
"Kau milikku, Mikha."
Mendengar pernyataan itu hati Mikha langsung berkecamuk. Gadis itu berjuang keras agar pria itu tidak menyakitinya. Akan tetapi, biarpun dia berusaha sangat keras ternyata masih belum cukup, bahkan jauh dari cukup sehingga tak lama kemudian gadis itu sudah terlentang di tanah, tepatnya di dalam tanah di dalam gudang bawah tanah. Pria itu terdengar terengah-engah dan berkeringat di atas Mikha.
Pria itu sudah kehilangan kacamatanya dalam pergumulan itu. Mikha hanya bisa menangis dan merasa hal itu adalah hal paling buruk yang pernah ia rasakan. Dia harus merasakan berbaring dengan seorang laki-laki yang berpeluh bercucuran di atas gadis itu. Tak ada siapapun yang akan tahu karena dia terjebak di bawah tanah.
Pria itu mulai menekankan bibirnya ke bibir Mikha. Benda itu terasa lembab dan basah. Gadis itu sebenarnya ingin menjerit tetapi terlalu takut dan letih karena pergumulan tadi.
"Lepaskan aku, aku mohon jangan lakukan ini," pinta Mikha.
Pria itu lantas mengikat tangan Mikha ke atas. Melilit kedua tangan mungil itu dengan kaki kursi yang sudah di pendam sebagian ke dalam tanah sehingga tidak bisa berpindah lagi. Dia lalu menyumpal mulut sang gadis kecil dengan kaus kaki miliknya yang terasa bau busuk.
Mikha hanya bisa menahannya dan mengeluarkan segala ketakutan dan perasaan jijik dengan buliran bening yang jatuh. Pria itu mulai menciumi wajah dan leher gadis kecil itu dengan bibirnya yang basah. Ia mulai meraba-raba ke bawah kemeja seragam yang gadis itu kenakan.
Mikha hanya bisa menangis dan meronta-ronta agar ia tidak merasakan apa-apa. Pria itu mulai beringas kala merobek paksa celana pramuka yang gadis itu kenakan.
"Wah, gambar hello kitty ini tampak manis dan cocok sekali kau kenakan," katanya.
Mikha hanya bisa menangis. Ia merasa bagaikan lautan tempat ia berdiri dan buang air. Tubuhnya merasakan bagaikan lesung yang ditumbuk paksa oleh pria berengsek itu. Terdengar erangan demi erangan dengan deru napas yang memacu dari mulut si pria tersebut.
Pria itu sudah memaksa Mikha berbaring diam di bawahnya. Suara degup jantung keduanya terdengar. Tubuh keduanya saling menempel. Tanah gelap yang mengelilingi mereka berbau apa adanya, tanah lembab tempat para cacing dan hewan lain berada di dalamnya. Sang gadis itu bagaikan hewan yang sekarat.
"Kenapa kau tidak bangkit?" tanyanya pada Mikha.
Gadis itu tak mampu bergerak apalagi mencoba bangkit. Rasa perih, kesakitan, kemarahan, dan kesedihan menjalar ke seluruh tubuhnya. Pria itu mulai mencondongkan tubuhnya ke samping dan meraba-raba di atas kepalanya.
Pria itu menyusuri rak tempat pisau cukur dan krim cukur miliknya berada. Ia mulai mengacungkan sebilah pisau. Benda tajam itu seolah melayangkan senyuman yang melebar jadi seringai di hadapan wajah Mikha saat berada di tangan pria itu.
Sang pria meraih kaus kaki yang tadi ia jejalkan ke mulut Mikha.
"Nah, sekarang katakan ke padaku, kau mencintaiku," ucapnya lirih seraya memberi kecupan di pipi sang gadis bagai seorang kekasih yang bersuara lembut dan membangunkan pasangannya di pagi hari.
"A-aku, aku mencintaimu."
Pada akhirnya, Mikha melakukannya juga. Ia sudah sangat takut melihat pisau cukur itu.
Sret!
Satu sayatan tepat sasaran pada pembuluh darah arteri di atas leher Mikha langsung mengakhiri hidup gadis kecil itu. Pria itu lantas merapikan tempat kejadian perkara. Ia menimbun gudang bawah tanah untuk menghilangkan jejak.
***
"Pagi semuanya!" Bobi si pria gemulai menyapa saat melihat Anta, Ria, dan Arya yang baru datang bersama. Keduanya diantar oleh Anan.
"Parah punya calon mertua," keluh Arya.
"Kenapa emangnya?" tanya Bobi.
Ria terlihat melambaikan tangannya pada Arga yang baru saja tiba.
"Masa gue disuruh duduk di bak belakang kayak anak sekolah yang lagi bm," sahut Arya.
Anta sudah tak bisa lagi menahan tawa.
"Kan kata Om Anan enggak muat, lagian kamu bukannya ke sekolah bareng ayah kamu malah maunya bareng Anta," sahut Ria.
"Ada apa, sih?" Arga merangkul bahu Ria yang langsung menceritakan keluhan Arya.
"Bagus itu jadinya elu kenyang, Ya!" seru Arga.
"Kenyang gimana?" Ria menoleh pada Arga.
"Kenyang makan angin, Beb, Hahaha!"
Arya langsung menjambak rambut Arga dengan kesal. Arga balas menjambak juga. Kedua kepala mereka sudah saling beradu satu sama lain.
"Tinggalin aja, yuk!" Anta menarik tangan Ria menuju ke kelas.
"Woi, ini bagaimana ini misahinnya?" Bobi berteriak pada Anta dan Ria.
"Nggak usah dipisahin nanti juga pisah sendiri!" sahut Anta.
******
To be continue...
Jangan lupa favorit, like dan vote ya.