Anta's Diary

Anta's Diary
HIV Versus HVS



Happy Reading...


*****


Tiga puluh menit berlalu, tepat saat Anta baru saja ke luar dari ruang perawatan Raja karena ingin bertemu dengan Ria, ia menabrak Tante Key.


"Duh ngagetin aja deh, kelayapan mulu nih si Tante!" ucap Anta.


Akan tetapi, ucapan gadis itu barusan malah salah alamat. Seorang suster di sampingnya merasa gadis itu sedang berbicara dengannya.


"Maksud kamu apa, ya?"


Suster itu menoleh dengan tatapan sinis.


"Enggak Suster saya cuma ngedumel aja bukan ngomong sama Suster," ucap Anta.


"Oh..."


Suster itu pergi begitu saja.


"Tuh, Tante Key sih gara-garanya. Eh, itu bukannya Kak Lisna sama Kak Fani, wah gawat nih Anta malas berurusan dengan mereka, Anta harus sembunyi," ucap gadis itu.


"Kamu kenal sama mereka?" tanya Tante Key yang ikut bersembunyi di balik dinding bersama Anta lalu berjongkok di belakang tong sampah.


"Kenal, mereka kakak kelas Anta, emang kenapa?" tanya Anta masih berusaha bersembunyi agar tak terlihat oleh dua gadis kakak kelasnya itu.


"Itu yang rambut panjang dikuncir tadi kata Dokter Hendra dia positif HVS," ucap Tante Key.


"Apa? HVS? Itu kan nama kertas," ucap Anta tak mengerti.


"Bukan, itu nama penyakit yang suka berhubungan anu-anu sama banyak cowok, pokoknya serem deh."


"Bentar, apa jangan-jangan yang Tante Key maksud itu, HIV?"


"Nah, kayaknya iya HIV, aku salah ucap ya?"


"Bukan cuma salah ucap malah jauh banget dari HIV ke HVS! Eh bentar, Kak Lisna kena HIV, Astagfirullah...!"


Tante Key lantas menceritakan kejadian beberapa menit yang lalu di ruangan Dokter Hendra.


***


"Begini ya saudari Lisna, setelah saya mengamati dan menduga, serta melihat keluhan kamu tadi saya curiga kalau kamu kena HIV," ucap Hendra.


"Apa? HIV? Itu penyakit apaan, Dok?"


Kapasitas daya pikir gadis itu memang lambat dan lebih bodoh dibandingkan Fani. Setelah mengenal napas dalam, Dokter Hendra menjelaskan dengan teliti.


"Gini ya, memang yang diderita kamu tuh seperti gejala awal penyakit HIV alias Human Immunodeficiency Virus meskipun terlihat mirip dengan penyakit flu."


"Lalu?" tanya Lisna seraya membenarkan kunci dan rambutnya.


 


"Ciri-ciri HIV dini ini umumnya muncul dalam satu hingga dua bulan setelah penularan, namun dapat juga muncul lebih cepat bagi beberapa orang. Namun, tidak semua orang mengalami gejala awal ini setelah tertular HIV. Selain itu, karena gejala-gejala di atas juga serupa dengan gejala penyakit umum," tutur Hendra menjelaskan.


"Lalu bagaimana pemeriksaan lebih lanjutnya, Dok? Apa saya akan mati?" tanya Lisna dengan raut wajah ketakutan.


"Jadi gini, ya, HIV dapat bersembunyi di dalam tubuh dan tidak menunjukkan gejala apa pun hingga 10 tahun. Namun, ini bukan berarti virusnya hilang dari dalam tubuh. Jika tidak diobati, HIV dapat berlanjut ke tahap tiga bahkan jika tidak muncul gejala apa pun. Inilah mengapa deteksi dini sangat penting. Dengan pengobatan HIV yang tepat, seorang penderita HIV dapat tetap hidup normal dan sehat dalam jangka waktu panjang."


"Tapi saya bisa sembuh kan, Dok?"


"Kamu masih tetap harus melakukan tes antibodi, tes ini bertujuan mendeteksi antibodi, yakni protein yang dihasilkan oleh tubuh untuk melawan infeksi HIV. Antibodi ini dihasilkan oleh tubuh dalam dua sampai delapan minggu setelah seseorang terinfeksi, dan beberapa serangkaian pengobatan dan konsumsi obat-obatan yang akan saya berikan."


"Ya udah kalau gitu, saya ikuti semua perintah Dokter."


"Saran saya, kamu jangan berhubungan lagi ya agar tidak menularkan ke orang lain, atau pakai pengaman," ucap Dokter Hendra.


"Yah, enggak seru tau, Dok!"


"Heh, kamu tuh masih sekolah, bisa-bisanya suka begituan mana belum nikah lagi ckckckc..." cibir Hendra.


"Kan awalnya coba-coba terus—"


"Stop! Kamu urus kesehatan kamu dan jangan mikirin begituan lagi sebelum kamu lulus sekolah dan menikah," ucap Hendra dengan tegas.


Lisna mengangguk lalu pergi.


***


"Gitu, Nta, ceritanya."


Tante Key menepuk punggung Anta sampai terbatuk-batuk.


"Eh, maaf ya kekencangan hehe..."


"Mbak, ngapain jongkok di situ?"


Seorang office girl menegur Anta.


"Hehehe, duit saya jatuh, Mbak, nih lagi nyari," ucap Anta berbohong.


Ia lantas bangkit berdiri dan menuju ke luar rumah sakit meninggalkan Tante Key.


Saat menuju halte busway, Anta dikejutkan suara klakson mobil di hadapannya. Kaca jendela terbuka dan memperlihatkan sosok si pengemudi.


"Kak Dion?" tanya Anta.


"Mau ke mana?"


"Anta mau..."


"Ayo naik!"


"Enggak usah, Anta naik busway aja," sahut Anta.


"Dih, maksa! Mentang-mentang kakak kelas."


Anta Akhirnya naik ke dalam mobil Dion dengan terpaksa. Ia lantas mengirim pesan pada Ria untuk menunggunya dan memberi tahu gadis itu kalau Ia sedang bersama abangnya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Dion buka suara setelah hening tercipta.


"Mau ke Mall Kota ketemu Ria," jawab Anta.


"Astaga kenapa enggak bilang dari tadi, Mall Kota itu sebelah sana, berarti gue puter balik kirain elo mau pulang," ucap Dion.


"Hehehe...."


Anta meringis menunjukkan deretan giginya yang rapi.


"Jangan ketawa, nambah cantik elo!"


"Hah?"


"Setel musik aja mendingan," ucap Dion mengalihkan pembicaraannya.


menuju mall kota tempat Ria menunggu.


***


Sesampainya di Mall Kota.


"Kamu ngapain bawa Abang Dion?" bisik Ria.


"Bukan Anta yang mau, tadi ketemu di jalan terus dia paksa Anta naik terus anter ke sini," jawab gadis itu.


"Hmmm pada ngapain diem aja, buruan masuk, udah sore banget nih nanti kemalaman!" seru Dion.


"Tuh kan, Abang Dion mah emang enggak bisa dibantah," keluh Ria.


"Anta ke kamar mandi dulu ya, dari tadi nahan pipis," ucap Anta langsung berlari menuju toilet wanita dalam mall tersebut.


"Temen elo tuh!" cibir Dion.


"Emang temen aku, terus kenapa?"


"Kelakuannya minus rada-rada, hahaha."


"Tapi suka, kan?"


Ria meledek Dion yang langsung terdiam dan berpura-pura menuju stand majalah di depannya.


***


Di toilet Mall Kota, Anta hanya sendirian memasuki toilet ruangan itu. Tak ada siapapun di sana setelah petugas kebersihan wanita keluar dari dalam toilet tersebut.


"Hadeh, semua cowok sama aja, tukang selingkuh," celetuk sosok Pocong yang baru saja muncul di hadapan Anta.


"Astagfirullah... untung Anta nggak punya riwayat penyakit jantung tau - tau muncul pocong ngagetin aja kayak gini," ucap Anta.


"Kamu bisa lihat aku?"


Anta menganggukkan kepala.


"Emang aku nyeremin ya sampai ketakutan gitu?" tanya pocong wanita berwajah merah itu.


"Iya lah, Tante... setan pocong itu paling nyeremin katanya, malahbpaling legendaris di negara ini," ucap Anta lalu masuk ke dalam bilik toilet menuntaskan hajatnya.


"Tapi katanya si hantu gepeng, aku dibilang cantik enggak nyeremin kok," ucapnya.


"Au amat! Jelas-jelas sama hantu mana mungkin bilang nyeremin," sahut Anta.


"Huhuhu..."


Pocong itu tiba-tiba menangis.


"Lho, kok nangis?" tanya Anta.


"Si gepeng selingkuh sama hantu cewek yang baru mati kemarin gara-gara terjun dari lantai lima, padahal muka dia ancur lho, pipinya penyok, matanya aja mau keluar, tapi si gepeng bilang dia lebih cantik dari aku huhuhu... alesan yang bikin aku sakit hati, masa dia bilang dia udah capek nemenin aku lompat, huaaaaa!"


"Duh, miris Anta dengernya, cup cup udah relain aja , masih banyak hantu yang lebih nyeremin di dunia ini, kok," ucap Anta menepuk punggung pocong itu.


Seorang pelayan restoran masuk ke dalam toilet dan terkejut melihat Anta yang baru ke luar dari toilet yang berada di sudut.


"Kenapa pake toilet itu?" tanya perempuan itu.


"Lha, emang kenapa, Mbak?" tanya Anta.


"Katanya suka muncul pocong tau, eh tungguin aku ya jangan pergi dulu!" pintanya yang langsung masuk ke bilik toilet satunya.


"Itu si Mbak kenapa takut banget ya, emang kamu suka nakutin?" tanya Anta pada si pocong.


"Enggak, kok, mereka aja yang lebay suka ketakutan kalau liat saya!"


"Hmmm...."


****


To be continue…


Jangan lupa kepoin "DERING"


Novel baru aku di Noveltoon ya...


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni