
Happy Reading...
*****
"Itu Raja!" pekik Tasya.
Pak Herdi segera menghentikan laju mobilnya. Tasya langsung ke luar dari dalam mobil dan menghampiri Raja.
"Pak, itu... itu bukannya..."
Dita yang melihat sosok Imran mulai merasa gemetar ketakutan. Ia dan Pak Herdi saling bertatapan dan memastikan kalau penglihatan indera keenam mereka tak salah.
"Hantu," lirih Pak Herdi.
Tasya menghampiri Raja dan mengguncang tubuh anak itu. Hantu Imran langsung menghilang pergi dengan senyuman kala wanita itu mendekat.
"Tante..."
Raja langsung memeluk Tasya.
"Syukurlah kamu enggak kenapa-napa," ucap Tasya mengusap rambut di kepala anak itu seraya menangis.
"Tapi temen aku itu..."
Raja menunjuk ke arah Imran yang masih tergeletak di bawah truk menunggu tim evakuasi datang.
"Tante tau, tadi Tante udah lihat dia sekilas saat pamit sama kamu," ucap Tasya.
"Maafin aku, aku harusnya langsung pulang ke rumah, bukan nurut sama Anji terus sampai sini, harusnya aku pulang ke rumah dan Imran pasti juga pulang ke rumah dengan selamat, huhuhuhu..."
Raja masih menangis di pelukan Tasya. Dita dan Herdi turun dari mobil dan menghampiri mereka.
"Anak ini enggak apa-apa, kan?" tanya Dita.
"Bunda...!"
Raja menoleh ke arah suara yang ia kenal itu lalu memeluk tubuh wanita itu dengan erat setelah melepas pelukannya dari Tasya. Entah kenapa saat itu Dita tak ingin melepas pelukan anak itu dengan segera. Ia membiarkan pelukan anak itu makin erat seiring tangisannya yang terdengar makin pecah.
"Ikhlaskan, relakan dan doakan, semoga teman kamu tenang di alam sana," lirih Dita.
***
Keesokan harinya, Raja bersama Tasya serta Anta datang ke pemakaman Imran. Di sana mereka juga melihat Anan yang mengenakan kemeja koko berwarna putih. Pria itu terlihat menangis.
Raja menghampiri Anan, pria itu langsung memeluknya. Mereka menangis bersama di samping makam. Anak itu juga menghampiri sang ibu sahabatnya lalu menuturkan pesan terakhir Imran.
Setelah acara pemakaman Imran selesai dilangsungkan, Anan mengajak Raja dan lainnya untuk mampir ke rumah bertemu dengan Nenek Darma. Sesampainya di rumah Anan, wanita paruh baya itu menyambut semuanya dengan hangat.
"Jaga toko dulu, Nan, Nenek mau buatkan minum," ucap Nenek.
"Nggak usah repot-repot, Nek," sahut Tasya.
"Enggak repot kok, kalah gitu kamu bantu saya aja, yuk!" ajak Nenek Darma.
Tasya tak mungkin membantah, ia mengikuti wanita paruh baya dengan daster batik itu menuju ke dalam dapur. Sementara itu, Anan sibuk menjelaskan tentang toko ikan itu kepada Anta dan Raja. Namun, saat ia melihat seorang wanita dari kejauhan berjalan ke arah toko itu, ia langsung bersembunyi.
"Kalian tolong layani dia, ya," pinta Anan.
Seorang pembeli wanita berusia 40 tahunan datang ke toko dengan gaya genitnya menggoda Anan. Tubuhnya bak toko perhiasan berjalan karena saking banyaknya aksesoris emas yang ia pakai seperti kalung, gelang, anting, dan cincin menghias tubuhnya.
"Mau beli apa, Bu?" tanya Anta mencoba membantu Anan.
"Enak aja Bu, saya masih muda tau, panggil aja Kakak," ucapnya.
Anta dan Raja saling menatap satu sama lain, mereka menahan tawanya. Anan menoleh ke arah anak-anak itu seraya bersembunyi di balik etalase. Ia juga berjuang menahan tawanya agar tak keluar dari mulutnya.
"Ummm... baiklah, Kak Tante, mau beli ikan apa?" tanya Anta lagi.
Wanita itu memang berdandan seperti remaja, kaus warna hitam dan celana jeans yang ketat itu malah menunjukkan lemak di perut dan pahanya yang berlipat. Anta memaksakan diri menganggukkan kepala dan tersenyum.
"Anan mana ya, kan biasanya dia yang melayani saya?" tanya wanita itu.
"Lagi antar barang," sahut Anta berbohong.
"Antar barang? Pake apa? Tuh, mobilnya aja ada."
Wanita itu menunjuk mobil milik Anan di halaman toko.
"Oh, tadi Yanda, eh Om Anan pakai ojek," ucap Anta mencoba berbohong.
"Oh gitu, terus kalian siapa ya, kok saya baru lihat di sini?" tanya wanita itu lagi makin penasaran dengan sosok Anta dan Raja.
"Kami, ummm... kami keponakannya," jawab Anta.
"Keponakan dari mana, kok saya baru tau ya, Anan enggak pernah cerita sama saya," sanggahnya.
"Emangnya Tante siapanya Om Anan?" tanya Raja mulai kesal.
"Saya, hehehehe... perkenalkan nama saya Gina, calon pacarnya Anan yang sebentar lagi mungkin aja jadi calon istrinya," ucapnya tersenyum seraya mengulurkan tangannya pada Anta dan Raja.
"Idih, mimpi kali nih orang," celetuk Raja.
"Ja," ucap Anta melirik ke arah Raja.
"Saya tunggu Anan aja datang ya," ucap wanita itu.
"Duh, gimana ini, Om Anan datangnya masih lama, mending pulang aja, nanti balik lagi sekitar dua apa tiga jam lagi, ya!" pinta Anta dengan suara mulai meninggi kali ini.
"Hmmm... lama juga ya, nanti riasan saya keburu luntur pas Anan dateng," gumamnya.
"Nah, itu ada garis halus mulai muncul, ada jerawat juga, mending Kakak perawatan biar tambah awet muda, Anta yakin Kakak umurnya sekitar 25 tahun, ya?"
Anta mencoba membuat wanita itu senang.
"Ah, masa sih? Kamu tahu aja kalau saya masih umur segitu," ucapnya.
"Pret...!"
Anan tak sengaja mencibir wanita itu dari tempat persembunyiannya.
"Duh, maaf ya aku kentut," sahut Raja mencoba berbohong.
"Ih, jorok banget ini bocah, anak siapa sih, orang tuanya pasti malu-maluin sama ama kelakuannya."
Gina melirik Raja dengan tatapan tajam lalu wanita itu pamit pergi.
"Lho, aku nggak bisa lihat bayangan dia di cermin ini," ucap Raja terluhat cemas kala berbalik badan menatap cermin hiasan dengan motif naga yang menempel di dinding toko tersebut.
"Apaan si, Ja, Kakak bisa lihat punggung ibu itu, kok," sahut Anta.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni