Anta's Diary

Anta's Diary
Taman Keluarga Bahagia



Hai semua, sebelum membaca, bayar


tulisanku dengan poin kalian, pokoknya jangan lupa VOTE…!


Terima kasih…


******


Malam itu, tepat pukul tujuh, pembukaan taman wahana yang


baru di mulai. Anta dan Raja yang berada di restoran Andri melihat kerumunan


para pengunjung yang sudah berbaris rapi di depan loket pembelian tiket masuk.


“Kita enggak ngantri, Kak?” tanya Raja.


“Kamu aja, gih, Kakak males antrinya,” sahut Anta.


“Aku juga males, terus yang mau beli tiket masuk siapa?”


tanya Raja.


“Hai!” sapa Arya yang berada dalam tubuh Dion.


“Lho, kamu bukannya istirahat pura-pura gitu, namanya baru


sembuh dari kecelakaan, masa udah kemana-mana,” seru Anta seraya memukul bahu


Arya.


“Sakit, Anta!” sahut Arya melindungi bahunya.


Tasya datang dan langsung menarik ujung daun telinga Arya.


“Aduh, aduh, aduh, sakit!” sahut Arya.


“Rasain, makanya kalau punya otak dipake, jelas-jelas lagi


koma malah bertingkah sampai viral,” ketus Tasya.


“Ya, maaf, enggak sengaja ketauan sama suster malah nerus,”


sahut Arya.


“Nah, ini kan harusnya habis sembuh dari tabrakan istirahat


dulu, bukannya malah kelayapan malam-malam gini?”


Tasya melirik tajam seraya bertolak pinggang di hadapan


Arya.


“Hehehe… keluarganya Dion yang bawa ke sini, tuh mobilnya


udah masuk wahana,” tunjuk Arya.


“Keluarganya Dion, maksudnya ayahnya, gitu?” tanya Anta.


“Eh, keluarganya si Ria, kalau bokapnya Dion masih di laut,”


jawab Arya.


Anak muda itu lalu duduk di kursi yang ada di hadapan Anta.


“Ini restoran kenapa jadi bagus banget, mau ada acara apa?”


tanya Arya setelah mengamati sekeliling.


“Lupa, ya? Hari minggu akan diadakan acara pernikahan Ayah


kamu sama Nenek Lampir,” jawab Anta.


“Hahaha… Nenek Lampir, nanti aku bilangin Tante Hyena, lho,”


ucap Raja seraya tertawa.


“Biarin aja emang kayak Nenek Lampir,” ucap Anta.


“Ratunya Mak Lampir malah,” sahut Tasya.


Ponsel di saku Arya berbunyi, rupanya Ria menghubunginya


agar masuk ke dalam area taman hiburan di seberang itu.


“Wuidih, hape mahal kan itu!” tunjuk Tasya.


“Oh ini, punya Dion hadiah dari Ayahnya katanya sih minggu


depan dia ulang tahun makanya dikasih hadiah ini,” jawab Arya.


“Wah, menang banyak, dong, dapat rezeki melimpah Kak Arya,


mau aku kayak gitu, gantiin Kak Dion,” sahut Raja.


Pluk!


“Ngomong sembarangan aja!” sahut Anta menoyor kepala


belakang Raja dengan gemas.


“Yah enak lah, yang ulang tahu Kak Dion, yang dapat hadiah


Kak Arya,” gumam Raja.


“Bentar, apa hubungannya keluarga Ria sama wahana itu?”


tanya Anta.


“Papanya Ria, siapa tadi namanya, duh… Hartono, iya namanya


Hartono, dia yang punya taman hiburan itu,” jawab Arya.


“Astaga, itu berarti Papanya Ria ada hubungannya sama Suku


Ro?” tanya Anta menoleh ke arah Tasya.


“Ya, pantas aja menara di dalam sana itu ada tulang


manusianya,” sahut Tasya.


“Waduh, siap-siap ketemu hantu dong, gue di dalam sana,”


seru Arya mulai takut.


“Ya udah sana, siapa tau aja nanti… banyak hantunya hahaha…”


sahut Anta.


Belum juga keluar ide dari mulut Raja agar masuk ke dalam


wahana bersama Arya, ternyata anak muda itu sudah menggandeng tangan kakaknya.


“Ayo, masuk sama gue!” ajak Arya.


“Aku ikutan juga, ya, Kak?” pinta Raja.


“Ayo, semua ikut, Tante mau ikut juga?” tanya Arya.


“Nanti aja, kalau urusan di sini udah kelar, Tante nyusul


sama Ratu Sanca,” ucap wanita itu.


Anta yang ditarik tangannya oleh Arya langsung menarik


tangan Raja juga agar mengikuti langkah pemuda itu segera.


***


Di dalam taman bermain yang baru, Anta melihat beberapa


wahan permainan. Ada sepuluh wahana permainan seperti bianglala mini, roller coaster


mini, dan permainan lainnya layaknya permainan yang ada di wahana besar hanya


saja ini versi kecil.


Di dalam taman bermain tersebut juga ada danau yang terdapat


dua perahu untuk disewakan kepada pengunjung. Sayangnya, perahu itu hanya bisa


digunakan waktu siang hari, karena danau tersebut terlalu gelap.


Ada beberapa stand permainan kecil seperti tembak boneka,


lempar bola, pemancingan ikan di mini akuarium dan permainan lainnya. Ada juga


stand kuliner yang menjual berbagai macam cemilan dan aneka minuman. Pastinya


di dalam taman bermain tersebut ada tempat untuk menjual pakaian, boneka dan


souvenir lainnya.


“Hai, Anta!” sapa Ria seraya memeluk Anta. Di lehernya sudah


menggantung kamera insta yang selalu ia bawa kemana-mana. Ria juga


memperhatikan tangan Anta yang masih digenggam oleh Arya.


“Hai, Ria, eh sebaiknya enggak usah foto-foto,” ucap Anta.


Gadis itu buru-buru melepas genggaman tangan Arya karena tau


arah tatapan temannya itu ke tangan mereka. Raja tertawa di samping Anta yang


langsung diberi lirikan tajam oleh sang kakak.


“Kenapa memangnya aku enggak boleh ambil foto, banyak hantu,


ya, jangan-jangan?” terka Ria.


“Kalau Anta boleh jujur, iya banyak hantu, jadi sebaiknya


jangan ambil gambar pakai foto itu, pakai kamera ponsel aja,” ucap Anta.


“Emang kamera ini, kenapa?” tanya Arya.


“Ini kamera Ria bisa menangkap gambar hantu,” jawab Anta.


aku mulu kalau lagi aku tunjukkan foto hantu,” sahut Ria.


“Masa, sih?” tanya Anta.


“Iya, benar.”


“Dion yang ini mah udah biasa lihat hantu,” sahut Arya.


Anta langsung memukul bahu anak muda itu agar jangan


keceplosan terus.


“Halo, Anta!” sapa Nyonya Mia.


Anta langsung mencium punggung tangan wanita itu dan ia juga


memerintahkan pada Raja untuk melakukan hal yang sama.


“Tante, apa kabar?” tanya Anta.


“Baik, yuk, kita ke panggung, ayahnya Ria mau kasih sambutan


sama gunting pita secara simbolis sama walikota sini,” ucap Mia.


Anta dan yang lainnya langsung pergi mengikuti langkah


ibunya Ria, kecuali Raja.


Padahal sedari tadi Anta dan Arya juga sudah mengalihkan


perhatian mereka dari tatapan kosong para hantu yang mereka lihat. Hanya saja


Raja masih belum bisa menahan agar jangan menatap kembali para hantu.


Salah satunya saat Raja hendak bermain lempar bola, di


samping stand lempar bola tersebut terdapat sosok hantu anak kecil seusianya


tak mempunyai kaki. Sosok hantu itu bergerak dengan menyeret tubuh bagian


bawahnya itu dan bertumpu pada kedua tangannya. Sosok hantu itu tau kalau Raja


dapat melihatnya, maka ia bergerak menuju anak yang sudah memegang bola dan


bersiap untuk melempar.


 Hantu anak kecil itu


mendongakkan kepalanya menatap Raja. Kedua mata hantu anak kecil itu menghitam


seperti mata panda. Seluruh tubuhnya terlihat memar dan pucat. Ia menarik


celana Raja dan tersenyum menyeringai saat anak itu melihat ke hantu tersebut.


Raja menoleh pada hantu anak itu, “kenapa, sih?” ucap Raja.


“Mau es krim,” pinta hantu itu.


“Yah, masa aku kena palak hantu, sih,” gumam Raja seraya


menggerutu.


“Kenapa, Dek?” tanya si penjaga stand di hadapan Raja.


“Enggak ada apa-apa, Bang, aku mau incar yang itu jadi


berdoa dulu,” ucap Raja berbohong.


“Raja…!”


Anak perempuan yang sekelas dengan Raja datang menegur anak


itu.


“Eh, Opi, kamu main ke sini juga,” ucap Raja.


“Iya, kamu mau lempar bola, ya? Aku rekam ya videoin,” ucap


Opi.


“Jangan, ah! Malu aku, minta tolong beliin es krim, mau


enggak?” tanya Raja.


“Oke, tenang aja, tapi nanti foto ya sama aku?” pinta Opi


dan Raja menganggukkan kepalanya.


“Tuh, demi es krim kamu aku rela tuh diajak foto sama dia,”


keluh Raja.


Anak itu melempar bola kea rah boneka penguin yang dapat ia


jatuhkan.


“Wah, selamat, ya, ini boneka buat kamu,” ucap pria penjaga


stand seraya menyerahkan boneka penguin pada Raja.


“Makasih, Mas.”


“Ini es krimnya, terus foto, ya?” pinta Opi.


“Oke.”


“Raja senyum dong!”


“Iya, ini senyum.”


Raja memaksakan senyum yang setengah hati saat berfoto di


kamera ponsel milik kawannya itu.


“Ah, senangnya, jarang-jarang dapat foto sama Raja pas


enggak pakai seragam,” ucap Opi.


“Ini, boneka buat kamu, makasih es krimnya.”


Raja menyerahkan boneka itu pada Opi.


“Ah… Raja manis banget, sih, pakai beliin aku boneka segala,”


ucap Opi.


“Siapa yang beli, orang aku dapat hadiah, dah sana pergi!”


usir Raja.


“Aku barengan sama kamu aja, ya,” pinta Opi.


“Enggak mau! Kalau maksa aku ambil nih hapenya terus hapus


foto tadi,” ancam Raja.


“Oke, deh, aku pergi, kirain beneran suka ketemu aku di


sini,” gerutu anak gadis itu seraya membuat kolase foto dia dan Raja serta


boneka penguin pemberian Raja bertuliskan “hadiah dari pacar”.


Raja menyerahkan es krim itu pada sang hantu anak kecil


tadi.


“Kamu makannya ngumpet nanti kalau ada yang lihat es krim


melayang repot lagi, terus kamu viral entar,” ucap Raja.


“Makasih, ya, Kak.”


Hantu anak kecil itu menyeret tubuhnya bersembunyi di bawah


meja dalam stand lempar bola tadi.


Raja duduk di bangku taman seraya mengamati wahana yang akan


ia coba selanjutnya, tiba-tiba sesuatu menyentuh bahu Raja.


“Astagfirullah…”


Sosok hantu anak perempuan dengan kepala hampir putus dan


tanpa tangan kiri serta kaki kiri itu mencolek bahu Raja. Potongan daging di


ujung bahu kiri dan paha kiri itu terlihat masih menjuntai dengan darah yang


masih menetes. Hantu anak kecil itu tersenyum menyeringai menelisik ke wajah


Raja.


“Haduh, kamu mau apa?” tanya Raja.


“Mau es krim, Kak.”


“Kena palak lagi aja aku, hadeh…”


Raja mengusap wajahnya dengan gemas.


******


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”


biar nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni


Dan mampir juga ke novelku lainnya.