
Happy Reading...
*****
Setelah dekorasi terpasang dengan sempurna, para tamu mulai berdatangan. Arya sudah siap dengan kostum hello kitty bernuansa merah mudah sama seperti dekor.
"Anta... kamu cantik banget, kepanasan enggak?"
Arga memeluk Arya yang memakai kostum itu dari belakang.
"Iya nih panas banget, Arga mau ya gantiin aku?"
Suara Arya ditekan sehingga berubah lebih manis layaknya suara perempuan.
"Duh, kasian... ya udah sini aku yang gantiin."
"Yess... bagus banget, elo udah ngucap enggak boleh berdusta," ucap Arya seraya melepas kepala boneka hello kitty itu dari kepalanya.
"Kampret bin sompret, bisa-bisanya elo yang pakai boneka ini?" pekik Arga.
"Makanya liat-liat dulu, modus banget sih main peluk aja, lagian kalau Anta yang dipeluk mana bisa dia diem aja pasti elo dibanting," ucap Arya.
Pemuda itu sudah membuka kostum boneka di tubuhnya, lalu menyerahkannya pada Arga dengan senyum senang.
"Hah, sial banget gue kalau deket elo," gumam Arga.
Ia menerima kostum boneka itu dengan terpaksa lalu memakainya. Ria melintas dan melihat kejadian itu saat hendak menuju kamar mandi. Ia makin senang kala melihat Arga yang berada di balik kostum boneka itu.
Tak lama kemudian, acara ulang tahun dilangsungkan. Arya segera menghidangkan minuman dan puding pada para tamu.
"Kok, kamu enggak jadi boneka?" tanya Anta yang sedang membagikan permen pada tamu.
"Oh, tenang aja, si Arga yang gantiin gue," jawab Arya.
"Kok, bisa sih?"
"Bisa dong, salah sendiri dia mau modus ke kamu," ucap Arya lalu pergi ke dapur meraih minuman lagi.
"Modusin Anta, ih enggak ngerti deh. Mey tamu undangan udah pada hadir?" tanya Anta karena hari itu yang bertugas menjadi pencatat di buku tamu adalah sahabatnya itu.
"Sepertinya udah semua," ucap Mey.
"Oke deh, kamu makan dulu ya, nanti gantian sama Anta," pinta Anta.
Met menjawab dengan anggukan.
Acara ulang tahun berlangsung meriah sesuai keinginan Ria. Tasya bertugas menjadi pembawa acara. Sedangkan pengisi acara malam itu adalah Dion dan teman-teman satu band dengannya. Semua mata tertuju pada pria tampan yang bermain gitar dan menyanyi itu.
Namun, ada yang membuat Arya merasa risih kala melihat Dion terus menatap Anta. Ia berusaha menghalangi pandangan vokalis band itu agar tak terus menatap gadis yang disukainya. Bukan hanya dia yang risih, tetapi Arga juga. Ia juga menghalangi pandangan anak muda itu.
Ria tak henti-hentinya mendekati Arga. Ia selalu mengajak anak muda itu berfoto. Apalagi saat membuka kepala boneka itu. Semua teman-teman yang berulang tahun itu juga mendekat meminta berfoto. Bahkan ada juga yang ingin berfoto dengan Arya, tetapi Mey tak tinggal diam. Ia juga menghalangi.
"Ini cewek-cewek pada centil banget sama Arya sama Arga, padahal yang nyanyi cakep lho," bisik Tasya di samping Anta.
"Ummm... biasa aja sih Tante, enggak cakep-cakep amat."
"Cakep mana sama Arya sama Arga?"
Tasya menggoda Anta.
"Hahaha... enggak semuanya. Papa Andri udah pergi ya jemput Mama Dewi?" tanya Anta.
"Kayaknya udah, mobilnya enggak ada tuh," ucap Tasya.
Pandangan kedua perempuan itu tiba-tiba menangkap sesuatu. Seorang perempuan berdiri di seberang restoran. Sejak Tasya dan Anta menatap ke arah perempuan itu, ia hanya terdiam tak bergeming sama sekali.
"Itu manusia apa hantu ya, Nta?" tanya Tasya.
"Kayaknya Anta kenal," jawab Anta.
"Masa? Terus manusia apa hantu?"
"Hah, Sherly? Siapa lagi itu?"
Anta melambaikan tangan pada hantu Sherly seraya tersenyum. Akan tetapi, hantu itu pergi menghilang ke dalam bangunan restoran yang sudah tutup dan terbengkalai itu.
"Wah, dia hilang, berarti dia hantu dong, Nta?" tanya Tasya.
"Duh, sombong amat tuh hantu! Eh, Anta jadi lupa mau nolong Tante itu."
Gadis itu lalu menceritakan pada Tasya saat bertemu dengan hantu Sherly. Sedangkan saat itu, yang melihat gambaran kematian perempuan itu adalah Tasya dan Raja.
"Masa sih, kok aku enggak ingat?" tanya Tasya.
"Kan yang balik dari masa depan Anta, coba nanti Anta baca buku Diary lagi, hal apa aja yang terlewat gitu," ucap Anta.
"Berarti itu cewek enggak tenang ya, dan kita harus nolong dia. Tapi, dia kan enggak minta tolong malah sombong gitu."
"Iya ya, pusing amat kita mikirin kisah dia, dia aja sombong gitu tadi hehehe..."
***
Keesokan harinya di hari minggu itu, Anta menghubungi Arya di sebuah bioskop dalam Mall Kota. Herdi menatap ke arah putranya itu sambil tersenyum.
"Rapi amat," tegur Herdi.
"Anaknya punya nama Arya bukan Raffi Ahmad."
"Hahaha... garing! Kamu mau ke mana wangi gitu, mana keren banget lagi?"
"Arya mau nonton film ke bioskop, bagi duit, Yah," pinta Arya.
"Cie... mau kencan sama siapa?" tanya Herdi penasaran.
"Sama Anta."
"Hmmmn... dasar! Dulu aja kesel banget sama Anta, sekarang malah kesengsem gini, dasar micin!"
Pak Herdi meraih tiga lembaran uang ratusan ribu di dompetnya.
"Micin? Maksudnya apa, Yah?" tanya Arya tak mengerti.
"Itu loh yang cinta banget sama seseorang sampai mau melakukan apapun buat yang dicintainya maunya deket terus," tuturnya.
"Hadeh, bucin namanya, itu namanya bucin... budak cinta."
"Nah, itu maksudnya bucin, cie bucin..."
"Dih, males banget jadi budaknya Anta, orang aku cuma mau main doang, sih!" sahut Arya.
"Eh, awas ya kalau kamu sampe mainin Anta," ancam Herdi.
Arya hanya tertawa kecil lalu pamit pada ayahnya. Ia pergi menuju parkiran. Anta pasti sudah menunggu di sana karena mereka akan naik busway ke Mall Kota.
Namun, sesuatu mengejutkannya saat melihat gadis itu di parkiran.
"Sial!"
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni