Anta's Diary

Anta's Diary
Perawatan



Happy Reading...


*****


Pernikahan dipercepat, Nenek Dharma mengalami sakit dan ingin Anan segera menikah. Untungnya segala urusan surat menyurat ke KUA sudah diurus hanya saja pernikahan mereka nanti dilakukan di bawah tangan terlebih dahulu. Sebelum resmi tercatat di catatan sipil.


"Ta, kita nyalon yuk!" ajak Tasya sesampainya di panti asuhan.


"Emang harus ya?"


"Biar kelihatan cling aja biar tambah cemewew gitu," sahut Tasya.


"Anta ikut dong katanya mau lebih cantik dari ujung kepala sampai ujung kaki," ucap Anta yang menunggu di dalam mobil dan muncul di celah jendela mobil.


"Betul itu." Tasya langsung menarik Dita.


"Eh, tunggu aku belum izin sama Ibu Ari sama Ini Aiko," sahut Dita mencoba menahan.


"Ya udah sana cepetan!"


Tak jauh dari seberang panti asuhan ada mobil hitam yang sedang mengintai mobil milik Tasya.


"Ya, elo ngapain sih ngasih gue buat buntutin Anta, jangan terlalu sensitif lah," keluh Arga.


"Beuh, sensitif? Posesif kali!" sahut Raja yang ikut serta duduk di belakang.


"Nah, maksudnya itu."


"Nih ya, kita harus jagain Anta tau sendiri kan si pemilik galeri itu ngincer aku sama Anta," sahut Arya.


"Iya aku tahu, tapi beneran ini kemana-mana harus ngikutin gini?"


"Elo ikhlas enggak nolongin gue?" Arya mencengkeram bahu Arga.


"Iya gue ikhlas, apalagi yang dijalani Anta."


"Eh, perkataan elo barusan bukan berarti masih suka kan sama Anta?" Arya menatap penuh ancaman.


"Kagak Arya, gue udah anggap Anta sebagai adik."


"Bagus!" Arya menepuk pipi Arga seraya tersenyum.


Raja yang sedang bermain game jadi ikut tertawa mendengar kelakuan dua pria di hadapannya ini memperlakukan sang kakak.


"Ayo buruan nanti kita seharian lho di salon!" ajak Tasya.


"Tapi... kalau aku pikir-pikir dan aku ingat, aku belum mandi deh," ucap Dita seraya menggaruk-garuk kepalanya dan mengendus sela ketiaknya.


"Ya ampun... dasar dih, Udahlah mandi di sana aja entar!" seru Tasya.


"Anta jadi kepikiran Mbak salonnya nanti pas pegang Bunda rada asem gitu kali ya."


Dita akhirnya masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kedua mobil tersebut.


"Ta, jangan lupa nanti beli beras ya!" pinta Ibu Ari.


"Oke siap, Bu!" Dita memberi hormat pada wanita itu.


"Dah... hati-hati kalian." Ibu Ari melambaikan jari jemarinya pada mobil yang berlalu pergi itu.


***


Tasya, Dita dan Anta sampai di sebuah salon bernama The Cantiks. Mereka disambut dengan dua orang wanita beautician yang membawa mereka ke ruang tamu.


"Silakan dilihat dulu paket salon yang ada di sini," ucap salah satunya seraya memberikan katalog paket yang sudah tertera harganya.


"Kita mau pesan paket perawatan calon pengantin, ya?" pinta Tasya.


"Bentar-bentar, Anta kan enggak ikutan jadi calon pengantin," sahut Anta menyela.


"Tapi katanya mau ngerasain bareng-bareng, sudahlah pesen paket samaan aja ya!" sahut Dita.


"Tenang aja sih, kan yang bayarin Tante Tasya, hihihi..." bisik Dita ke Anta.


"Nah, itu tau, tenang aja nanti aku yang bayar!" seru Tasya dengan nada mulai sombong dan tertawa.


"Tapi cuma ke kantor KUA aja sih totalitas Tante? Dandan biasa aja pake kebaya kan bisa," sahut Anta.


"Eh kata siapa cuma ke KUA terus enggak boleh dandan heboh sama perawatan? Kita tuh harus tunjukkan kalau kita bisa cetar nan menggoda," sahut Tasya.


Dita dan Anta saling menatap lalu tertawa melihat kelakuan Tasya yang sangat antusias itu.


"Mari silahkan masuk ke ruang ini. Nanti kalian berganti pakaian dengan pakaian yang sudah disiapkan ya."


Salah satu terapis spa di salon itu mengajak ketiganya menuju ke sebuah ruangan.


Tasya, Anta dan Dita mengikutinya. Mereka lalu merebahkan diri di atas ranjang kecil untuk mendapat pijatan dengan lulur pengantin di sekujur tubuh. Setelah itu dilanjutkan dengan mandi susu di sebuah bath tub yang penuh dengan mahkota bunga mawar merah di atasnya.


"Aku berasa dejavu, deh, kayaknya pernah ke sini," gumam Dita.


"Masa sih? Perasaan kamu aja kali," sahut Tasya.


"Wangi banget sih berendam di sini, Tante," ucap Anta menikmati.


"Iya lah, baru pertama kali ya kan, Nta?" Tasya menoleh pada Anta.


"Kalau kita berendam di bak rumah pakai susu kental manis, sama enggak buat putih gitu?" tanya Anta dengan polosnya.


Dita dan Tasya langsung tertawa bersamaan.


"Ya, kali aja gitu hehehe..."


"Lengket, dodol!" Tasya menepuk dahi Anta.


Tiba - tiba Dita menuju ke samping Anta lebih rapat, ia perlahan menoleh ke belakang dan berbalik badan.


"Kenapa, Ta?" tanya Tasya.


"Hehehe ada yang ngeliatin kita, tuh," bisik Dita.


"Hmmm..."


Anta dan Tasya menoleh ke arah perempuan yang mata sebelah kiri tak ada ada. Di bagian wajah hantu itu terdapat luka sobek sampai tulang pipinya kelihatan, banyak belatung pula yang bergelayutan dan menggeliat.


"Bunda mau kenalan, enggak? Kasian tuh sendirian aja mojok di situ," ucap Anta.


"Ogah, enggak mau! Awas ya kalau kamu bawa ke sini buat kenalan nanti, malahan dia ikut pulang lagi."


Dita menoleh ke belakang tempat hantu itu duduk tadi tetapi hantu itu sudah menghilang.


"Lho, udah enggak ada udah ngilang," ucap Dita.


"Hayo, baper lho hantunya, enggak diajak main ke sini," ledek Tasya.


Pluk pluk pluk.


Sesuatu jatuh di atas permukaan air dalam bath tube tersebut.


"Apaan, nih?" Dita meraih sesuatu yang jatuh ke permukaan air tempat ia berendam.


"Apaan, Ta?" tanya Tasya. Anta pun ikut menoleh.


"Idih... belatung!" Dita lalu berteriak seraya menoleh ke atas tepat di langit-langit, hantu perempuan itu sudah menempel di langit-langit tersenyum menyeringai ke arah Dita dan yang lainnya.


"Heh, ngapain di situ, aduh masa Anta berendam bareng belatung, yang benar aja dong!" sahut Anta.


"Ada apa, ya?" tanya Mbak terapis tadi ketika masuk menghampiri seraya membawa tiga teh herbal. Dita dan Tasya yang sudah melompat keluar dari bath tub menunjuk langit - langit tadi.


"Oh, si Putri itu, kalian bisa liat dia ya? Hmmm dia enggak jahat kok cuma iseng doang, eh kamu jangan godain tamu saya, sana pergi, nanti tidak akan saya kasih sajen lho malam ini!" ancam mbak terapis itu dengan santainya tanpa takut.


Kemudian tanpa butuh waktu lama, lalu hantu itu menghilang.


"Tenang aja, biasanya mah dia cuma iseng doang nggak jahat," ucap mbak terapis ke Dita.


"Tapi kita jadi berendam sama belatung, tuh!" tunjuk Tasya.


"Maaf deh, nanti saya ganti airnya. Ini minum dulu teh herbalnya."


"Memangnya siapa dia, Mbak?" tanya Anta.


"Dia oenunggu di sini, jadi di tiap ruangan ada penghuninya, maklum bekas kuburan, jadi katanya makamnya cuma dibongkar terus tulang belulangnya ditumpuk jadi satu di suatu tempat sama pengembangnya, jahat ya? Awal-awal saya di sini banyak karyawan pada pingsan. Sekarang sih udah biasa."


"Hmmm... kasian juga ya, tapi Mbak masih betah buktinya di sini."


"Soalnya laku, lumayan lah banyak pengunjung."


"Mbak, enggak takut dari awal di sini?" tanya Dita.


"Saya mah udah biasa dari kecil liat kayak gitu, karyawan di sini juga rata-rata pada punya mata batin biar pada bisa lihat, kalau nggak kuat ya enggak jadi karyawan sini."


"Beuh...horor juga." Tasya bergidik ngeri.


"Enggak apa-apa cyin, tenang aja selama sajennya jangan dilupain, mereka enggak akan ganggu, yuk calon ngantennya diratus!" ajak Mbak terapis.


"Apaan, tuh?" tanya Dita


"Udah ikut aja biar masnya nanti cium - cium kalian wangi gitu, hehehehe...."


Dita masih tak mengerti dengan ucapan si terapis barusan tetapi mereka tetap mengikutinya.


"Kamu mau ratus juga?" tanya mbak terapisnya pada Anta.


"Emang diapain, sih?" tanya Anta.


"Nih, kayak gini."


Terapis itu mencontohkan terapi pada Dita dan Tasya.


"Ih... enggak mau ah, Anta mau creambath aja!"


Gadis itu lalu berlalu ke luar ruangan untuk creambath.


"Saya tinggal ya, biarkan 15 menit."


Terapis itu lalu berlalu pergi.


"Hmmm benar nih, kayaknya aku pernah ngalamin kejadian ini," gumam Dita seraya menelisik seluruh sudut ruangan.


*****


To be continue...


Jangan lupa update Noveltoon biar bisa kasih vote sama hadiah ya. Ayo dong, mana votenya.🥰🥰🥰


Selamat menjalankan ibadah puasa.