Anta's Diary

Anta's Diary
Di Pasar Malam



Happy Reading...


*****


Hartono akan dipidana setelah sembuh pasca kecelakaan kemarin. Mark telah membuat laporan kepolisian terkait tabrak lari yang menimpa ia dan Jorji. Sementara itu Dina mengalami patah tulang di bagian kaki kirinya. Nenek Dharma mengajak Anan untuk menengok wanita itu.


"Malas banget sih nengok dia, Nek," keluh Anan.


"Kamu enggak boleh gitu, Nenek cuma mau nepatin janji Nenek sama almarhum mamanya Dina. Apalagi ayahnya udah nikah lagi, Dina harus punya pendamping dan Nenek menjodohkan kamu sama dia," ucap Nenek Dharma.


"Nek, aku udah punya istri sama anak."


"Apa? Kamu udah enggak waras ya?" Wanita paruh baya itu menyentuh dahi Anan.


"Nek, beneran deh, aku udah punya jodoh, Nenek tau kan waktu Anta bilang aku Yanda-nya dia?"


"Kamu kok percaya hal kayak gitu sih?"


"Aku percaya. Lagipula kalaupun enggak ada cerita dari Anta, aku tetep jatuh cinta sama Dita. Aku suka sama Dita dan mau dia jadi istri aku, Nek."


"Anan, kamu itu—"


"Nek, lagipula Dina bukan cewek baik-baik."


"Maksud kamu apa ya, kamu jangan cari alasan bohong cuma karena kamu menghindari perjodohan ini," ucap Nenek Dharma dengan raut wajah kesal.


"Nenek tau enggak dia kecelakaan sama siapa?"


"Enggak tau."


"Dina kecelakaan sama bos-nya, dan pria tua bangka itu selingkuh sama Dina," ucap Anan.


"Anan, jaga ucapan kamu! Dina itu anak baik ya. Dia selalu baik sama Nenek," sahut wanita itu seraya memandang tajam pada cucunya.


"Nih, sekarang kita sampai di rumah sakit. Kita ketemu deh sama istrinya si tua bangka itu," ucap Anan.


Setelah sampai di parkiran, Anan dan Nenek Dharma turun dan menarik tangan sang nenek menuju ke dalam rumah sakit menemui istri Hartono. Wanita itu menangis kala ditanyakan perihal kedekatan Hartono dan Dina.


Dengan berat hati akhirnya ibunya Ria mengakui kalau suaminya berselingkuh dengan Dina. Raut wajah tak percaya terpancar dari Nenek Dharma. Ia sangat terpukul karena telah yakin kalau wanita itu akan menjadi istrinya Anan.


"Bagaimana bisa seorang Dina bisa melakukan itu?" Nenek Dharma duduk di kursi tunggu pasien.


"Tadi kan Nenek denger penjelasan istrinya Hartono kalau Dina melakukan itu demi uang."


"Lalu bagaimana amanat ibunya pada Nenek, Nenek udah janji sama ibunya," ucap wanita itu.


"Lalu, apa Nenek tega membiarkan aku menikah dengan wanita seperti itu? Apa Nenek mau kalau aku enggak bahagia?"


"Baiklah, Nenek mau kamu bahagia, raihlah kebahagiaan kamu. Kalau memang jodoh kamu adalah Dita, Nenek ikhlas," ucap wanita itu seraya mengusap pipi Anan.


"Terima kasih, Nek."


Anan memeluk sang Nenek dengan erat.


***


Malam itu saat berada di pasar malam, Anta memutuskan untuk membelikan Dion topi rajut dan syal rajut. Gadis itu berpikir benda tersebut akan berguna jika di negara yang baru itu mengalami musim dingin.


"Kak, aku mau beli gulali di sana, ya!" tunjuk Raja.


"Oke, Kak Anta tunggu di sini."


Tiba-tiba, seseorang menutup kedua mata Anta dari belakang dan mengejutkannya.


"Siapa nih?" tanya Anta.


"Bunda."


Anta menoleh pada wanita yang ada di belakangnya.


"Bunda? Wah, senangnya Bunda ke sini sama Yanda," ucap Anta.


"Kamu sama siapa kok sendirian?" tanya Dita.


"Sama Raja, sama tuh..." Gadis itu menunjuk hantu Yeti yang sedang bersama Raja menikmati gulali.


"Itu hantu jadi-jadian apa gimana sih, kok kayak banci?" tanya Anan.


"Ya emang, pengamen dia, ketabrak motor sampai sekarang enggak bisa tenang gara-gara belum ketemu penabraknya," sahut Anta.


"Bunda kuat liatnya?" tanya Anan menoleh ke Dita.


"Aku harus kuat, jadi aku udah mulai kuat, Yanda tenang aja," sahut Dita.


"Hmmm... adakah yang Anta lewatkan sampai kalian udah panggil Yanda sama Bunda?" Anta menelisik seraya memangku dagu dengan tangan kanannya.


"Jadi begini, Bunda udah ingat semuanya. Bunda udah ketemu sama diri Bunda yang Ratu Kencana Ungu," ucap Dita.


"Serius, beneran? Wah, alhamdulillah... Anta seneng banegt dengernya."


Gadis itu memeluk Dita dengan erat.


"Tapi kita belum bisa tinggal bersama, paling enggak kita harus nikah biar punya buku nikah," ucap Anan.


"Yes, benar itu. Menikah untuk ketiga kalinya, hehehehe..." sahut Dita.


"Pokoknya Anta seneng banget dengernya. Gimana kalau nikahnya barengan sama Tante Tasya dan Pak Herdi?" Gadis itu memberi saran.


"Tadi sama Pak Herdi ke area photo booth."


"Ayo, kita ke sana! Raja... ayo ikut!" seru Anan.


***


Dita, Anan, Herdi dan Arya saling berbincang dalam merencanakan pernikahan mereka sambil minum kopi dan menyantap roti panggang. Sementara itu, Arya, Anta dan Raja pergi menikmati permainan wahana di pasar malam itu.


Arya menoleh pada paper bag yang dibawa oleh Anta. Ia sangat ingin tahu isi di dalamnya.


"Itu isinya apa?" tanya Arya.


"Kepo, wleek!" Anta menjulurkan lidahnya.


"Coba sini aku liat!"


"Enggak boleh! Ini isinya underwear sama bra, mau lihat?"


Anta berbohong pada Arya, padahal isi tas itu adalah kado untuk Dion.


"Emang boleh aku lihat ukuran daleman kamu?" Arya menaikan alisnya berkali-kali.


"Arya, nyebelin nih!" seru Anta.


"Ya kali boleh hehehe... Eh, makan cilok, yuk!" ajal Arya.


"Hmmm... boleh deh, tuh sampingnya ada tukang es cendol item, kayaknya enak," sahut Anta.


"Raja, kita mau makan cilok, mau ikutan enggak?" tanya Arya.


"Aku main tembak-tembakan dulu, aku mau inget boneka angsa buat Angel," sahut Raja.


"Idih... dasar bocah bucin! Ya udah kita ada di sana ya," ucap Arya.


Anta duduk di kursi samping gerobak pedagang cendol. Arya mengikuti dan duduk di sebelahnya.


"Bang, cilok dua porsi ya!" seru Arya seraya mengangkat tangannya. Ia juga menyerukan hal yang sama pada pedagang cendol di sebelahnya. Pemuda itu lalu menatap ke arah gadis di sampingnya itu.


"Besok udah mulai libur panjang, untung kita semua naik kelas," ucap Arya.


"Yup."


Arya memperhatikan tas selempang berukuran kecil dan bermotif bunga yang Anta pakai. Di tas itu, pemuda itu mendapati gantungan kunci yang pernah ia berikan pada gadis itu.


"Itu, masih disimpan aja," ucap Arya menunjuk gantungan kunci tersebut.


"Kamu kasih ini ke Anta kan? Terus harus dibuang gitu, enggak boleh disimpen?"


"Bukan begitu maksudnya, aku seneng banget kamu mau pakai itu dan bawa kemana-mana," ucap Arya. Raut wajah pemuda itu sangat bahagia melihat gantungan kunci itu ada bersama Anta.


"Ini ciloknya," ucap pedagang cilok seraya menyerahkan dua piring pada Anta dan Arya.


"Makasih, Bang," ucap Anta.


Gadis itu masih mendapati Arya yang masih menatap ke arahnya sambil tersenyum.


"Arya kesambet nih jangan-jangan," gumam Anta.


Gadis itu sampai menyodorkan sebutir cilok yang ia tusuk dan mengarahkan ke dalam mulut Arya. Pemuda itu menerima dengan pasrah sambil tersenyum sendiri. Timbul keisengan di pikiran gadis itu. Satu sendok saus pedas ia arahkan ke mulut Arya.


"Buahhhh, pedes pedes pedes, hu ha hu ha." Arya langsung menghabiskan satu gelas cendol untuk mengatasi rasa pedasnya.


"Parah elo, Nta! Masa aku disuapin saus," protes Arya.


"Lagian bengong aja, senyum-senyum sendiri pula, takut kesambet aja kan, jadinya Anta kerjain deh."


"Aku akan lagi mikirin kamu tau!" sahut Arya.


Anta menoleh ke arah Arya seraya memicingkan kedua matanya.


"Dih, gombal banget!"


"Siapa juga yang gombal, emang cuma kamu kok yang ada di pikiran aku," sahut Arya seraya menatap mesra ke arah gadis itu.


Anta langsung menghabiskan segelas cendol miliknya saat itu juga.


"Haus, Nta?" tanya Arya menggoda gadis itu.


"Hmm... Aku habis melarutkan gombalan kamu, makanya butuh air banyak," sahut Anta ketus.


"Jiahahaha...!"


Tiba-tiba dari kejauhan, Raja berlari terburu-buru le arah Anta dan Arya.


"Kamu kenapa, Ja?" tanya Anta.


*****


To be continue...


Jangan lupa update Noveltoon biar bisa kasih vote sama hadiah ya. Ayo dong, mana votenya.🥰🥰🥰


Selamat menjalankan ibadah puasa.