
Happy Reading...
*****
Malam itu, Anji bermimpi bertemu dengan sosok mengerikan. Kepalanya berwujud tengkorak tetapi tubuhnya berbadan besar penuh lumpur. Sosok menyeramkan itu berusaha untuk mencekik anak yang terbaring itu.
"Lepaskan aku, lepaskan aku!" teriak Anji.
Peluh bercucuran di tubuhnya. Keringat dingin itu sudah tak tertahankan lagi. Bahkan anak itu sampai tak sengaja membuang air seninya di atas kasur.
"Mamiiiii....!"
Klik!
Lampu kamar itu terbuka, terlihat seorang wanita menggunakan daster pakaian tidur berdiri di pintu.
"Anji, kamu kenapa sayang? Kamu pasti mimpi buruk," ucap ibunya Anji.
"Mamiiii... tadi ada hantu mau cekik aku," ucap Anji seraya menangis.
"Kamu pasti mimpi buruk, Nak, udah enggak usah dipikirin," ucap wanita itu.
"Mami tidur sama aku aja ya, jangan kemana-mana," pinta Anji.
Sang ibu akhirnya menurut pada anak itu, ia menemani putranya untuk tidur. Sekelebat bayangan hitam melintas di dinding kamar membuat Anji langsung bersembunyi di balik selimutnya. Anak itu terbaring di samping ibunya.
***
Pagi menjelang, Anta sudah menggedor pintu rumah Mama Dewi agar anak itu bersiap segera menuju sekolah.
"Anta, Mama buat nasi goreng telur, mau nggak?" tanya Mama Dewi.
"Mau dong, mana sini Anta mau, Ma," ucapnya.
"Nta, kamu udah bawa roti sandwich buatan Tante, lho," tegur Tasya menepuk bahu gadis itu.
"Hehehe... roti Tante itu buat cemilan kalau makan siang ya pakai nasi, apalagi nasi goreng, nyamiee..." ucap gadis itu seraya tersenyum menunjukkan deretan giginya.
"Dih, celamitan."
"Rezeki, enggak boleh ditolak!" sahut Anta.
Tiga puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Tasya hari itu mengantar Raja dahulu ke sekolah baru ia menuju sekolah Anta. Saat turun dari mobil anak laki-laki itu menabrak Anji yang tiba-tiba muncul.
Anji memakai topi yang kemarin ia temukan saat kerja kelompok di belakang rumah Robi. Sontak saja Anta dan Tasya langsung menatap bersamaan kala sesuatu yang berada di belakang tubuh anak itu terlihat.
"Nji, itu topi yang kemaren?" tanya Raja.
"Iya, keren ya, aku suka aja pakainya jadi nyaman gitu," jawab Anji.
"Mendingan kamu lepas deh, aku takut kamu kenapa-kenapa," ucap Raja memperingatkan.
Di belakang tubuh anak itu terlihat sosok hitam dengan kepala tengkorak dan tubuh besar penuh lumpur sedang mencengkeram bahu Anji tanpa anak itu sadari.
"Halah, bilang aja kamu iri, topi ini kan bagus iya kan? Makanya kalau iri bilang, bos!"
Anji berseru seraya meledek Raja lalu melangkah pergi memasuki area sekolah.
"Ja, temen kamu itu—" ucap Anta.
"Iya, Kak, aku juga tau, tapi dibilanginnya susah. Kayaknya gara-gara pakai topi itu, deh," ucap Raja.
"Memangnya tuh topi dapat dari mana?" tanya Tasya.
"Haduh nemu lagi tuh topi di tempat menjijikkan juga, mending kamu kasih tau deh sama tuh anak takutnya nanti kenapa-napa," ucap Tasya.
"Iya, nanti aku coba lebih keras lagi buat kasih tau," ucap Raja lalu pamit menuju ke dalam sekolah.
***
Saat Anji memasuki kelas, semua teman-temannya langsung menghindarinya. Mereka melihat wajah anak itu penuh darah dan menyeramkan. Beberapa murid lari ketakutan saat melihat anak itu berubah menjadi sosok seperti hantu yang menyeramkan.
"Ja, muka Anji kenapa, dia enggak kesakitan, kan?" tanya Robi pada Raja.
"Aku rasa dia dipengaruhi makhluk lain deh, bisa jadi topi yang dia pakai itu nyeremin, ada m?penunggunya," ucap Raja.
Anji masih saja memakai topi bahkan kala jam pelajaran berlangsung ia tetap tak mau melepaskannya. Sampai sang guru berusaha melepaskan, tetapi guru perempuan itu langsung merasa tangannya seperti tersengat listrik kala ia menyentuh topi di kepala Anji.
Anak itu malah merasa mempunyai kekuatan hebat dari sebelumnya karena berhasil menunjukkan beberapa kekuatan yang tak biasa ia lakukan. Raja mencoba memperingatkan Anji lagi, bahkan ia terus mengikuti anak itu ke mana pun ia berada agar tak terjadi sesuatu pada anak itu.
"Kamu ngapain sih ngikutin aku?" tanya Anji saat jam istirahat berdentang.
"Anji, beneran deh kamu copot topi itu terus buang," pinta Raja yang sudah mengikuti Anji sampai ke toilet bagi murid laki-laki.
"Iya, Nji, kamu ngaca deh di cermin kamar mandi, muka kamu serem banget," ucap Robi menimpali dengan tubuh gemetar.
Namun, tak ada apapun yang Anji lihat dan ia merasa biasa saja tak ada yang aneh pada dirinya.
"Kalian pada ngaco kayaknya deh," ucap Anji pada kedua temannya itu.
"Ja, dia enggak nyadar deh kalau dia itu dihantui," bisik Robi.
"Bukan cuma dihantui, dia juga dikendalikan," ucap Raja.
Berapa lama kemudian terdengar banyak teriakan terutama dari kelas milik Anji dan Raja. Mereka segera bergegas menuju ke sana. Banyak teman-teman keduanya yang mendadak kesurupan. Di dalam kelas itu mereka menangis, berteriak-teriak dan mengamuk di dalam kelas. Banyak kursi dan meja bergeser bahkan patah karena para murid yang kesurupan saling main pukul.
Beberapa guru datang untuk menenangkan. Dua orang guru memasuki kelas, satunya wali kelas dan satunya lagi guru olahraga yang kala itu lebih dekat ke kelas tersebut.
Terlihat para guru itu pun kewalahan menghadapi banyak siswa yang kesurupan. Sekitar sepuluh orang sudah mengalami hilang kesadaran dan kesurupan. Robi selaku ketua kelas bergegas menuju ruang guru untuk meminta bantuan.
Anji heran dan bingung dengan semua kejadian yang ada. Ia masih tak mengerti kalau ia penyebab kesurupan masal itu. Anak itu masih bertahan di luar kelas dan mengamati dari jendela .
Tak lama kemudian, Robi datang bersama Pak Harun, guru agama di sekolah. Setelah ia mengamati dengan saksama, rupanya ia tau kalau Anji yang menjadi penyebab para murid yang kerasukan itu.
Pak Harun lantas menyuruh Anji melepaskan topinya. Meskipun awalnya ia tak percaya sampai mau melepasnya, akhirnya ia mau melepas topi itu setelah bergelut bersama Raja.
Akhirnya peristiwa rebutan topi itu dimenangkan oleh Raja. Saat topi itu terlepas, lalu muncullah sosok makhluk tinggi besar yang sama persis dengan mimpi yang dialami Anji pada waktu malam jadi.
Para korban masih meraung dengan keras ke arah Pak Harun, Raja dan Anji. Guru agama itu kemudian membaca doa-doa dengan khusuknya. Walaupun makhluk itu menyerang pria berusia 50 tahun itu, tetapi saat menyentuh tangan dan tubuh pria itu makhluk itu langsung berteriak.
"Aaaaa, hentikan!" serunya.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni