Anta's Diary

Anta's Diary
SMA Satu Jiwa



Hai semuanya, maaf ya aku telat


update,  jangan lupa kumpulkan poin


kalian untuk Vote, jangan bosen ya Vote, terima kasih.


******


Pagi itu, Tasya sudah menyiapkan


bekal untuk nasi goreng dan telur mata sapi untuk ketiga anak angkatnya, Anta,


Raja dan juga Mey. Padahal di rumah Mama Dewi, wanita itu juga menyiapkan roti


sandwich isi tuna untuk ketiga anak tersebut.


“Sya, aku titip anak-anak ya, aku


sudah sibuk bekerja di rumah sakit soalnya,” ucap Dewi saat bertemu Tasya dan


lainnya di koridor apartement tersebut.


“Beres, Tante. Lho, itu bekal buat


siapa?”


“Buat anak-anak.”


“Aku juga udah buat bekal untuk


mereka.”


“Alhamdulillah, bagus dong, bekal Anta


banyak, ya enggak, Ja?”


“Benar sekali, Kak,” sahut Raja


mengacungkan dua ibu jarinya.


“Tapi, aku enggak akan habis bekal


dua begitu,” sahut Mey.


“Bawa aja, siapa tau ketemu kakak


kelas ganteng apa si artis Jojo terus kamu kasih bekal buatan Tante, “ ucap


Dewi menimpali.


“Baru masuk sekolah udah mikirin


kakak kelas ganteng, uh!” keluh Anta.


Ketiga anak tersebut mencium


punggung tangan Mama Dewi dan Andri. Lalu, ketiganya mengikuti Tasya menuju


parkiran.


“Kalian mau sekolah, ya?” tanya Pak


Herdi saat bertemu rombongan tersebut di parkiran apartement.


“Saya sih niatnya mau nyuruh mereka


ngamen, Pak, tapi sebaiknya sekolah aja udah pakai seragam gitu,” celetuk


Tasya.


“Garing banget kamu, Sya.”


“Undangan pernikahan udah sampai,


beneran jadi nikah, enggak batal lagi?” tanya Tasya.


“Ah, kamu bisa aja, ya mau gimana,


ya, doain aja yang terbaik. Oh iya, Arya man, Nta?” tanya pria itu menoleh pada


Anta.


“Hilang, nanti juga kalau Anta


panggil dia datang,” sahut gadis itu.


“Semalam enggak pulang, ya?”


“Pulang kok, habis main monopoli


sama Anta pas nemenin makan mie rebus dia bilang mau nemenin ayahnya, jadi Arya


pulang.”


“Kapan kamu makan mie rebus,


bukannya langsung tidur?” tanya Tasya.


“Jam satu pagi, Anta laper, jadi


bikin mie rebus terus enggak bisa tidur eh main monopoli sama Arya,” jawab


Anta.


“Kok, kamu enggak bangunin aku,


kalau main monopoli sama Arya?” tanya Mey.


“Kamu pulas soalnya, iya deh nanti


Anta bangunin kalau main lagi,” jawab Anta.


“lagian, Mey, masa kamu enggak


takut main monopoli sama pocong?” celetuk Tasya.


“Kalau pocongnya kayak Arya, aku


enggak takut, malah seneng.”


Pak Herdi yang risih mendengar


penuturan Mey langsung menggaruk-garuk kepalanya meski tak gatal.


“Ya udah, Om pamit dulu ya duluan,”


ucap pria itu lalu masuk ke dalam mobilnya.


“Pak Herdi cakep ya, Tante?” ucap


Anta di samping Tasya.


“Iya, cakep.”


“ehm, ehm…” Raja dan Anta menyahut


bersamaan meledek Tasya.


“Yuk buruan, udah siang, kita kan


mau antar Raja ke sekolah dia dulu.”


Tasya langsung salah tingkah dan


masuk ke dalam mobilnya. Ia menyalakan mesin mobil tersebut dan melaju pergi ke


sekolah Raja terlebih dahulu.


***


Setelah sampai


di sekolah Raja, ternyata anak itu sudah disambut para gadis-gadis cilik yang


membawa berbagai mainan dan kue. Anak itu menoleh ke mobil Tasya dengan tatapan


sombong saat menerima berbagai bingkisan tersebut.


“Astaga, Raja


banyak penggemar itu,” tunjuk Tasya.


“Wah,


bener-bener tuh bocah,” sahut Anta.


“Raja keren,


sih, Arya juga bakal gitu kali ya di sekolah,” sahut Mey.


Anta menyentuh


dahi Mey dengan punggung tangannya lalu meletakkan punggung tangan itu ke


bokongnya.


“Sama panasnya,


pantesan aja,” ucap Anta.


“Apaan sih,


Anta, emang aku gila apa?”


“Habisnya,


mikirin Arya mulu, sebel dengernya,” ucap Anta bersungut-sungut.


Tasya yang focus


menyetir hanya tersenyum saat melirik dari kaca spion.


“Oke, sampai


sini aja ya antarnya, Tante mau ke supermarket, kalian semangat belajarnya,”


ucap Tasya saat tangannya dicium oelh Anta dan Mey.


“Nanti aku


“Oke.”


Tasya


menunjukkan ibu jari kanannya seraya melajukan kendaraannya menuju ke


supermarket.


Anta dan Mey memasuki


sekolah barunya bersama murid-murid yang lain. Gadis itu meraih brosur yang


menjelaskan berbagai macam fasilitas lengkap. Fasilitas itu diantaranya,


lapangan basket, lapangan bulutangkis, laboratorium, ruang seni musik, bahkan


kolam renang sendiri.


Di brosur itu


juga menjelaskan sekolah tersebut selalu menghasilkan murid-murid berprestasi


dari sekolah tersebut. Semua murid baru berbaris rapih di lapangan mengikuti


upacara. Semua mata tertuju pada Ibu Kepala Sekolah yang Bernama Wahyuni.


Ibu kepala


sekolah itu sedang melakukan pidato mengenai pengenalan sekolah dan ucapan


selamat datang pada siswa-siswi angkatan terbaru. Ia juga memperkenalkan


jajaran dewan guru dan staf sekolah. Pandangan mata Anta dan Mey tertuju pada


pria berkemeja biru dan celana kulot hitam.


“Pak Herdi?”


gumam Anta dan Mey bersamaan.


Pria itu


menangkap tatapan kedua pasang mata para gadis tersebut, lalu melayangkan


senyum manis pada keduanya. Ia sengaja tidak memberitahukan pada mereka kalau


dia merupakan salah satu guru di SMA Satu Jiwa. Ia juga baru bekerja satu tahun


belakangan ini.


Namun, ada satu


orang pria yang mengenakan seragam safari yang membuat Anta tertuju menatap


pria itu. Ia seperti pernah berjumpa dengan pria tersebut tapi dia lupa pernah


melihat pria itu di mana.


“Mungkin hanya


kebetulan kali, ya,” gumam Anta.


“Apaan, Nta?”


bisik Mey.


“Enggak apa-apa,


udah focus dengerin lagi!”


Selesai


mengikuti upacara, semua murid baru berkumpul di aula sekolah untuk pembagian


kelompok selama masa orientasi siswa. Anta mengamati para kakak kelasnya dengan


gemas. Terlihat sekali perbedaan kasta yang di tunjukkan antara senior dan


junior di sana. Padahal, kepala sekolah melarang keras tindakan semena-mena


yang biasa senior lakukan pada adik kelas di beberapa sekolah.


Kemudian, semua


murid di ajak berkeliling untuk mengenal sekolah lima lantai yang megah itu. Di


dominasi warna dinding biru, sekolah tersebut terlihat sangat bagus. Kebersihan


sekolah yang amat di jaga serta penuh dengan bunga yang di gantung di pot depan


kelas. Di samping tangga terdapat wastafel dan sabun cuci tangan, karena pihak


sekolah ingin para siswa menjaga kebersihan di lingkungan sekolah dengan rajin


mencuci tangan.


Anta dan yang


lainnya beranjak mengunjungi taman sekolah yang terletak di samping kantin


sekolah. Di sana terdapat pohon asem yang tumbuh besar. Pohon itu tampak sangat


tua. Kebanyakan pohon menebar suasana sejuk dan damai sehingga membuatmu betah


untuk duduk di bawahnya. Apalagi kebanyakan anak sekolah pasti senang jika  mengukir inisial nama di sana. Akan tetapi, pohon


ini malah membuat bulu kuduk Anta dan Mey merinding.


“Kok, aku


merinding ya, lihat pohon besar itu,” tunjuk Mey.


"Iyalah,


jelas aja serem banget tuh pohon, soalnya ada-,"


Mey langsung


menutup mulut Anta agar tak melanjutkan lagi gambaran penglihatannya akan


makluk tak kasat mata.


“Kalian pada


ngapain kayak gitu, bukannya merhatiin?” hardik salah satu kakak kelas yang


tergabung dalam panitia MOS angkatan terbaru.


“Enggak, Kak,


maaf tadi hanya…”


“Udah jangan


pada bercanda, perhatikan penjelasan kakak kelas dengan baik!”


“Iya, Kak.”


Anta dan Mey


menjawab bersamaan.


Anta kembali


memandangi pohon tersebut dan mengakui kalau pohon besar tersebut menyeramkan.


Saat gadis itu mengamati pohon besar itu dari akar menuju ke atas pohon, ia


mendapati beberapa sosok perempuan berdaster putih sedang duduk di atas ranting


sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Sosok para hantu itulah merupakan


kuntilanak penunggu pohon.


“Udah, jangan


liatin! Nanti diomelin Tante Tasya kalau penunggu pohon itu ikut kita pulang!”


Mey menatap Anta


tgajam memperingatkan, gadis itu hanya menunjukkan deretan gigi putihnya yang


berderet rapih.


"Perhatian


semuanya, hari ketiga nanti adalah hari terakhir masa orientasi, jadi saya


harap kalian semua bisa menghadiri acara jurit malam di sekolah dan di wajibkan


untuk menginap, tolong persiapkan pakaian ganti, bekal dan obat-obatan


masing-masing." ucap Dion, siswa tampan yang menjabat sebagai ketua OSIS


di SMA Angkasa.


                Semua


mata tertuju pada suara anak muda yang menjadi idola sekolah karena wajah


tampan, bakatnya dalam renang serta kecerdasan yang ia miliki itu. Dion juga


pernah mewakili sekolahnya dalam lomba renang antar pelajar tingkat nasional,


dan dia mendapatkan medali emas.


*******


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”


biar nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…