
Happy Reading...
*****
Arya berhasil meraih tangan gadis yang mencubitnya itu. Ia menahannya agar tak lepas dari genggaman. Kedua mata mereka saling bertatapan.
"Udahan, udahan, jangan liat-liatin lagi, enggak enak banget!" seru Anta.
"Dikit, Nta."
Arya menggenggam tangan Anta menuju ke meja dua pasangan itu.
"Ih, lepasin Anta!" seru gadis itu melepaskan diri dari Arya.
"Nah, ini anak-anak udah datang. Sini pada duduk!" Herdi menarik tangan Arya untuk duduk.
Anta dan Raja duduk di sebelah Anan dan Dita kala itu.
"Gini, kita mau menikah di hari yang sama, kira-kira enaknya kapan?" tanya Herdi.
Arya mengangkat bahu lalu pemuda itu menoleh ke arah Anta.
"Secepatnya aja, kan lebih cepat lebih baik," sahut Anta.
"Bulan depan aja gimana, tuh? Sekarang kita buat persiapan dulu dari ngurusin tempat, makanan dan baju pengantin."
"Sederhana aja, cukup akad nikah, di restoran Andri aja, gimana tuh, kan deket situ ada masjid, nanti kita akad nikah di masjid deket situ," sahut Tasya.
"Oke, aku sih setuju aja."
Dita menoleh ke arah Anan.
"Ummm... begini ya, kalau habis nikah, nenek aku nanti gimana?" tanya Anan.
"Ajak tinggal di panti asuhan, kan bisa punya temen tuh Ibu Aiko sama Ibu Ari," sahut Dita.
"Lalu, warung ikan aku gimana?"
"Kalau udah tenar dan punya nama, mau pindah kemanapun tetep dicari pelanggan, Yanda tenang aja deh." Dita mengusap bahu Anan dengan lembut.
"Jadi, aku buat toko di deket panti, gitu?"
"Benar sekali, jadi kamu nanti dagangnya enggak jauh-jauh dari aku," ucap Dita.
"Hmmm... kemarin aja ogah banget dideketin Anan, sekarang aja bucin sendiri, baru tau kan gimana bucinnya seorang Dita sama Anan?" Tasya meledek wanita yang langsung tersipu malu itu.
"Padahal aku belum main pelet lho, hampir aja nih kalah saing sama Mark. Aku mau pakai slogan cinta ditolak dukun bertindak, eh taunya udah klepek-klepek sendiri," sahut Anan dengan rasa bangga tersenyum pada Dita.
"Persis sama, aku juga mau kasih Tasya minuman yang dicelupin tali pocong biar dia kepelet sama aku gitu," sahut Herdi.
"Ini pada ngomongin apaan sih, pelet, pelet, pelet, emangnya kita ikan apa pakai pelet segala," sahut Tasya.
"Pelet itu apaan, sih?" tanya Raja penuh ingin tahu.
"Pelet kayak gini nih, wleeek...!" Arya menjulurkan lidahnya pada Raja.
"Itu mah melet, huh!"
"Jadi, pas Yanda sama Bunda nikah, aku tinggal di panti, ya?" pinta Anta.
"Raja juga!"
"Kamu tetep sama Mama Dewi nemenin mereka," sahut Anta.
"Enggak mau ah, kalau belum pada pulang kerja aku sendirian mulu, kalau di panti kan banyak temen manusianya," sahut Raja.
"Ya udah, Bunda sih setuju aja," ucap Dita.
"Yeay, makasih Bunda."
Anta memeluk wanita di sampingnya itu.
Semua yang ada di meja itu masih melanjutkan perbincangan yang seru dan saling bersahutan. Sementara itu di seberang jalan dari pasar malam yang sedang berlangsung itu. Dua pasang mata terlihat mengamati dari dalam mobil.
"Jadi, itu gadis yang akan dibawa Arya ke galeri?" gumam Karina.
"Sepertinya begitu, Nyonya." Suara pria tua terdengar menyahut dari arah kemudi.
"Hmmm... pantas saja Nyi Ageng begitu menyukai gadis tersebut. Wanita di sampingnya juga memiliki aura yang membuatku ingin menguasainya." Karina mengamati sosok Dita yang masih tertawa di samping Anta.
"Jadi, pastikan gadis itu datang ke galeri."
"Baik, Nyonya."
Mobil sedan hitam itu lalu melaju pergi.
***
Malam itu, Anta bersiap menuju pesta perpisahan untuk Dion. Besok pemuda itu sudah mantap untuk berangkat ke Inggris. Arya sudah menunggu di depan pintu yang baru saja terbuka itu sebelum ia mengetuk pintunya.
"Cantik amat sih, ganti baju sana!" seru Arya.
"Ih, nyebelin banget sih, Kak Dion yang beliin Anta baju ini, dan dia suruh aku pakai baju ini," sahut Anta.
"Ini orang kesambet kali ya, ngatur-ngatur enggak jelas kayak gitu! Tante Tasya, Anta berangkat ya, assalamualaikum." Anta meraih paper bag berisi kado untuk Dion.
"Walaikumsalam, Arya jagain Anta, ya!"
"Tentu dong, Tante! Saya bakal jagain Anta sampai akhir hayat saya," sahut Arya.
"Iya deh, percaya."
Anta sudah hampir masuk ke dalam lift sampai membuat Arya berlari kecil menyusulnya.
"Woi, main tinggal aja, enggak menghargai aku yang udah jemput kamu," ucap Arya menunjuk ke arah gadis itu.
"Lagian lama banget, mana ngegombal mulu lagi!"
Arya masih saja menelisik gadis di sampingnya itu dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Anta...."
"Apaan, sih?"
"Beneran enggak mau ganti baju, pakai kaos aja sama celana jeans," pinta Arya.
"Kamu aja pakai kemeja, masa Anta pakai kaos doang, ogah!"
"Kamu cantik banget, Nta...."
"Makasih... tapi bodo amat!" seru Anta.
Ia segera melangkah menuju parkiran untuk naik mobil Arga. Pemuda itu sudah mengirimkan pesan kalau ia sudah berada di depan Apartemen Emas.
"Halo, Anta! Wuidih... cantik banget sih kamu!" seru Ria yang muncul dari celah jendela kursi depan dalam mobil Arga.
"Lho, ada Ria?"
"Iya ada aku, hehehe tadi Arga jemput ke rumah aku soalnya."
"Tuh kan, Ria aja bilang kamu cantik, pasti Arga juga bilang kamu cantik," sahut Arya yang muncul dari belakang Anta.
"Emang Anta cantik kok, kenapa sih Ya?" sahut Arga menoleh pada pemuda itu.
"Nah, justru karena Anta cantik banget malam ini, jadi gue yakin banyak cowok yang ngeliatin dia, apalagi Dion," sahut Arya mendengus kesal.
"Idih, enggak jelas!" Anta langsung masuk ke dalam mobil diikuti Arya yang ikut masuk.
"Elo posesif banget sih jadi cowok, nanti si Anta risih elo kalau elu tuh terlalu posesif. Belum jadi pacarnya aja udah kayak gitu, gimana nanti jadi pacar, toxic tau enggak!" sahut Arga seraya fokus melajukan mobilnya.
"Tuh, dengerin. Cowok aku bijak ya kalau ngomong," sahut Ria.
"Hah, cowok kamu?" Anta dan Arya saling menatap penuh tanya.
"Iya, cowok aku, kan kemaren malam kita udah jadian," sahut Ria seraya mengusap bahu Arga.
"Alhamdulillah... saingan gue ilang satu," sahut Arya seraya mengusap wajahnya.
"Maksudnya apa ya? Emang Arga masih suka sama Anta?" Ria menoleh ke arah Arga yang terlihat salah tingkah.
"Ria, Arga tuh enggak pernah suka sama Anta, dia cuma sayang sama Anta sebagai sodara. Dari kecil kita udah kenal dan rasanya enggak enak aja kalau menjalin hubungan, iya kan, Ga?" Anta mencoba menimpali dengan meyakinkan Ria tentang perasaan Arga.
"Beneran itu, Ga?" Ria bertanya penuh harap.
"Bener, aku sama Anta cuma sahabat kayak adek kakak gitu malah," sahut Arga. Ia meraih tangan Ria dan memberi kecupan di punggung tangannya.
"Idih... gue geli! Lebay banget elo berdua sok romantis gitu!" cibir Arya.
"Halah bilang aja elo sirik, pengen kan?" ledek Arga melirik Arya dari kaca spion.
"Ngapain gue sirik, gue udah punya Anta."
Arya hendak meraih tangan Anta yang sudah bersiap mengancam pemuda itu dengan kepala tangan untuk meninjunya.
"Hayo mau ngapain?" tantang Anta.
"Enggak ngapa-ngapain, hehehe..."
Ria masih mengamati sosok pemuda di sampingnya itu. Gadis itu tersenyum bahagia. Ternyata ramuan pelet yang ia masukkan ke minuman Arga kala pesta BBQ si rumahnya sangat ampuh. Semenjak itu, Arga selalu meneleponnya sampai akhirnya menyatakan cinta.
"Hei, jangan senyum-senyum sendiri enggak jelas gitu, nanti kalau kebablasan repot lho," ucap Anta menepuk bahu Ria.
"Maksudnya kebablasan gila gitu?" Ria menoleh ke belakang ke arah Anta.
"Lha itu tau, hehehe...."
*****
To be continue...
Jangan lupa update Noveltoon biar bisa kasih vote sama hadiah ya. Ayo dong, mana votenya.🥰🥰🥰
Selamat menjalankan ibadah puasa.