Anta's Diary

Anta's Diary
Arya Pulang



Jangan lupa Vote yang banyak buat Anta ya...


*******


Setelah pemakaman Doni, semua keluarga berkumpul di rumah Dewi dan Andri.


"Sekarang Anta tinggal sama aku, ya?" pinta Tasya.


"Oke, beres!" sahut Anta.


"Kita buat acara tahlilan di panti asuhan aja, kan gak semua penghuni paham tahlilan," ucap Tante Dewi.


"Iya aku setuju itu, nanti karyawan aku juga aku ajak sekalian siapin makanan buat anak-anak yatim," sahut Andri.


"Berasa ada yang kurang enggak, sih?" tanya Tante Dewi menghitung para anggota keluarga yang ada di rumah itu.


"Om Doni kan udah enggak ada makanya kurang," sahut Anta.


"Iya, ya, pantes ada yang kurang."


"Astaga, Dewi! Raja kan masih di rumah sakit!" pekik Andri menepuk dahinya sendiri.


"Ya ampun, Sayangku, ayo ambil Raja dari rumah sakit!" ajak Tante Dewi seraya meraih lengan Andri.


"Bentar, ambil kunci mobil dulu," ucap Andri.


"Lah kok Anta juga lupa ya kalau punya adek namanya Raja hehehe..." ucap Anta.


"Aku rebahan dulu ya di sini," ucap Tasya.


"Oke, Anta mau buat mie rebus, Tante mau?"


"Enggak, Nta, Tante enggak laper."


Anta lalu melangkah menuju dapur.


"Duh, biasanya ada Silla nih, ke mana tuh hantu, ya?" gumam Anta.


"Hadir...!" Silla muncul di belakang Anta.


"Wuih, mantap nih udah bisa muncul dan menghilang," ucap Anta.


"Udah dong, oh iya kamu tau enggak, kalau Delima sekarang bisa lihat aku?" tanya Silla.


"Enggak tau kan Tante Silla enggak pernah cerita, oh iya Anta punya kabar, tapi maaf ya sebelumnya, kata Yanda ummm... gimana ya ceritanya."


Ucapan Anta terhenti saat sedang menyiapkan air panas dalam panci untuk merebus mie instan.


"Ngomong apa?" tanya Silla.


"Kata Yanda, kata Yanda nih, Tante Delima itu jahat, dia udah buat Raja ketahan di tanah kuburan buat dijadikan tumbal santapan raja genderuwo sepertinya," ucap Anta.


"Hah, kamu yang bener? Kamu enggak bohong kan?" tanya Silla.


"Iya Anta enggak bohong, malah dia jebak Om Ardi yang katanya mau perkosa dia," ucap Anta sambil mengaduk mie rebus.


"Tapi kan kita tau sendiri kalau Ardi mau bunuh kita mau bunuh Delima," sahut Silla.


"Ya juga sih, mungkin aja om Ardi mabuk waktu mau jahatin Tante Delima, terus yang dia mau celakain Anta sama Raja karena takut diaduin kerja sama ama Kelly itu ke polisi."


"Ya berarti salah juga kan si Ardi?"


"Iya juga sih salah, ya dua-duanya salah lah, eh Tante Silla tolong dong, cuciin bekas panci Anta, panas nih lagi pegang mangkok mie hehehehe..."


"Huuuu... nyesel aku nyamperin kamu ke sini," keluh Silla.


Tok Tok Tok.


Suara pintu apartemen Tante Dewi itu terdengar ada yang mengetuk. Tasya tertidur pulas di sofa sampai tak mendengar suara ketukan.


"Jiah, dia pulas, tunggu sebentar..."


Anta meletakkan mangkuk mie rebus di atas meja lalu melangkah membuka pintu itu.


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam, eh Om Herdi, mau cari siapa?"tanya Anta.


"Ini ada yang mau cari kamu," jawabnya seraya menunjuk Arya yang berdiri di balik dinding.


"Hai!" sapa Arya.


"Oh iya, saya bawa kue nih buat di cemilin," ucap Pak Herdi seraya menyerahkan sekotak kue bolu karamel pada gadis itu.


"Terima kasih, masuk yuk, Anta buatin minum, atau mau mie rebus?" tanya Anta.


"Boleh, tuh. Udah lama gue enggak makan mie rebus," sahut Arya.


Pak Herdi dan Anta langsung menoleh ke arah Arya dengan tatapan tak percaya.


"Kamu, makan mie rebus?" tanya Pak Herdi.


"Iya, terus kenapa, emangnya aku harus makan kembang apa menyan, Yah?" Arya balik bertanya pada ayahnya.


"Ya, kali..."


"Ya udah Anta buatin mie rebus enggak apa-apa, daripada dia minta makan bayi apa minum darah, ih serem."


Anta bergegas menuju dapur.


"Nta, gue makan yang ini aja," ucap Arya melihat mir rebus rasa soto di atas meja.


"Oh, ya udah, makan aja yang itu!"


Anta melongok sekilas lalu melanjutkan kembali memasak mie rebus di dapur. Pak Herdi mengamati Tasya yang tidur terlelap karena kelelahan. Kedua mata wanita itu masih terlihat sembab karena menangis seharian.


"Cie, Ayah so sweet banget sama Tante Tasya," ledek Arya.


"Masa dia ngiler gini mau didiemin aja," sahut Pak Herdi.


Tiba-tiba kepala pria itu menunduk dan menutupi wajahnya dengan tisu. Dia ketakutan melihat sesuatu.


"Kenapa, Yah?" tanya Arya.


"Di samping kamu ada—"


"Bbuuuahhh...! Tante Silla!" seru Arya menyemburkan kuah mie rebus dari mulutnya je wajah hantu perempuan itu.


"Arya....! Nyebelin ih baru ketemu udah dikasih kuah, huh...!" sahut Silla mengeluh.


"Ya, maaf. Habisnya Tante ngagetin."


"Kalian kenal?" tanya Pak Herdi masih menutupi wajahnya dengan tisu.


"Kenal, Yah, dia kan penunggu sini," jawab Arya.


"Oh, kalau gitu Ayah pulang aja, ya, nanti jangan lupa kalau mau pulang kunci rumah, ya," pinta Pak Herdi.


"Lha, kenapa kunci pintu, aku kan bisa nembus dinding?" tanya Arya.


"Oh iya, Ayah lupa."


Pria itu lalu bergegas pamit menjauh dari Silla.


"Arya ini tolong kasih Anta, tadi Ayah lupa. Anta, Om pergi dulu, ya..."


Pak Herdi ke luar dari rumah Tante Dewi.


Anta kembali membawa dua mangkuk mie rebus di sebuah nampan warna hijau.


"Ayah kamu pulang?" tanya Anta.


"Iya, dia takut sama Silla, hahaha..."


Bug!


Silla memukul punggung Arya.


"Lagi makan gini main pukul aja, mau aku lembur lagi, nih?" ancam Arya.


"Lagian aku udah cantik gini masih aja ada yang takut," keluh Silla.


"Namanya juga hantu," sahut Anta.


"Nta, itu bakalan kamu habisin dua mangkuk mie itu?" tanya Arya.


"Iya, daripada enggak ada yang makan hehehe..." sahut Anta.


"Baru tau, ya, dia mah makannya banyak tau," sahut Silla.


"Ckckckkc gue enggak nyangka," sahut Arya.


"Eh, ini apa?" tanya Anta.


Gadis itu menemukan sebuah kotak hitam di atas meja.


"Itu dari Ayah gue katanya buat elo."


Anta membuka kotak hitam tersebut dan menemukan gelang perak dengan bandul kerincingan di sekitarnya.


"Ih, lucu banget gelangnya. Serius ini buat Anta?"


"Katanya buat elo, ya udah pakai aja!" sahut Arya yang menggeser bokongnya mendekati Anta.


"Kenapa deket-deket?"


"Bagi lagi mie-nya, hehehe..." pinta Arya.


"Huuuu, sama aja makannya banyak, besok-besok kerja biar punya duit buat beli bahan makanan," ucap Anta.


"Kerja apaan, emang ada kerjaan buat pocong?" tanya Silla.


"Ada, buat Tante Silla juga ada, nanti kerjanya di taman bermain pas di rumah hantu hahahaha..." sahut Anta tertawa sendiri.


Silla dan Arya saling bertatapan.


"Garing!"


*******


To be continue...


Follow IG ku ya @vie_junaeni


Mampir juga ke Novelku lainnya.


- Pocong Tampan


- With Ghost


- 9 Lives


- Kakakku Cinta Pertamaku


- Forced To Love


- Diculik Cinta