Anta's Diary

Anta's Diary
Hyena Koma



Jangan lupa sebelum membaca di like, komen dan bayar pakai vote ya. Terima kasih...😊


Happy Reading.


******


Tasya membawa Anta dan Arya menuju rumah sakit tempat Hyena dirawat. Sesampainya di sana, anak dari Anan dan Dita itu tak lupa membeli paket ayam goreng yang lengkap dengan nasi dan kentang goreng.


"Buat apaan elo beli itu?" tanya Arya.


"Buat Lee sama keluarganya Om Item, mereka kan tinggal deket sini," jawab Anta.


"Emang doyan? Bukannya kasih sajen aja," ucap Arya.


"Mereka makan apa aja, malah makan tikus got juga doyan, mau liat?" tantang Anta.


"Enggak, enggak usah, makasih, gue kenyang enggak mau liat begituan yang buat gue muntah," sahut Arya dengan yakin mengibaskan kedua tangannya.


Tasya menepikan mobilnya saat sampai di parkiran. Anta segera menuju ke pohon besar yang ada di sudut parkiran. Gadis itu menghampiri rumah Lee dan memberikan paket ayam goreng yang baru ia beli untuk keluarga itu.


Arya memperhatikan kelakuan Anta yang begitu mudahnya bergaul dengan makluk menyeramkan seperti genderuwo itu.


"Eh, kamu ngapain ke sini?" tanya Lee si Om Item.


"Mau nengok Tante Hyena," jawab Anta.


"Tante Hyena?"


"Iya, katanya dia kecelakaan, makanya kita mau kepo cari tau tentang keadaan Tante Hyena," jawab Anta.


"Ka Anta ini enak," ucap Lee.


"Iya dong enak, makanya habisin. Tante Shinta ke mana?" tanya Anta.


"Ada di dalam lagi bebenah, kamu enggak mau ngadu soal waktu itu kan?" tanya Om Item.


"Soal apa?" tanya Anta.


"Yang dikuburan waktu itu," sahut Om Item.


"Emang ada kejadian apa di kuburan?" tanya Shinta secara tiba-tiba datang dari belakang Om Item.


"Itu, anu, duh... apa ya, Nta?" Om Item menggaruk-garuk kepalanya sendiri tak mengerti.


"Oh, kejadian waktu Raja diculik, kan om item yang udah nolong," ucap Anta membela Om Item yang langsung merasa lega.


Sementara Lee anaknya, masih asik menyantap makanan pemberian Anta.


"Oh, bagus dong," ucap Shinta.


"Anta, ayo kita ke dalam!" seru Taysa memanggil gadis itu.


Anta menganggukkan kepalanya dan berucap, "Oke!"


Gadis itu lalu pergi meninggalkan keluarga Om Item menuju Tasya dan Arya. Mereka menuju ruang kerja Tante Dewi.


Sesampainya di sana rasa ingin tau makin meningkat. Ketika Tante Dewi datang bersama tim dokter. Tasya langsung memerintahkan lainnya untuk bersembunyi.


"Ngumpet, nanti kita diomelin," ucap Tasya.


Ia bersembunyi di bawah meja, sedangkan Arya dan Anta bersembunyi di balik sofa.


Dewi dan tim dokter lainnya membicarakan kondisi Hyena yang mengalami koma. Benturan keras di kepala wanita itu membuat ia tak sadarkan diri.


"Kita akan observasi lebih lanjut kondisi pasien, saya harap tim dokter ini bisa menyembuhkan pasien semaksimal mungkin," ucap Dewi.


Tak berapa lama kemudian, tim dokter dan Dewi pergi ke luar ruangan. Akan tetapi sebelum wanita itu ke luar, ia sempat menoleh ke arah sofa.


"Itu yang pada ngumpet nanti beresin ruangan ya, jangan diberantakin!" serunya.


Anta muncul sedikit demi sedikit wajahnya sambil tersenyum meringis. Begitu juga dengan Arya yang ikut muncul dan tersenyum.


"Beneran cuma berdua?" tanya Dewi.


Tasya perlahan muncul dari kolong meja.


"Hai, Tante!" ucap Tasya.


"Sudah kuduga," ucap Dewi sambil menutup pintu ruangannya.


"Kenapa enggak mati aja sih, si Nenek Lampir Hyena," ucap Arya.


"Heh, enggak boleh ngomong gitu, namanya juga dikasih kesempatan hidup, siapa tau habis sadar dari koma dia lebih baik," ucap Tasya.


"Mana mungkin, Tante," sahut Arya.


"Bisa jadi, udah ayo kita temui ayah kamu, dia pasti galau," ajak Tasya.


"Ya udah kita beresin dulu," ucap Tasya.


***


Selesai dengan membereskan ruangan kerja Tante Dewi, Tasya mengajak kedua anak itu untuk pulang. Akan tetapi, sebelum ia melangkah pulang, ia menemukan Pak Herdi sedang duduk di kafe rumah sakit.


"Gue mau nyamperin ayah gue dulu, ya," ucap Arya.


Tasya dan Anta mengikutinya.


"Jadi, gimana keadaan Tante Hyena?" tanya Arya.


"Dia koma, dan harus menjalani perawatan dulu di sini," jawab Herdi.


"Bagus dong berati ayah enggak usah mikirin lagi pernikahan ayah sama dia," ucap Arya.


Herdi tersenyum mendengar penuturan Arya itu.


"Kita jahat banget ya, masa ada orang lain lagi kesusahan kita malah seneng," ucap Herdi.


"Kalau orangnya kayak Tante Hyena mah ya wajar kita seneng ya, enggak?" Arya menoleh pada Anta.


"Iya, bener," jawab Anta.


"Ih, si Anta kalau ngomong suka bener," sahut Tasya.


Tawa semuanya pecah karena penuturan barusan.


"Ayo, kita pulang!" ajak Pak Herdi.


Ketiganya menurut dan melangkah pergi untuk pulang ke Apartemen Emas.


***


Sore itu, Raja nekat pergi mengunjungi Taman wahana yang berada di seberang restoran milik Andri. Ia bersama kawan-kawannya sudah melakukan janjian bertemu di taman wahana itu.


"Aku udah bawa uang cukup nih, kali aja nanti di palak sama hantu lagi buat beli es krim," gumam Raja.


"Ja, cewek-cewek pada ngajak foto bareng, tuh!" ucap Dori.


"Enggak mau, ah!"


Raja melangkah menuju sebuah permainan kereta mobil yang kemudian ia taiki. Di dalam kereta mobil tersebut, anak itu melihat sosok hantu dengan kondisi tubuh tak lengkap tersenyum menyeringai padanya.


"Nah, pasti minta es krim, ya kan?" tanya Raja.


Hantu itu menganggukkan kepalanya.


"Nanti ya, aku mau menikmati permainan ini dulu," ucap Raja.


Setelah selesai permainan, Raja membelikan es krim dalam bentuk cup dan meletakkan di dalam kereta mobil tadi.


"Ja, naik roller coaster, yuk!" ajak Dori.


Sekilas Raja mengamati permainan tersebut, meskipun agak ngeri tapi akhirnya ia menyetujui ajakan kawannya. Saat anak itu sudah terkunci tubuhnya dalam wahana roller coaster itu, ia melihat sosok berjubah hitam sedang berjalan mengitari kereta tersebut.


Ia menatap ke arah Raja karena hanya anak itu yang dapat melihatnya. Senyum menyeringai terlihat dari tudung hitam tersebut. Sampai akhirnya sosok jubah hitam itu memilih seorang anak perempuan dengan menunjuknya.


"Itu ngapain sih nunjuk si Irma?" gumam Raja.


"Kenapa, Ja?" tanya Dori yang sekilas mendengar ucapan Raja barusan.


"Enggak bukan apa-apa, berdoa dulu sebelum jalan," ucap Raja.


Roller coaster itu mulai berjalan menuju track yang sudah dibuat untuk dilintasi. Sudah satu putaran alat itu meliuk-liuk di jalur lintasannya seiring dengan teriakan para anak-anak yang menjerit ketakutan. Raja masih mengamati sosok jubah hitam yang melayang di samping Irma itu.


Tepat saat roller coaster itu berputar 180 derajat, alat yang mengunci tubuh Irma terbuka. Gadis itu jatuh dengan berteriak lalu suaranya menghilang ketika tubuhnya menghantam besi terlebih dahulu sebelum tiba di permukaan tanah.


"Aaaaaaaa...!"


Teriakan para pengunjung sontak terdengar kala melihat tubuh Irma bersimbah darah. Kepala gadis itu pecah dan mengeluarkan lelehan otak yang mengalir ke tanah. Gadis itu tewas seketika.


******


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”


biar nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni


Dan mampir juga ke novelku lainnya.