
Happy Reading...
*****
Saat ke luar dari toilet yang dianggap angker itu, Anan tak sengaja menabrak Dita.
"Duh, kalau jalan lihat—"
Kedua pasang mata insan itu saling bertatapan. Waktu seolah terhenti di sekitar keduanya. Sampai Dita tersadar dan menepuk kedua telapak tangannya di hadapan wajah pria itu.
"Bisa nggak biasa aja ngeliatin saya kayak gitu!" keluh Dita.
"Kok, sepertinya kita pernah ketemu ya tapi di mana gitu?" tanya Anan.
Pria yang mengenakan jaket berbahan kaus warna abu-abu itu berputar mengelilingi Dita seraya menelisik wanita itu dengan saksama.
"Mas, Bang, siapapun kamu, saya pusing liat kamu kayak gitu," ucap Dita.
"Duh, beneran lho saya pernah lihat kamu di mana gitu," ucap Anan.
"Hahaha... kamu pasti modus mau kenalan sama saya, iya kan?" tuduh Dita.
Ia menunjuk Anan dengan ujung telunjuknya. Pria itu menepis tangan kanan Dita lalu meraihnya.
"Ya udah sekalian kenalan kalau gitu, nama gue Anan."
Anan menjabat tangan Dita dengan erat.
Ini cowok cakep, eh kelakuannya antik banget kayak gini. Tapi, kok aku juga kayak pernah lihat dia di mana gitu.
Dita terdiam seraya mengamati wajah tampan milik pria di hadapannya itu. Tangan halusnya masih tergenggam oleh Anan.
"Ta, tadi katanya mau fotokopi, jadi nggak?"
Suara pak Herdi terdengar dari seberang keduanya mengejutkan wanita itu. Dita langsung melepas tangannya dari genggaman Anan.
"Eh, Pak Herdi, jadi kok, nih aku udah bawa flash disk buat nge-print di ruangan guru soalnya di BK enggak ada mesin print, baru fotokopi."
"Iya sih, tapi mesin print buat fotokopi juga rusak, saya antar ke tukang fotokopi dekat sini aja, gimana?"
"Boleh, saya juga udah enggak ada jam pelajaran, bentar lagi juga pulang."
"Nah, saya antar sekalian pulang aja, gimana?" tanya Pak Herdi menawarkan bantuan pada Dita.
"Boleh banget, baik banget sih Bapak, saya jadi terharu."
Dita tersenyum manis pada Pak Herdi, tetapi Anan malah ikut tersenyum menikmati senyuman wanita itu.
"Eh, kamu kan ayahnya si Arya, ya kan, yang tinggal di apartemen si Anta?"
Anan yang sedari tadi serasa menjadi obat nyamuk bagi keduanya akhirnya buka suara. Pak Herdi menoleh ke arahnya.
"Kamu kan yang namanya Anan, ya kan?"
"Iya bener, halo Pak, apa kabar?"
Anan langsung menjabat tangan Pak Herdi.
"Bapak kenal sama cowok aneh ini?" tanya Dita.
"Sembarangan, gue dibilang aneh, muka gue cakep gini dibilang aneh," sahut Anan dengan senyum sinis menoleh pada Dita.
"Hidih, pede banget!"
Dita membalas dengan senyum sinis yang sama.
Bel sekolah berbunyi, para murid langsung menyerbu pintu kelas masing-masing untuk segera keluar dari kelasnya. Anta yang sedang bergelayutan di lengan kiri Mey tiba-tiba terperanjat. Gadis itu melihat Dita dan Anan yang sedang berdiri bersama Pak Herdi tak jauh dari pintu gerbang.
"Bunda, Yanda, aaahhh mereka ketemu...!"
Gadis itu langsung berlari memeluk kedua orang tuanya yang masih belum tau jati diri sebenarnya. Anta tak peduli ketika banyak pasang mata melihat tingkahnya. Gadis itu bagaikan anak TK yang baru saja bahagia dijemput kedua orang tuanya.
