Anta's Diary

Anta's Diary
Galeri Milik Karina



Happy Reading...


*****


Ponsel Anta yang mati membuat Arya terjebak dengan gps yang terhenti di sebuah galeri antik yang terletak di belakang Mall Kota. Pemuda itu pikir kalau Anta sedang bersama Dion di sana.


Tanpa curiga sama sekali, Arya masuk ke dalam galeri tersebut dan melihat-melihat bersama pengunjung yang lain.


Pria tadi menghampiri seorang wanita paruh baya yang mengenakan kebaya dengan bawahan batik.


"Bilang sama Nyonya Karina, kita kedatangan persembahan yang cocok untuknya," ucap pria itu.


"Baik, Pak Mardi."


"Hmmm... mana si Anta ya, kok gps dia nunjukin kalau ia ada di dekat sini?"


Arya masih menelisik ke segala arah ruangan di dalam galeri tersebut. Ia juga melihat dengan saksama beberapa pengunjung.


Barang-barang antik yang dipajang rapih di setiap sudut ruangan galeri itu itu seakan membawa pengunjung ke masa lalu. Mesin jahit buatan tahun 1950 menjadi salah satu barang tertua yang ada di dalam galeri itu. Tentunya tidak mudah untuk mendapatkan barang-barang antik. Apalagi barang antik tersebut lebih kepada barang-barang bersifat klenik.


Arya terus berjalan menyusuri galeri sampai ia tertarik pada sebuah ruangan dengan tirai emas yang menutupi. Perlahan tirai itu terbuka dan memperlihatkan patung emas yang bersinar. Patung yang membuatnya langsung terkesima. Sebuah patung mirip dengan dewa Romawi kuno yang dijadikan lambang para pemuja setan -- meski ada kelompok rahasia lain yang menggunakan simbol sosok berkepala kambing itu, salah satunya Ksatria Templar.


Patung dengan sosok berwajah perempuan berkepala kambing yang memiliki sayap, tangan kanannya terangkat dan mengacungkan 2 jari. Juga ada patung lain di dekatnya, sosok bocah perempuan dan bocah laki-laki yang menatap sang dewi dengan kagum.


"Apa kau suka dengan patung Tuhanku?"


Nyonya Karina datang tiba-tiba mengejutkan Arya.


Pemuda itu langsung tersentak dan bergidik ketika melihat riasan tebal di wajah wanita yang berusia hampir sama dengan Dewi, mama angkatnya Anta. Wanita mengenakan gaun serba hitam yang dihiasi dengan penutup kepala berwarna hitam dengan renda di ujung kainnya.


"Halo, Nyonya. Memangnya ini patung apa?" tanya Arya.


"Itu Dewi Nyi Ageng, dia yang akan selalu melindungi segala kesehatan, kemakmuran, panjang umur, awet muda, dan kekayaan kita akan selalu bertambah."


"Ah, masa sih?"


"Betul anak muda, kulihat kau sangat menyukai berkeliling di galeri milikku. Dan aku yakin kau tertarik dengan ruangan ini?" tanya Karina.


"Oh, jadi Anda pemilik galeri di sini," ucap Arya seraya berdecak kagum.


Wanita itu tersenyum lalu ia mencelupkan jari ke sebuah cawan emas yang ada di sampingnya. Cairan darah segar itu hampir habis. Ia lumuri patung tersebut dengan darah segar tersebut. Ia lalu berdoa dan melakukan pemujaan di hadapan patung itu.


"Kau mau berdoa bersamaku? Paling tidak kau harus menunjukkan rasa sopan pada Tuhanku," ujar Nyonya Karina.


"Ummm... tapi... baiklah, saya hanya menghormati Anda sebagai pemilik galeri di sini," ucap Arya.


Setelah itu, Karina mengulurkan tangan pada Arya.


"Nama saya, Karina."


Arya menjabat uluran tangan wanita itu. Lalu, tiba-tiba tangan milik Karina diletakkan ke dahi milik Arya.


"Kau, kau mengenal gadis itu rupanya," ucap Nyonya Karina.


"Maaf, maksud Anda apa ya, pegang-pegang jidat saya enggak bilang-bilang," sahut Arya dengan ketus.


"Boleh kulihat telapak tanganmu anak muda?" pinta Karina.


"Untuk apa?"


"Kau percaya dengan ramalan?" tanya Karina.


"Ramalan? Hahaha... kayak nyari jodoh, keuangan, kesehatan gitu ya? Itu mah cuma ada di majalah cewek alay!" sahut Arya.


"Hmmm... kau ini ya, aku menawarkan ramalan dengan cuma-cuma, gratis. Kalau kau berminat mari sambil kita menikmati teh hangat madu buatan asisten rumah tanggaku," ucap Karina.


Arya tadinya enggan untuk percaya tapi ia penasaran dengan yang ingin dikatakan wanita itu mengenai ramalan. Akhirnya kedua kaki pemuda itu ikut melangkah mengikuti Nyonya Karina. Pria bernama Mardi menyambut keduanya dan mempersilakan keduanya untuk duduk di teras belakang galeri.


Seorang wanita paruh baya datang dengan membawa dua cangkir teh hangat yang ditambah madu dan juga cemilan pisang molen untuk Arya.


"Wah, baru ini saya ke galeri dikasih minum sama cemilan, padahal belum tentu saya beli barang antik di sini, lho," ucap Arya.


"Ini khusus untukmu, karena kamu mengingatkan diriku pada cucuku yang sudah meninggal," ucap Karina.


"Oh ya, memangnya meninggalnya kenapa?"


"Dia sakit dan meninggal tahun lalu," ucap Karina dia mencoba berbohong.


Padahal cucunya ia persembahkan untuk Nyi Ageng. Darah yang dia cucurkan saat menyayat tangan cucunya itu dalam keadaan hidup itu, membuat cucu dari Nyonya Karina yang berusia 14 tahun kala itu harus meninggal karena kehabisan darah.


"Oh, maafkan saya kalau begitu."


"Tak apa, silahkan diminum teh hangatnya, ini baik selagi hangat," ucap wanita itu mempersilakan Arya untuk minum.


Pemuda itu menurut dan meminum air teh madu yang hangat itu. Setelah ia meletakkan cangkirnya, lalu Arya izin pamit pulang.


Nyonya Karina menahan langkah Arya untuk pergi.


"Oke deh, padahal sih... ya sudahlah coba sini bagaimana ramalan Anda tentang saya," ucap Arya.


Pemuda itu mengulurkan tangannya pada Nyonya Karina. Wanita itu lalu mengamati garis tangan pemuda tersebut.


"Apa yang mau kau tanyakan terlebih dahulu?" tanya Karina.


"Hmmm langsung tanya jodoh deh," sahut Arya.


"Bukankah usia kamu sepertinya masih sekolah?"


"Hehehe... iya sih, tapi saya mau tau aja, kan ceritanya eh sebenarnya saya naksir cewek namanya Ratu Ananta, tapi dia tuh cuma anggap saya sahabat, tapi saya yakin banget dia jodoh saya. Nah, kira-kira, dia jodoh saya bukan?" tanya Arya penuh semangat.


"Ada kecocokan antara nama kalian."


"Iyalah, nama panggilan kita sama -sama dari A, Nyonya."


"Hmmm... bisakah saya selesaikan perkataan saya dulu?"


"Eh, maaf kalau begitu, oke saya dengarkan," sahut Arya.


"Aku melihat ada garis jodoh yang mengarah ke arah gadis yang kau pikirkan itu, hanya saja—"


"Hanya saja...?"


"Dia belum yakin pada hatinya, kemana hati gadis itu akan berlabuh karena banyak ksatria yang akan siap siaga selalu mengawalnya," ucap Karina.


"Hmmm bener banget, kalau dipikir-pikir saingan gue banyak buat dapetin Anta," gumam Arya.


"Jadi, yang harus saya lakukan, bagaimana? Saya harus terus berjuang, ya?" tanya Arya.


"Bawa gadis itu ke sini! Saya akan buat dia hanya melihat ke arah kamu," ucap Karina.


"Maksudnya melet gitu, Idih enggak level main kayak gitu, saya maunya Anta benar-benar suka sama saya bukan karena dipelet," ucap Arya.


"Hahaha... bukan anak muda, bukan seperti itu, saya hanya akan membuka hatinya agar mudah dimasuki oleh cinta yang kau punya untuknya," ucap Karina.


"Oh gitu, hmmm harusnya sih saya lagi nyari dia ke sini, tapi kayaknya saya tersesat makanya sampai sini," ucap Arya.


"Baiklah, bagaimana kalau malam jumat nanti bawa gadis itu ke sini!"


"Malam jumat? Kenapa enggak malam minggu aja?"


"Hahaha... kau itu benar-benar lucu ya, benar-benar penuh dengan ego dan pemikiran yang keras," ucap Karina melepas tangan Arya.


"Ya, maaf deh kalau emang watak saya begini, berhubung sekarang malam senin, jadi saya bawa Anta ke sini malam jumat, ya?"


"Betul sekali, karena saya harus pergi keluar kota dan saya bisa bertemu dengan kamu dan gadis yang kamu cintai itu tepat di hari kamis besok," ucap wanita itu.


"Oke deh, tapi saya enggak janji ya Nyonya," ucap Arya.


"Saya percaya kamu pasti datang."


"Hmmm enggak tau juga deh, oke kalau gitu saya pamit ya Nyonya, terima kasih atas hidangannya."


"Sama-sama, terima kasih juga sudah berkunjung."


Nyonya Karina lalu mengantar Arya untuk menuju ke luar. Pemuda itu lalu pamit pergi dengan membawa gantungan kunci pasangan bergambar pengantin jawa yang ia beli dari galeri tersebut.


"Nyonya, kenapa pemuda itu dibiarkan pergi?" tanya Mardi.


"Belum saatnya Mardi, dia punya sesuatu yang lebih istimewa lagi untuk media Nyi Ageng," sahut Karina.


"Maksud Nyonya?"


"Dia berhubungan dengan gadis yang waktu itu terpilih untuk dijadikan media Nyi Ageng," ucapnya dengan wajah berbinar.


"Jadi?"


"Jadi, cukup satu dayung mendayung, maka dua pulau terlampaui. Kita dapatkan darah segar perjaka dan juga gadis yang akan menjadi media Nyi Ageng," ucap Karina.


"Baiklah, kalau begitu saya mengerti. Saya akan rapikan kembali meja persembahan yang sudah saya siapkan tadi."


"Terima kasih, Mardi."


*****


To be continue...


Jangan lupa update Noveltoon biar bisa kasih vote sama hadiah ya. Kalau masih versi lama nanti enggak dihitung.


Selamat menjalankan ibadah puasa.