Anta's Diary

Anta's Diary
Melawan Suku Ro (Part 1)



Happy Reading...


******


"Hmmm... kita bisa lawan mereka, asal jangan sampai mereka mendekat ke mobil Tasya," ucap Dita.


"Ini baru pengikutnya, gimana iblis Ro sendiri yang dateng ke sini," gumam Anan.


"Jadi, gimana ini?" tanya Dewi dengan wajah cemasnya.


"Tenang, kamu yang tenang ya. Kita... Kita kabur aja, Dew, ngumpet di belakang pohon itu," ucap Andri menarik lengan Dewi.


"Andri... tunggu aku!" seru Martha mengejar Andri.


Wanita itu lupa menjaga Raja dan Pak Herdi yang berada di dalam gudang.


"Bagus, tuh nenek peyot lupa sama kita, ayo masuk Bunda!" ajak Anan.


"Para mayat hidup itu, gimana?" tanya Dita.


"Biarin aja lah, masa mau kita ajak makan siang bareng, ogah amat!" sahut Anan.


Keduanya langsung masuk ke dalam gudang. Mereka melihat Raja dan Pak Herdi terikat di sebuah kursi kayu. Kedua orang itu tak sadarkan diri. Di antara kursi itu diletakkan sebuah bom yang terdapat layar waktu sekitar 30 menit.


"Waduh, beneran ada bom, mana cuma 30 menit, gimana cara menjinakkannya, Bunda?" tanya Anan dengan nada mulai panik.


"Kita bebasin mereka dulu, terus buru-buru kabur dari sini, enggak usah mikirin menjinakkan bom, kita bukan artis film mekdi itu," sahut Dita seraya melepaskan ikatan Raja.


"Mekdi?" tanya Anan tak mengerti.


"Iya, Mek apa gitu, hehehe yang jago banget banyak akal," ucap Dita.


"Mac Gyver? Film zaman dulu waktu aku kecil?" tanya Anan.


"Nah itu, itu maksud Bunda. Ayo Raja, bangun ini ada Bunda," ucap Dita menepuk pelan pipi putra tampannya itu.


"Nanti Bunda, lima menit lagi, Raja mau sarapan nasi goreng sama telur mata sapi, tapi matanya dua," ucap Raja sambil meregangkan tubuhnya.


"Heh, ini bocah, emangnya di rumah apa, ini lagi urusan gawat, ayo cepet bangun!"


Dita mengguncang-guncangkan bahu Raja.


Sementara Anan juga membuka ikatan di tangan Pak Herdi ia menampar pipi pria tersebut sampai meninggalkan bekas kemerahan.


"Astaga, Yanda, kenceng banget mukulnya," ucap Dita.


"Biar cepet bangun, bangun luh, Bro, cepatan!" seru Anan.


Pak Herdi langsung membuka kedua matanya dan mengusap pipinya yang terasa perih dan panas.


"Kok, bisa ada kamu?" tanya Pak Herdi yang merasa pernah melihat wajah Anan.


"Bisalah, cepetan bangun! Tuh, liat di samping kamu ada—"


"Ada bom, tadi ada bom, ayo cepat pergi!"


Pak Herdi tak sengaja menarik lengan Dita saat menuju ke luar gudang.


"Heh, bini gue itu yang elo tarik, bisa-bisanya elo ngambil peluang dalam kesempitan gini!" seru Anan.


"Hah, ada Yanda sama Bunda, tadi ada bom tau," ucap Raja.


"Udah tau, makanya buruan ayo bangun!"


Anan menyentak Raja yang langsung sigap berdiri dan mengikutinya. Pria itu segera mengejar Dita dan Pak Herdi. Sesampainya di luar gudang, ia langsung menarik lengan Dita.


"Maaf, enggak sengaja, takut keburu meledak," ucap Pak Herdi.


Tiba-tiba kawanan mayat hidup itu semakin mendekat dengan langkah terseok-seok. Mereka mencium wangi tubuh Raja dan Pak Herdi. Rasa lapar membuat sikap mereka makin agresif. Dengan mulut terbuka ingin menggigit mereka menghampiri Raja dan semuanya. Kedua tangan mereka juga terarah ingin mencengkeram.


"Lari, cepat lari!" seru Anan.


Semuanya langsung lari menuju ke luar halaman. Raja merasa lelah berlari dan hampir tertangkap. Tangan kirinya sudah ditarik oleh si mayat hidup. Pak Herdi menoleh dan langsung menolongnya. Ia tarik tangan si mayat hidup sampai kulit permukaan sosok itu mengelupas.


"Idih, jijik... Aku geli liatnya!" seru Raja.


Anan menoleh ke belakang lalu menghampiri anaknya tersebut.


"Kamu naik ke punggung Yanda!" pinta Anan.


Raja pun menurut mereka kini berlari bersamaan dengan Dita dan Pak Herdi.


***


"Duh, perasaan Anta enggak enak nih," gumam gadis itu.


"Udah deh, kalau kata Bunda kamu di sini ya di sini aja!" sahut Tasya.


"Tapi Anta penasaran, Anta mau lihat Bunda."


"Gaisss... mendingan cepet pergi, di dalam itu ada yang lebih menakutkan dari kaum gue!" seru Desta yang baru saja datang dari dalam gudang.


"Nakutin gimana?" tanya Anta.


"Ih, pokoknya menjijikkan!"


"Lihat elo aja gue udah ngerasa jijik," cibir Arya.


"Udah deh, diem, Ya. Anta mau tanya secara detail sama Desta," sahut Anta melirik Arya dengan tajam.


"Tau, bukannya diem, luh!" sahut Arga menyenggol bahu Arya.


Tak lama kemudian, dari kejauhan datanglah rombongan Dita dan lainnya yang sedang berlari.


"Duh, ribet banget baju aku sampai lari-lari gini," keluh Dita sambil berlari.


Anan berlari di samping Dita jadi menoleh.


"Kamu pakai celana leging, enggak?" tanya Anan.


"Pakai lah, kalau enggak pakai, adem banget rasanya, dingin," sahut Dita.


"Bagus, Bunda keluarkan kekuatanmu robek gaun kamu dan hajar merkea!" pinta Anan.


"Enggak bisa, aku belum makan, laper," ucap Dita.


"Astaga, punya istri sang Ratu Kencana Ungu, kalau lapar kekuatannya hilang juga," gumam Anan.


Anan menghentikan langkahnya dan menurunkan Raja.


"Kamu gendong anak saya!" perintah Anan pada Pak Herdi.


Pria itu menyetujui dan langsung menggendong Raja. Sementara Anan merobek gaun Dita di bagian bawah dengan gigi tajam miliknya agar lebih mudah dalam berlari. Potongan gaun itu ia lempar pada mayat hidup sampai ada beberapa di antara mereka terjatuh karena terpeleset gaun sutra yang permukaanya licin itu.


Mereka semakin dekat dengan mobil Tasya. Anta dan yang lainnya langsung sigap kala melihat rombongan mayat hidup di belakang rombongan Dita dan Anan. Meskipun awalnya mereka merasa ketakutan, tapi demi keluarga Anta mereka bersiap dengan sentaja seadanya seperti ikat pinggang milik Arya, Sahid dan Arga.


"Ayah, aku akan melindungi ayah!" ucap Arya bersiap dengan ikat pinggang berkepala besi di tangannya.


Tasya juga bersiap dengan tongkat bisbol yang selalu berada di dalam mobil. Anta yang sedari tadi sudah langsung turun dari mobil, segera meraih dahan yang jatuh dari pohon di sebelah mobil. Begitu juga dengan Desta yang ikut meraih dahan pohon dan menariknya jatuh.


"Ayo, kita hajar mereka!" seru Anta.


Sayangnya, Pak Herdi terjatuh sampai menjatuhkan Raja.


"Hadeh, enggak beres banget tuh orang dari tadi," ucap Anan.


Ia segera berbalik arah dan menolong Raja. Arya langsung berlari menolong ayahnya kala itu. Para mayat hidup mulai mendekat.


"Hiaatttt, Ayo kita serbu!" Anta berlari memukul salah satunya.


Arga dan Tasya juga tak mau kalah.


"Hiaaatttt!" seru Arga menimpali.


"Ambil semprotan merica di tas aku, Ta!" seru Tasya pada Dita.


"Oke!"


Sahid melindungi Dita kala itu agar sampai ke dalam mobil. Sementara Anan berjuang menolong Raja. Arya memukul wajah si mayat hidup yang berada di samping ayahnya Anta dengan keras. Ujung ikat pinggangnya itu menarik kulit pipi si mayat hidup itu. Kulit yang mulai peyot itu terlihat mengelupas dan jatuh ke lengan Anan.


"Iyuh! Geli banget ini, woi!" seru Anan.


Ka meraih kulit tersebut dengan jijik dan melemparnya sembarangan. Kulit itu sampai ke wajah Herdi yang berada di samping Raja.


"Apaan, nih?"


Herdi menarik kulit tersebut dari wajahnya.


"Astaga, bau banget ini!" pekiknya.


"Jangan lempar sini, Om, aku geli!" ucap Raja.


Para mayat hidup lebih banyak jumlahnya dari rombongan Anta, mereka semakin tersudut di samping mobil Tasya.


*****


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”


biar nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni