Anta's Diary

Anta's Diary
Siap Bertarung (Part 1)



Hai gaiiisss, Vie kembali dengan episode panjang. Jangan lupa Vote dan kirim hadiah buat novel ini ya.


Happy Reading...


*******


Wah, wah, wah, sepertinya aku kedatangan tamu, dan kurasa kamu bukan hantu penunggu sini," ucap si Jin Tanduk seraya memperhatikan sosok Arya.


Ia mengelilingi pocong di samping Anta tersebut seraya berdecak kagum.


"Ganteng juga."


"Dia jin cowok apa cewek, Nta?" bisik Arya.


"Kayaknya cewek soalnya suka makan cowok, ini aja Papa Andri mau dia makan, serem kan?"


Anta balas berbisik.


"Serius, lho?"


Jin Tanduk menjulurkan lidahnya. Ia mencoba menjilat pipi Arya kala itu. Sempat tersentuh sepersekian detik, sosok pocong itu buru-buru menepis dan mendorong makluk menjijikan itu dengan bahunya.


"Aw... tajam banget bulunya!" pekik Arya.


Jin Tanduk itu jatuh terhempas. Tanduknya menancap di tanah. Anta dan Arya langsungtertawa terbahak-bahak karena melihat hal tersebut. Sementara itu, Andri masih duduk dengan tatapan kosong. Pria itu masih berada dalam pengaruh sihir makluk itu.


"Sukurin, susah kan elo narik tanduk sendiri hahahaha...!" cibir Arya.


"Aduh perut Anta sakit liatnya," ucap Anta seraya menepuk bahu Arya.


Di luar halaman Jin Tanduk, Arga menelisik ke arah Anta dan Arya dengan perasaan berkecamuk. Ia sedari tadi mondar-mandir di hadapan Tasya. Sesekali ia berusaha masuk menembus pagar gaib tak terlihat itu.


"Ga, udah sih tenang aja, serahkan semua sama Anta dan Arya, lagian kalau mereka kepepet juga nanti Bunda sama Yandanya Anta dateng."


Tasya menepuk bahu pemuda itu.


"Masalahnya, saya enggak suka liat Anta deket-deket sama Arya," tegas Arga.


"Lho, kamu cemburu?" tanya Tasya.


Arga menganggukkan kepalanya. Wajahnya bersemu kemerah-merahan. Ia baru saja mengaku di hadapan Tasya.


"Tante diem-diem aja, ya, jangan bilang siapa-siapa," bisik Arga.


Ia menoleh pada Sahid yang masih sibuk mengibaskan buku tipis di hadapan wajah Dewi. Wanita itu masih tak kunjung juga sadar setelah tadi ia pingsan.


"Hmm... Kamu harus bilang dong perasaan kamu ke Anta, daripada keburu diambil orang," ucap Tasya.


"Iya ya, nanti keburu diambil Arya sama Dion," ucap Arga sambil bersungut-sungut.


"Wuih, banyak banget yang suka sama ponakanku, perasaan muka Anta pas-pasan kayak aku sama Dita, hihihi..." gumam Tasya.


Kembali ke wilayah Jin Tanduk.


Setelah makluk menyeramkan itu melepaskan diri dari tanah, ia segera menghampiri Arya. Kedua tangannya yang sudah mengeluarkan kuku tajam mencoba mencekik leher pemuda itu.


"Kurang ajar kau!" seru makhluk itu.


Anta mencoba menahan makluk tersebut dengan sekuat tenaga. Ia juga menoleh pada Andri yang masih saja terlihat dengan tatapan kosong.


"Pa, jangan bengong, bantuin Anta!" seru gadis itu.


Tak ada reaksi dari Andri, ia hanya memandangi sajian menjijikkan di atas meja yang ada di hadapannya. Sesekali pria itu menyantap menu yang ia lihat sebagai makanan lezat.


"Duh, si Papa malah bengong aja lagi, mana nikmat banget lagi nyeruput darah sama makan cacing, duh Anta mual mau muntah, hueeeekkkk!"


Semburan isi perut Anta menghujani wajah Jin Tanduk. Beberapa butir nasi juga menyentuh pipi Arya.


"Jorok banget elo, Nta!" seru Arya.


"Habisnya Anta jijik sama Papa Andri," ucap Anta.


Jin Tanduk makin marah, tetapi karena semburan Anta tadi, ia akhirnya melepas cengkeraman tangannya di leher Arya.


"Gadis ini benar-benar membuatku marah," ucapnya.


Makhluk menjijikan itu beralih menghampiri Anta. Ia akan melakukan hal yang sama mencekik gadis tersebut. Arya buru-buru mengeluarkan tangan kanannya dari celah kafan di bagian perutnya. Ia langsung memegang erat tangan penuh rambut lebat milik makluk itu.


"Awww... tajam amat ini, bulu apa duri landak," keluh Arya yang mengibaskan tangannya.


Anta menepis kedua tangan makluk itu sebelum menyentuhnya. Bagi Anta rambut milik Jin Tanduk itu malah tak terasa tajam.


Jin Tanduk beralih ke Arya dan menyentuh kedua pipinya. Ia ingin mencongkel kedua bola milik anak muda itu dengan kuku tajamnya. Akan tetapi sesuatu membuatnya melepas sentuhan tangan itu di wajah si pocong.


"Kenapa kau sudah menjadi pocong kalau aku masih merasakan sebagian jiwamu hidup?" tanyanya dengan suara bergumam.


"Hah, maksud lu, Jinduk?" tanya Arya.


Anta yang mendengar hal tersebut jadi penasaran dan mendekat.


"Jinduk?" tanya makhluk itu.


"Iya Jin Tanduk, gue singkat Jinduk, biar kaga ribet manggilnya hahaha..." jawab Arya.


"Ada yang menumbalkan dirinya, tapi ia hanya mendapatkan setengah jiwa anak ini," ucap Jin Tanduk.


"Hah, terus di mana setengah jiwanya lagi?" tanya Anta.


"Mana aku tahu, sudahlah kalian pergi saja, aku mau menyantap orang itu," ucap Jin tanduk seraya menunjuk Andri.


"Oh, tidak bisa!"


Anta langsung menuju ke dekat Andri seraya merentangkan kedua tangannya. Ia akan berusaha menjaga ayah angkatnya itu.


"Hahaha... dengan cara apa kau akan menahanku?"


Jin Tanduk tertawa mencibir Anta.


"Dengan cara apapun, kalau kau sampai berani menyentuh Papa Andri, maka kau harus melangkahi pocong itu!"


Anta menunjuk ke arah Arya.


"Lah, kok gue, kirain elo bakal bilang, langkah dulu mayatku, eh taunya gue juga yang elo suruh hadapi si Jinduk," keluh Arya.


"Hehehe... selama masih ada kamu, boleh kan Anta bergantung sama kamu?"


Anta mengedip-ngedipkan kedua matanya seraya meringis.


Hadeh... tatapan elo maut banget buat gue, Nta. Bikin hati gue jedag-jedug aja, nih!


"Oke, sini Jin, hadapi gue dulu baru dia!" seru Arya menantang Jin Tanduk.


Makhluk mengerikan itu langsung menyerang Arya dengan kedua tanduknya. Sosok pocong itu langsung terpental ke atas dahan pohon besar yang ada di samping rumah Jin Tanduk.


"Waduh, ada pocong nyangkut!" seru Arga yang melihat adegan barusan.


"Duh, gimana nih, Ga, tolongin Arya sama Anta," ucap Tasya panik.


"Tadi katanya percaya aja sama mereka, ini khawatir juga sama mereka," sahut Arga.


"Habisnya si Dita sama Anan mana sih, lagi genting begini bukannya pada datang," keluh Tasya seraya tak sadar berputar mengelilingi Arga.


"Kalian pada kenapa sih, si Anta mana sama Andri kok enggak balik ke sini juga?" tanya Sahid berseru dari samping mobil Andri.


"Kalau enggak bisa lihat hantu diem aja deh, mereka juga lagi berjuang buat lepas dari situ!" jawab Tasya seraya berseru.


Sahid langsung terdiam dan berhenti mengeluh.


"Maaf, aku kan enggak tau, aku bantu doa dari sini aja, ya," ucap Sahid.


Tasya masih terlihat gusar, ia juga bingung bagaimana caranya membantu Anta dan Arya. Sementara itu, ia hanya bisa melihat keadaan mereka dari luar pagar gaib yang tak terlihat itu. Di dalam hatinya, ia berdoa agar Tuhan mau menolongnya dengan mengirim Dita dan Anan ke dalam rumah Jin Tanduk.


"Woi, turunin gue dari sini!" seru Arya.


"Haduh, kayak guling dijemur gitu, gimana nolonginnya, ya?" gumam Anta.


Ia menarik lengan Andri, tetap tak ada reaksi.


"Maafin Anta ya, Pa," ucap Anta.


Plak!


Gadis itu menampar pipi kanan Andri sampai terlihat permukaan kulit pipi itu memerah. Tetap tak ada reaksi dari Andri.


"Wah, benar-benar si Papa nyebelin, masa perlu Anta lempar pake kursi ini," ucap Anta.


Gadis itu mengangkat sebuah kursi kayu sekuat tenaganya. Namun, bukan Andri yang ia tuju melainkan ia mengubah pikirannya saat itu. Anta melempar kursi itu ke tubuh Jin Tanduk.


Kursi kayu tersebut hancur berantakan tetapi tak menimbulkan luka di tubuh Jin tersebut.


"Haduh, gimana ini," gumam Anta.


Jin Tanduk segera menghampiri Anta. Kuku tangannya makin tajam. Mata makluk itu lebih merah dari yang tadi. Ia berjalan ke arah gadis itu seraya mengarahkan kedua tangannya menuju leher gadis itu.


"Haduh, gimana nih?"


Anta berusaha untuk menghindar menuju ke seberang meja Andri. Semua makanan menjijikkan di atas meja itu ia lemparkan ke arah Jin Tanduk.


"Sepertinya, aku juga harus menyantap gadis sepertimu meskipun biasanya aku hanya memakan laki-laki," ucap Jin tersebut dengan tawa makin menyeringai.


"Woi, Jin Kambing Bandot! Berani elo sentuh Anta, bersiap hadapi kemarahan gue!" seru Arya dari atas dahan pohon tersebut.


****


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”


biar nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni