
Happy Reading...
*****
Tiba-tiba mobil sedan berwarna hitam terlihat melintas. Mobil itu mengarah menuju ke dalam sekolah.
"Perasaan kayak pernah lihat itu mobil?" gumam Arga.
Arga dan Anta saling menatap satu sama lain.
"Itu mobil Ibu Kepala Sekolah, kan?" bisik Arga.
"Ah, iya bener, Anta inget. Ngapain ya Ibu Kepala Sekolah ke sini makan-makan?"
"Kita sendiri ngapain ke sini malam-malam gini?" Arga balik bertanya.
"Hehehe iya juga ya, eh bentar apa jangan-jangan tujuan kita sama, menyelidiki para hantu yang terjebak di sekolah ini?" tanya Anta.
"Justru aku curiga kalau dia yang menyebabkan para hantu terjebak di sekolah," ucap Arga.
"Wah, bisa jadi kayaknya bener tuh," sahut Silla.
"Dia emang suka datang ke sini tiap malam jumat tapi Pinki enggak pernah kasih tau soal Ibu itu, katanya dia Ibu Kepala Sekolah tak bisa tersentuh, dan setiap malam jumat selalu masuk ke dalam ruangannya," sahut Yuda.
"Tuh kan, makin curiga sama dia," ucap Arga.
"Gimana caranya kita bisa pergi ke dalam buat tau kegiatan Bu Kepsek?" tanya Anta.
"Kita enggak bisa masuk sekarang karena ada pak satpam. Mana yang berkumis kan galak banget aku malas berhadapan sama dia, tapi kita bisa ada d sekolah pas hari kamis minggu depan. Pas pulang sekolah kita ngumpet, terus nginep di sini, gimana?"
Arga memberi sebuah ide.
"Terus izin ke Tante Tasya gimana, nanti dia marah."
"Hmmm... bilang aja persami."
"Berarti ajak Arya, kalau dia enggak diajak terus dia ngadu kasih tau Tante gimana?"
"Iya besok diajak, sekalian aja ajak sekelas, Nta," ucap Arga dengan memperlihatkan wajah cemberut.
"Enggak ah keramean, dia aja yang Anta ajak," ucap Anta.
Arga makin bersungut-sungut menatap Anta.
"Jadi, sekarang gimana?" tanya Silla.
"Kita pulang, udah malam juga," sahut Arga.
Ketiganya melangkah pulang kecuali Yuda. Ia sudah berada di depan pagar dan memanggil nama Pinki.
"Itu, Kak Yuda ditinggal?" tanya Anta.
"Biar saja, dia kan lagi bucin sama di Pinki," sahut Silla.
Ponsel Anta berdering ketika masuk ke dalam mobil Arga. Dita menghubungi gadis itu rupanya.
"Halo, kenapa Bunda?" tanya Anta.
"Kamu mau ikut enggak bazar besok di pasar malam dekat sini, nanti anak panti mau jualan jus buah sama aneka tas dan dompet hasil rajutan," ucap Dita dari seberang sana.
"Boleh tuh, nanti Anta ajak Raja buat bantu jualan," ucap Anta.
"Ya udah kalau gitu, makasih ya," ucap Dita menutup sambungan telepon nya.
"Aku ikut ya?" pinta Arga yang menguping pembicaraan Anta sedari tadi bersama Dita.
"Idih nguping aja!" seru Anta.
"Kan kedengaran, orang kamu loud speaker."
"Oh, iya ya, ya udah liat besok."
***
Di sebuah kebun yang penuh dengan pohon yang lebat di belakang SMA Satu Jiwa, seorang wanita yang mengenakan mantel kulit sedang mengamati sekolah Anta. Dia berada di dalam mobil jeep hitam. Rambut panjang yang dikepang itu di sampirkannya ke belakang.
"Malam Nyonya Karina," sapa seorang pria yang baru saja datang dan mengetuk jendela mobil wanita itu. Ia memakai pakaian seragam penjaga sekolah.
"Itu Pak Hadi, yang memberi informasi ke pada saya, Nyonya," ucap sopir wanita itu.
Pria itu menganggukkan kepalanya mengiyakan.
"Senang sekali akhirnya saya bisa bertemu dengan Nyonya, ini sekolah yang saya maksud. Saya baru satu bulan bekerja di sini setelah Kakek Wira datang ke mimpi saya dan bilang kalau Nyi Ageng sudah bangkit," ucap Hadi.
"Hmmm... lalu siapa yang menjadi media dari Nyi Ageng?" tanya Karina.
"Sa-saya, saya belum tau Nyonya, masih saya cari," ucap Hadi.
Nyonya Karina turun dari dalam mobil bersama sang sopir. Sopirnya mengeluarkan sesuatu dari bagasi. Sosok singa jantan yang sudah mati tergeletak di dalam bagasi itu. Ia dapatkan hewan itu dari perdagangan gelap.
"Nyonya, ini jadi dibuang di sini?" tanya sopir.
"Ya, ini terserah mau diapakan, tetapi aku butuh kulitnya dan gigi tajamnya untuk kupakai," ucap Karina membelai bulu milik singa itu.
Tuan Hadi bergidik ngeri melihatnya.
"Baik, Nyonya! Akan segera saya laksanakan."
"Kau bantu dia untuk menguliti hewan itu. Ambil jantungnya dan buat persembahan untuk Nyi Ageng, nanti Kakek Wira akan datang padamu dan memberitahukan siapa media yang kita cari," ucap Karina.
"Baik, Nyonya," ucap Hadi seraya menganggukkan kepala mengiyakan.
***
Pada pagi hari, Dita pergi ke pusat penjualan buah. Ia menyewa sebuah mobil pick up. Ide Bu Ari untuk membuat stand penjualan jus buah dan barang kerajinan selama sebulan di pasar malam itu patut diperhitungkan demi pemasukan untuk anak-anak panti.
Tin... tin!
Sebuah mobil pick up berhenti di depan halaman panti.
"Anan? Jadi mobil yang aku sewa itu punya kamu?" tanya Dita.
"Yoi, ayo katanya mau ke pasar buah!" ajak Anan.
Dita lalu masuk ke dalam mobil milik Anan. Entah kenapa ia malah merasa senang jika sopir yang mengantarkannya adalah pria itu. Tadinya dia sempat takut dan akan canggung pergi bersama orang asing yang baru dikenalnya.
"Kamu mau menjual buah-buahan di mana?" tanya Anan.
"Iya, tapi dalam bentuk jus dan puding, nanti juga ada barang kerajinan di pasar malam yang baru buka nanti malam itu," ucap Dita.
"Wah, sama dong, Nenek suruh aku jualan bandeng presto sama pepes di sana. Aku dengar di sana banyak pedagang lain juga."
"Hmmm... bagus dong, jadinya kan bakal banyak yang dateng. Lumayan juga hasil penjualannya bisa membantu keuangan panti asuhan, soalnya tabungan aku mulai menepis dan enggak mungkin juga ngemis-ngemis ke donatur mulu, malu kayaknya, jadi aku harus belajar mandiri dan punya usaha," ucap Dita seraya tersenyum manis pada Anan.
"Suka nih pemikiran cewek kayak gini."
Anan malah fokus memandang wajah Dita sampai ia lupa kalau ia sedang menyetir.
"Anan, awas!" teriak Dita saat Anan hampir saja menabrak seorang wanita pengendara motor.
Anan yang hilang kendali tak sengaja menabrak mobil milik Hartono dan menggores badan mobil milik pria itu.
"Hei, kamu lagi yang nabrak saya, saya ingat banget wajah kamu itu," hardiknya.
"Duh, para banget sih," gumam Anan.
"Baby, kamu sama siapa itu?" tanya Dina.
"Baby, kamu panggil dia baby?" tanya Hartono dengan raut wajah kesal.
"Ummm... maksud saya, duh nanti saya ceritakan deh, Pak," ucap Dina.
Rupanya Pak Hartono sedang bersama dengan Dina. Namun, ada yang membuat Anan dan Dita saking menatap satu sama lain kala pria itu turun dari dalam mobilnya. Sosok menyeramkan yang duduk di kursi belakang itu terlihat mengintip dari dalam mobil ayahnya Ria.
"Anan, itu...."
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni