri mendekati Ki Romo sementara Arya dan Arga mengalihkan perhatian dalang jahat itu.
******
Follow IG ku ya @vie_junaeni
Mohon dukungannya, mampir juga ke Novelku lainnya.
- Pocong Tampan
- With Ghost
- 9 Lives
- Kakakku Cinta Pertamaku
- Forced To Love
- Diculik Cinta
Vie Love You All...😘😘😘
Pleaseeeeee Jangan lupa VOTE buat dapatkan GA pulsa 20K tiap bulannya, semangat...!!!