Anta's Diary

Anta's Diary
Kematian Feri (Part 2)



Happy Reading...


***


Anta kini berada di sebuah rumah dengan dinding kayu yang berwarna hijau. Lantai plester itu terasa dingin diinjak. Gadis itu melihat foto keluarga Feri bersama ayah dan ibunya. Tiba-tiba suara pintu terbuka, sosok Feri datang merengek kepada seorang pria yang Anta lihat tadi.


"Pak, mana uang buat jalan-jalan study tour sekolah?" rengek Feri.


"Kamu tuh ya bikin malu Bapak aja, pakai datang ke bengkel buat minta uang," sahutnya dengan nada kesal.


"Tapi aku lebih malu lagi, Pak, temen-temen udah pada bayar, aku belum. Aku malu, Pak..." rengeknya.


"Kan udah Bapak kasi dua ratus ribu, emangnya kurang?" tanya pria itu.


"Kan biayanya empat ratus ribu, Pak, masih kurang, belum uang jajan di sana," sahut Feri.


"Pakai duit Ibu dulu nih, ada seratus ribu, kekurangannya nanti Ibu dan Bapak cari ya, Nak," sahut seorang wanita berjilbab menggunakan daster.


"Itu uang siapa, Bu?" tanya pria itu.


"Tadi ibu bantu Bu Narti jahit tas kanvas, itu udah seminggu ini," sahutnya.


"Ya udah tuh ambil dulu duit dari Ibu!" seru Pria itu.


Feri langsung meraih uang dari ibunya.


"Ibu berangkat dulu ya ke rumah Bu Narti, Pak kalau mau makan udah di siapkan di meja," ucap wanita itu lalu pamit pergi.


Setelah ibunya pergi, Feri terus saja merengek, bahkan ia sampai mengeluh akan keadaan hidupnya.


"Kenapa sih aku harus lahir dari orang tua miskin, enggak kayak temen-temenku, malahan pada punya handphone, udah pada bisa bergaya pada pamer. Giliran aku aja enggak punya apa-apa," keluh Feri.


"Kamu bisa sabar enggak sih, nanti Bapak cari pinjaman, udah itu bayarin dulu nanti sisanya besok," sahut pria itu mulai tampak kesal.


"Ah, paling juga lupa di bayarin, uang bayaran aja belum diselesaikan, capek aku dipanggil Bapak Guru terus ke kantor ditagih uang bayaran, sebenarnya Bapak bisa enggak sih membahagiakan anaknya?" tanya Feri dengan suara makin meninggi.


Perkataan anak itu ternyata membuat ayahnya sakit hati. Ia menampar putranya kala itu.


"Bapak jahat! Bapak jahat!"


"Jahat katamu? Bapak Jahat? Akan Bapak tunjukkan apa itu jahat!"


Pria itu meraih pisau di dapur dan melukai Feri begitu saja. Sayatan di leher korban langsung membuat anak itu tak dapat menghirup oksigen dengan baik. Anak itu tewas seketika.


Setelah diketahui meninggal, ia sempat membawa anak itu ke rumah kosong dan menyembunyikan jasad anak itu di sana. Ia membiarkan mayat anaknya di sebuah ruangan kamar rumah kosong tersebut untuk kembali bekerja. Pria itu hanya pulang siang untuk istirahat dan makan siang. Ia kembali bekerja kemudian.


Lantas saat ia pulang kerja, pria itu membawa mayat anaknya ke sebuah gorong-gorong dan membuangnya di sana. Pria itu terus memaksa agar tubuh Feri masuk ke gorong-gorong. Tujuan pelaku melakukan itu supaya mayat anak yang dibunuh olehnya tersembunyi dan diketahui orang lain setelah membusuk. Apalagi lokasi tersebut banyak tikus sehingga membuat identifikasi korban lebih sulit.


Pelaku itu yakin aksinya itu bisa mengaburkan perbuatan jahatnya karena dia menganggap jika mayat itu membusuk, sidik jari tak akan ketauan dan polisi akan mengira kematian anak itu sebagai korban penculikan yang dibunuh si penculik.


Sebelum pelaku memasukan mayat korban ke gorong-gorong sekolah, Feri dibonceng memakai sepeda motor bebek warna hitam. Kedua tangan anak itu terikat oleh kain dengan posisi seperti memeluk saat naik motor. Tetangga yang melihat hanya mengira anak itu sedang sakit dan diikat agar tidak jatuh. Ia lakukan itu di malam hari setelah pulang kerja.


Sang istri tak menaruh curiga saat putranya belum pulang. Suaminya telah memberi obat tidur agar istrinya itu terlelap dan terbangun keesokan harinya. Seusai selesai bekerja sekitar pukul sembilan malam, di hari yang sama, pelaku kembali ke rumah kosong dan membawa ke gorong-gorong dekat sekolah, untuk menyembunyikan mayat anaknya.


Setibanya di lokasi gorong-gorong, pelaku menyembunyikan mayat anaknya tanpa diketahui seseorang karena saat itu hujan deras sekitar pukul sepuluh malam. Keesokan harinya, Feri dikabarkan hilang dan sempat dicari oleh ibu korban dan pihak sekolah.


Pria itu juga berbohong pada istrinya dengan mencari keberadaan Feri bersama-sama. Sampai akhirnya mayat anak itu ditemukan oleh seorang warga sekitar di tempat penemuan mayat korban di gorong-gorong karena curiga saluran airnya mampet dan mulai berbau anyir darah.


Anta tersadar dari penglihatannya akan bayangan kematian Feri, tetapi setelah itu ia tak sadarkan diri.


Anan membopong tubuh gadis itu ke atas sofa. Dita langsung memberikan minyak kayu putih untuk menyadarkan gadis itu sementara Ibu Ari membawa teh manis hangat untuk gadis itu.


Anta menceritakan tentang kematian Feri si hantu anak kecil itu pada Anan. Ia menangis karena tak bisa menyelamatkan anak itu kala itu.


"Jadi, pembunuh anak itu adalah ayahnya sendiri? Apa sekarang ayahnya sudah di penjara?" tanya Dita.


"Sepertinya belum, makanya dia belum bisa pergi dengan tenang," jawab Anan.


"Tapi kalau dipikir-pikir, ayahnya enggak akan melakukan itu kalau bocah itu enggak manja apalagi ngatain ayahnya, apalagi pas kondisi capek, pusing stress ya kemasukan setan deh," sahut Arya ketus.


"Gue setuju, gue rasa ayahnya kesel gara-gara dia," sahut Dion.


Hantu anak kecil itu hanya duduk di atas mobil pick up Anan di bagian belakang sambil menangis.


"Aku mau pulang sekarang...." rengeknya.


"Kayaknya enggak bisa nunggu besok deh, Nan, lebih cepat lebih baik supaya ayahnya bisa di penjara. Biar bagaimanapun dia pembunuhnya, dan harus mempertanggung jawabkan perbuatannya," sahut Dita.


"Ya udah kamu ikut aku ke rumah anak itu," ucap Anan.


"Anta ikut, kan Anta yang tau wajah pelaku dan rumah si Feri," sahut Anta.


"Kalau Anta ikut, aku ikut juga Om," pinta Arya.


"Kalau gitu aku juga ikut, Om!" sahut Dion.


"Enggak usah, ribet nanti, elo kan enggak bisa lihat hantu, malah ganggu aja nanti," tepis Arya.


"Bang, kita pulang aja yuk, aku takut kalau urusannya dan hantu gini," ucap Ria.


"Tapi aku mau ikut, Ria, kamu mau pulang duluan?" tanya Dion pada adik sepupunya itu.


"Kamu pulang aja Kak Dion, antar Ria pulang, Anta enggak mau kalian kenapa-kenapa nanti kalau ketemu hantu lainnya," ucap Anta.


Dion akhirnya mengalah. Ia lalu pamit pada Anan dan Dita untuk mengantar Ria pulang. Jorji dengan penuh semangat mengikuti Dion kala itu.


"Dah, Anta... Aku ikut Dion pulang ya," ucap Jorji.


"Jangan kegenitan, kalau tidur sama Ria aja jangan di kamar Kak Dion!" ucap Anta.


"Hehehe... Belum tentu... byeeeeee!"


"Yes, akhirnya pulang juga, ayo kita pergi sekarang, Om!" ajak Arya.


"Elo pulang juga, nanti saya antar kamu pulang," sahut Anan.


"Yah, aku ikut bentar Om, janji deh aku enggak ganggu," sahut Arya.


"Oke, kalah gitu Anta sama Dita naik di kursi deoan, elo di belakang ya sama hantu itu!" tunjuk Anan pada tempat kosong di samping Feri.


"Yah, Om... emang enggak bisa berempat di depan?" pinta Arya.


"Enggak bisa, sempit!" sahut Anta yang sudah masuk ke dalam mobil bersama Dita.


"Kalau mau ikut duduk di belakang, kalau enggak mau duduk di belakang ya enggak usah ikut!" sahut Anan.


"Yah... nasib nasib, geseran jangan deket-deket!" ucap Arya pada hantu itu seraya naik ke mobil bagian belakang milik Anan.


Mereka menuju ke rumah Feri malam itu juga.


*****


To be continue…


Follow IG : @vie_junaeni