Anta's Diary

Anta's Diary
Tanda Tangan Anta



Happy Reading...


*****


Sebulan berlalu, Anta mendapat jatah libur sekolah, karena para murid kelas 12 menghadapi ujian praktek sekolah demi mendapat nilai untuk kelulusan. Gadis itu bersantai di atas kasurnya seraya menonton drama seharian di kamarnya. Malam itu, suara ketukan pintu kamar gadis itu terdengar. Tasya masuk seraya membawakan kue mufin buatannya.


"Nih, cobain! Kalau enak, Tante mau bawa itu jadi menu dessert di restoran Andri," ucap Tasya.


"Tante mau buat apapun bagi Anta pasti terasa enak," ucap Anta.


"Makasih, ya."


Tasya mengusap kepala Anta dengan lembut. Suara ponsel Anta berbunyi. Gadis itu meraihnya dan melihat si penelepon pada layar ponselnya.


"Kak Dion, mau ngapain telepon Anta?" gumamnya lalu mengangkat sambungan ponsel itu.


"Turun lo, gue di parkiran apartemen elo," ucap Dion.


"Hah, malam begini? Mau ngapain?" tanya Anta.


"Udah turun aja, buruan!" seru Dion lalu menutup sambungan telepon itu.


"Kenapa, Nta?" tanya Tasya.


"Ada Kak Dion di bawah, Anta turun dulu ya nemuin dia," jawab gadis itu.


"Kenapa enggak ke sini aja tuh cowok?"


"Enggak tau, Anta turun dulu, ya."


Gadis itu lalu meraih sweater warna kuning dan memakainya untuk menemui Dion.


"Awas kalau ketemu Arya diamuk, lho..." Tasya meledek Anta seraya mengedipkan satu matanya.


"Apaan sih Tante, nanti aku aduin Pak Herdi lho kalau sering terima telepon dari Om Mark, wlek...!" Anta menjulurkan lidahnya meledek Tasya lalu dia langsung berlari kecil ke luar rumah.


"Hissshhh anak itu bisa- bisanya ancam aku," ucap Tasya dengan gemasnya seraya memukul bantal di atas kasur Anta.


Anta menemui Dion yang masih berada di dalam mobilnya. Pemuda itu langsung ke luar dari dalam mobilnya.


"Lama banget, luh!" seru Dion.


"Ini udah dibela - belain disamperin malah ngomel sama Anta," sahut gadis itu.


"Hehehe... Iya maaf, gue kesel aja tadi digigit banyak nyamuk," ucap Dion.


"Lagian kaca jendela mobilnya kebuka gitu," ucap Anta.


"Oh iya gue, eh aku aja lah ya biar terbiasa. Ini tanda tangani," pinta Dion menyodorkan kartu ujian sekolah ke arah Anta.


"Apaan nih?" tanya Anta.


"Tanda tangani, cepetan!"


"Buat apa sih tanda tangan Anta?" tanya gadis itu.


"Buat bikin aku semangat pas ujian, mau ya please...." pinta Dion.


"Idih, aneh banget! Biar kenapa sih?" tanya Anta dengan raut wajah kesal.


"Biar aku semangat buat ujian," ucap Dion seraya tersenyum menggemaskan.


"Hahaha, aneh banget, kalau mau ujian tuh belajar, Kak!" seru gadis itu.


"Iya aku tahu, tapi kalau liat tanda tangan kamu di kartu ujian aku, entah kenapa aku jadi semangat dan harus kasih nilai terbaik buat kamu. Aku traktir deh," ucap Dion merayu Anta.


"Hmmm... enak aja emangnya Anta bakal luluh apa sama suap makanan? Ya bisa lah tapi porsi Anta dobel ya," pinta gadis itu.


"Udah ketebak yang bikin kamu bahagia itu pasti makanan hahaha... Sekarang mau makan apa?" tanya Dion.


"Masih jam tujuh, masih ada waktu lah ke restoran korea yuk yang baru buka di ujung jalan itu. Anta mau cobain bulgogi kayak apa rasanya," ucap gadis itu yang langsung membayangkan lezatnya rasa masakan korea yang terkenal itu.


"Oke, ayo naik!" Ajak Dion.


"Eh, bentar dulu, Anta mau izin sama Tante Tasya," ucap Anta.


"Aku aja sini yang izin, ayo naik kita ketemu Tante Tasya, Mama sama Papa kamu sekalian," ucap Dion.


"Enggak mau ah, nanti Raja pengen ikut terus malu - maluin kalau minta macem-macem, jatah Anta berkurang atau kamu jadi kebanyakan traktir Anta," sahut gadis itu.


"Hahaha... ya enggak apa - apa lah, eh tapi kalau Raja ikut ye enggak enak ya. Nanti aku bungkusin aja, ya udah sini telepon Tante Tasya dulu."


Dion langsung menghubungi ponsel Tasya dari ponsel Anta untuk meminta izin. Setelah diizinkan mereka pergi menuju restoran terbaru yang memiliki menu makanan ala korea itu.


***


Sesampainya Anta dan Dion di restoran terbaru itu, merasa langsung duduk di sudut ruangan dan memesan menu makanan yang diinginkan. Setelah menunggu 10 menit makanan yang mereka pesan sampai.


Anta menyantap bulgogi yang terdiri dari bahan utama daging sapi itu dengan lahap. Sedangkan Dion memesan bibimbap yang terdiri dari nasi putih dengan lauk di atasnya berupa sayur-sayuran, daging sapi, telur, dan saus pedas gochujang. Mereka menyantap dengan lahap.


Setelah menyantap sampai habis, Dion menyerahkan kartu ujian untuk Anta tanda tangani.


"Beneran ini tanda tangan?" tanya Anta seraya tersenyum.


"Beneran, udah sih cepetan!"


Setelah selesai menandatangani kartu ujian Dion, Anta kembali menyerahkan pada pemuda itu.


"Hahaha, Anta yang makasih, udah dibeliin makanan mahal dan enak kayak gini," ucap gadis itu seraya tersenyum.


Dion akhirnya mengantar Anta kembali pulang. Namun, saat mereka sampai di lobi, keduanya berpapasan dengan Arya yang baru membeli makanan dari mini market.


"Pada darimana?" tanya Arya penuh selidik dan tatapan mata tajam yang ketus.


"Dari makan di restoran korea yang baru itu, enak deh, enak banget!" ucap Anta dengan sangat antusias.


Arya melihat bungkusan makanan di tangan Dion kala itu lalu bertanya, "itu buat siapa?"


"Ini buat Raja sama yang lainnya," sahut Dion.


"Oh, sekarang pakai bawa sogokan segala buat keluarga Anta, begini cara main lo?" ketus Arya.


Dion balas menatap pemuda itu dengan tajam. Keduanya bagai mengeluarkan kilatan petir dari masing-masing mata pemuda itu yang saling beradu.


"Udah sih udahan tatapan mesranya, Anta mau pulang, udah malam juga," ucap Anta langsung mendorong kedua pemuda itu menjauh.


"Aku antar ya, biar Tante Tasya tau kamu jalan sama siapa," ucap Dion.


"Enggak usah, gue aja yang antar, udah sana pulang!" seru Arya.


"Udah malam, Kak, kan besok Kak Dion ujian praktek, semangat ya ujiannya," ucap Anta dengan menunjukkan senyum manisnya.


"Duh manis banget sih, Nta, mana libur tiga hari bakalan enggak ketemu sama kamu," ucap Dion.


"Hueeekkk... gue mau muntah dengernya," celetuk Arya.


"Uh, pengen gue jitak tuh kepala!" sahut Dion.


Mereka masih saja berdebat sampai tak sadar kalau Anta sudah mengambil bungkusan makanan di tangan Dion.


"Makasih ya, Kak," bisik Anta.


"Iya, sama-sama, Nta," jawab Dion tanpa sadar lalu melanjutkan perdebatannya kembali dengan Arya.


Kedua pemuda itu lanjut berdebat satu sama lain tanpa sadar kalau Anta sudah masuk ke dalam pintu lift seraya mengendap-endap.


"Heh, kalian pada ngapain ribut di sini?" hardik salah satu satpam apartemen tersebut.


Kedua pemuda itu langsung terkejut dan menghentikan perdebatan mereka.


"Sana pada pulang!" seru satpam itu.


"Iya, Pak. Saya bakal pulang setelah mengantar..."


Dion menoleh pada sosok Anta yang sudah tak berada di sampingnya. Ia juga menoleh dengan heran ke tangannya yang kosong.


"Hahaha... emang enak ditinggal si Anta, udah sana luh pulang! Gue doain lu kaga lulus," ucap Arya.


"Bagus dong, kalau gue enggak lulus bisa ketemu Anta lagi," sahut Dion tertawa.


"Eh iya ya, jangan deh kalau gitu, gue doain elu lulus dapet nilai terbaik dapet beasiswa ke luar negeri biar jauh dari gue sama Anta, amiiiiiiinnnn... Pak aminin dong!" pinta Arya menepuk bahu satpam penjaga apartemen itu.


"Iya, Ya, Bapak aminkan," sahut penjaga itu seraya mengusap kedua telapak tangannya ke wajah.


"Apaan sih lu, garing!"


Dion melangkah pergi kemudian ke luar lobi apartemen itu menuju mobilnya yang berada di parkiran. Ia lalu melajukan mobilnya pulang ke rumahnya.


Sementara itu, Arya masih tertawa saat memasuki lift. Ia sampai bertemu hantu Tomo dan Susi yang makin mesra di dalam lift tersebut.


"Eh, pasangan abadi ini apa kabar? Makin romantis aja," ucap Arya sambil tertawa.


"Tumben dia enggak takut lihat aku, bebi?" tanya Tomo menoleh pada Susi.


"Iya ya, biasanya menghindar," jawab Susi.


"Biasa aja kali enggak usah ngomongin gue juga, tuh Om Tomo matanya mau copot, hahaha...." ucap Arya yang masih tertawa bahagia karena berhasil meledek Dion tadi.


Pintu lift terbuka di lantai apartemennya dan membuat pemuda itu ke luar kemudian menuju rumahnya.


"Salah minum obat kali tuh anak tumben girang banget lihat bola mata aku mau copot," ucap Tomo.


"Tau tuh tumben banget ya, Beb. Kita mau berapa kali nih naik turun lift?" tanya Susi.


"Terserah kamu aja sampai 100 kali asalkan berdua sama kamu aku enggak akan bosen, Beb," ucap Tomo.


"Ah... Bebi bisa aja ih, so sweet deh."


*****


To be continue…


Jangan lupa kepoin "DERING"


Vie punya cerpen baru, yuk mampir


"Kutukan Lima Tahun" dan Bloody Honeymoon


Atau klik aja profil aku nanti nongol cerpen paling bawah, jangan lupa komen dan love ya.


Follow IG : @vie_junaeni