
Chat bersama Vie 😁😁
Vie: Yeayyy 3 pemenang pulsa @20rb akan ku umumkan tanggal 2 November ya.
All : Darimana pemenang itu Vie dapatkan?
Vie : Dari pengirim Vote terbanyak setiap minggunya.
Jadi...
sebelum membaca, jangan lupa di Vote ya.
Hitung-hitung bayar tulisan ku ini dengan poin 😁
...******...
Mey tiba di Apartemen Emas tempat Anta tinggal. Di lobby ia bertemu dengan Arya.
"Mau ngapain elo ke sini?" tunjuk Arya.
Mey yang terlihat masih shock dengan kejadian yang dialaminya tadi terlihat gemetar. Wajahnya pucat pasi seperti mayat hidup.
"Aku, aku mau cari Anta," sahutnya dengan bibir kebiruan nan pucat itu.
"Mey, elo sehat?" tanya Arya.
Gadis itu terisak dan kakinya terasa lemas tak bisa menopang tubuhnya. Arya buru-buru memapah Mey masuk ke dalam lift menuju lantai dua puluh ke rumah Anta.
Bel rumah apartement milik Tante Dewi itu berbunyi. Tak ada Tante Dewi dan Andri di dalam rumah hanya ada Anta dan Raja sedang bersama hantu Silla.
"Ja, Kak Anta lagi cuci piring nih, tolong bukain pintu dong!" seru Anta dari dalam dapur.
"Raja juga lagi sibuk kerjain tugas prakarya, Tante Silla aja yang bukain," sahut Raja.
"Hadeh... Nanti kalau tamunya kabur gimana tuh pintu kebuka sendiri?" Anta masih sibuk berkutat dengan cucian piring itu.
Namun, Raja tetap meminta Silla untuk membuka pintu rumahnya. Hantu Silla akhirnya melangkah terpaksa membuka pintu apartemen itu.
"Assalamualaikum, Anta tolongin gue, woi!" seru Arya yang langsung terhenti langkahnya saat melihat tak ada seorang pun di pintu tersebut.
"Kok gak ada orang, Anta... Raja...!"
Arya mencoba memapah tubuh Mey yang sudah tak sadarkan diri itu dan menyeretnya masuk ke dalam apartemen rumah Anta. Tiba-tiba pintu tertutup sendiri.
"Astagfirullah, pasti temen gaibnya Anta sama Raja nih," gumam Arya.
Hantu Silla dengan isengnya mencolek dagu Arya dan membuat tubuh anak muda itu merasa merinding dan bergidik.
"Please, jangan ganggu gue, tolong panggilin Anta," pinta Arya dengan mata terpejam.
Hantu Silla tertawa dan menghampiri Anta di dapur. Gadis itu masih berkutat dengan bagian bawah panci yang gosong dan bergerak.
"Ada Arya bawa temen sekolah kamu, si Mey," ucap Silla.
"Hah? Ada Mey sama Arya, mereka jalan bareng?"
"Iya, tapi Mey pingsan," sahut Silla.
"Waduh, pingsan, diapain tuh sama Arya? Coba Kak Silla tolong terusin cuci pancinya!" pinta Anta yang langsung meninggalkan dapur menuju ruang tamu.
"Astaga, urusan aku aja gak kelar-kelar malah di jadiin asisten rumah tangga di sini," keluh Silla, tapi tetap saja tangannya bergerak melakukan perintah Anta.
Raja yang selesai dengan tugas prakarya membuat maket rumah adat langsung menuju ruang tamu dan bertabrakan dengan Anta.
"Hish rese banget sih!" seru Anta.
"Jaga ya mulut kamu, berat Kak Anta masih ideal kok," protes Anta.
"Apaan, orang mulai chubby gitu pipinya."
"Heh, kamu tuh ya..."
"Woi! bantuin gue, berat nih!" sahut Arya melerai Anta dan Raja yang asik pernah mulut itu.
"Oh iya, si Mey kenapa bisa pingsan gini, pasti kamu aniaya, ya?" tuduh Anta lalu meraih tubuh Mey dan membaringkan gadis itu di sofa.
"Astaga kalau nuduh yang bener dong, gue ketemu dia di lobby mau ke rumah elo katanya terus dia pingsan, mukanya pucat ketakutan gitu nih bocah," ucap Arya menjelaskan seraya menoyor kepala belakang Anta.
"Ihhh kepala Anta udah dibayarin zakat fitrah tau sama Papa Andri," ucap Arya menepuk paha Arya dengan kencang.
"Adaw, sakit tau!" pekik Arya yang mengusap paha kanannya yang terasa perih dan panas itu.
"Mungkin dia takut gara-gara liat Kak Arya, hahaha," sahut Raja.
Pluk!
Bantal sofa itu mendarat tepat di wajah Raja yang sedang tertawa.
Raja membalas Arya dan melempar balik bantal sofa itu, akan tetapi bantal itu malah mengenai kepala belakang Anta.
"Woi! pada bisa diem gak sih!" seru Anta yang suaranya menggelegar mengejutkan Mey.
"Anta..." ucap Mey dengan suara pelan.
"Mey kamu kenapa? Eh badan kamu panas nih," ucap Anta ketika menyentuh tangan teman satu meja itu.
"Gue panggilin dokter di klinik seberang ya?" tanya Arya.
"Iya gih, ajak Dokter Yuni ke sini!" sahut Anta.
Arya segera menuju ke luar apartemen Anta untuk memanggil Dokter Yuni.
"Ja, ambil air dingin sama handuk kecil buat kompres Mey!" perintah Anta.
"Iya, Kak."
...******...
To be continue...
Mohon dukungannya, mampir juga ke Novelku lainnya.
- Pocong Tampan
- With Ghost
- 9 Lives
- Kakakku Cinta Pertamaku
- Forced To Love
- Diculik Cinta
Vie Love You All...😘😘😘
Pleaseeeeee Jangan lupa VOTE...!!!