"Ini anak kenapa coba?" tanya Anan.
"Ah, saya baru ingat, tapi masa sih, Nta?" tanya Pak Herdi.
"Anta, ini reinkarnasi kedua orang tua kamu, ya kan?" tanya Pak Herdi.
"Iya, ini Yanda sama Bundanya Anta," jawab gadis itu.
Wajahnya tampak bahagia dengan senyum berseri-seri.
"Jadi maksudnya aku tuh yang katanya mirip Bundanya si Anta ternyata berjodoh dengan cowok ini?"
Dita menunjuk Anan dengan kesal. Anta menjawab dengan anggukan kepala.
"Buktinya hasil dari Yanda sama Bunda ada Anta yang cantik ini," ucap Anta tersenyum senang.
"Serius, Nta, Om sama dia nikah terus punya kamu gitu?" tanya Anan yang sebenarnya merasa senang tetapi ia memendam rasa senangnya karena gengsi.
"Duh, semoga di masa sekarang ini kita nggak jodoh," ucap Dita seraya pergi ke ruangannya untuk mengambil tas.
"Yeee... siapa juga yang mau berjodoh sama kamj, huh!" seru Anan.
"Tenang Yanda, nanti Anta bantuin buat berjodoh sama Bunda," sahut Anta.
"Enggak usah, Nta, males Om berjodoh sama cewek kayak gitu, bye!"
Anan pergi ke luar gerbang menuju mobilnya. Pak Satpam yang Tadi mengerjainya menuju toilet angker langsung bersembunyi kala melihat Anan.
"Yah, kalau mereka nggak saling suka, berarti nanti enggak akan ada Anta sama Raja dong," ucap Anta.
"Hahaha... masa sih, Nta, kamu sama Raja udah gede gini, masa kalau mereka nggak jodoh kalian hilang, jangan ngaco!" ucap Pak Herdi.
"Tapi, Anta maunya mereka berjodoh."
"Anta kenapa Mey?" tanya Ria.
"Lagi seneng tapi sekarang sedih, kayaknya," jawab Mey.
"Wah, keren ini mah, Bunda sama Yandanya Anta bersama," sahut Arga yang sebelumnya memperhatikan pertemuan Dita dan Anan.
"Belum tentu, mereka belum tau kan siapa mereka sebenarnya. Belum tentu juga mereka jodoh di dunia ini," sahut Arya yang datang mendekat menaruh sikunya di bahu Mey.
Gadis itu tentu saja tak keberatan, ia menoleh ke wajah Arya tanpa berkedip sedetik pun. Hati gadis itu sangat bahagia kala melihat perlakuan pemuda di sampingnya yang seperti itu.
"Bunda sama Yandanya Anta? Aku enggak ngerti deh, Ga?" tanya Ria.
"Nanti aku jelasin," jawab Arga.
"Wah, boleh tuh jelasinnya sambil makan malam apa nonton nanti malam ya, mau nggak?" tanya Ria seperti mendapat kesempatan emas dari Arga.
"Eh, bukan gitu maksudnya, kan bisa menjelaskannya sambil jalan," sahut Arga.
"Uhuiii... udah tunggu apa lagi, gue dukung kalian buat pacaran," ucap Arya yang sudah berpindah tempat ke belakang Arya dan Ria.
Pemuda itu dengan isengnya, menyentuh kepala Arga dan Ria dari belakang lalu mendekatkan pipi mereka agar bertemu. Kemudian, Arya segera berlari menghampiri ayahnya.
"Kampret si Arya!" pekik Arga.
Pemuda itu langsung mengejar Arya untuk membalas dendam. Sementara itu, wajah Ria terlihat merona karena malu, tetapi hatinya merasa senang. Mey mengamati sahabatnya itu. Ia menyentuh lengan gadis itu dengan ujung sikunya.
"Cie, Ria..." ucap Mey.
"Hehehe... Arga ganteng banget ya, gemesin..." sahut Ria.
"Enggak ah, gantengan Arya," sahut Mey.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni