
Happy Reading...
*****
Tasya ingin menemui Dita di sekolah pagi itu setelah ia mengantar Anta. Sementara Raja dijaga oleh Mama Dewi. Ia tak sengaja menabrak Heru yang baru tiba.
"Eh, ada si cantik, kayaknya kita berjodoh deh," ucap Heru.
"What?"
Tasya menatap tajam ke arah Heru.
"Wah, sampai terpesona gitu sama aku, ya..."
Heru makin jadi menggoda Tasya.
"Sya, belum pulang?"
Pak Herdi yang baru saja datang langsung menghampiri Tasya dan Heru.
"Nah, ini calon jodoh aku," ucap Tasya dengan spontan seraya merangkul pinggang pria di sampingnya.
"Aku mau ketemu Dita soalnya ada perlu mau kasih tau si Raja dirawat dan pengen ditemenin sama Bundanya," ucap Tasya.
Raut wajah Herdi tampak terkejut saat mendengar ucapan Tasya barusan perihal jodohnya.
"Kalian jadian?" tanya Heru.
Herdi dan Tasya saling bertatapan.
"Iya, jadian!" seru Tasya seraya mengedipkan kedua matanya memberi kode mengiyakan.
"Oh, pantesan si Dita nyuruh ngajak kalian ke bioskop malam minggu besok," ucap Heru.
"Oh iya, nanti kita dateng kok," ucap Tasya.
"Oke deh, kalau gitu aku mau temuin Dita dulu ya," ucap Heru seraya melambaikan tangannya.
"Sumpah tuh cowok sok muda banget padahal udah tua, pede banget juga lagi," cibir Tasya.
"Ya emang di gitu, tapi semua cewek yang dia mau pasti luluh sama dia," sahut Pak Herdi masih membiarkan pinggangnya dipeluk Tasya.
"Masa sih, kok aku enggak kepelet sama dia, biasa aja, si Dita juga biasa deh," ucap Tasya yang juga tak sadar masih berada di pinggang pria itu.
"Mungkin, ilmu dia enggak mempan di kamu sama Dita, itu juga kalau ilmu dia jago," ucap Herdi.
"Ehm, ehm...!"
Seorang satpam yang melintas menggoda keduanya.
"Itu satpam kenapa, sih, senyum-senyum terus ngetawain kita?" tanya Tasya.
"Karena kita kayak gini."
"Kayak gini gimana?"
Tasya lantas sadar kalau kedua tangannya masih memeluk Pak Herdi.
"Eh, maaf ya, jadi enggak sadar gini aku tuh, duh malunya."
Tasya langsung melepas pegangannya lalu melangkah seraya melambai pamit pada Herdi.
"Sya mau ke mana?" tanya Herdi.
"Mau pulang terus ke rumah sakit Raja."
"Katanya mau ketemu Dita tadi," ucap Herdi.
"Oh iya, kok aku sampai lupa ya," ucap Dita menepuk dahinya sendiri lalu berbalik arah menuju ke ruangan Dita.
"Bareng sama saya masuk ke dalam," ucap Herdi.
Sesampainya di ruangan Dita, Herdi membuka pintu ruangan itu yang terlihat kosong.
"Kayaknya Dita belum dateng deh, Sya," ucap Herdi.
"Eh, aku udah datang, di sini!" seru Dita lalu wanita itu muncul dari kolong meja.
"Kamu ngapain di situ?" tanya Herdi.
"Saya ngumpet dari si Heru tadi," ucap Dita.
"Hai, Ta!" sapa Tasya.
"Eh, Tasya! Ada apa, Sya?" tanya Dita.
"Dita, huhuhuhu... Raja, Ta, dia di rumah sakit huhuhu..."
Tasya langsung memeluk Dita seraya berpura-pura sedih atas kondisi Raja.
"Raja? Raja anak kecil yang adiknya Anta?" tanya Dita.
"Iya, dia kena demam berdarah terus kondisinya masih gitu-gitu aja, yang bikin sedih lagi kalau Raja cariin Bunda dia, dia maunya sama Bundanya, huhuhu aku enggak tega liat Raja aku takut dia makin memburuk kondisinya, Ta," ucap Tasya berusaha mengeluarkan air mata dari mata lentiknya dengan paksa.
Perasaan semalam Tasya bilang kalau kondisi Raja membaik, kok sekarang sedih banget.
Herdi menggaruk kepalanya yang tak gatal memikirkan akting Tasya yang sempurna di hadapannya.
"Terus sekarang gimana?" tanya Dita mulai khawatir.
"Aku mohon, kamu mau ya temenin Raja, please..."
Tasya menatap wajah wanita di hadapannya itu dengan tampang memelas. Ia berharap Dita tak akan menolak permintaannya.
"Ummm... ya udah deh nanti sepulang ngajar aku ke rumah sakit, kirimin aku alamat sama nomor kamarnya, ya."
Tasya memeluk wanita itu lagi.
"Ya udah kalau gitu aku ngajar dulu, ya," ucap Dita.
Lalu ia menoleh pada Herdi.
"Pak, nanti antar saya ke rumah sakit, ya," pinta Dita.
Herdi mengiyakan permintaan Dita.
Dita lalu melangkah menuju kelas untuk mengajar. Herdi menoleh pada Tasya.
"Emang kondisi Raja tambah parah?" tanya Herdi.
"Ih, enggak paham banget nih, aku tuh mau Dita ketemu sama Anan pas jagain Raja, jadi tadi cuma akting tau," ucap Tasya.
"Oh, gitu... jago juga akting kamu, ya udah saya mau ngajar juga bentar lagi di jam ke dua," ucap Herdi hendak melangkah meninggalkan Tasya tetapi tangannya tertahan.
"Pak, eh Herdi maksudnya, nanti kalau antar Dita ke rumah sakit jangan dibaperin ya?"
"Hah, dibaperin? Maksud kamu apa?" tanya Herdi dengan tatapan tak percaya.
"Aku takut dia naksir kamu, jadi jangan dibaperin nanti sia-sia kalau dia sampai naksir kamu, terus dia enggak bisa jadian sama Anan lagi," ucap Tasya.
"Oh maksudnya itu, bilang aja kamu cemburu."
Herdi lalu melangkah pergi meninggalkan Tasya seraya tersenyum.
"Ih pede banget tuh cowok, siapa juga yang cemburu huh!"
Tasya menutup pintu ruangan Dita lalu pergi, ia takut juga kalau dituduh penyusup.
***
Sepulang sekolah, Anta hendak menemui Anan tanpa bilang pada Mey dan Ria. Ia langsung pergi diam-diam gadis itu melangkah pergi menuju halte busway terdekat. Ia harus melewati sebuah gang sempit menuju jalan raya sebagai jalan tikus agar cepat sampai.
"Perasaan Anta kok kayak ada yang ngikutin di belakang ya, apa jangan-jangan preman, atau hantu nih?" gumam gadis itu menghentikan langkahnya lalu menoleh.
Tak ada siapapun di belakangnya kala itu. Anta melanjutkan lagi langkahnya sampai ke luar ke arah halte. Gadis itu masih merasa ada yang mengikuti langkahnya di belakang. Ia kembali menoleh.
"Ciluk... ba!"
Arya mengejutkan gadis itu yang tiba-tiba muncul dari atas pohon.
"Astagfirullah, Arya ngapain kayak monyet aja nangkring di pohon," ucap Anta memukul bahu Arya.
"Duh, sakit tau, mana gue disamain sama ****** lagi!" keluh Arya seraya mengusap bahunya yang terasa panas.
"Lagian, kamu ngapain ngikutin Anta kayak gitu hampir aja aku teriakin penculik," ucap Arya.
"Kamu mau ketemu Om Anan, kan?"
Anta menjawab dengan anggukan kepala.
"Ya udah aku temenin, untung yang lain enggak pada lihat dan ikutin kita," ucap Arya.
"Arya males rame-rame, makanya enggak bilang, apalagi ini urusan pribadi keluarga Anta."
"Oh, urusan keluarga kamu ya, berarti aku enggak boleh ikut dong?" tanya Arya.
"Memangnya kalau Anta suruh kamu pulang kamu bakal pulang?"
"Hehehe... Ya enggak sih, aku tetep antar kamu ke rumah Om Anan."
"Bentar deh, aku, kamu? Arya kesambet di pohon tadi, ya?"
Anta menyentuh dahi Arya dengan punggung tangannya lalu menyamakan suhu panas yang terasa di dahi Arya dengan yang berada di bokongnya.
"Eh salah maksud gue, ya... udah lah yuk jalan, kok elo samain gue sama itu lo?"
"Sama angetnya berarti Arya lagi nggak waras hahaha..."
Anta berlari menjauh lalu disusul Arya. Keduanya menaiki busway menuju rumah Anan. Setelah turun di halte mereka melanjutkan dengan naik angkot beberapa ratus meter ke toko ikan milik Nenek Darma.
"Itu hantu masih aja di situ," ucap Anta kala melihat hantu Gina.
"Serem amat tuh hantu tapi kayak perhiasan berjalan," sahut Arya.
"Karena dia bergaya seperti itu makanya dirampok."
Anta mengetuk kaca toko seraya berucap salam. Nenek Darma terlihat tersenyum menyambut gadis itu.
"Kamu namanya Anta, kan, mau beli ikan sampai sini?" tanya Nenek Darma.
"Nenek masih ingat mama Anta seneng deh. Anta mau cari Om Anan ada, Nek?" tanya Anta seraya mencium punggung tangan wanita paruh baya itu. Arya mengikuti gerakan Anta kemudian.
"Tadi lagi di kamar mandi bentar ya Nenek panggil."
Nenek Darma lalu masuk ke dalam rumah.
"Anta, dia kemari!" tunjuk Arya pada hantu perempuan yang menyeringai dan menyeramkan itu.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni