
Happy Reading...
*****
Aaaaaaaa jauhkan itu dariku...!" pekik Heru berusaha berteriak sekuat tenaganya.
"Pak, kamu ambil jimat di tangan Heru, biar dia enggak punya kekuatan lagi, sama cincin di tangannya itu mirip banget soalnya sama permata itu," bisik Tasya.
"Jadi kita muncul?" tanya Herdi.
"Iya," sahut Tasya.
Ketiganya muncul lantas membuat Heru terkejut.
"Kalian, mau apa kalian semua di sini?"
Heru mencoba bangkit meskipun kepalanya masih terasa pusing.
"Kamu harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan kamu!" seru Tasya.
"Bukan urusan kamu!" bentak Heru.
Herdi langsung meraih jimat dan cincin di tangan pria yang masih tak bisa menguasai diri sepenuhnya. Tubuhnya masih terasa lunglai dan lemas.
Meskipun Heru berusaha menghindar, akan tetapi gerakan cekatan Herdi mampu mengambil jumat tersebut.
"Banyak korban yang udah kamu hamili dan terbunuh karena ulahmu, aku enggak nyangka kamu bisa melakukan itu, padahal aku percaya sama kamu, Ru!" bentak Herdi.
Kesadaran Heru mulai pulih dan mampu menahan bobot tubuhnya sendiri. Ia melihat Arya yang sedang merekamnya.
"Iya, aku emang salah, aku tak bisa menahan hawa nafsuku, lalu kau mau apa?" tantang Heru.
Pria itu sedikit demi sedikit melangkah menuju Arya dan menarik lengan pemuda itu.
"Aw..!" Pekik Arya.
Heru berhasil meraih ponsel di tangan Arya. Ia membuka jendela besar yang memiliki beranda itu. Pria itu melempar ponsel Arya sampai jatuh ke kolam renang.
"Hape gue!" seru Arya.
"Tenang, Ya, masih ada hape gue yang ngerekam," ucap Arga.
"Tapi hape gue, Ga!" sahut Arya mendengus kesal.
"Kamu harus bertanggung jawab atas semua perbuatan kamu, Ru!" ucap Herdi.
"Hahaha... daripada aku di penjara lebih baik aku mati, membawa serta anakmu!"
Heru menarik lengan Arya dan membawanya jatuh ke lantai bawah. Mereka jatuh di kolam renang.
"Arya...!"
Anta berseru bersamaan dengan Herdi. Mereka semua langsung menoleh ke arah kolam renang yang ada di lantai dasar itu.
Herdi langsung berlari menuju lift begitu juga dengan yang lainnya. Tanpa pikir panjang lagi semuanya ikut serta turun ke lantai dasar menggunakan lift.
Hantu nenek yang berada di dalam lift langsung menempel pada punggung Arga seraya tertawa.
"Aduh, jangan sekarang, Nek, cari yang lain aja!"
Arga langsung menjatuhkan hantu nenek itu ke lantai lift. Pintu lift itu terbuka.
"Maaf ya, Nek," ucap Arga.
Para petugas hotel sudah berada di dekat kolam renang. Terlihat darah di dalam kolam renang itu. Herdi langsung menyelam untuk menyelamatkan Arya begitu juga dengan Arga. Anta, Tasya dan Dita terlihat panik dan cemas di samping kolam renang.
Tak lama kemudian muncul Herdi dan Arga membawa serta tubuh Arya naik ke atas permukaan. Petugas hotel lainnya tak berani masuk ke dalam kolam renang. Apalagi darah segar itu muncul di permukaan kolam renang.
"Kasih Arya ruang coba minggir, dia masih hidup," ucap Herdi.
"Jadi, itu darahnya Heru?" tanya Dita.
"Ya, sepertinya kepalanya terbentur dinding kolam atau entahlah sampai terluka seperti itu," ucap Herdi.
"Hantu Kak Lala dan Kak Sherly menahan dia agar tak muncul ke permukaan makanya dia tenggelam sementara Arya tidak," sahut Arga yang melihat dua hantu itu menahan tubuh Heru tadi saat ia masuk ke dalam kolam renang.
Petugas hotel memanggil pihak kepolisian untuk segera datang. Mereka juga menghubungi ambulans. Herdi masih terlihat berusaha memberikan pertolongan CPR pada putranya itu. Anta terduduk lemas di samping Arya.
"Ya, jangan pergi lagi, nanti yang gangguin Anta siapa, huhuhu..." ucap gadis itu seraya menangis.
Herdi akhirnya memberi napas buatan pada Arya dan percobaan itu berhasil. Arya terbatuk mengeluarkan semburan air dari mulutnya.
Tasya dan Dita berucap bersamaan.
"Uhuk, uhuk, kampret banget tuh orang mau mati aja ngajak-ngajak," ucap Arya memandang tubuh Heru yang sudah mengapung di permukaan.
"Untung kamu enggak ikutan jadi tumbal hotel, Dek," ucap salah satu pertugas hotel.
"Maksudnya, Pak?" tanya Arga.
"Di sini setiap tiga bulan sekali pasti ada yang jatuh ke kolam terus penuh darah, entah dengan vara apapun itu pasti matinya jatuh ke kolam dan penuh darah," ucap pria petugas hotel itu secara berbisik.
"Pasti Bos kalian yang buat ritual kayak gitu," ucap Arga.
"Enggak tau deh, Dek, saya berani ngomong gini karena besok saya mau ke luar dari kerjaan di hotel ini, padahal saya baru kerja tiga bulan tapi saya takut jadi tumbal, meski katanya korban hotel ini berasal dari tamu," bisiknya.
Pria itu lantas bergegas pergi. Dua mobil polisi datang bersama mobil ambulans. Korban Heru di evakuasi kemudian. Arya mendapat pemeriksaan lebih lanjut. Petugas hotel membawa selimut untuk membalut tubuh Arya, Herdi dan Arga yang basah.
Ketiga pria itu dibawa ke dalam lobby hotel dan tidak diperbolehkan pulang dulu karena polisi masih membutuhkan keterangan dari ketiganya. Akhirnya Tasya meminjam pakaian ganti dari para pekerja hotel yang membawa pakaian ganti saat itu.
Anta memesan teh manis hangat untuk ketiganya. Ia menyerahkan pada Arya dan Arga. Sementara Dita menyerahkan teh manis itu pada Herdi. Tasya melihat perlakuan manis Dita pada pria di hadapan wanita itu.
"Nih, pakaian gantinya," ucap Tasya menyerahkan tiga pakaian ganti pada para pria itu.
Seorang polisi datang menghampiri untuk meminta keterangan.
"Sya, kayaknya aku harus bilang deh sama polisi soal Bibi aku, biar mereka menyelidiki ke panti," ucap Dita.
"Terserah kamu," jawab Tasya.
Akhirnya Dita membuat laporan pada polisi tersebut perihal tindak kejahatan yang dilakukan oleh Bibinya.
"Terima kasih atas laporannya, besok kami akan ke panti asuhan untuk menyelidiki lebih lanjut."
Polisi muda bernama Rahmat itu tampak tersenyum pada Dita.
"Terima kasih, Pak," ucapnya.
Arya menarik lengan Anta ke hadapannya.
"Ngapain, sih?"
Anta melotot tajam pada Arya.
"Elo tadi khawatir kan sama gue?" tanya Arya.
"Iyalah khawatir, kalau kamu mati repot lagi nanti jadi pocong penasaran ngikutin Anta," sahut Anta.
"Yeee, judes banget bukannya nangis kek peluk gue gitu, malah diomelin gue," ucap Arya.
"Hahahaha... emang enak," sahut Arga.
"Eh, rekamannya mana?" tanya Tasya.
"Astagfirullah, aku nyemplung bawa hape, ya mati total deh basah," jawab Arga.
"Ah, semprul!"
Arya menoyor kepala Arga yang ada di sampingnya itu.
"Heh, kurang ajar elo, tuaan gue sama elo!"
Arga membalas toyoran Arya.
"Ih... mulai lagi deh, sudahlah biarin aja rekamannya enggak penting orang Pak Heru udah enggak ada, sih," ucap Anta.
"Tuh, masih ada!"
Tasya menunjuk ke arah sudut ruangan di dalam lobby hotel itu. Ketiga anak muda itu menoleh ke arah yang ditunjuk wanita itu.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni