
Happy Reading...
*****
"Anta...! Ish si bocah ya enggak ada takut-takutnya!"
Arga berusaha memanggil Anta, tetapi kedua kakinya terasa lemas untuk digerakkan. Tubuhnya bahkan mulai gemetar ketakutan. Gadis itu tak menggubris seruan sahabatnya yang sedang ketakutan di dalam mobil itu.
"Anta, kamu ngapain?" tanya Silla yang datang dengan hantu pemuda di sampingnya.
Pemuda itu terlihat seumuran dengan Arga. Meskipun kulitnya hitam seperti ras negroid, tetapi wajahnya terlihat manis dengan lesung pipi merekah menghias kala ia tersenyum pada Anta. Namun sayangnya, kaki kanan satunya hilang karena terpotong mesin sampai sepaha. Ia melompat dengan kaki kirinya menghampiri gadis itu.
"Halo, kamu pasti yang namanya Anta, kenalin nama aku Yuda," ucapnya seraya mengulurkan tangan.
"Hai, Kak, apa kabar?" tanya Anta membalas uluran tangan hantu itu.
"Kabar aku udah mati sih, tapi baik kok. Ngapain di sini?" tanyanya.
"Anta mau foto sama artis hantu legendaris itu," tunjuk gadis itu ke arah pohon bambu.
"Artis?"
Silla dan Yuda mengucap bersamaan.
"Iya, hantu sundel bolong itu, kan dia artis," ucap Anta.
"Itu mah, Mak Kunkun, dia penjaga gerbang taman pemakaman umum sini," jawab Silla.
"Fotoin dong!" pinta Anta.
"Mana bisa, Nta, kecuali kamera kamu emang udah sial bisa nangkap gambar kita, ya enggak Jo?"
Silla menoleh pada hantu Yuda.
"Ho oh bener banget itu," sahut Yuda.
"Yah, berarti harus pinjem kamera Ria nih buat foro sama dia, ya udah deh Anta kenalan dulu aja," sahut Anta.
"Temen kamu bener-bener enggak ada takutnya ya sama kamu kita, aku aja takut sama Mak Kunkun, eh dia malah mau kenalan," bisik Yuda ke Silla.
"Hmmm baru tau kan, udah aku bilang apa, dia sama Raja itu enggak ada takutnya sama kita, malah aku tuh kalau di rumah dia... ah sudahlah malu aku ceritanya," ucap Silla.
Anta sudah melangkah mendekat ke arah hantu sundel bolong di atas pohon bambu itu. Gadis itu meringis seraya melambaikan tangannya.
"Hai, Mak Kunkun!" sapa Anta.
Hantu wanita itu lalu bergerak melayang turun ke hadapan Anta.
"Kau memanggilku?" tanya hantu itu.
"Iya, siapa lagi kan yang Anta lagi liatin Tante. Namanya Mak Kunkun, kan? Halo, aku Anta!"
"Kau tak takut kepadaku?" tanyanya.
"Enggak takut tuh, Anta malah ke sini mau ajak foto bareng, yuk!"
"Gadis aneh!"
Hantu perempuan itu kembali bergerak melayang pergi dan menghilang.
"Huh, sombong banget baru jadi hantu aja, besok Anta balik ya mau minta foto, awas kalau hilang lagi!"
Anta berseru ke arah pohon bambu itu.
"Temen kamu enggak gila kan, Sil?"
"Enggak gila, dia waras kok buat kita mah, tapi kalau manusia yang lihat dia kayak gitu ya bisa dibilang gila, hihihi...."
Anta terlihat kecewa saat menghampiri Silla.
"Foto sama aku aja, yuk!"
Silla bersiap dengan gaya terbaiknya seperti saat dia menjadi foto model dulu.
"Enggak mau ah, punggung Tante Silla enggak bolong kayak dia, besok Anta ajak Raja ke sini buat foto ah, pinjem kamera si Ria."
Gadis itu melangkah masuk ke dalam mobil Arga.
"Baru ini ketemu manusia kayak gini," gumam Yuda.
Anta menarik tisu di wajah Arga yang langsung berteriak.
"Aaaaa! Aduh si Anta kirain hantu tadi."
"Ayo, jalan!"
Arga menoleh pada hantu Yuda yang tersenyum ke arahnya. Awalnya dia juga membalas senyuman hantu itu, tetapi saat ia melirik ke arah kaki kanan yang hilang milik hantu itu, pemuda itu langsung memalingkan muka. Potongan tubuh di kaki hantu itu cukup mengerikan untuk dilihat.
"Tarik napas panjang, Ga, ayo aku yakin kamu bisa, kamu kan udah kuat lihat begituan, jadi jangan sampe jadi penakut lagi," gumam Arga menyemangati diri sendiri lalu ia fokus melajukan mobilnya ke sekolah.
***
Mereka sampai di SMA Satu Jiwa. Arga memarkirkan mobilnya di kedai kopi yang berada di seberang sekolah itu. Mereka lalu melangkah menuju sekolah.
"Ada satpam yang jaga emangnya kita boleh masuk?" tanya Arga.
"Tenang, kita lewat jalan rahasia yang pernah Anta lewatin bareng Kak Dion," ucap gadis itu.
"Bareng Dion, wah kayaknya makin deket nih sama Dion," ucap Arga.
Arga akhirnya mengikuti langkah Anta. Silla dan Yuda juga terlihat mengikuti kedua anak muda itu.
"Yah, pintunya di kunci," ucap Anta sesampainya di pintu belakang kantin.
"Ya iyalah dikunci, terus gimana ini?" tanya Arga.
"Kan ada aku, tenang aku akan coba masuk ya," ucap Silla.
Hantu itu lalu mencoba menembus pintu di hadapan Arga dan Anta, tetapi ia malah terjatuh.
"Duh, kepala aku sakit nih, kok enggak bisa ditembus ya," keluh Silla.
"Aku kan udah bilang Kak, kita yang dari luar enggak bisa masuk, mereka yang di dalam enggak bisa keluar," sahut Yuda.
"Kalau aku panjat tembok ini, kira-kira kaki aku patah enggak ya?"
Arga menelisik ke dinding sekolah itu.
"Anta sih enggak yakin patah apa enggaknya tapi itu di atasnya kan ada ditanam beling gitu, yang ada nanti kamu luka kena pecahan beling itu," ucap Anta seraya menunjuk pecahan beling tersebut.
Mendadak kemudian, sosok perempuan berpakaian serba merah muda dan rambut panjang terurai di wajah yang berantakan muncul di atas dinding itu. Ia mengintip dengan mata mendelik ke arah Yuda.
"Sayang, kamu kok ada di sini, biasanya ketemuan di gerbang?" tanya hantu perempuan itu.
"Pinki... Kamu rupanya di sana, aku lagi anterin mereka mau masuk ke dalam sekolah," ucap Yuda.
"Lho ini bukannya para anak ajaib itu yang suka lihat hantu sini? Terus, itu siapa, itu selingkuhan kamu ya jangan-jangan?" tuduhnya seraya menunjuk Silla.
"Heh, sembarangan aja! Aku itu gurunya si Johan, penjaganya anak ini," sahut Silla sambil menunjuk Anta.
"Iya sayangku, dia itu guru aku, bukan selingkuhan aku, kalau dia mau sama aku sebelum ketemu kamu juga aku bakalan jadiin dia pacar aku, tapi dia enggak mau sama aku," ucap Yuda.
"Apa kamu bilang?"
Pinky terlihat kesal menatap marah pada kekasihnya itu.
"Bukan gitu caranya kalau jawab, itu mulut main ceplos aja, kamu sama aja bandingin aku sama dia, dan lebih milih aku daripada dia," gumam Silla.
"Tapi emang cantikan Tante Silla sih," sahut Arga.
"Iya ya, Silla emang cakep meski udah jadi hantu juga," ucap Yuda yang menjawab tanpa sadar sedang diamati oleh Pinki.
"Sayang... Kamu kok ngomongnya gitu, oke kalau gitu kita putus!" seru Pinki seraya melayang pergi tetapi ia malah terjatuh ke tanah karena rambutnya tersangkut pecahan beling.
"Suara apa tuh, kayak ada nangka jatuh," celetuk Anta.
"Emang di sekolah kita ada pohon nangka?" tanya Arga.
"Eh, enggak ada ya? Anta lupa hehee..."
"Aduh...!"
Raungan Kuntilanak Pinki itu terdengar.
"Sayang, kamu enggak apa-apa kan?"
Yuda mencoba berseru dari balik dinding.
"Aku sakit tau! Tapi hati aku lebih sakit!"
Teriakan Pinki terdengar melengking seraya pergi melayang.
"Hayo lho Kak Yuda, lihat noh Kak Pinki marah tuh!"
Anta menunjuk Yuda menakutinya.
"Lagian sih jadi cowok enggak peka, jangan puji cewek lain depan ceweknya sendiri, Bro!"
Silla menoyor kepala Yuda.
"Tapi aku kan enggak sengaja muji kamu, meski emang kamu lebih cantik dari dia, coba kamu suka sama aku," ucap Yuda.
"Sayang, aku tuh masih sembunyi tau mau tau reaksi kamu bakalan sedih apa enggak aku bilang putus, taunya masih aja godain dia!"
Suara Pinki terdengar lagi persis di tempat semula yang tadi.
Anta dan Arga langsung saling menatap dan tertawa melihat pertengkaran pasangan hantu itu. Silla melangkah mundur bersembunyi di balik punggung Anta. Hantu penjaga Anta itu tak mau berurusan dan terlibat dengan pertengkaran Pinki dan Yuda.
Tiba-tiba mobil sedan berwarna hitam terlihat melintas. Mobil itu mengarah menuju ke dalam sekolah.
"Perasaan kayak pernah lihat itu mobil?" gumam Arga.
Arga dan Anta saling menatap satu sama lain.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni