Anta's Diary

Anta's Diary
Wewe Gombel



Happy Reading...


*****


Dira dan Adam lagi-lagi menarik Wewe tersebut. Mereka langsung menaiki punggung si Wewe tersebut seraya menarik-narik rambutnya.


"Aduh, sakit, sakit!"


Dira dan Adam tertawa menikmati permainan tersebut.


Seorang tukang bakso melintas dekat pohon beringin besar tersebut. Ia mendengar suara tawa para bayi yang langsung membuatnya bergidik ngeri ketakutan.


"Kok ada suara anak kecil pada ketawa, sih? Hih... ngeri aku tuh!" Pria itu langsung cepat mendorong gerobaknya menjauh.


Sementara itu, Lee si genderuwo sampai di sebuah gerobak berwarna kuning yang menjual bubur ayam. Pedagang bubur tersebut masih sendirian dan sedang melakukan ritual.


"Gue udah beli ini air penglaris sama tuh dukun sakti, pasti habis ini dagangan gue banyak yang beli," ucap pedagang bubur itu sambil menciprat-cipratkan air penglaris dari dalam botol kemasan plastik tersebut.


"Bang beli bubur," ucap Lee.


"Tuh kan gue bilang apa, emang manjur ini air, baru diciprat dikit, gue udah dapat pelanggan," gumamnya lalu menoleh ke arah genderuwo besar yang sudah berdiri di samping gerobak buburnya.


"Ha-han-hantu..."


"Bukan, Bang, saya mau beli bubur tapi buburnya aja sama pakai ayam, nih duitnya," ucap Lee.


"Bi-bi-bikin, bikin aja se-se-sendiri, gratis....!" Tukang bubur itu langsung lari tunggang langgang menjauh pergi saking ketakutannya melihat Lee.


"Yee...bagaimana sih, orang aku mau beli juga, kan kata mamah aku enggak boleh nakutin orang, dan enggak boleh mencuri, nih uangnya aku taruh di laci aja deh," gumam Lee.


Ia lantas membuat bubur ayam sendiri dalam dua steroform lalu Genderuwo itu lantas menuju mesin vending machine berisi minuman yang ada dalam taman. Untungnya Shinta sang ibu selalu membekali Lee dengan uang jajan yang ia dapatkan dari gaji Om Item yang bekerja menjaga toko emas yang terbesar di pusat kota agar tidak didatangi maling saat malam hari.


Pukul sembilan malam, suasana taman tampak sepi. Lee lalu memasukkan uang kertas dua puluh ribu ke mesin tersebut untuk membeli dua air mineral dalam kemasan botol.


"Mas, kok mesinnya bunyi sendiri?" tanya seorang wanita yang sebenarnya pria dan sedang dicumbu oleh seorang pria hidung belang dibalik mesin tersebut.


"Ah, perasaan kamu aja, udah ayo lanjutin!" sahut si pria yang masih menikmati.


"Tuh, beneran mesinnya bunyi sendiri!" si pria gemulai itu makin takut.


"Wah, jangan-jangan ada yang ngintip kita lagi."


Akhirnya pria hidung belang itu bangkit seraya membenarkan retsleting celananya. Ia menoleh ke arah depan vending machine tersebut.


"Halo, Mas mau minum?" sapa Lee.


"Ha-hantu....!" Pria itu langsung lari terbirit-birit meninggalkan si wanita ya masih berbaring tengkurap.


"Mas, mau ke mana? Mas bayar dulu woi! Mas, dasar kampret, bayar woi!" suara lembutnya berubah garang lalu mengejar pria hidung belang tersebut.


Lee hanya tersenyum melihat adegan kejar-kejaran tersebut lalu ia kembali ke pohon beringin.


***


Anta yang mencari si kembar bersama hantu Sadako tak jua menemukan keberadaan si kembar. Ia malah bertemu dengan hantu Silla yang datang mencari gadis itu.


"Tante Silla?"


"Anta... Tante kangen...!" Silla langsung memeluk Anta dengan erat.


"Tante dari mana?" tanya Anta.


"Haduh, tambah rame entar panti kalau kalian ikut pindah semua," sahut Anta.


"Emang enggak boleh, ya?"


"Boleh sih, asal jangan pada nakutin para anak panti, ada beberapa di antara mereka yang bisa lihat hantu, tapi habis lihat hantu badan mereka panas udah gitu ketakutan terus."


"Oke, kalau gitu aku akan berhati-hati, eh kamu lagi apa?" tanya Silla.


"Anta lagi cari si kembar dia hilang," sahut Anta.


"Jangan-jangan diculik si Wewe lagi."


"Hah, Wewe? Tante tau tempatnya?" tanya Anta.


"Tau, ayo ikut!"


"Tunggu, Anta bilang sama Yanda sama Bunda dulu." Anta bergegas kembali ke panti asuhan ditemani Silla.


Sementara itu, Dita masih menangis sesenggukan di pelukan Anan. Raja tak henti-hentinya meminta maaf karena membuat si kembar hilang akibat kecerobohannya.


"Jadi, gimana?" tanya Aiko.


"Aku enggak ketemu, Bu, udah muter-muter juga para warga juga udah membantu cari," jawab Anan.


"Mungkin anak bapak diculik kolong wewe, atau wewe gombel," ucap Pak Usman ketua RT setempat.


"Kalaupun diculik, dibawa ke mana, Pak?" tanya Anan.


"Nah itu dia yang saya enggak tau, Pak, saya cuma menduga."


"Bisa jadi diculik," sahut rekan satunya.


"Nah, kalau diculik nunggu 24 jam baru bisa lapor polisi, besok saya bantu deh buat laporannya le kantor polisi," ucap Pak RT.


"Iya, Pak RT, terima kasih banyak," sahut Anan.


"Kalau begitu, kami pulang dulu ya, Pak, besok coba hubungi kepolisian."


Para warga sekitar yang membantu pencarian si kembar pun akhirnya pulang. Anta melihat rombongan pria itu pergi lalu segera berlari ke dalam panti asuhan.


"Bunda, Yanda!" Anta mencoba mengatur napas yang sudah tersengal-sengal itu karena letih setelah berlari.


"Kenapa, Nta?" tanya Anan.


"Anta tau ke mana Dira sama Adam pergi, ada kemungkinan dia diculik sama cewek gembel!"


"Cewek gembel?"


"Wewe Gombel, Nta!" sahut Silla.


"Nah, itu kata Tante Silla dan dia tau rumahnya itu si gembel," sahut Anta.


"Ayo, kita ke sana, Yanda mau bikin perhitungan sama gembel ini!" Anan bersiap dengan golok yang disarungkan dan diikat di pinggang. Golok tersebut baru ia beli di pasar antik. Anan berjalan kayaknya pendekar bergolok kala itu.


*****


To be continue.