Anta's Diary

Anta's Diary
Hantu Gina



Happy Reading...


******


Anan menoleh pada sosok Gina yang masih berdiri di depan etalase bandeng presto. Hantu wanita itu berbalik badan kemudian menatap Anan. Tubuh bagian depannya bersimbah darah. Apalagi bagian perutnya yang terdapat luka menganga dengan sedikit usus halus menyembul ke luar.


"Astagfirullah, bukannya itu Tante yang tadi?"


Anta menunjuk ke arah hantu Gina saat tiba di halaman toko milik Anan.


"Wah, bisa-bisanya dia gentayangan ke sini," ucap Tasya.


"Kamu kenapa, Nan, ada hantu, ya?"


Nenek Darma tau kalau tatapan Anan seperti itu pastilah melihat makhluk tak kasat mata.


"Nenek masuk aja deh, aku enggak mau kalau nenek kemasukan arwah wanita itu," ucap Anan.


Nenek Darma merupakan seorang wanita yang disebut memiliki iga jarang. Konon katanya jika orang yang memiliki iga jarang-jarang paling gampang kemasukan atau kerasukan arwah hantu yang masih gentayangan.


Nenek Darma langsung mengunci dirinya di kamar sesuai petunjuk Anan. Lukisan kaligrafi buatan mendiang suaminya itu sudah terpasang di daun pintu. Benda tersebut di percaya oleh suaminya bisa mengusir roh jahat. Para hantu tidak akan mampu masuk ke dalam kamar wanita itu.


"Tante, maafin Raja ya tadi nggak bilang sama Tante kalau mau meninggal," ucap Raja menghampiri hantu Gina.


Hantu perempuan itu malah tertawa menyeringai terlihat makin menyeramkan. Wajahnya sangat pucat bagai memakai bedak bayi setara dengan 100 gram. Kedua matanya berwarna merah. Deretan gusi yang dipamerkan hantu wanita itu juga mengeluarkan darah.


"Raja, sini jangan deket-deket dia!" seru Anan.


Pria itu baru saja mengeluarkan sebuah daun kelor dan air garam kasar dari lemari kabinet di sampingnya. Ia mencipratkan ke arah hantu wanita itu.


"Kenapa Yanda jadi kayak dukun gitu, Tan?"


Anta berbisik pada Tasya.


"Pengen ketawa takut marah dia hehehe," sahut Tasya.


"Yanda ngapain?" tanya Raja.


"Ngusir setan, waktu hidupnya aja sering aku usir gimana hantunya," sahut Anan.


"Heh, Anan, kamu enggak boleh gitu. Aku akan tetap di sini sampai pembunuhku tertangkap," ucap Gina.


"Elo kan dirampok, mana gue tahu perampoknya," sahut Anan.


"Kalau begitu, ayo kita pergi berkencan!" ajak Gina.


"Idih ogah amat!" seru Anan.


"Ya sudah, aku akan tetap di sini, kalau aku tak bisa masuk ke dalam rumah ini paling tidak aku akan bergentayangan di sekitar sini," ucap Gina lalu menghilang.


"Dah jadi hantu makin gila aja tuh cewek," gumam Anan.


"Terlalu posesif sama kamu, hahaha..." Tasya menepuk punggung Anan.


"Eh, maafkan perkataan nenek tadi, ya, dia emang gitu suka jodoh-jodohin enggak jelas," ucap Anan.


"Enggak apa, oh iya aku baru inget, bisa enggak besok ke sekolah Anta, SMA Satu Jiwa?" tanya Tasya.


"Buat apa gue ke sana?"


"Buat ketemu jodoh kamu. Oke kalau gitu kita pamit pulang."


Tasya, Anta dan Raja lalu pamit meninggalkan Anan yang masih berpikir tak mengerti.


"Ketemu jodoh gue? Apa maksudnya coba," gumam Anan.


***


Tin Tin...


Suara klakson mobil terhenti saat menabrak belakang mobil Tasya. Rupanya ban mobil pengendara tersebut terlihat pecah.


"Rese banget nih orang," keluh Tasya seraya membenarkan jepitan kupu-kupu di rambut miliknya.


Seorang wanita dan seorang anak perempuan yang usianya sama dengan Raja, turun dari mobil berwarna merah itu. Ia langsung meminta maaf pada Tasya.


"Saya panggil montir bengkel langganan saya ya buat sekalian benerin mobil kamu yang penyok itu," ucap wanita tinggi semampai yang memakai dress warna hitam itu.


Kedua mobil itu kebetulan terhenti di depan sebuah mini market. Sang anak itu merengek pada wanita itu yang merupakan ibunya untuk membeli es krim di dalam mini market tersebut.


"Ayo kita masuk, aku mau beli es krim sama roti, Ma!" ajak anak itu seraya menggenggam tangan sang Mama.


Tarikan tangannya akhirnya sukses membuat sang Mama menurut dan masuk ke dalam sebuah mini market itu.


"Kayaknya aku kenal sama tuh cewek," ucap Raja.


"Cie... mentang-mentang dia cakep langsung sok kenal gitu kamu," ledek Anta.


"Apaan sih Kak Anta, enggak jelas!" sahut Raja.


Gadis kecil itu tiba-tiba menoleh ke arah Raja. Tatapan bola mata berwarna cokelat itu cukup membuat anak laki-laki itu salah tingkah. Raja langsung pura-pura melihat ke arah mobil-mobil yang melintas.


"Anta mau beli minum dulu, ya," ucap Anta.


"Aku ikut," sahut Raja.


Tak lama kemudian, wanita tadi dan putrinya ke luar dari mini market tersebut. Ia membawa sebotol minuman dan makanan ringan untuk Tasya dan lainnya.


"Lho, yang lain ke mana?" tanya wanita itu.


"Lagi ke dalam mini market juga tadi, enggak ketemu ya?"


"Enggak tuh, ya udah minum dulu nih."


Raja dan Anta terlihat kembali, tetapi tatapan adiknya berubah. Ia menahan lengan sang kakak tiba-tiba.


"Kenapa, Ja?" tanya Anta.


"Tante itu, tante itu nggak ada bayangannya di jendela mobilnya," ucap Raja tubuhnya mendadak gemetar.


"Jangan mulai deh, Ja!" seru Tasya.


"Tapi, Kak..."


Ponsel wanita itu berdering di dalam mobil. Ia meletakkan di dashboard depan setir kemudi. Ia melangkah menuju ke arah ponsel itu. Tiba-tiba dua bus besar yang saling menyalip dengan kecepatan tinggi melintas dan kehilangan kendali. Sang sopir bus satunya tak bisa mengendalikan laju bus tersebut yang dikendarainya sampai menabrak si wanita tadi.


BRAK...!


Bus itu juga menyeret wanita tersebut sampai bus itu berhenti.


"MAMA...!"


Wanita itu tersungkur ke aspal jalan. Kepalanya membentur batu besar di tepi jalan raya. Tubuh rampingnya mengeluarkan darah segar terutama di bagian tempurung belakang. Dari lubang hidung dan lubang telinga wanita itu juga mengalirkan darah segar.


Tubuh wanita itu menggelepar sampai akhirnya ia tak sadarkan diri. Tangan kanannya masih mendekap ponsel yang masih terdengar suara seorang pria dari ponsel tersebut. Namun, tak lama kemudian napasnya terhenti. Tubuh wanita itu meregang nyawa dan tewas seketika.


Gadis kecil itu berteriak sambil berlari menghampiri ibunya. Tangisan kencangnya terdengar memilukan. Tasya yang sempat melindungi Anta dan anak kecil tadi segera menghubungi polisi dan ambulans dari ponselnya.


Seorang pria membuka pintu bus dan hendak turun melihat kondisi wanita itu tetapi rekan di dalam bus itu menahan langkahnya.


"Bagaimana ini, apa kita harus menolong wanita itu?" tanya pria yang panik itu sambil mondar - mandir menggigiti kukunya.


"Sudahlah, ayo kita pergi!" seru seorang pria satunya yang berkumis dari dalam bus besar itu dengan penuh kepanikan juga.


"Tapi..."


"Tak ada tapi tapi, cepatlah ayo kita lari, aku tak ingin berurusan dengan pihak berwajib, apa kau mau dipenjara?" tanyanya.


Pria gemuk itu menggeleng ketakutan, lalu ia berlari menyusul kawannya meninggalkan si korban.


Gadis kecil itu masih menangis meratapi ibunya yang mulai dikerumuni para warga yang berdatangan.


*****


To be continue…


Jangan lupa kepoin "DERING"


Novel baru aku di Noveltoon ya...


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni