
Happy Reading...
*****
"Aduh, itu di belakang kamu..."
Dita menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tubuhnya gemetar ketakutan. Anta menoleh sesuai arahan telunjuk Dita.
"Astagfirullah... Tante badannya lumpur semua," ucap Anta saat menoleh ke arah hantu perempuan di belakangnya.
Tubuh wanita itu tertutup lumpur coklat yang masih basah. Ia perlahan mendekat ke arah Anta. Hanya terlihat kedua matanya dengan bola mata merah. Rambut hitamnya juga tertutup lumpur coklat muda.
"Tolong saya," lirihnya.
"Aduh, apa Tante minta dibersihin terus mau ketemu sama Dokter Iman?" tanya Anta.
"Tolong saya," lirih hantu itu lagi.
"Iya, tapi minta tolong apa?" tanya Anta.
Bukannya menjawab hantu wanita itu malah memeluk Anta dengan erat. Gadis itu kesulitan bernapas seolah lumpur pada tubuh wanita itu menutupinya.
"Tolongin Anta, aduh enggak bisa napas!" pekik gadis itu.
Mey buru-buru menarik lengan Anta dan mengguncang-guncang tubuh gadis itu.
"Anta, kamu kenapa?" tanya Mey.
Anta tersadar kalau ia baru saja masuk terbawa ke alam hantu wanita tadi. Ia kini bisa bernapas lega setelah kembali ke tempat semula. Hantu wanita tadi menghilang.
"Bunda kemana?" tanya Anta pada Mey.
Kedua gadis itu lalu menelisik setiap sudut dalam ruang UKS tersebut sampai akhirnya menemukan Dita yang sedang bersembunyi di bawah ranjang.
"Hehehe... halo apa kabar?" tanya Dita.
"Bunda ngapain di situ?"
Perlahan Dita ke luar dari tempat persembunyiannya. Ia menggaruk kepalanya tanpa alasan karena sebenarnya tak ada rasa gatal hinggap di kepala wanita itu.
"Jangan panggil saya Bunda, dong, kalau kamu tetep nekat panggil saya itu, saya enggak mau lagi ketemu sama kamu," ucap Dita.
"Oke deh, Anta coba panggil Ibu Guru, kenapa bisa ada di kolong kasur?"
"Hehehe... saya takut lah, lagian serem banget kayak makluk lumpur apa makluk rawa-rawa gitu," ucap Dita.
"Kalian lihat apa?" tanya Mey.
Anta akhirnya menceritakan pertemuan dengan para hantu hari itu pada sahabatnya. Tak terasa Dita pun ikut bergabung. Ia mulai tertarik dengan bakat gadis di sebelahnya itu dan cara mengatasi para hantu yang tidak membuat gadis itu merasa takut.
***
Sementara itu di sekolah Raja, anak itu terjebak bersama ketiga orang temannya yang mengajaknya ke sebuah bangunan tua yang berada tak jauh dari sekolah. Awalnya anak itu menolak karena tau bangunan itu adalah bangunan yang memiliki hantu, tetapi karena ia kalah taruhan saat mendapat nilai terendah matematika di antara ketiganya, ia akhirnya menurut.
"Kamu bawa kamera kan, Ji?" tanya Robi pada Anji.
"Bawa dong, nih aku udah siap," sahut Anji.
Raja masih berdiam diri di depan bangunan itu. Padahal ia tau aura bangunan itu sangat menyeramkan. Dia juga berjanji tak mau berurusan dengan hantu lagi apalagi nanti tak ada Yanda dan Bunda yang bisa datang setiap saat untuk membantu.
"Irman, Raja, ayo masuk!" ajak Anji.
"Kita pulang aja deh, aku takut kalian kenapa-napa," ucap Raja.
"Halah, bilang aja kamu takut," ledek Robi si bocah gemuk itu.
Sesuatu mengantuk kaki Raja dan membuatnya jatuh. Sosok laki-laki berpakaian serba hitam terlihat. Ia memiliki kumis yang hitam dan lebat. Tubuhnya sedikit tambun tetapi memiliki tinggi badan setinggi anak itu.
Yang lebih mengerikan lagi dan membuat Raja enggan mengamati saat melihat perut buncit hantu itu berongga seperti terkena tusukan benda tajam dan terlihat beberapa belatung menggeliat ke luar masuk ke dalam luka di perut hantu itu.
"Kamu kenapa, Ja, nggak ada angin nggak ada kayu bisa jatuh gitu?" tanya Imran.
"Kayaknya keserimpet kaki sendiri deh," sahut Raja.
Hantu pria itu masih berada di sampingnya dan memandang ke arahnya dengan wajah menyeringai. Ia sengaja tak mau menceritakan apa yang dia temui dan yang membuatnya jatuh tadi. Anak itu tak mau dianggap aneh oleh para temannya yang selama ini sudah berhubungan dekat dengannya. Cukuplah bersama Anta dan kawannya Raja bisa menjadi diri sendiri, tetapi tidak dengan kawan yang sekarang.
"Ih serem juga lama-kama."
Anji mulai bersandar pada Robi dan melingkarkan tangannya di lengan anak laki-laki bertubuh gemuk itu.
Robi masih sibuk mengunyah sedari tadi dengan keripik pisang di tangannya. Ia memang sangat suka makan. Sementara Imran mengamati gelagat Raja yang terlihat melihat sesuatu.
"Ja, kamu lihat apa?"
Raja tak menjawab, ia fokus pada bayangan di cermin. Ada sosok yang sedang menatap ke arahnya tapi belum terlihat. Hanya kedua mata berwarna merah yang terlihat di cermin itu.
"Udahan yuk, kan katanya cuma sebentar!" ajak Anji.
"Tanggung, kita belum ke lantai dua," sahut Robi.
"Ja, kamu lihat apa?" tanya Imran lagi menyentak Raja kali ini dengan tepukan di bahu anak itu.
"Nggak lihat apa-apa, itu cerminnya bagus," jawab Raja.
Seolah-olah alam mendukung mereka untuk masuk lebih dalam ke dalam bangunan itu. Tiba-tiba saja langit di luar yang tadinya cerah, mendadak mendung. Terdengar rintik hujan mulai turun, hingga menjadi besar disertai suara gemuruh petir menggelegar. Mau tak mau mereka berempat yang tadinya hanya sebentar dalam mencoba masuk ke dalam bangunan kosong itu, terpaksa harus masuk lebih dalam lagi sampai ke sebuah ruangan yang mereka rasa aman dari air hujan.
Atap bangunannya banyak yang mengalami kebocoran dan membasahi lantai. Mereka berempat berusaha menghindari. Robi dan Anji akhirnya terlihat tampak asik mendiskusikan tentang suasana mistis di bangunan tua yang kosong itu. Raja menoleh ke belakangnya saat menaiki anak tangga mengikuti ketiga temannya.
"Siapa sih?" bisik Raja.
Ia tak melihat apapun di sana, karena pria besar tadi juga sudah menghilang. Namun, seolah-olah ada sosok lain yang masih mengikutinya.
"Kita duduk dulu ya, kaki aku pegel," ucap Robi .
"Udah deh, kita kan ke sini bukan buat istirahat," sahut Imran.
"Oh iya, kita ke sini kan mau berburu hantu buat youtube aku," ucap Anji padahal dia yang terlihat paling takut sedari tadi.
"Jangan ngomong yang aneh-aneh, nanti kalau beneran ketemu hantu juga pada ngibrit," sahut Raja.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni