
Jangan lupa di Vote ya Kakak, terima kasih sebelumnya, dan Happy Reading...
******
Keesokan harinya para murid berkumpul di aula. Kepala pembina yang bertugas bertanggung jawab atas kegiatan perkemahan tersebut, Bapak Fahmi, memberikan pengarahan.
"Baiklah anak-anak sekalian yang Bapak sayangi, nanti malam akan diadakan pameran kuliner oleh warga setempat, dan tepat pukul delapan, kita akan kedatangan tamu, seorang dalang wayang kulit yang akan memperkenalkan kita pada tradisi wayang kulit."
Sorak riuh dengan tawa bergemuruh dari para murid saat mendengar penuturan Bapak Pembina barusan.
"Tenang-tenang, Bapak lanjutkan dulu ya, nah Bapak harap kalian juga mempersiapkan pertunjukan tradisional untuk memeriahkan acara pagelaran wayang kulit nanti malam," ucapnya lagi.
"Huuuuuuuu...!"
"Tim yang tidak ikut serta nanti malam akan mendapat hukuman."
"Yaaaahhh..."
"Jadi, hari ini saya kasih waktu seharian untuk mempersiapkan pertunjukan yang akan kalian tampilkan, ya. Para panitia nanti akan mengarahkan dan mengawasi kegiatan kalian," ucap Pak Fahmi.
"Mengerti semuanya?" Pak Fahmi mengarahkan mic yang ia pegang ke arah para murid.
"Mengerti, Pak...!!!"
"Siap digoyang....?"
"Pak, salah server," ucap Ibu Lesti mengingatkan Bapak Pembina.
"Oh iya, lupa saya kebiasaan jadi penyanyi dangdut di kelurahan, hehehe... Oke, silahkan laksanakan tugas kalian!"
Pak Fahmi lantas menghampiri para guru untuk bermain catur. Sementara itu, para panitia menemui para kelompok untuk memberi pengarahan dan membantu menyusun ide pertunjukkan yang akan dipertunjukkan tiap tim.
"Kita mau bikin apa, nih?" tanya Arga.
"Gimana kalau kita menari," sahut Mey.
"Kamu aja, Mey, Anta ogah!" Anta melirik tajam pada Mey.
"Gue juga ogah, mana bisa badan kaku gue nari," sahut Arya.
"Lomba masak aja, masak makanan tradisional," sahut Iman.
"Itu mah nanti yang masak kita, yang makan kamu!" sahut Arga.
"Nah, itu pinter, cakep tuh," ucap Iman lalu terkekeh seraya mengunyah snack kentang balado di tangannya.
"Kita nyanyi lagu daerah aja deh, pakai iringan gitar akustik, nanti aku yang main gitar," ucap Arga memberi ide.
"Iya, gue juga bisa main gitar," sahut Arya.
"Ehm ehm, suara Anta bagus gak, ya? Takutnya pada terpesona lagi hehehe..." celetuk Anta.
"Kalau suara gue, sih, bagus hahahaha..." sahut Iman dengan nada sombong.
"Ya udah, kita nyanyi lagu tradisional aja," ucap Arga yang sebagai ketua pimpinan tim tersebut memutuskan.
Akhirnya setelah di sepakati mereka berlatih.
***
Setelah magrib, banyak warga sekitar bumi perkemahan berkumpul membawa barang dagangan untuk dijajakan. Benar-benar surga bagi Iman yang punya hobi makan itu.
Iman tak sengaja menabrak seorang pria berpakaian adat menggunakan atasan batik lurik dengan bawahan celana hitam.
"Maaf, Pak, saya enggak sengaja," ucap Iman.
"Gak apa-apa, kamu banyak juga ya makannya udah gitu sehat lagi," ucap pria tersebut seraya mencubit gemas lengan Iman. Kulit kuning langsat yang mulus milik Iman menarik perhatian pria tersebut.
Iman termasuk anak muda yang juga menyukai perawatan tubuh dibalik tubuh gemuknya itu. Karena sang Nenek memiliki salon kecantikan dan membuatnya jadi tahu bagaimana cara merawat diri.
"Ki Romo, apa peralatan wayang sudah bisa disiapkan?" tanya seorang pria menghampiri Ki Romo.
"Oh iya, silahkan, tolong bantu ditata dengan rapi, ya," pinta pria itu.
Sebelum pergi, ia menepuk pelan pipi Iman dengan pelan seraya bergumam, "cocok."
"Anta, sini aku mau ngomong," bisik Silla menarik lengan Anta.
"Kamu ngapain bisik-bisik, kan kamu gak kelihatan," ucap Anta dengan suara berbisik di tengah kerumunan tersebut.
"Oh iya, lupa hehehe... Aku mau ngomongin dalang yang semalam, sini makanya ikutan, kita temui Buto Item!" ajak Silla.
Arya melihat kepergian Anta, dan dia mengikutinya penuh rasa penasaran.
"Nah, coba Om Buto, jelaskan tentang dalang tersebut," ucap Silla.
"Oh, pertanyaan kalian yang semalam itu," ucap Buto Item.
Bruk!
"Aduh, sakit banget!" pekik Pocong Uli saat terjatuh sampai terbaring telentang di tanah.
"Aku lebih sakit, aarrgghh!" sahut Buto Item berteriak sampai menggelegar menggetarkan tanah sekitar. Sosok raksasa itu sampai jatuh berlutut memegangi bagian tubuh sensitif miliknya.
Sontak saja orang-orang yang berada di sekitar kamar mandi tempat Buto Item bernanung jadi panik dan berteriak mengira itu gempa bumi.
Arya langsung menghampiri Anta dan berlindung memeluk Anta.
"Ini, ngapain sih kepo banget ngikutin Anta!" seru Anta mencoba menepis Arya.
"Tadinya kepo gue khawatir elo mau kemana dan mau ngapain eh ternyata lebih serem tuh raksasa," bisik Arya.
"Ya, tapinya lepas dulu tangan kamu," seru Anta.
"Iya, maaf."
"Uli gak apa-apa?" tanya Silla.
"Sakit kepala aku, badan aku, semuanya sakit hati aku juga sakit kalau sampai kamu gak terima cintaku," ucap Uli.
"Hadeh, nyesel gue nanya, mana sekarang pake aku kamu lagi," sahut Silla menepuk dahinya sendiri.
"Jadi, dalang itu gimana?" tanya Anta.
"Sebentar saya mencoba menetralisir rasa sakit ini," sahut Buto Item yang mengubah posisi berlututnya jadi duduk.
"Dalang apa sih, Nta?" tanya Arya.
"Yang semalam kita lihat itu, dalang yang dilihat sama hantu-hantu tanpa kulit itu," sahut Anta.
"Begini, jadi semenjak dalang itu datang dua bulan lalu, dia sudah memakan korban enam orang warga, empat diantaranya anak muda pendatang seperti kalian. Dia selalu mencari kulit anak muda yang bersih, mulus dan sehat," ucap Buto Item.
"Bentar, bentar, kulit? Maksudnya kulit..."
Anta menoleh pada Arya.
"Manusia," ucap keduanya berbarengan.
"Iya betul, dia membuat wayang koleksinya dari kulit manusia, dia itu jahat dan licik tapi belum ada yang tau kejahatannya," ucap sosok besar itu.
"Astagfirullah, serem banget, ini gak bisa dibiarkan, dalang itu harus masuk penjara untuk mendapatkan hukuman," ucap Anta.
"Ya, tapi caranya gimana, masa kayak yang di pom bensin itu kita buat ketakutan lihat para hantu?" tanya Arya.
"Dia tak takut apapun, aku pernah mencoba menampakkan diri depannya tapi kalung jimat yang ia miliki sangat kuat, ia mampu mengusirku," ucap Buto Item.
"Lalu, bagaimana ini caranya membuat ia tertangkap?" tanya Silla.
"Entahlah, kalian harus waspada, saat pameran seperti ini berlangsung pasti ada orang yang hilang dan dijadikan korban," ucap Buto Item.
"Haduh, kita kasih tau Arga nih, kita harus merencanakan sesuatu, nanti kalau dia makan korban lagi, gimana?" gumam Anta.
"Kenapa sih apa-apa Arga, kenapa gak coba minta pendapat aku?" keluh Arya dengan wajah cemberut menatap Arga.
"Kayaknya, Arya cemburu nih sama Arga," bisik Silla kepada Uli.
"Arya cemburu? Dia naksir Arga gitu?" tanya Uli dengan wajah polosnya.
"Pocong Oon!"
Silla menarik ikatan Uli dengan gemas.
Note : Hayo yang pernah baca WITH GHOST pasti tau kejahatan Ki Romo itu apa, sampai dia bisa kabur dan sampai ke desa dekat Bumi Perkemahan Alas Tua. Kalau yang gak tau Ki Romo itu siapa, cuss kepoin lagi, baca WITH GHOST ya. Jangan tanya kapan WG season 2, Vie nunggu buku season 1 nya terbit. Nanti pada beli ya... Hehehe...
******
Follow IG ku ya @vie_junaeni
Mohon dukungannya, mampir juga ke Novelku lainnya.
- Pocong Tampan
- With Ghost
- 9 Lives
- Kakakku Cinta Pertamaku
- Forced To Love
- Diculik Cinta
Vie Love You All...😘😘😘
Pleaseeeeee Jangan lupa VOTE buat dapatkan GA pulsa 20K tiap bulannya, semangat...!!!