
Happy Reading...
*****
Tasya mengemudikan mobilnya menuju Desa Jingga. Ia juga sudah berhenti dua tadi saat mobil Andri mengalami pecah ban. Di area itu juga ia bertemu dengan hantu bernama Desta.
Namun, saat memasuki kawasan Desa Jingga, perjalan mereka harus terhenti. Terlihat kerumunan warga untuk melihat sebuah kecelakaan dikarenakan sebuah mobil pick up yang masuk jurang.
"Ada apaan, sih?" tanya Anta.
"Coba gue lihat dulu," ucap Arya lalu ke luar mobil melompat dengan sigap menuju kerumunan para warga tersebut.
"Hoaaamm... eh ada apaan tuh rame - rame?" tanya Arga yang tadinya sedang terlelap.
"Dih, Arga ngiler ada bekasnya," ucap Anta seraya tertawa menunjuk sudut bibir Arga.
"Habisnya aku ngantuk banget, tapi masa sih aku ngiler?" tanya Arga sambil mengusap bekas air liur di sudut bibirnya.
"Anta mau turun ah, penasaran juga," ucap Anta lalu ke luar dari mobil mengikuti Arya.
Arga dengan cepat ikut melangkah mengikuti Anta.
"Wah, bakalan ketemu sama setan - setan pedesaan sini nih, mana bentuknya serem dan enggak jelas," celetuk Desta.
"Halah, kayak situ jelas aja bentuk aslinya," sahut Tasya yang sudah terbiasa menerima keberadaan Desta di mobil itu.
"Hehehe... iya sama ya ama gue," ucap Desta menertawai dirinya sendiri.
Terlihat banyak kendaraan lainnya yang ikut berhenti karena penasaran.
"Ada apaan sih, Ya?" tanya Anta yang sudah berdiri di samping pemuda itu.
"Ada kecelakaan di sana," jawab Arya.
"Oh masa, aku mau lihat lah," ucap Anta dengan antusias.
"Enggak usah deh, kita balik aja ke mobil, takut ada yang meninggal terus nyamperin kita lagi," ucap Arya menarik lengan Anta.
Arga yang sudah sampai menyusul kedua kawannya itu langsung menepis tangan Arya agar lepas dari tangan Anta
"Biasa aja kali!" seru Arya.
"Ini udah biasa, makanya lepas, ngapain pake pegang-pegang, hah?"
Arga menatap tajam ke arah Arya.
"Pada berisik aja, nih! Eh, kayaknya bakalan tambah macet ini," ucap Anta.
"Terus kira - kira, ada jalan lain selain jalan ini?" tanya Arga.
"Coba tanya sama warga sekitar sini," jawab Anta.
"Elo aja yang tanya, Ya!" seru Arga menepuk bahu Arya.
"Hmmm... ketimbang nanya aja nyuruh gue," ucap Arya bersungut-sungut sambil menghampiri salah satu warga.
Seseorang wanita berlari dengan terburu - buru sampai menabrak Anta.
"Aduh, maaf ya, saya enggak sengaja," ucap wanita itu pada Anta.
"I-iya, enggak apa-apa," jawab Anta.
Arga mulai merapat pada gadis di sampingnya itu. Mereka berdua mulai melihat keanehan pada wanita yang menabrak Anta tadi.
"Eh tau enggak, kan korban kecelakaannya pada meninggal, tapi udah ada yang evakuasi sih, tapi ya gitu rada susah," ucap Arya yang tiba-tiba datang.
"Kecelakaan apa?" tanya Anta.
"Kecelakaan mobil, mobil pick up, masa sepeda," sahut pemuda itu dengan nada kesal.
"Elo tau enggak ada berapa orang yang meninggal karena kecelakaan itu?" tanya Arga.
"Katanya sih mobil itu berisi satu keluarga terus remnya blong pas jalanan menurun itu kata saksi mata. Tuh mobil menukik masuk ke jurang itu. Barusan aku lihat korban perempuannya yang lagi ditarik, bapaknya sama anaknya masih dievakuasi," ucap Arya.
"Perempuannya, kayak gitu bukan, Ya?"
Anta menunjuk perempuan yang menabraknya tadi. Terlihat tubuh wanita itu penuh luka lebam. Kepalanya berongga karena pecah terbentur batu kerikil yang besar di jurang tersebut. Mata kanan wanita itu juga sudah hilang. Darah masih menetes dari kelopak mata yang berongga itu.
"Aaaa... gila ini ibu udah sampai sini aja!" pekik Arya yang langsung melangkah berlindung di belakang tubuh Anta.
"Saya, saya sudah mati?" tanya wanita itu menunjuk dirinya sendiri.
Anta, Arya dan Arga menganggukan kepala bersamaan.
"Tidak, tidak mungkin, Wina, Mas Anto....!"
"Balik ke mobil aja, yuk!" ajak Arya.
Ketiganya melangkah menuju mobil Tasya. Tiba - tiba, seorang anak kecil bermain cilukba dengan Arya dari samping mobil. Rupanya anak kecil itu merupakan hantu dari korban kecelakaan tersebut.
"Hai, kakak!" sapa anak itu sambil berlari - lari berputar mengelilingi mobil Tasya.
Namun, Arya, Anta dan Arga langsung menatap kengerian di hadapannya itu. Anak perempuan kecil itu berlari memutari mobil Tasya tanpa sadar kalau tubuhnya terlihat hampir terpisah setengah badan.
Brug!
Akhirnya yang ketiga anak muda itu takutkan terjadi. Tubuh bagian atas dari pinggang sampai kepala anak itu jatuh ke tanah.
"Aaaaa... kenapa badan aku jadi kepisah?"
Anak itu langsung menangis dengan kencang.
"Tolongin, Ga, sambungin badannya," pinta Arya mendorong bahu kiri Arga.
"Elo aja sono yang nolong!" seru Arga membalas Arya.
"Bapak, Ibu, tolongin Wina!" rengek anak itu menatap arah belakang Anta dan lainnya.
Anta langsung menoleh pada Arga dan Arya lalu memutuskan untuk menoleh bersamaan arah belakangnya. Ternyata kedua orang tua anak itu sudah berdiri di belakang mereka. Wanita tadi yang menabrak Anta sudah membawa hantu suaminya. Kondisi sang lelaki lebih parah karena wajahnya rusak menghantam batu kerikil besar di jurang.
Tubuh pria itu masih bersimbah darah. Pakaiannya sudah tak utuh karena terkoyak begitu juga dengan tubuhnya. Kedua hantu itu melangkah menembus tubuh Arga dan Arya. Mereka menghampiri putrinya.
"Idih, gue langsung merinding," ucap Arya.
"Gue malah ngerasa kesetrum tau, hiiiy..." sahut Arga.
Hantu wanita dan pria itu menggendong tubuh putri mereka yang sudah terbelah dua itu lalu pergi menghilang.
"Ah, syukurlah... Anta pikir mereka enggak tenang terus minta tolong, bakal tambah rame nanti mobil Tante Tasya," ucap Anta.
Ketika ia membuka pintu mobil Tasya, terlihat wanita itu sedang bersembunyi di balik jok mobil kursi kedua. Ia ketakutan karena melihat hantu anak kecil tadi berputar di sekitar mobilnya.
"Tante, ngapain di situ?" tanya Anta.
"Anak tadi udah pergi belum?"
"Udah, udah dibawa sama orang tuanya," jawab Anta.
"Ah, syukurlah."
Tasya bergegas menuju kursi depan.
"Bilang sama Tante Dewi, ayo berangkat pelan-pelan ngelewatin kerumunan itu," ucap Tasya.
"Aku aja yang bilang, kamu naik aja duluan," sahut Arga menahan langkah Anta.
"Hmmm... bisa banget capernya," gumam Arya duduk di kursi ke dua.
"Kamu boleh kok caper sama aku," ucap Desta.
"Idih... geli gue dengernya, jangan ngomong aku kamu sama gue!" bentak Arya seraya menghalangi hantu Desta dengan jaket yang ia lepas dari tubuhnya.
Mereka melanjutkan kembali ke dalam Desa Jingga mencari alamat sesuai perintah Martha. Mobil yang dikendarai Andri melaju lebih dulu.
Mereka sampai di sebuah gapura besar bertuliskan "Selamat Datang di Desa Jingga".
"Nah, ini tempatnya udah sampai," ucap Anta.
"Sepi ya, serem deh gelap banget minim penerangan," ucap Tasya.
"Namanya juga pedesaan," sahut Anta.
"Sumpah ih kalian bakal jijik banget deh, banyak hantu takut menjijikkan di sini dan makin malem makin gelap, serem!" seru Desta yang duduk di kursi paling belakang.
"Iya, sama seremnya ama elo!" cibir Arya.
******
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni