Anta's Diary

Anta's Diary
Sumur Tua di Kebun Singkong



Kumpulin poinnya dan jangan lupa poinnya buat Vote ya...


*******


Arya, aku tau kamu di sini, kamu harusnya berterima kasih sama aku, karena berkat ritual yang aku lakukan, kamu bisa hadir ke dunia ini lagi," ucap Mey.


Mey makin kuat menghentak-hentakan kakinya ke tanah. Sampai menggentarkan tanah tempat Arya berdiri.


"Ini cewek gila kali ya masa bisa berubah-ubah emosi enggak jelas macam gini, malah gue yang takut, padahal gue yang hantu," ucap Arya.


Selesai melaksanakan tahlilan, Anta ke luar rumah bersama Raja untuk mencari Mey. Ia melihat gadis itu sedang bermain ayunan. Sementara Arya berada di seberang gadis itu.


"Mey, ikut makan, yuk!" ajak Anta.


"Aku kenyang, kalian aja yang pada makan," jawab Mey.


"Ya udah kalau gitu aku mau makan duluan, daaahh..." Raja melambaikan tangannya masuk ke dalam rumah.


"Ya, kamu mau makan, enggak?" tanya Anta pada Arya.


"Bawain sini ke luar, gue enggak mau makan di dalam, oh iya ada yang mau gue omongin soal Mey," ucap Arya, ia yakin kalau gadis itu tak mendengar kalau namanya sedang dibicarakan.


"Masa? Tentang apa?"


"Nanti aja, enggak enak gue masa mau bergosip depan orangnya hahaha..." sahut Arya.


"Kenapa, Nta? Kamu lagi ngomong sama Arya, ya?" tanya Mey.


"Iya, katanya dia dari tadi nemenin kamu di sini," ucap Anta.


"Apa? Jadi, dari tadi Arya ada di sini, dari tadi dia juga lihat sikap dan perbuatan aku?" tanya Mey.


"Cumi albino! Jangan mulut elo ember bocor banget asal jeplak aja, tadi mah jangan jujur-jujur amat kalau gue ada di sini, dodol!" keluh Arya.


Anta mengangkat bahu dan kedua tangannya.


"Emang kamu ngelakuin apa, Mey?" tanya Anta.


"Aku, aku..." Mey langsung berlari menjauh dan menangis menghindari Anta dan Arya. Gadis itu berlari ke kebun singkong.


"Anta salah ngomong, ya?" Anta menoleh pada Arya.


"Bukan salah ngomong lagi, dia malu tau gara-gara elo bilang gue dari tadi di sini," ucap Arya seraya menoyor kepala Anta.


"Lah, kan emang bener kalau ada kamu dari tadi di sini," sahut Anta bersikeras.


"Ya malu, cumiii... dia tadi nangis, terus ketawa, terus nangis, terus marah-marah enggak jelas terus ngebayangin dansa sama gue, ya dia malu lah!" Arya bersungut-sungut.


"Hah, serius? Tadi Mey melakukan itu, astaga apa yang telah aku perbuat ini berdosa banget," ucap Anta dengan menutup mulutnya menahan tawa.


"Enggak lucu Anta! Sana samperin Mey, nanti dia bunuh diri lagi di pohon singkong!" seru Arya.


"Tapi Anta laper tau, kamu aja yang nyamperin!"


"Dia enggak bisa lihat gue cumiiiii...!" Arya berteriak di telinga Anta dengan kencangnya.


"Pengeng Arya! Iya, iya, aku samperin Mey, huh!"


Anta menoleh pada Arya yang masih berdiam diri.


"Ayo, pocong bungkus permen ikut Anta!"


Gadis itu menarik lengan Arya menuju kebun singkong.


Sesampainya di sana, Anta tak menemukan keberadaan Mey.


"Nah lho, Mey ke mana, Ya?" gumam Anta menoleh pada Arya.


"Mana gue tau!" sahut Arya.


"Mey, Mey cantik, pulang yuk!"


Anta berseru memanggil Mey yang tak kelihatan batang hidungnya.


Sosok hantu perempuan tadi muncul dan menunjuk ke arah belakang pohon besar.


"Temen saya ada di sana ya, Kak?" tanya Anta.


Sosok hantu itu menganggukkan kepalanya.


"Makasih ya, Kak, oh iya aku mau tanya— yah hilang, si Kakak tadi ke mana, Ya?" tanya Anta menoleh pada Arya.


"Enggak tau, tiba-tiba aja wusss hilang, mau tuh gue kayak gitu, entar belajar ah," sahut Arya.


Karena suasana sekitar makin gelap dan minim penerangan, maka gadis itu menyalakan senter dari ponsel yang ia raih dari dalam saku.


"Duh, numpang ya dedek bayi yang gemes, cup cup cup nanti di beliin susu sama Kakak ini, nih!" tunjuk Anta pada Arya seraya melewati para bayi-bayi yang merangkak bolak - balik melewati kaki gadis itu.


"Repot, Nta, kalau semua bayi ini nyusu sama gue, mana gue enggak punya susu," sahut Arya.


"Beliin lah di superkampret, hahaha..."


"Sumpah enggak lucu!"


Arya menarik rambut belakang Anta dengan gemas.


"Sakit Arya!" Anta ingin membalas perlakuan Arya akan tetapi pocong itu langsung menunjuk ke sesuatu yang berada di belakang pohon besar itu.


"Itu sumur, ya?" tanya Anta.


"Kayanya iya, gue enggak ikutan lah, nanti gue dibilang ngintip lagi kalau Mey tau-tau mandi di situ," ucap Arya.


"Heh, Pocong Dongo! Mana ada orang yang bakal mandi di sumur tua gitu, jelas-jelas tuh sumur tua kayak udah enggak kepake," sahut Anta menarik tangan Arya.


"Hih, sebel banget gue sama elo!" Kedua tangan Arya langsung mengacak-acak wajah Anta dengan gemas. Begitu juga Anta yang balas mengacak-acak wajah Arya sampai mencolok-colok hidung mancung Arya dengan tangannya.


"Apa... yang... kalian... lakukan... di sini...?"


Terdengar suara berat ke luar dari dalam sumur tua. Rambut panjangnya terurai menutupi wajahnya.


Anta dan Arya langsung menghentikan kegiatan cakar - mencakarnya.


"Suara siapa, Ya?" bisik Anta.


"Bukan suara gue."


"Iya, gue tau, makanya itu suara siapa?" tanya Anta lagi.


"Di sumur tua itu, Nta, coba elu tengok!"


Anta perlahan menoleh ke belakangnya ke arah sumur tua. Bersamaan dengan Arya, keduanya melihat kedua tangan yang kulitnya pucat dan berkeriput merangkak ke luar dari sumur tua. Perlahan demi perlahan, sosok perempuan itu ke luar merangkak dari dalam sumur. Sosok itu mengenakan dress putih yang warnanya sudah lusuh.


"Wah, keren nih," ucap Anta.


"Apanya yang keren?" tanya Arya yang bersembunyi di balik tubuh Anta.


"Keren lah, Raja juga pasti suka lihat ini," sahut Anta.


"Apanya yang keren, sih?" tanya Arya masih tak mengerti dengan apa yang Anta maksud.


"Keren dong, soalnya Anta ketemu artis," ucap Anta dengan wajah senang.


"Ini cewek sama anehnya sama Mey nih jangan-jangan, ada gitu ketemu hantu malah girang," cibir Arya.


"Coba kamu perhatikan dia baik-baik mirip artis, kan?" tunjuk Anta.


"Artis siapa, sih, muka dia aja enggak kelihatan gitu," sahut Arya.


"Mirip artis yang main film," sahut Anta.


"Artis pemain film yang mana, sih?"


"SADAKO."


"Astaga pengen gue kunyah nih kain kafan gue rasanya, ampun dah punya temen cewek pada gini amat," ucap Arya seraya menggigit kain kafannya sendiri dengan gemas.


*****


To be continue...


Follow IG ku ya @vie_junaeni


Mampir juga ke Novelku lainnya.


- Pocong Tampan


- With Ghost


- 9 Lives


- Kakakku Cinta Pertamaku


- Forced To Love


- Diculik Cinta