Anta's Diary

Anta's Diary
Mencari Raja



Happy Reading...


******


Dua penculik Raja dan Pak Herdi melajukan kijang hitam itu ke sebuah gedung tua di pinggiran kota. Kedua mata mereka dipakaikan penutup agar tidak mengetahui arah perjalanan saat menuju ke gedung tua itu.


Salah satu pria berkepala plontos turun dari mobil dan menarik paksa Pak Herdi.


"Ayo, Masuk!" seru pria itu.


"Masuk ke mana, saya enggak kelihatan ini," protes Herdi.


"Ya masuk ke dalam masa keluar, udah ikutin aja perintah saya!" serunya sambil mendorong punggung pria itu.


Sementara Raja yang tertidur pulas tak mempan untuk dibangunkan akhirnya digendong oleh satu pria yang berambut gondrong dan berkumis tebal itu.


"Ini lagi bocah pules banget, nyusahin aja!" keluhnya.


Pria tanpa rambut itu masih saja mendorong tubuh pak Herdi untuk masuk ke dalam sebuah gudang tua yang sudah lama tak terpakai.


"Pelan-pelan, dong! Saya kesandung, nih!" protes Pak Herdi.


"Ah banyak omong, sudah masuk sana!" seru si pria botak.


Pak Herdi lalu diikat di sebuah kursi kayu dengan kuat. Penutup kedua matanya dibuka. Mulut pria itu diberi lakban dan diikat kencang agar tak bisa bersuara.


"Ummpp... umppp..."


Pak Herdi berusaha bersuara tapi tak bisa juga.


"Udah jangan bawel, diam aja yang tenang, nanti saat waktunya makan baru saya buka penutup mulut elo!" seru pria botak itu.


"Yo, ini bocah taro mana, pules banget ini?" seru si pria berambut gondrong.


"Taro aja situ, terus ikat, gue juga ngantuk tau, kita tidur aja, paling juga bos dateng besok," sahut Karyo.


"Oke deh, gue taro ni bocah di sini," ucapnya.


Pria berambut panjang itu meletakkan Raja di atas kardus dengan mengikat kedua tangan bocah itu ke belakang. Akan tetapi, anak itu lalu tersadar dan terbangun.


"Aduh, Om, jangan kuat-kuat ikatnya, sakit tau!" ucap Raja mengeluh.


"Berisik banget nih bocah!" seru pria itu.


"Aku lapar, Om, mau makan, makanya saya berisik, paling enggak kalau mau culik aku ya tolonglah kasih makan dulu," ucap Raja.


"Ah, bawel banget ini bocah, kalau mau makan besok aja, gue juga laper belum makan, nih!" sahut si gondrong lalu menutup mulut Raja dengan lakban.


"Ummpp... ummppphhh...!"


Raja terus berusaha untuk mengeluarkan suaranya tapi tak bisa.


"Bagus, jadi kalian enggak bisa bawel lagi, sukurin!" ucap si pria gondrong tersebut.


"Kita tunggu bos apa gimana nih?" tanya si pria berambut botak tersebut pada rekannya.


"Kita ke warung kopi dulu aja lah, gue laper, baru nanti tunggu bos di sini, yuk!" ajak pria satunya.


Si pria rambut gondrong itu menepuk bahu rekannya dan mereka lalu pergi meninggalkan Raja dan Pak Herdi terkunci di dalam gudang tua tersebut.


***


Tasya membawa Anta dan Arya menuju ke taman hiburan malam itu. Akan tetapi, sayangnya taman hiburan tersebut sudah tutup dan tak bisa dimasuki. Dion mempunyai ide untuk masuk ke dalam, tapi tak lama kemudian ia kembali.


"Kenapa, luh?" tanya Arya.


"Gue, gue takut, hehehe... Banyak penampakan aneh di dalam," jawab Dion sambil meringis.


"Halah, cemen banget elu, tinggal cari hantu Sherly apa Kuntilanak yang waktu itu terus tanyain liat bokap gue sama Raja, enggak!" seru Arya.


"Emang elu berani kalau ketemu hantu kagak jelas, kaga pada itu badannya?" tanya Dion pada Arya.


"Beuh... kaga berani lah!" sahut Arya.


"Hu... sama aja bohong, jangan ngajarin gue kalau kayak gitu!" cibir Dion.


"Lha terus, jadinya gimana, yang bisa masuk ke dalam tanpa terlihat kan cuma kamu," ucap Anta menepuk bahu Dion.


"Iya sih, cuma gue ya yang enggak kelihatan," gumam Dion.


"Kamu bisa, pasti kamu bisa, Dion kan pemberani," ucap Anta.


"Kenapa elo, cacingan kedip-kedip gitu?" tanya Arya menoyor dahi gadis itu.


"Apaan sih, orang cuma kasih semangat buat kak Dion, wlek!" sahut Anta.


"Ya, enggak usah begitu juga kali, kayak orang cacingan luh!" sahut Arya.


"Heh, ini kenapa pada ribut, sih? Jadi gimana, Dion berani masuk, enggak?" tanya Tasya.


"Hmmm... takut Tante," ucap Dion.


"Ya, terus gimana dong?"


"Tanya sama satpam aja, gimana?" ucap Dion memberikan penawaran.


"Ya enggak mungkin tuh satpam mau jawab jujur kalau semisal si Raja sama pak Herdi dibawa ke dalam," ucap Tasya.


"Coba Anta panggil Tante Kuntilanak apa Tante Sherly," ucap Anta mencoba mencari arah pintu belakang ke taman hiburan tersebut.


"Ya udah, Tante tunggu di dalam mobil, ya," ucap Tasya.


"Gue ikut!" seru Arya.


Dion juga mengikuti keduanya dari belakang.


"Tadi aja pada takut, giliran si Anta yang jalan pada ngikut, hadeh..." gumam Tasya.


Sosok hantu anak kecil melongok dari celah pagar besar taman hiburan itu. Kepala hantu anak itu tersangkut sampai ia putuskan untuk mencopot kepalanya sampai jatuh menggelinding ke kaki Tasya sebelum dia masuk ke dalam mobil.


"Apaan nih?" gumam Tasya.


Wanita itu meraih sesuatu yang menggelinding tersebut. Karena dia pikir tadinya bola, dengan santainya Tasya meraih kepala tersebut. Saat ia mengamati sosok itu terlihat sosok wajah sedang tersenyum menyeringai ke arah Tasya.


"Hai, Tante, balikin kepala aku ke sana!" ucapnya seraya menunjuk dengan lirikan mata.


"Astagfirullah... ke-kepala, hiyyyy!"


Tasya melempar kepala tersebut sampai ke gerbang.


"Duh, sakit tau!" keluh hantu anak kecil itu.


Tasya buru-buru masuk ke dalam mobil dan tak mau berurusan dengan para hantu tersebut.


Sementara itu, Anta masih mengendap-endap mencari pintu belakang taman hiburan tersebut. Saat gadis itu berhenti mendadak, Arya ikut berhenti mendadak dan menabrak punggung gadis itu. Dion mengikuti juga sampai menabrak punggung Arya.


"Duh, ini pada kenapa sih, Anta sakit tau!" keluh Anta.


"Nah, elo sendiri ngapain berhenti mendadak gini?" tanya Arya.


"Ini, Anta menemukan pagar belakang, apa ini jalannya ya?" tanya Anta.


"Coba kita panjat!" ucap Arya.


Anta terdiam dan bersamaan dengan Dion keduanya menatap ke arah Arya.


"Maksud kalian, gue yang manjat?" tanya Arya menunjuk dirinya sendiri.


Anta dan Dion menganggukkan kepalanya.


"Huh, gue yang kasih usul gue juga yang jalanin usul gue," gumam Arya.


Anak muda itu bersiap menaiki pagar yang ada di bagian belakang taman hiburan tersebut.


******


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”


biar nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni