
Happy Reading...
*****
Arya menatap sepatu pria yang sobek itu. Lalu perlahan ia mengarah ke arah kaki pria tersebut yang ternyata berwarna pucat. Rongga penuh luka berdarah dan bercampur darah terlihat.
"Perasaan gue enggak enak, nih..."
Benar saja dugaan Arya, pria itu ternyata hantu. Dia terlihat seperti korban kecelakaan karena pakaian yang dikenakan terlihat sobek. Kulit tangannya juga mengelupas dengan tulang hasta yang menampakkan dirinya mengintip di permukaan kulit pria itu. Lebih mengerikan lagi ketika anak muda itu beralih ke bagian wajah. Kepala hantu pria itu tampak pecah dan sebagian wajahnya hancur.
"Duh, apa gue bilang, pasti enggak enak," gumam Arya.
"Kau bisa melihatku?" tanya hantu itu.
"Mas, kalau mau daftar buat konsultasi mending sama cewek itu," ucap Arya menunjuk Anta tanpa menatap wajah si hantu itu lagi.
"Tapi kau bisa melihatku," ucap hantu itu.
"Iya bisa terpaksa soalnya, tapi mendingan sama dia aja," sahut Arya menunjuk Anta kembali.
"Woi, kamu ngobrol sama siapa?" tanya pelayan toko.
"Enggak, Mas, saya mau cari temen saya, tuh!" Arya menunjuk Anta yang sudah menoleh kepadanya.
Si pelayan itu lalu melangkah menuju meja kasir.
"Wah... ada hantu rupanya di sini," ucap Anta.
Gadis itu mendekati Arya dan hantu tersebut.
"Kamu bisa melihat saya kan?" tanya hantu itu pada Anta.
"Duh, jangan sekarang deh!" sahut gadis itu.
"Saya cuma mau minta tolong," ucap hantu itu mencoba melangkah terseok-seok menghampiri Anta.
"Anta capek mau buru-buru ke rumah sakit, kapan-kapan aja Anta ke sini lagi buat nolong Om," ucap Anta.
"Panggil saya Mas, jangan Om!"
"Iya, Mas."
Anta meringis menatap hantu itu.
"Saya cuma mau minta tolong, tolong sampaikan sama Gilang si pelayan toko itu. Bilang sama dia kalau saya simpan uang di bawah lemari kamar kos, nanti uangnya buat bayar hutang saya sama dia lima ratus ribu, sisanya tolong kirim ke ibu saya di kampung."
"Mas pelayan itu?" tanya Anta.
Hantu itu menganggukkan kepalanya. Anta akhirnya menuruti permintaan hantu itu. Ia melangkah menggandeng Arya menghampiri Mas pelayan toko itu.
"Udah selesai belanjanya, ada tambahan lagi?" tanya Mas pelayan yang sendirian di mini market berukuran lebih kecil dari pada mini market pada umumnya.
"Udah, Mas, ada yang mau Anta sampaikan," ucap Anta.
"Mau ngomong apa, mau minta nomor telepon saya, ya?" tanyanya sambil menggoda Anta.
"Heh, jangan macem-macem ya, dengerin dulu dia mau bilang apa."
Arya langsung menyentak penjaga toko itu.
"Gini Mas, temen Mas yang namanya—"
Anta menoleh ke hantu itu.
"Nama saya Hadi," ucapnya.
"Kata Mas Hadi, dia simpan uang di bawah lemari kos, yang 500 ribu buat bayar hutang dia ke Mas, sisanya ada, ada berapa, Mas?"
Anta menoleh pada hantu Hadi.
"Sekitar dua juta," jawab hantu itu.
"Katanya dua juta," ucap Anta seraya menunjukkan dua jari ke hadapan wajah Gilang.
"Bentar deh, kamu bilang Hadi? Dia tuh udah meninggal seminggu yang lalu," ucap Gilang.
"Nah, makanya itu, dia masih ada di sini karena masih punya sesuatu yang untuk disampaikan ke Mas," ucap Anta.
"Udah deh, gue enggak percaya, totalnya jadi empat puluh delapan ribu rupiah sama tas belanja ya soalnya enggak ada plastik."
Gilang masih take percaya dengan penuturan Anta.
Arya langsung menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan.
"Kok, kamu yang bayar, Ya?"
Anta baru saja akan mengeluarkan uang dari tas kecilnya.
"Udah sih santai saja, anggap aja bawaan aku buat Raja."
"Aku?" tanya Anta yang kaget mendengar Arya mengucap kata aku.
"Gue maksudnya."
"Nih, belanjaannya. Terima kasih sudah berbelanja di sini," ucap Gilang.
Arya meraih tas belanja itu.
"Mas, Anta beneran enggak bohong lho soal pesan tadi," ucap Anta menegaskan.
"Iya, makasih."
Gilang masih saja menjawab dengan tak peduli.
"Dia masih enggak percaya."
Hantu Hadi menahan Anta.
"Nta, kasih lihat aja," ucap Arya.
"Oke deh."
Anta meraih tangan Gilang tiba-tiba.
"Eh, ngapain pegang tangan gue, hayo pasti suka sama—"
"Ha-Hadi?"
BRUG!
Gilang jatuh ke lantai tak sadarkan diri.
"Hmmm sukurin luh, tadi enggak percaya sih sama ucapan Anta," ucap Arya.
"Ya, gimana nih, masa kita tinggalin di sini?" tanya Anta.
"Bentar aku, eh gue panggilin satpam rumah sakit," ucap Arya.
Tak lama kemudian datanglah dua penjaga rumah sakit dan mengangkat tubuh Gilang ke IGD.
"Pak, saya duluan ya mau jenguk adik saya udah nungguin," ucap Anta pada salah satu satpam.
"Iya, Neng, nanti saya tutup mini market ini," ucap satpam itu.
Anta dan Arya bergegas menuju lantai tiga menaiki lift.
"Kalau lihat hantu, pura-pura aja enggak liat, gue bosen hari ini lihat hantu mulu terus nolongin, emang elo enggak capek apa?" tanya Arya.
"Capek sih, tapi kan kasian sama mereka."
"Cuekin dulu aja!"
Arya menatap Anta dengan tatapan tajam.
Kenapa cara natap si Arya bikin Anta enggak enak gini ya perasaanya?
Gadis itu masih menatap Arya.
"Woi, jangan bengong, ayo turun!" seru Arya mengejutkan Anta.
"Nah, akhirnya pada dateng juga," ucap Tasya saat melihat Anta dan Arya.
"Nih, si Anta pake nolongin hantu dulu terus yang dikasih lihat pingsan," ucap Arya.
"Hmmm... kebiasaan."
"Raja udah pules tuh, gimana kondisinya, Tante?" tanya Anta pada Tasya.
"Trombosit sih Udah mulai naik tapi dikit, makanya Tante suruh kamu beli sari kurma," ucap Tasya.
"Ya ampun, Anta lupa beli sari kurma," ucap Anta.
"Lagian juga enggak ada obat kayak gitu di toko tadi, udah besok aja gue yang beli," sahut Arya.
"Oh iya, malam minggu nanti, Dita mau buat rencana buat jebak si Heru, kalian cuma siapin tempat buat si Dita bawa Heru dan kita bikin tuh cowok brengsek mabok," ucap Tasya.
"Oke, masih dua hari lagi," ucap Anta.
"Eh, aku punya rencana lagi," ucap Tasya.
"Tentang menjebak Pak Heru?" tanya Anta.
"Bukan, ini tentang Yanda sama Bunda kamu," ucap Tasya.
"Maksudnya?"
"Kita buat mereka ketemu di sini," ucap Tasya.
"Jadi?"
"Duh, kok tumben sih kami enggak paham. Jadi maksud Tante gini, besok aku ketemu Dita dan bilang kalau Raja mohon-mohon ketemu sama Bundanya, kamu bilang ke Anan kalau Raja maunya ditemenin Anan, gimana?"
"Anta suka ide itu, tapi Raja kan udah mendingan, berarti dia harus pura-pura kesakitan dan manja banget," ucap Anta.
"Oh, tenang aja nanti Tante suruh Raja buat akting."
"Berarti nanti Yanda sama Bunda bisa berduaan jagain Raja, hehehe..." ucap Anta.
"Nah, itu maksudnya, siapa tau mereka ingat tentang cinta mereka yang menakjubkan itu," ucap Tasya.
"Ya, besok antar Anta ke—"
Gadis itu menoleh pada sosok Arya yang sudah tertidur pulas di sofa.
"Kecapean dia kali, kamu udah bilang ayahnya kalau Arya di sini?" tanya Tasya.
"Anta enggak tau, coba Tante yang bilang sama Pak Herdi."
"Hmmm... kena lagi aja, Tante cari sinyal ke luar dulu soalnya kalau dari kamar sini cuma dapet satu sinyal terus suaranya enggak jelas makanya tadi Tante telepon kamu di luar situ."
Tasya meraih ponselnya di atas meja lalu menghubungi Pak Herdi.
"Kenapa, Sya, kamu kangen sama saya?" tanya Pak Herdi dari seberang sana.
"Yee... tumben banget godain aku," ucap Tasya.
"Kan kamu duluan yang godain saya telepon malam gini," ucap pria itu.
"Hadeh, gini lho, aku telepon kamu mau kasih tau kalau Arya nganterin si Anta ke rumah sakit terus dia ketiduran kayaknya bakal nginep di sini daripada pulang kemalaman," ucap Tasya.
"Oh, dia udah chat saya tadi, tenang aja. Apa kaku mau saya susul ke sana buat bareng-bareng jagain Raja?"
"Duh, udah deh jangan godain terus, ya udah kalau udah tau tentang Arya, oke selamat tidur."
Tasya menutup ponselnya segera padahal suara Herdi masih terdengar dan belum selesai berbicara.
Anta duduk di samping Arya. Gadis itu juga merasa lelah karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Perlahan kedua matanya meredup dan akhirnya terlelap. Tak terasa kepala gadis itu jatuh di atas paha Arya.
Arya terkejut saat sesuatu menyentuh pahanya. Ia membuka matanya dan mendapati kepala Anta berada di pangkuannya. Pemuda itu lantas memperhatikan wajah gadis itu. Sesekali ia mencolek pipi gadis yang sudah terlelap itu. Ia juga mengusap rambut gadis itu.
"Gue suka sama elo, Nta, tapi gue takut elo tolak gue, kenapa sih elo enggak peka sama perhatian gue," gumam Arya.
Tasya yang hendak masuk ke kamar Raja mendengar ucapan lirih Arya dan menyimak dengan seksama. Kedua mata wanita itu terperanjat kala mendengar pengakuan pemuda itu barusan. Senyum manisnya merekah di paras ayu itu.
****
To be continue…
Follow IG : @vie_junaeni