Anta's Diary

Anta's Diary
Cerita dari Raja



Happy Reading...


*****


Anan mengantar Raja pulang menuju apartemen Emas. Sesampainya di dalam lobby, ia bertemu dengan Anta dan Tasya yang sudah terlihat cemas. Tak jauh dari keduanya ada Dewi dan Andri yang ikut menyusul.


"Raja, kamu kemana aja dari tadi?" tanya Tasya.


"Aku diajak Yanda ke rumahnya," ucapnya menunjuk Anan.


"Eh, bukan diculik juga ya, tadi ketemu di jalan di depan rumah kosong pada main hujan-hujanan dia sama teman-temannya," sahut Anan.


"Raja, kamu tuh ya..."


Bukannya Mama Dewi memukul kepala Raja malah kepala belakang Anan yang kena sasaran.


"Duh, sakit tau, Bu, kok saya yang digeplak?" seru Anan.


"Iya dong, harusnya kamu mencontohkan yang baik buat dia," ucap Dewi dengan nada ketus.


"Lho, kenapa jadi saya yang salah, yang orang tuanya siapa coba?"


Semua jari telunjuk mengarah ke pria tersebut.


"Saya? Nikah aja saya belum gimana bisa punya anak," sahut Anan.


"Gue ceritain mau enggak?"


Andri merangkul bahu Anan.


"Heh, elo mau ceritain rasanya nikah sama gue?" tanya Anan.


Plak!


Giliran Andri yang memukul kepala belakang Anan.


"Gue mau ceritain tentang elo yang dulu," ucap Andri.


"Oh... nggak ah, gue nggak mau tau, gue mau pulang aja."


Anan berusaha menghindar, tetapi Andri makin menariknya menuju ke mini market di seberang apartemen untuk membeli kopi.


"Raja ik—"


Anta langsung menarik ujung daun telinga adiknya dengan kesal.


"Kamu ngapain ke rumah kosong sama temen-temen kamu, kamu mau berburu hantu?"


Anta mencoba menerka dengan tatapan tajam yang menusuk. Sang adik meringis menunjukkan giginya yang terlihat tak rapi. Bahkan ada yang menghitam.


"Jadi ceritanya aku kalah taruhan main games terus diajak ke sana," ucap Raja.


Mama Dewi dan Tasya sudah bertolak pinggang kali ini dan menatap tajam ke arahnya dengan tatapan yang sama dengan Anta.


"Kak, pulang aja yuk, nanti aku ceritain di rumah," bisik Raja.


***


Sementara itu di depan mini market, Andri dan Anan menyantap dua mie instan dalam kemasan cup ditambah dengan dua botol es kopi seraya berbincang-bincang.


Awalnya, Anan tak percaya dengan penuturan dari Andri. Namun, lama kelamaan cerita yang ia bicarakan membuatnya sangat tertarik dan memasang kedua telinganya dengan benar. Bisa melihat sosok hantu saja sudah membuatnya tak percaya ditambah dengan cerita reinkarnasi ini.


"Terus yang namanya Dita itu kemana sekarang?" tanya Anan.


"Giliran cewek cakep aja langsung peka. Nih, yang gue denger si Anta ketemu dia di sekolah katanya jadi guru baru di sekolahnya," jawab Andri.


"Berarti jodoh gue udah deket, dong?"


Anan tersenyum-senyum sendiri, selama ini sang nenek selalu berusaha untuk menjodohkan dirinya dengan anak tetangga, tetapi tak ada yang menarik baginya. Setelah melihat foto Dita tempo hari entah kenapa dia jadi sering memikirkan wanita itu. Parahnya lagi wanita yang mirip dengan ibu kedua anak tadi itu sering hadir di mimpinya.


Ponsel Anan berdering, ia mendapat kabar dari neneknya kalau Pak Togar meninggal dunia akibat terjatuh di kamar mandi. Pria itu langsung terperanjat kala mengingat ucapan Imran.


"Ada apa?" tanya Andri.


"Tetangga gue meninggal padahal tadi sore gue baru ketemu pas dia pesen ikan, dan temennya Raja tadi bilang kalau dia udah nggak bisa lihat bayangannya di cermin, jadi menurut dia kalau dia udah nggak bisa lihat bayangan orang di cermin artinya dia mau meninggal. Kebetulan banget kan?"


"Iya sih kebetulan, tapi kalau emang itu kejadian, kasian dong temennya Raja masih kecil gitu takut nggak kuat sama kemampuan yang dia punya," ucap Andri.


***


"Kamu jangan ke situ lagi deh, kasian temen-temen kamu entar kalau kenapa-napa, apalagi hantu perempuan itu terlihat ganas, kan?"


Anta fokus pada layar laptop yang sedang ia pangku. Ia sedang mengerjakan soal essay mengenai kebudayaan negara di Eropa.


"Habisnya temen aku badung banget, mana sok-sokan merekam gambar buat youtube, dasar bocah!"


"Kamu juga sama, Ja, masih bocah!" sahut Anta.


"Oh iya, temen aku masa bisa tau kapan orang akan meninggal," ucap Raja.


"Ah, masa?"


"Serius, kata dia kalau dia nggak bisa lihat bayangan orang di cermin itu artinya orang itu bakalan meninggal," ucap Raja.


"Hmm... menarik sih, tapi kasian ya nyeremin, mana bisa kita tolong dan cegah orang yang bentar lagi meninggal karena semua udah garis takdir," ucap Anta.


"Nah, itu makanya, Kak."


Silla duduk di hadapan Anta dan Raja. Pocong Uli mengikuti di belakangnya. Ia mencoba duduk tetapi tak bisa. Pocong itu malah terantuk kakinya sendiri dan terjatuh.


"Sukurin!" seru Silla.


"Lagian ngapain sih pocong ikut duduk segala kan biasanya berdiri di sudut gelap gitu, apa terbang, apa nangkring di atas pohon," ucap Anta.


"Tau nih, mana ngikutin aku terus," keluh Silla.


"Kalian bukannya nolongin gue malah pada ceramah," ucap Uli berusaha bangkit.


Raja menolong pocong itu sambil memikirkan sebuah ide di dalam hatinya. Jika kawanannya mengajak dia kembali ke rumah kosong tadi, maka ia akan membawa serta pocong Uli untuk menemaninya. Jika ia meminta tolong pada Silla, pasti hantu itu tak mau dan malah mengadu pada Kak Anta.


***


Keesokan harinya, Anta sampai di sekolahnya bersama Mey. Arya merentangkan kedua tangannya menyambut para gadis. Arga langsung menoyor kepala anak muda itu dengan kesal.


"Masih pagi udah modus aja!"


"Rese luh, Ga!


"Yah, padahal aku mau lho dipeluk sama Arya," ucap Mey seraya tersenyum.


"Dih, masih aja bucin si Mey," sahut Anta.


"Nta, itu Bunda kamu ngapain ke sini nyamperin kamu?" tanya Arga menunjuk ke arah Dita.


Terlihat sosok Dita yang mengenakan celana kulot warna hitam panjang dan kemeja biru pastel bermotif garis vertikal putih mendekat pada gadis itu.


"Anta, kamu bisa lihat hantu, kan?" bisik Dita.


"Bunda, eh Ibu kenapa kok nanya gitu?"


"Saya ngerasa digangguin sama hantu penunggu panti asuhan," bisik Dita lagi.


"Oh, di sana emang ada hantunya namanya Kak Lala, terus ada juga Tante penunggu sumur, ada juga para hantu bayi, terus—"


Dita langsung membekap mulut gadis itu.


"Malah tambah diceritain para hantunya, makin takut saya entar tidur kayak semalam," ucap Dita.


"Emang semalam Ibu kenapa?" tanya Anta.


"Aku diganggu sampai hantu anak sekolah."


***


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”


biar nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni