
Hai semua, sebelum membaca, bayar
tulisanku dengan poin kalian, pokoknya jangan lupa VOTE…!
Terima kasih…
******
“Gue antar Mama pulang dulu, ya,
kita mau selidiki isi rumah,” ucap Dion menatap ke arah Anta.
“Iya hati-hati, ya,” jawab gadis
itu.
“Coba permisi, awww… lupa gue kalau
di infus,” sela Arya yang mencoba berdiri menghalangi Anta dan Dion.
“Lagian kamu ngapain sih bangkit
gitu, jelas-jelas banyak alat yang nempel di badan kamu,” tegas Tasya melirik
tajam ke arah Arya.
“Eng, anu, begini, Tante, kan si
Nenek Lampir Hyena pakai kalung yang bisa lihat saya tuh saat jadi pocong, nah,
kali aja si pamannya dia juga pakai, jadi kalau bisa jangan mencoba menampakkan
diri depan paman dia, kali aja tuh orang bisa lihat juga kayak Hyena,” ucap
Arya menoba menjelaskan.
“Nah, betul juga, kalian harus
tetap waspada,” ucap Tasya.
“Gue titip badan gue, awas kalau
sampai elo rusak, ya,” ancam Dion.
“Iya, gue jagain, gue bikin badan
elo bagus, rajin olahraga, makan-makanan sehat,” sahut Arya.
“Awas, kalau bohong!” tunjuk Dion.
Kemudian, anak muda itu menghampiri
Anta. Ia menyentuh kepala gadis itu dan mengusapnya perlahan.
“Makasih, ya, Nta, kamu udah baik
banget mau nolongin gue,” ucap Dion.
Arya meraih tisu di lemari cabinet samping
ranjangnya dan mengepal tisu tersebut seperti bola. Ia lempar bola tisu itu ke arah
wajah Dion. Tepat mengenai sasaran tapi tembus tak menyentuh kulit pemuda itu.
“Ngapain, luh?” hardik Dion.
“Udah sana pergi, enggak usah
pegang-pegang!” bentak Arya.
“Kok, elo sewot, sih!” seru Dion.
“Udah sana ke luar, nanti temen
Anta keburu datang,” ucap Anta mendorong dada Dion menjauh dari Arya.
“Sebentar, kenapa kamu bisa sentuh
kita?” tanya Mama Diah.
“Dia bisa sentuh hantu apapun,
Tante,” sahut Tasya merengkuh kedua bahu Anta.
“Anak cantik ini pasti baik hati,”
ucap wanita itu seraya menyentuh pipi Anta seraya tersenyum.
“Cantik, ya, Ma? Cocok, kan sama
Dion?” tanya Dion.
“Heh, bisa pergi enggak, atau gue
terjun dari kasur, nih!” ancam Arya.
Anta menoleh pada pemuda itu dengan
lirikan mata yang tajam bagai elang hendak menyambar buruannya. Arya langsung
menundukkan kepalanya. Rupanya gadis itu bisa juga lebih seram dari para hantu
yang pernah ia lihat. Tasya tertawa kecil melihat kelakuan para anak itu. Ia
ingat betul bagaimana dulu kelakuan Anan dan Pak Herdi memperebutkan perhatian
Dita hampir sama persis seperti kelakuan mereka sekarang.
Dion dan sang Mama pamit menghilang
dari hadapan semuanya. Ponsel Tasya berdering, Mey menanyakan keberadaannya
setelah tersesat dan terkunci di pintu tangga darurat rumah sakit.
“Itu, mey?” tanya Anta.
“Iya, dia nyasar coba, hahaha…. OH
iya, Mey bisa lihat hantu katanya jatuh di pohon asem sekolah,” ucap Tasya.
“Oh, pohon sarang kuntilanak, tuh!”
sahut Arya.
“Tapi, dia kan enggak tau tentang
Arya yang sekarang, jadi apa kita kasih tau aja, Tante?” tanya Anta.
“Jangan! Mending begini, gue capek
diikutin Mey terus nanti,” sahut Arya bersikeras.
“Oke, kayaknya ide bagus, tuh.
Biarin aja jadi rahasia kita kalau Arya ada di tubuh Dion,” tukas Tasya.
***
Malam itu, Arya bangkit dari ranjangnya,
kandung kemihnya terasa penuh dan ingin sekali buang air kecil. Lantas saja ia
menapakkan kakinya dengan melepas semua alat yang menempel di tubuhnya.
Padahal, anak itu sudah memakai popok khusus dewasa untuk menahan air seninya.
Arya bahkan melepas infus di
tangannya tanpa sadar karena merasa risih dengan benda itu. Ia melangkah menuju
ke dalam kamar mandi. Sosok tak kasat mata tiba-tiba muncul. Pocong anak kecil
yang bisa melepas kepalanya sendiri berdiri di sudut kamar mandi.
Krek krek krek!
Pocong itu melapas kepalanya
sendiri dan memegangnya di kedua tangannya seolah sedang memegang bola sepak.
Arya berusaha untuk tetap tenang dan duduk di atas kloset di samping pocong
itu.
Sosok itu lalu menangis, kemudian
tertawa, lalu menangis lagi dan tertawa lagi. Kali itu Arya dapat merasakan
bulu kuduknya meremang. Ia yang berada di dalam tubuh Dion merasakan hawa
dingin yang menusuk sukma.
Arya akhirnya menoleh ke sosok
pocong anak tersebut.
“Heh, Sul, bisa diem enggak, sih?”
hardik Arya.
pocong itu.
“Elo Samsul yang jadi muridnya
Tante Silla, kan?”
“Kok, Kakak tau?”
“Ya, taulah! Ngapain elo di sini,
kayak setan enggak waras, entar nangis, entar ketawa pula?” tanya Arya yang
selesai dengan buang hajatnya dan mencuci tangannya.
“Kok, Kakak bisa lihat aku, sih, bisa
tau aku juga, Kakak siapa?”
“Duh, kalau gue jujur, nanti dia
ngadu sama kepala sekolah, gue kan bakalan bolos sekolah hantu kalau tetap ada
di tubuh ini,” batin Arya.
“Eng, begini, ya, gue emang bisa
lihat elo,” ucap Arya.
“Tapi, Kakak tau nama saya, Kakak
juga tau guru saya,” ucapnya.
“Pernah lihat aja, kan gue pernah
sekolah di sekolah di Karya Bangsa, deket sama sekolah hantu jadi gue pernah
lihat elo,” ucap Arya mencoa memberi alasan yang masuk di akal.
“Oh, gitu, tapi kita enggak pernah
kenalan,” sahutnya.
“Ngapain gue kenalan sama pocong,
ogah! Udah sana balik ke rumah elo!” seru Arya.
“Nanti, Kak, kan jam kerja saya
buat nakutin orang di kamar mandi rumah sakit belum habis,” jawabnya.
“Hah, ada jam kerja juga?”
“Iyalah, Kak, buat nilai rapot
nanti di sekolah,” jawab pocong kecil itu.
“Astaga, udah jadi hantu ada sekolah juga, ada
tugas juga. Ya udah, semangat ya kerjanya,” ucap Arya kembali ke ranjangnya.
Namun, saat anak muda itu hendak
naik ke atas ranjang, tiba-tiba seorang suster yang baru saja datang langsung
menatap tak percaya. Raut wajah suster tersebut langsung panik. Ia berlari ke
luar memanggil suster lainnya untuk melihat Arya yang sudah bisa berdiri dan
berjalan dari kamar mandi ke ranjangnya. Padah dokter membuat diagnose kalau
tubuh Dion mengalami koma dan kemungkinan akan lama sadarnya.
“Astaga, bodoh banget gue, sampai
lupa kalau badan si Dion lagi koma,” gumam Arya.
Akan tetapi, saat ia hendak
memasang kembali alat-alat medis tersebut, para suster sudah hadir dan
memandang Arya dengan pandangan takjub serta senyum merekah.
Keesokan harinya, Arya dianggap
sebagai keajaiban di dunia medis. Kisahnya langsung heboh sampai ke media
sosial dan membuat nama Dion makin terkenal karena proses sembuh dari koma yang
terbilang cukup singkat itu.
“Hisss, si Arya benar-benar, ya,
dongo banget, harusnya kan mikir kalau dia ada di dalam tubuh Dion yang lagi
koma, harusnya dia sabar bahkan kalau perlu dia akting, ini malah bertingkah
sampai viral gini,” gumam Anta yang melihat layar ponsel dengan kesalnya di
samping Ratu Sanca.
Gadis itu baru saja menceritakan
tentang keberadaan suku Ro dan kalung iblis Ro yang berada di leher Hyena pada
penjaga gaibnya itu. Kebetulan sepulang sekolah ia harus membantu Andri bersama
yang lainnya menyiapkan dekorasi pernikahan untuk Pak Herdi dan Hyena.
“Bener-bener si Arya, ngajak rebut tuh bocah,”
keluh Tasya yang duduk di samping Anta.
“Nah, makanya itu Tante, Mama Dewi
sampai girang banget tuh apalagi rumah sakitnya jadi terkenal,” sahut Anta.
“Nanti kita temui dia, biar Tante
omelin habis-habisan,” ucap Tasya.
“Udah telat, Tante, terlanjur
berulah dia,” ucap Anta seraya memberikan Ratu Sanca tikus putih secara
diam-diam dari kotak yang ia bawa.
“Ratu Sanca!” Raja yang tiba-tiba
datang langsung duduk di atas badan siluman ular tersebut.
“Uhuk-uhuk…!” Ratu Sanca sampai
tersedak karena ulah Raja.
“Raja, itu Ratu Sanca lagi makan
main duduk aja kayak gitu!” hardik Anta.
“Eh, maafin aku, aku enggak tau
tadinya mau main ular-ularan sama Ratu,” ucap anak itu.
“Ini lagi main ular-ularan! Kalau
mau main kuda-kudaan, sana tuh di seberang tuh! Kan toko yang bualn lalu
dihancurkan itu sekarang jadi taman hiburan kayak pasar malam,” tunjuk Tasya.
“Emang udah buka?” tanya Raja penuh
antusias.
“Nanti malam buka, sepertinya.”
“Tapi, coba lihat deh, ada yang
aneh sama taman hiburan itu,” ucap Anta.
Tasya, Raja, dan Ratu Sanca menoleh
ke arah taman hiburan yang akan dibuka nanti malam itu.
******
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni
Dan mampir juga ke novelku lainnya.