
Hai semuanya, maaf ya aku telat
update, jangan lupa kumpulkan poin
kalian untuk Vote, jangan bosen ya Vote, terima kasih.
******
Sesampainya di area panti asuhan, Anta
melihat sosok seorang wanita berlari membawa bayi ke arah kebun singkong.
“Tante, lihat kan tadi itu ada yang
bawa bayi?” tanya Anta.
“Terus masalahnya?”
“Anta tuh tadi mau cerita kalau Anta
ketemu hantu perempuan namanya Lala, dan dia korban dari Ibu pemilik panti,”
ucap Anta.
“Korban apa sih?” bisik Tasya yang
akhirnya memarkirkan mobilnya bersembunyi di balik semak-semak.
“Korban praktek aborsi, makanya
banyak bayi nangis, kan?”
“Hah, aborsi?”
Tasya dan Mey menyahut bersamaan.
“Iya, beneran deh, di sini ada
praktek aborsi, dan Kak Lala itu enggak selamat sampai dia mati, eh ada yang ke
luar tuh!” tunjuk Anta.
Ketiganya turun mengendap-endap dan
bersembunyi.
“Mey, kamu bisa nyetir kan?
Sebaiknya kamu di dalam mobil nanti kalau kita panggil kamu udah standby
nyetir,” ucap Tasya.
“Tapi, aku enggak punya SIM belum
tujuh belas tahun,” sahut Mey.
“Enggak apa-apa, hanya saat ini
aja, besok-besok mah tetep enggak boleh nyetir kalau belum punya SIM, oke?”
“Baik, Tante.”
Mey masuk ke dalam mobil, sementara
itu Tasya dan Anta menyimak orang-orang yang berada di depan rumah panti
asuhan.
“Nah, Nak Rina istirahat aja, ya,
pokoknya Rahim kamu sudah bersih,” ucap Ibu Desi.
“Makasih banyak ya, Bu.”
Perempuan yang bernama Rina itu
pergi bersama pacarnya dengan mengendarai sepeda motor. Rupanya saat mengadakan
tahlilan tadi, Ibu Desi sudah mempunyai pasien yang melakukan penghilangan
janin.
Saat dua orang itu pergi dan Ibu
Desi masuk ke dalam rumah, Anta dan Tasya melangkah menuju kebun singkong. Di
sana mereka melihat seorang asisten sedang mengubur janin berusia tiga bulan
tersebut di dekat sumur tua tempat hantu Kiki tadi.
“Serem, Nta, ini banyak bayi yang
merangkak di punggung aku,” bisik Tasya saat sedang bersembunyi di kebun
singkong.
“Enggak apa-apa, tahan aja,
daripada kecoa, hiy…!”
Saat asisten ibu Desi itu pergi,
Anta mencoba ke luar dari persembunyian dan melangkah menuju sumur, ia melihat
sosok Kiki sedang mengunyah sesuatu di tangannya.
“Astagfirullah, Tante Kiki,
ngapain?”
“Heh, kamu! Ngapain ke sini lagi?”
hardik Kiki.
“Aku mau cari Arya, pocong tadi,
terus itu kenapa makan itu?”
“Mereka yang kasih tumbal ini ke
aku supaya aku bisa jagain panti ini,” sahutnya.
“Oh, jadi Tante Kiki penunggu sini
dan suka makanin janin bayi, idih kejam.”
“Yang kejam itu mereka, yang suka
buang bayi, yang suka aborsi bayi dan si pemilik panti itu, aku mah hanya
mengikuti naluriku sebagai iblis untuk memakan janin ini,” ucapnya.
Anta lalu memanggil Arya di dekat
sumur, tak ada jawaban dari sana.
“Arya tadi ngumpet di atas pohon,”
tunjuknya.
Tasya yang menunggu terlalu lama
memutuskan untuk menghampiri Anta.
“Idih, hantu sadako itu ya ada di
sumur gitu?” ucap Tasya.
“Cakepan sadako, ini mah
duplikatnya alias kw, jelek,” cibir Anta.
Hantu penunggu sumur itu hanya
tertawa geli mendengar cibiran Anta seraya tertawa cekikikan.
“Mana Arya?” tanya Tasya.
“Enggak tau, katanya ngumpet di
pohon sana,” tunjuk Anta.
Tasya melihat gelang gemerincing
yang berkilau terkena cahaya bulan. Ia teringat akan gelang yang dipinjamkan
Dita dulu saat ia membutuhkan Pak Herdi.
“Anta, dapat gelang ini dari siapa?”
“Dari ayahnya Arya,” jawab gadis
itu.
“Anta, kenapa enggak bilang punya
gelang ini, ini tuh bisa kamu pakai buat panggil Arya kalau kalian sudah terkoneksi
sebelumnya,” ucap Tasya.
“Oh iya, Anta lupa, Anta tuh bisa
panggil Arya pakai ini,” sahut gadis itu.
Gadis itu lalu membunyikan gelang
di tangan kirinya seraya memanggil Arya. Tak lama kemudian, datanglah Arya
dengan wajah cemberut dan kesal.
“Tuh kan bisa manggil, tau gitu mah
ngapain capek-capek ke sini,” keluh Tasya.
“Ya, maaf, Tante, Anta lupa hehehe…”
“Kok, gue ditinggal, sih?” keluh
Arya.
“Maaf, ini kan udah dipanggil,”
sahut Anta.
“Dari tadi gue digoain sama Tante
itu tau, mana ada kuntilanak sama hantu lainnya di sini,” jawan Arya dengan
kesal.
“ada hantu lain? Mendingan ayo
buruan cabut dari sini, repot kalau ikut semua!” ajak Tasya.
Mereka segera bergegas menuju
mobil. Anta melihat hantu Lala menatap ke arahnya.
“Tenang, Kak Lala, Anta akan
kembali mencari tau dan mengungkap kebenaran kematian Kakak,” gumam Anta.
Hantu Lala tersenyum dan
melambaikan tangan pada Anta.
“Dia dikubur di belakang panti,
mungkin dia mau dipindahkan dan diketemukan sama keluarganya,” sahut Arya.
“Iya, nanti Anta bakal bantu Kak
Lala,” ucap gadis itu.
***
Sesampainya di rumah, Tasya
langsung menceritakan pada Dewi dan Andri mengenai panti asuhan milik Ibu Desi
tersebut. Meski awalnya tak percaya, akan tetapi karena Tasya dan Anta dapat
melihat sosok tak kasat mata, akhirnya mereka percaya.
“Tante, bener-bener enggak nyangka
kalau Desi bisa melakukan tindakan kejam itu,” ucap Dewi.
“Memangnya Tante kenal dia di mana?”
“Dia itu pernah ikut pelatihan di
rumah sakit keluarga milik kakakku dulu, untuk menjadi bidan, makannya dia ahli
dalam pertolongan persalinan,” ucap wanita itu.
“Tapi, ini bukan menolong, ini
membunuh namanya,” sahut Andri dengan kesal.
“Kita engak bisa ikut campur akan
perbuatan ini harus dengan bukti-bukti yang kuat jika hendak melapor ke polisi,”
ucap Dewi.
“Ya, Tante pastinya, aku pulang
dulu, ya.”
Tasya ke luar dari rumah Dewi
diikuti Anta dan Mey, sementara Raja sudah tidur pulas di kamarnya.
“Kamu ngapain ada di jendela
koridor gitu?” tanya Anta pada Arya.
“Ayah aku, tuh habis kencan sama
Nenek Lampir Hyena,” jawabnya saat melihat Pak Herdi dan Hyena yang baru sampai
di area parkir.
“Kapan ya mereka nikah?” tanya Anta.
“Minggu depan udah pasti enggak
bisa diganggu gugat,” jawab Arya kesal.
“Yah, baru aja Anta mau jodohin
sama Tante Tasya, tapi katanya Mama Dewi kalau Tante Tasya itu harus tunggu
minimal tiga bulan buat punya pacar lagi yah atau enggak satu tahun,” ucap
Anta.
“Nah, daripada sama Nenek Lampir
Hyena mending sama Tante Tasya deh ayah gue berjodohnya,” ucap Arya.
“Jadi, gimana kalau kita buat
rencana aja buat ngebatalin pernikahan ayah kamu?”
“Caranya bagaimana?”
“Coba nanti Anta pikir-pikir dulu
hehehe… Anta ngantuk mau bobo, dah Arya.”
“Yuk, gue temenin gue juga mau
bobo,” sahut Arya.
“Idih, najong! Ogah banget Anta bobo
sama Arya!”
Anta mendorong Arya sampai jatuh
duduk.
“Wah, cumi albino, emangnya elo
pikir gue mau tidur sama elo, maksud gue y ague mau masuk ke rumah itu buat
tidur di sofa ruang tamu.”
“lagian udah jadi pocong aja masih
mikirin ngantuk, huh!”
******
To be continue ...