
Jangan lupa di VOTE...
******
"Siap dengan penampakan seperti yang ada di sampingmu itu?"
Mey menoleh perlahan ke arah sampingnya. Tubuh gadis itu langsung gemetar dan tak bisa berkata-kata lagi. Mulutnya terasa terkunci dan tubuhnya terasa membeku sampai tak bisa di gerakkan.
Sementara itu, sang Kakek tadi tertawa dengan kerasnya menertawai seorang Mey yang sedang ketakutan.
Di samping Mey duduk sosok kuntilanak penunggu pohon. Hantu perempuan itu sedang menjulurkan lidahnya menjilat tubuh gadis itu. Kedua mata sosok hantu itu melotot hampir ke luar. Sementara tiga hantu kuntilanak lainnya datang mengitari Mey. Mereka tertawa cekikikan dengan nyaring dan membuat tubuh gadis itu gemetaran.
"Mey, masih kuat?" tanya si Kakek.
Awalnya gadis itu ragu membuka kedua matanya, tapi tekadnya sudah bulat. Ia ingin seperti Anta yang bebas melihat sosok Arya kapanpun juga. Gadis itu akhirnya membuka kedua matanya perlahan-lahan. Ia mantap menatap ke arah para hantu kuntilanak itu.
"Saya siap, Kek," tegas Mey.
Kakek tua itu memberikan Mey sehelai daun.
"Usap kelopak matamu dengan daun itu!" titah pria paruh baya itu.
Kakek itu langsung menghilang saat Mey mengusap daun tersebut ke kelopak matanya.
Gadis itu mengerjap-ngerjapkan kedua matanya lagi. Kini bukan hanya para kuntilanak penunggu pohon asem. Namun, Mey juga melihat penampakan pocong dan hantu muka rata yang sedang mengejar pocong lainnya.
"Itu bukannya Arya, ya?" gumam Mey.
Tiba-tiba tangan gadis itu tertahan oleh sesuatu.
"Jangan lupa tumbal tiap malam jumat kliwon," ucap suara Kakek meskipun tak ada apapun yang Mey lihat selain merasakan tangannya dipegang.
"Ya, Kek," sahut Mey.
Gadis itu bangkit dan hendak beranjak menuju Arya.
"Jangan lupa satu bulan sekali," seru Kakek tadi tetap tak terlihat.
"Ya, Kakek, aku enggak lupa," sahut Mey.
"Mey, kamu ngapain di situ?" tegur Anta yang meneriaki Mey dari jauh.
"Anta, sini deh aku kasih tau, aku seneng banget," ucap Mey.
"Kasih tau apa?" tanya Anta.
"Aku bisa lihat Arya dia lagi dikejar pocong sama hantu muka rata, kan?"
"Kok tau?"
"Mata batin aku udah kebuka," ucap Mey.
"Hah, kok bisa?" tanya Anta bingung.
"Iya, tadi aku ketemu Kakek buyut aku, terus dia buka mata batin aku terus dia bilang ada sesuatu dalam tubuh aku, terus aku harus—."
"Harus apa?"
"Enggak jadi, aku harus cari Arya, yuk!" ajak Mey.
Ia menghentikan ucapannya karena tak ingin Anta atau siapapun tau makhluk mengerikan yang ada dalam tubuhnya.
"Mey, kamu enggak takut lihat penampakan itu semua?" tanya Anta.
"Enggak, tadinya takut, tapi enggak tau kenapa aku jadi enggak takut gitu," sahut Mey.
"Tapi tadi kamu lari ninggalin Anta karena takut denger hantu nangis, masa sih udah enggak takut sama hantu?"
"Masih takut, sih, tapi tadi aku ninggalin kamu karena aku kesel kenapa kamu selalu aja bisa bicara sama Arya, bukan karena hantu itu."
"Oh, berarti si muka rata salah paham hahaha... Eh, Anta punya temen baru, namanya Ria, kita kenalan, yuk!" ajak Anta.
"Aku mau cari Arya dulu, nanti aku susul ke kelas," sahut Mey.
Gadis itu benar - benar sangat tergila-gila pada Arya.
"Hadeh, dasar bucin pocong, udahlah Anta mau ke kelas aja," gumam Anta.
Gadis itu masuk ke dalam kelas barunya. Ia juga sekelas dengan Ria dan juga Mey. Gadis itu masuk ke dalam kelas dan melihat ke arah Ria yang tampak aneh memandangi kertas polaroid hasil jepretannya.
"Hai, Ria, coba lihat hasil fotonya?" pinta Anta.
"Jangan, jangan, Nta, nanti kamu takut terus kamu jauhi aku terus kamu bilang aku aneh terus kamu enggak mau temenan sama aku, terus—."
Anta membekap mulut Ria agar menghentikan ucapannya.
"Kenapa, sih? Ada yang aneh sama fotonya, ada hantu ya di fotonya, gitu?" tanya Anta.
"Tuh, kan, kamu pasti bakal ngatain aku," ucap Ria.
"Astaga, Ria, jadi kamu bisa lihat hantu kayak Anta?"
Anta menunjuk dirinya sendiri seraya duduk di hadapan Ria.
"Kamu bisa lihat hantu?" Ria balik bertanya.
"Emang kamu enggak bisa?"
"Masa, sih, coba lihat!"
Anta mengamati gambar polaroid yang dipisahkan oleh Ria. Gambar yang dipisahkan itu menangkap sosok makhluk astral yang terekam.
"Ini mah para Kunti di pohon asem, terus si Tante muka rata, si Tante pocong hitam juga ada, terus ini hahahaha..."
Anta langsung tertawa kala melihat pocong Arya dipeluk dari belakang oleh hantu perempuan muka rata sampai terjatuh.
"Kok, kamu kenal, malah ketawa lagi?" gumam Ria.
"Ini Arya, dia temen aku, nih aku panggil ke sini," ucap Anta.
Ria memandang Anta dengan takjub. Ia tak menyangka kalau ada gadis yang lebih aneh dari dia bahkan bisa melihat sosok- sosok hantu itu secara langsung. Sedangkan dia saja yang bisa menangkap gambar hantu dengan kameranya malah dibilang aneh dan dijauhi teman. Berati Anta juga lebih parah dari dia saat di SMP terdahulu.
Sosok Arya muncul dengan tampang lesu.
"Bagus elo panggil gue ke sini, kalau enggak habis gue jadi rebutan para kuntilanalak pohon asem," ucap Arya yang jongkok dan bersembunyi di samping meja.
"Hahaha, ngapain juga sampai ke pohon asem sana?" tanya Anta.
"Ya, habisnya mereka kejar gue mulu, niat mau ngumpet di atas pohon malah banyak kuntilanak."
"Anta, ngomong sama siapa?" bisik Ria.
"Oh Iya, Anta lupa, ini lho pocong yang ada di foto ini yang dikejar-kejar tadi, coba lihat pakai kamera kamu!" perintah Anta.
Ria mengangkat kameranya dan mengarahkan kamera itu ke samping Anta. Ia tak melihat apapun di sana.
"Kejahatan, enggak?" tanya Anta.
"Bentar, aku harus tangkap gambar dia mulu," ucap Ria.
"Eh, bentar-bentar, bilangin Nta, kalau dia mau foto gue, biar gue pose dulu," ucap Arya menyentuh bahu Anta.
"Huh, ganjen! Oke, Anta kasih aba-aba ya buat Ria potret kamu, satu, dua, tiga."
Tak lama kemudian, kertas polaroid itu muncul dari kamera di tangan Ria. Gadis itu menarik kertasnya dan mengibas-ngibaskan sebentar agar terkena angin dia kering hasil cetakannya.
"Astagfirullah!" Ria melempar kertas itu ke arah Anta.
"Ya ampun ini cewek, gue udah pose cakep gini masih aja kaget," sahut Arya yang mencoba melihat hasil gambarnya.
"Coba aku lihat lagi, Nta," pinta Ria.
"Nih."
Gadis itu perlahan-lahan memberanikan diri melihat foto tersebut.
"Kok, ni pocong cakep, Nta," ucap Ria.
"Iya dong jelas cakep, siapa dulu pocongnya, Arya gitu, lho!" sahut Arya dengan sombongnya.
Anta dengan gemas menarik ikatan pocong Arya.
"Lebay!"
"Arya....!"
Mey yang baru masuk kelas langsung melihat sosok Arya. Gadis itu langsung berlari dan menghampiri Arya. Sontak saja sosok pocong itu langsung bergerak dan hendak menembus dinding lalu menghilang.
Tapi sebelum itu ia berucap, "jangan panggil gue lagi, nanti aja di rumah!"
Bruk!
Mey yang lepas kendali malah menabrak dinding saat ingin memeluk Arya. Sontak saja semua murid yang sedang berada di kelas menatap ke arah Mey dengan heran.
*******
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
******
To be continue...
Follow IG ku ya @vie_junaeni
Mampir juga ke Novelku lainnya.
- Pocong Tampan
- With Ghost
- 9 Lives
- Kakakku Cinta Pertamaku
- Forced To Love
- Diculik Cinta