Anta's Diary

Anta's Diary
Perasaan Anta yang Sebenarnya



Happy Reading...


*****


Anta langsung menghamburkan diri memeluk Dion.


"Tuh, gue bilang apa, bikin gue kesel aja kan," gumam Arya.


Pemuda itu hendak pergi menjauh dari hadapan Anta dan Dion, tetapi Arga menahannya.


"Udah diem dulu di sini, baru pelukan dikit doang sih, tuh udahan kan pelukannya!" tunjuk Arga.


Dion melepaskan pelukan dengan Anta dan beralih pada Arya. Ia menghampiri pemuda itu.


"Gue boleh ngomong sesuatu sama elo?"


"Ngomong aja," sahut Arya.


"Gue mau elo jagain Anta, awas kalau elo sampai nyakitin dia!" ancam Dion.


"Gue enggak bisa jagain jodoh orang, harusnya elo yang jagain dia, ngapain elo pergi segala!"


Dion menarik napas panjang dan menghelanya. Ia lalu menghampiri Arya lebih dekat dan berbisik kepada pemuda itu.


"Anta enggak pernah terima gue jadi pacarnya, karena dia lebih milih elo," bisik Dion.


Arya menoleh ke arah pemuda itu tak percaya.


"Gue enggak ngerti maksud elo apa?" tanya Arya.


"Elo perjuangin cinta elo sama Anta, jangan sampai elo lepas dia, atau suatu saat gue bakal balik dan ambil dia dari elo, paham?" Dion menepuk punggung Arya dengan keras sampai pemuda itu terbatuk-batuk.


"Jadi?" tanya Arya.


Dion hanya tersenyum dan mengedipkan satu matanya pada Arya.


"Dah semuanya, gue pamit ya, nanti kita video call pas gue sampai sana."


Dion melambaikan tangannya lalu masuk untuk check in. Ia menunjukkan senyum bahagia ke arah semuanya. Namun, saat ia mulai memasuki koridor yang tak terlihat oleh semuanya, pemuda itu mulai menyeka bulir bening di sudut kelopak matanya


***


Dion mengingat kemarin malam itu saat ia memeluk Anta dan mencoba menyatakan perasaannya sekali lagi dan meminta jawaban kepastian dari gadis itu. Dion melihat Arya kala sedang memeluk Anta. Ia mulai egois dan membiarkan Arya melihat adegan itu lebih lama. Sampai akhirnya Arya salah paham dan pergi. Padahal setelah itu, Anta mencoba melepaskan pelukan Dion darinya.


"Aku mau kamu jawab sejujurnya perasaan kamu ke aku, Nta, aku akan batalin kepergian aku jika kamu bilang iya untuk menerima cinta aku," ucap Dion.


"Maafin Anta, Kak. Anta juga enggak tau sama perasaan Anta sendiri kayak gimana. Tapi Anta enggak bisa nerima kakak jadi pacar Anta. Anta udah anggap Kak Dion seperti abang Anta sendiri."


Gadis itu meringis ke arah Dion ia tersenyum salah tingkah. Perasaan Dion saat itu hancur, tetapi jika ia memaksakan kehendak bukannya membahagiakan dirinya dan Anta, ia malah akan merugikan dirinya sendiri dan juga menyakiti gadis itu. Bukan itu yang ingin dia ingini dari gadis itu.


"Lalu, perasaan kamu itu gimana, hati kamu buat siapa, Arya atau Arga atau malah ada pria lain?"


"Hahaha... Anta belum tau apa itu jatuh cinta. Tapi kalau tentang Arga, Anta pastikan kalau Anta hanya menganggap Arga sudah seperti saudara karena kita udah dari kecil bareng-bareng."


"Lalu, bagaimana dengan Arya?"


"Hmmm... hati Anta hancur saat Arya meninggal waktu itu, Anta enggak mau kehilangan dia lagi. Apa itu namanya cinta?" Anta menoleh pada Dion.


"Kamu udah bilang perasaan kamu ini ke Arya?"


Anta menggelengkan kepalanya.


"Anta pikir tanpa harus bilang juga Arya pasti tau perasaan Anta buat dia."


"Bodohnya gadis ini, kamu selalu mengerti tengang semua masalah perhantuan, tapi enggak ngerti perasaan sendiri soal cinta sama cowok," ucap Dion mencubit pipi gadis itu dengan gemas.


"Jadi, Anta harus bilang sama Arya?"


"Ya iyalah, kamu harus bilang sama Arya kalau kamu suka sama dia, cinta sama dia, daripada nanti nyesel si Arya keburu pergi."


"Ya udah besok Anta bilang sama Arya."


Anta tersenyum pada Dion.


"Akhirnya aku lega kalau kamu ada yang jagain, aku lega ninggalin kamu ke orang yang tepat. Meski itu cowok nyebelin, usil habis, tapi aku yakin enggak ada cowok yang cintanya lebih besar dari Arya buat kamu." Dion mengusap kepala gadis itu lalu ia pamit pergi.


Ria yang mendengar semua pembicaraan Anta dan Dion langsung memberikan gadis itu dua acungan ibu jari.


"Selamat berjuang...!" seru Ria memeluk sahabatnya itu.


"Berjuang apaan sih?" tanya Anta.


"Berjuang lah buat ngomong sama Arya tentang perasaan kamu, kayak aku yang udah berjuang buat dapetin Arga."


"Ih, apaan sih!"


"Ria, ayo pulang!" ajak Dion.


"Oke, Bang. Kita pulang dulu ya, sampai jumpa besok di bandara, assalamualaikum...." Ria melangkah menuju mobil Dion.


"Walaikumsalam."


***


Anta, Arya, Arga dan Ria memandangi pesawat yang membawa Dion dan keluarganya pergi.


"Jadi, Ya, elo jadi ambil sekolah musik, katanya mau ke Busan?" Arga menggoda Arya kala itu.


"Hmm... Gue pikir-pikir lagi deh, kalau ada yang bisa gue perjuangkan di sini, kayaknya gue milih lanjut sekolah di sini aja deh, ya enggak, Nta?" Arya menoleh pada Anta.


"Apaan sih, Anta enggak ngerti!" sahut gadis itu.


"Enggak!"


"Yakin, Nta?"


"Yakin."


"Anta, gue... eh aku serius nih ya, aku masih nunggu di sini nih, beneran enggak ada yang mau diomongin?" tanya Arya lagi mulai gemas.


"Ga, kita cabut aja yuk, aku laper belum sarapan," bisik Ria.


"Yuk, kita makan bubur ayam, kayaknya bakal ada perang dunia nih bentar lagi hehehe..." Arga menarik tangan Ria dan menggenggam tangan gadis itu dan pergi menjauh di tengah keributan Arya dan Anta.


"Jangan ngeledek deh, enggak tau apa perasaan aku hancurnya gimana waktu aku pikir kamu milih Dion?" hardik Arya.


"Enggak tau, lagian Arya enggak cerita."


"Aku kan udah sering bilang kalau aku sayang sama kamu, tapi kamu—"


"Anta juga bilang kok sayang sama Arya."


"Tapi waktu itu kamj bilang sayangnya kamu ke aku sama ama sayangnya kamu ke Arga, sama ama sayangnya kamu ke Ria."


"Iya emang, terus?"


"Tuh kan... jadi masih sama aja sayangnya?"


Anta menarik tas ransel yang ada di punggung Arya. Ia menaruh gantungan kunci yang pernah pemuda itu berikan kepadanya.


"Anta maunya benda ini ada di sini, ada sama Arya, paham?"


"Lalu?"


"Anta enggak suka waktu kamu kasih ini ke Kak Dion, gampang banget kamu buang Anta terus kasih ke orang lain, huh!"


"Karena aku pikir Anta suka sama Dion."


"Itu kan pikiran Arya, enggak pernah tanya langsung kan sama Anta. Ria, Arga kita cari... Lha mereka pada kemana sih?" Anta baru sadar kalau Arga dan Ria sudah meninggalkan mereka berdua.


Gadis itu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Ria.


"Halo, Anta kita ada di tukang bubur yang ada di ruko seberang bandara, kalian ke sini ya!" sahut Ria dari seberang telepon sana.


"Yee... Kenapa Anta ditinggalin?"


"Habisnya kalian masih mesra-mesraan sih, enggak tega ganggunya hehehe..." Ria cekikikan bersama Arga.


"Huh... ya udah Anta ke sana."


Gadis itu menutup sambungan ponselnya.


"Ya, kita susul–"


Arya menarik tangan gadis itu dan memeluknya. Pemuda itu tak peduli meski kini keduanya jadi pusat perhatian para pengunjung di bandara itu.


"Arya... Anta malu ini, lepasin Anta!"


"Biarin aja, kalau perlu seharian aku peluk kamu di sini," sahut Arya.


Perut Anta terdengar berbunyi kelaparan.


"Tuh kan, Anta laper... Kita susul Arga sama Ria, yuk!" ajak gadis itu.


"Janji ya, kamu enggak akan ninggalin aku?" pinta Arya.


"Arya juga janji ya, jangan pernah menyerah sama Anta," sahut Anta.


"Janji."


Arya melepas pelukan dari Anta lalu menangkup wajah gadis di hadapannya itu. Ia berusaha mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu.


"Hayo mau ngapain? Buhhhh!"


Embusan napas Anta langsung tersembur ke wajah Arya.


"Ih, kirain bakalan ada adegan romantis di bandara gitu kayak di film," sahut Arya.


"Huh... sembarangan!" Anta mendorong dahi Arya dengan ujung telunjuknya lalu melangkah ke luar bandara menghampiri Arga dan Ria.


"Anta, tunggu!"


Arya menyusul langkah gadis itu lalu menggandeng tangan Anta. Pemuda itu masih tak percaya kalau hal ini akan terjadi.


"Eh iya, aku dapat undangan ke galeri antik, nanti ikut ya, kita cari barang-barang lucu di sana."


"Oh, jangan-jangan galeri yang ada di belakang Mall Kota, tempat Ria beli ramuan cinta," sahut Anta.


"Bisa jadi."


"Ya udah, ajak Ria sama Arga juga kalau gitu," ucap Anta.


"Ide yang bagus."


*****


To be continue...


Jangan lupa update Noveltoon biar bisa kasih vote sama hadiah ya. Ayo dong, mana votenya.🥰🥰🥰


Selamat menjalankan ibadah puasa.