Anta's Diary

Anta's Diary
Di Kantin Sekolah



Happy Reading...


******


"Lalu apakah —"


"Mey, elo ngomong sama siapa?" tanya Arya yang tiba-tiba sudah hadir di hadapannya.


"Eh, Ya, tadi... Aku...."


"Nih, roti buat elo, makan dulu!"


Arga menyerahkan roti cokelat dan air mineral dalam gelas pada gadis itu.


"Makasih, Ya."


Arya melanjutkan hukumannya merapikan gudang bersama Mey. Akan tetapi, perhatian gadis itu selalu terarah pada para hantu di pohon asem besar. Sesekali ia juga memperhatikan pemuda yang disukainya sejak SMP itu.


"Ya, kamu mau enggak pulang sekolah makan di kafe yang baru itu?" tanya Mey.


"Kalau Anta mau, gue mau," jawab Arya.


"Oh, maksud aku kita berdua aja," ucap Mey.


"Hmmm... nanti deh, buruan yuk beresin ini, gue capek," keluh Arya.


Ada raut kecewa di wajah gadis itu. Di Dalam hatinya, mendadak terbersit sebuah rencana. Rencana tidak baik yang akan mulai mengubah sifat gadis itu.


***


Bel istirahat berbunyi, Anta dan Ria menuju ke kantin yang terletak dekat gudang sekolah. Arya sudah duduk kelelahan seraya mengipas-ngipas potongan kardus ke arah wajahnya. Ia melambai ke arah dua gadis itu.


"Duh, kacian... capek, ya?"


Anta menghampiri Arya seraya menyerahkan selembar tisu ke arah pemuda itu


"Iya nih, capek... banget elapin dong, Nta!"


Arya menyodorkan wajahnya ke arah Anta berharap gadis itu akan mengusap keringat di wajahnya dengan tisu.


"Oh gitu, sini deh Anta elapin."


Arya tersenyum senang dan bersiap menyambut sentuhan tangan Anta di wajahnya.


Pluk!"


Lembaran tisu itu ditempelkan dengan keras oleh Anta ke dahi Arya.


"Elap sendiri!" seru Anta.


"Huh... dasar cumi albino!"


"Makanya ngerjain tugas! Mey, kamu bukannya udah ngerjain tugas?" tanya Anta menoleh pada Mey.


"Umm... Iya sih, tapi aku lupa bawa," sahut Mey.


Ria langsung tertawa melihat perlakuan Anta pada Arya.


"Heh, gue sumpahin laler masuk ke mulut elo!"


Arya menyumpal mulut Ria dengan bekas tisu yang dia pakai mengelap keringat seraya melangkah menuju kantin.


"Fuuaah! Arya nyebelin, nih!" seru Ria.


"Udah, enggak usah diladenin, kita ke kantin, yuk!" Anta menarik lengan Mey dan Ria.


Arya duduk di hadapan Arga yang sudah duduk menyantap mie goreng di meja yang terletak di sudut kantin.


"Ngapain elo di sini?" tanya Arga.


"Gue mau mancing! Mau makan lah!" ketus Arya.


"Males gue sama elo, capek tau gue dikerjain elo!"


Arga bersungut-sungut.


"Siapa suruh elo lanjutin kan elo bisa tinggal kabur, enggak ada yang tau ini," ucap Arya mengangkat tangan kanannya memanggil Mang Asep.


"Siomay komplit, ya, Mang!" seru Arya.


"Siap, Bos!" sahut Mang Arya.


Brak!


Arga menggebrak meja mengejutkan Arya.


"Kok gue bego, ya, kenapa gue mau gitu nurut sama elo bersihin wc?" keluh Arya.


"Hahaha... elo pinter, Ga, tapi kadang bisa juga elo dongo!"


Arya meraih peyek dalam kemasan plastik di atas meja dan membukanya. Ia mengunyahnya sebagai cemilan sebelum siomay pesanannya datang.


Arga melihat ketiga gadis sahabatnya itu dan melambai pada Anta.


"Duduk sana tuh!" tunjuk Anta.


Ketiga gadis itu akhirnya duduk bersama dengan Arya dan Arga. Kemudian Anta bangkit hendak memesan bakso di kantin itu.


"Nta, elo mau kemana?"


"Anta mau beli bakso," jawab Anta membiarkan tangannya masih tergenggam oleh Arya.


"Titip teh botol, ini uangnya," ucap Arya seraya tangan satunya meraih uang di dalam saku.


"Dih, bukannya beli sendiri malah nyuruh!" sahut Anta.


"Sekalian, elo beli juga tuh pakai uang gue, sekalian bayar bakso yang mau elo beli juga," ucap Arya.


"Wah... oke deh kalau gitu."


Anta mencolek kepala Arya.


"Apa lagi?"


"Lepasin tangan Anta!" seru gadis itu.


"Oh iya, gue lupa!"


Arya melepas tangan gadis itu dan menoleh ke arah Arga yang sudah menatapnya tajam sedari tadi.


"Apa?"


Seru Arya menantang Arga.


Sosok hantu kuntilanak dengan pakaian lusuh warna merah muda tampak melayang menuju dandang tempat kuah bakso. Hantu itu ingin mencicipi masakan kantin itu.


"Eh, kamu ngapain, enggak boleh gitu?"


Anta memperingatkan hantu itu tetapi malah ibu penjual yang menoleh pada gadis itu.


"Lho, saya mau ambil kuah, neng," ucap ibu penjaga kantin.


"Eh, maksud Anta ummm... duh Anta mau ngapain, ya? Eh, Anta mau beli minum dulu, nanti baksonya antar ke meja itu ya, Bu," ucap Anta.


Gadis itu masih menatap tajam ke arah hantu kuntilanak yang tertawa menyeringai itu. Hantu itu malah mengikuti Anta.


"Mau ngapain sih ngikutin Anta?" tanya gadis itu.


"Mau bakso," lirihnya.


"Hadeh... ya udah entar Anta bagi, jangan iseng ya tapinya," ucap gadis itu seraya meraih lima air teh dalam kemasan kotak.


Gadis itu melangkah menuju mejanya kembali. Ia meletakkan semua teh kotak itu ke arah masing-masing.


"Kok, minumannya jadi lima? Dan lagian gue minta teh botol," ucap Arya.


"Enggak ada teh botol adanya teh kotak, nih kembaliannya," ucap Anta seraya menyerahkan uang kembalian pada Arya.


"Tambah rugi gue!" keluh Arya lalu terperanjat saat melihat hantu perempuan di sampingnya sedang tersenyum menyeringai di samping wajahnya.


"Astagfirullah...!"


Arya langsung menggeser kursinya menjauhi hantu itu.


"Kenapa sih?" tanya Ria.


"Enggak ada apa-apa udah makan aja!" ucap Anta.


"Enggak ada gimana, ini setan pink samping gue nyeremin gini, kaga sinkron muka serem pakai daster pink," ucap Arya.


Arga menahan tawa, tetapi ia juga tak berani menatap hantu itu lama-lama. Sementara itu, Mey juga menundukkan kepala saat memakan siomay di hadapannya. Anta melihat ada yang aneh pada sahabatnya itu.


"Hantu? Apa ada hantu lagi di sini? Aduh... lupa bawa kamera lagi, aku ambil dulu ya ke kelas," ucap Ria.


"Enggak usah, ribet kelamaan, udah duduk tenang aja," ucap Anta.


Arga menarik lengan Ria agar duduk kembali ke kursinya. Sentuhan tangan Arga langsung membuat detak jantungnya berdegup kencang. Wajah gadis itu terlihat merona saat duduk kembali ke kursinya.


"Tadi ada yang mau bakso katanya, sini samping Anta," ucap Anta.


Hantu kuntilanak itu langsung berpindah tempat ke samping Anta. Arya teringat pertemuannya dengan hantu Puah di ventilasi atap toilet untuk siswa. Arga juga ikut menceritakan dengan antusias tentang kematian hantu Puah.


Akan tetapi, saat Arya hampir saja menceritakan mengenai Pak Heru, Arga langsung menendang kaki pemuda itu dari bawah meja. Ia tak mau Mey dan Ria tau hal tersebut. Menurut Arga, biarlah rahasia kebusukan Pak Heru diceritakan pada Anta nanti saat tak bersama Mey dan Ria.


"Jadi, hantu Puah itu tumbal sekolah, lalu apa Tante Kunti Pink juga tumbal sekolah ini?"


tanya Anta seraya menyuapi hantu kuntilanak itu yang menunggunya dengan mulut terbuka di kolong meja.


"Aku bukan tumbal, aku ada di sini karena dipindahkan ke pohon asem itu bersama yang lain. Rumah tinggal kami di belakang sekolah tergusur. Lahan kosong itu sudah jadi perumahan jadi kami dipindahkan ke pohon asem itu," jawab hantu kuntilanak pink.


"Hahahaha...!


Anta tertawa terbahak-banyak mendengarnya.


"Kenapa elo?" tanya Arya menatapnya keheranan sama seperti tatapan yang lain.


*****


To be continue…


Jangan lupa kepoin "DERING"


Novel baru aku di Noveltoon ya...


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni