Anta's Diary

Anta's Diary
Jorji di Sekolah



Happy Reading


******


Tak!


Pisau di tangan Herdi berbunyi lebih keras dari sebelumnya sampai membuat Dita, Anan, Tasya dan Mark menoleh ke arahnya.


"Rame nih, Kak, kayak sinetron yang suka ditonton Mama Dewi," bisik Raja.


"Anak kecil macam apa kamu, nontonnya sinetron bareng emak-emak! Tapi, kayaknya iya seru, Ja," sahut Anta.


"Sya, itu layani dulu pelanggan!" seru Pak Herdi.


"Biar aku aja, Pak!" sahut Dita.


"Enggak usah, potongan buah melon kamu bagus, biar Tasya aja!"


Herdi langsung memotong buah mangga pesanan pelanggan untuk dijadikan jus.


"Bentar ya, Mark, aku buat jus dulu," ucap Tasya.


"Aku mau es buah, ya," pinta Mark.


"Enggak ada, habis!" sahut Herdi tak mau menoleh.


"Ada, tuh masih dua porsi," ucap Tasya.


"Itu buat aku, nanti aku bayar," sahut Herdi.


Tasya menahan senyum di bibirnya. Ia tak sangka kalau pria ini akan bersikap seperti itu pada Mark.


Anan menghampiri Dita lalu mengusap peluh di dahi wanita itu dengan tisu. Mark melihatnya.


"Kalian, masih saja seperti dulu," ucap Mark.


"Maksudnya?" tanya Dita.


"Ya, pasangan romantis," sahut Mark.


"Nah, kenapa enggak kita coba —" ucapan Anan terhenti kala Dina langsung datang memeluk tubuhnya dari belakang.


"Elo ngapain di sini?" tanya Anan.


"Cariin kamu! Jalan yuk, naik wahana apa aja yang ada di sini gitu," pinta Dina.


"Enggak mau ah, lagi ribet di sini!" sahut Anan.


"Aku bantuin, ya." Dina menatap genit pada Anan.


"Ya udah, bantuin aja situ, aku mau ke toilet!"


Anan langsung pergi menuju toilet meninggalkan Dina. Ia sengaja melakukan itu untuk menghindari wanita yang menurutnya sangat mengganggu itu.


"Wow, siapa wanita itu?" bisik Mark pada Dita.


"Pacarnya," jawab Dita.


Mark menatap tak mengerti, tetapi karena Tasya sudah menceritakan perihal mereka. Akhirnya, pria itu malah menemukan celah untuk mendekati Dita.


"Oh, Anan punya pacar? Kamu sendiri punya?" tanya Mark.


"Enggak."


"Good."


"Kok, good?" tanya Dita.


"Ya, good aja, hehehe... sini aku bantu!" ucap Mark.


Anta hendak menghampiri Dita, tetapi Dion dan Arya sudah sampai di hadapannya.


"Mau ke mana, Nta?" tanya Dion.


"Mau pergi sama gue!" jawab Arya langsung menarik tangan Anta.


"Yang duluan ketemu sama dia malam ini gue, jadi dia pergi sama gue," sahut Dion.


"Yang duluan temenan sama dia itu gue, jadi yang duluan hadir di hidup dia itu gue, mau apa elo?" tanya Arya.


"Elo adik kelas gue, jadi ngalah!" sahut Dion.


"Enggak!" sahut Arya.


"Nah, ini lebih rame," ucap Raja bersemangat sambil mengunyah pizza.


"Apakah yang rame," sahut Jorji menyusul Mark ia hadir di samping Raja.


"Tuh!" Raja menunjuk ke hadapannya.


Jorji menatap Dion dan Arya penuh kekaguman.


Salah satu dari mereka pasti takluk sama aku, kalau perlu dua-duanya.


Jorji tersenyum kecil menatap Dion dan Arya.


"Duh, lepas deh! Anta mau pulang aja lah, capek!" sahut Anta.


Ia segera berlari kecil menghampiri Dita.


"Bunda, udahan belum, lanjut besok lagi ya jualannya," pinta Anta.


"Buah sih udah pada habis alhamdulilah, ya udah lanjut besok jualan tas sama dompet itu," ucap Dita.


"Ya udah, yuk, beres-beres!" sahut Anta.


***


Keesokan harinya, terlihat siswi baru memasuki kawanan SMA Satu Jiwa. Semua mata memandang ke arahnya. Baik primadona baru yang akan menggantikan kepopuleran Jojo di sekolah itu.


"Tuh kan bener, si Jorji masuk sini," ucap Ria.


"Jorji siapa?" tanya Mey.


"Itu semalam kita ketemu di pasar malam ya, Nta?"


"Hai, Anta!" sapa Jorji.


"Hai!" jawab Anta.


"Tau enggak kelas 3 IPA 1 di mana?" tanya Jorji.


"Itu kan kelas Kak Dion, ayo aku antar!" sahut Ria.


Jorji langsung mengikutinya.


"Arya..." Mey langsung berteriak dan menghampiri pemuda itu kala Arya tiba di sekolah.


"Bucin dasar!" gumam Anta.


Setelah tiga jam mengikuti pelajaran di sekolah, bel istirahat berbunyi. Panas matahari sangat terik kala itu sampai bapak penjual minuman dingin diserbu oleh para murid. Anta dan Ria duduk di sudut seraya menikmati bakso di kantin itu.


"Ini bangku kosong, kan?" tanya Dion pada Anta.


"Ada Mbak Pinky," sahut gadis itu.


"Mbak Pinky?"


"Ho Oh, mau lihat?"


"Enggak usah, aku duduk depan kamu aja," sahut Dion melirik ke arah Ria agar bergeser.


"Ini buat Arga, dia lagi beli siomay, tuh!" jawab Ria.


"Ya udah, elo pindah samping Anta!" sahut Dion.


Beberapa murid perempuan melirik ke arah Dion. Salah satu dari mereka menghampiri anak itu sambil menyerahkan sebuah kado. Gadis itu langsung bergegas pergi setelah Dion menerimanya dan tersenyum.


"Cie, Bang Dion, makin banyak aja nih fans yang kasih kado," celetuk Ria.


"Elo tau kan di mana kado ini akan mendarat," sahut Dion.


"Tega elo, Bang, tiap dapet kado selalu aja dibuang di tempat sampah," ucap Ria kesal.


"Iyakah? Jahat banget si Akak, mereka kan kasih kado itu beli pakai uang," sahut Anta.


"Bukan aku yang minta. Lagian kalau kado dari kamu pasti aku simpen," jawab Dion menatap ke arah Anta.


"Ehm Ehm, Mbak Pinky coba pindah dulu," pinta Arga yang baru sampai membawa sepiring siomay dan teh botol.


"Aku baru aja mau baper liat Anta sama cowok ini, ya udah kalau gitu, dah..."


Hantu Pinky pun berdiri lalu menghilang.


"Arga, bukannya di situ ada—" ucap Ria.


"Udah pergi."


"Oh..."


"Nanti nonton yuk, apa nongkrong di cafe 90s, mau enggak?" tanya Dion.


"Aku boleh ikut?" tanya Jorji yang tiba-tiba datang dan mencuri dengar.


"Boleh," sahut Anta.


Jorji meraih kursi terdekat dan duduk dalam satu meja itu.


"Tapi gue ngajak Anta bukan elo," ucap Dion.


"Pergi rame-rame aja, lebih seru," jawab Anta.


"Good idea!"


"Ria, ke toilet yuk, bentar lagi jam masuk!" ajak Anta.


"Yuk!"


"Lha, aku baru makan, Nta," sahut Arga.


"Udah terusin aja tuh ada Kak Dion sama Jorji," ucap Anta menarik tangan Ria kemudian.


Saat memasuki toilet, Anta memerintahkan Ria untuk menunggunya di luar sejenak karena perutnya sangat sakit dan hendak buang air besar.


"Tunggu sini aja, Anta takutnya kamu kebauan, hehehe," ucap gadis itu langsung masuk ke toilet.


"Dih, kalau cuma mau boker ngapain ngajak aku, Nta!" gumam Ria.


Pandangan gadis itu lalu mengarah ke sesuatu hal. Ia melihat Mey yang sedang menyuapi Arya kue brownies. Bayangan hitam menyerupai sosok perempuan memakai kebaya tempo dulu itu sempat terlihat di belakang Mey. Bayangan itu menghilang kemudian. Ria sampai mengucek kedua matanya karena menatap tak percaya.


Gadis itu lalu merasakan kalau Anta sudah berdiri di sampingnya.


"Nta, kita samperin Mey sama Arya, ada yang aneh sama mereka!" ajak Ria.


Ia menggandeng sosok hantu perempuan yang dia pikir itu Anta.


"Kok, tangan kamu dingin gini," gumam Ria.


Gadis itu lalu menoleh pada tangan yang ia gandeng tersebut. Tangan itu berkulit pucat dan keriput, kulitnya penuh luka berongga dan bernanah. Ria memberanikan diri memandang lebih ke atas sampai melihat wajah sosok yang ia gandeng itu.


"Hihihihihi..." sosok hantu kuntilanak itu tertawa cekikikan di hadapan Ria


"Aaaaaaaaaaa...!!!"


Ria langsung berlari tanpa sadar menarik tangan si hantu sampai menubruk tubuh Arga yang baru saja sampai menyusul keduanya.


******


To be continue…


Target menuju 300 episode, jangan bosen ya bacanya. 😁


Jangan lupa kepoin "DERING"


Novel baru aku di Noveltoon ya...


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni