
Happy Reading...
*****
Ibu Desi dan dua ajudannya langsung membagikan kado dari Dion. Sementara itu, Dita yang baru saja selesai dari mandi sorenya datang menyambut kedatangan Anta dan yang lainnya.
"Wah, kalian datang pada bawa kado, emang saya ulang tahun?" tanya Dita.
"Bukanlah, Bunda kan ulang tahunnya tanggal 25 Januari, ini mah ulang tahun Dion dia mau hati-hati kado ke sini," ucap Anta.
"Kok kamu tahu ulang tahun saya, ah sudahlah enggak usah dijawab, saya harus terbiasa buat dianggap jadi Bunda kamu," ucap Dita.
Suara tangisan bayi terdengar tak jauh dan membuat Dita, Anta, Arya dan Arga menoleh ke arah kebun singkong.
"Tuh, kalian denger kan kalau ada tangisan bayi," ucap Dita.
"Emang ada, kan di kebun itu tempat—" ucapan Anta terhenti karena kehadiran Ibu Desi.
"Kalian masuk, yuk, nanti dibuatin mie goreng sama kornet," ucap Ibu Desi.
"Eh, aku udah pesen pizza, Bu, nih barusan pesen, nanti dianter kok," sahut Dion.
"Oh, makasih banyak kalau begitu, ya udah Ibu buatin minuman sirup aja di dalam ya, ayo pada masuk!" ajaknya.
"Nanti kita masuk, Bi, saya mau ngobrol sama anak-anak ini di sini aja," ucap Dita.
"Baiklah kalau begitu, Bibi ke dalam dulu buat siapin tempat."
Wanita itu melangkah masuk ke dalam.
"Tadi kamu mau bilang apa, Nta?" tanya Dita.
"Kebun singkong itu tempat para bayi dikubur," bisik gadis itu.
"Para bayi? Bayi siapa? Bayi yang mana?" tanya Dita.
"Pertemukan Anta dengan hantu Kak Lala nanti Anta perlihatkan semuanya tentang kematian Kak Lala dan peristiwa gelap yang ada di sini," ucap gadis itu.
"Kalian pada ngomongin apa, sih?" tanya Dion menyela keduanya.
"Enggak usah pada ikut, Anta mau ke kebun singkong sama Bunda," ucap Anta.
"Yakin, Nta, cuma kita doang? Para bujang ini enggak diajak?"
"Enggak usah diajak juga nanti pada ikut sendiri."
Gadis itu dan Dita melangkah menuju kebun singkong padahal hari sudah menjelang magrib.
"Pada mau ngapain sih tuh, dan apa sih yang mereka omongin tadi?" tanya Dion.
"Kalau enggak ngerti, udah diam aja, kita aja yang ngerti cuma nyimak," ucap Arya menepuk bahu Dion.
"Elo mah diem aja karena elo takut kan ketemu hantu di kebun singkong?" tanya Arga seraya meledek Arya.
"Halah, kayak berani aja luh, memangnya elo berani?" tanya Arya balik meledek Arga.
"Gue enggak berani, tapi selama ada Anta buat gue jagain, gue langsung berani," ucap Arga dengan penuh keyakinan.
"Gue juga kalau gitu, demi Anta," sahut Arya.
"Elo berdua, bucin amat sama itu cewek, cakepnya di mana coba," sahut Dion.
"Gue juga awalnya gitu sebel banget sama Anta, tapi sekarang... awas lo ngikutin kayak gue," ancam Arya.
Ia menoleh ke sampingnya saat mencari Arga. Rupanya pemuda itu sudah menyusul Anta dan Dita sedari tadi meninggalkan Arya yang masih berbicara pada Dion.
"Jiah, kampret banget si Arga gue ditinggal sama si julung-julung," gumam Arya.
"Heh, siapa yang elo bilang julung-julung?"
Dion menarik kerah milik Arya.
"Kaga Kak, bukan siapa-siapa, mending kita ikutan yuk, daripada berduaan gini, ngeri gue."
Arya segera berlari menyusul Arga.
Sementara itu di dalam area kebun singkong.
"Aku masih enggak ngerti kalau di sini bisa banyak hantu bayi, kenapa Nta?" tanya Dita.
"Karena Ibu Desi melakukan praktek ilegal, aborsi anak bayi," sahut Anta.
"Bibi aku? Kamu serius, Nta?" pekik Dita tak percaya.
Anta menganggukkan kepalanya.
"Hantu Kak Lala mana, ya?" tanha gadis itu.
Tiba-tiba, seseorang menepuk bahunya.
"Nah, ini pasti hantu Kak Lala," ucap gadis itu.
"Bukan, Nta, ini aku Arga."
"Tuh kan, pada nyusul ke sini," ucap Anta kala melihat Arga, lalu Dion dan Arya yang menyusul di belakang pemuda itu.
Dita tersenyum kecil menanggapi, tetapi kedua matanya terkejut saat ia mendapati sumur tua yang terlihat di kebun singkong itu.
"Itu sumur, kan?" tanya Dita.
"Bukan, itu warung kopi," jawab Anta.
"Mana yang jualan, itu sumur Anta!" seru Dita.
"Lha, udah tau itu sumur, Bunda masih tanya aja," sahut gadis itu.
"Wah biasanya kalau ada sumur tua gini, pasti enggak jauh dari hantu," ucap Arya.
"Ah, kalian mah dari tadi ngomongin hantu mulu, percaya banget sih sama hal kayak gitu," ucap Dion.
"Coba sana deketin, liat aja ke arah sumur itu," ucap Anta mendorong bahu Dion pelan.
"Oke, siapa takut."
Pemuda itu perlahan menuju ke sumur tua.
"Enggak ada airnya. Halo... ada hantu di dalam?"
Suara Dion bergema di sumur tua yang kering itu. Lalu menoleh ke arah Anta.
"Mana, enggak ada siapa-siapa, kan?" tanya Dion.
Anta, Dita, Arya dan Arga lalu memperhatikan belakang pemuda itu. Secara bersamaan, mereka lantas melihat kedua tangan yang kulitnya pucat dan berkeriput merangkak ke luar dari sumur tua.
"Nta, i-itu, itu apa?" tanya Dita ketakutan.
"Nah, keren nih bentar lagi kalian ketemu artis, jawab Anta dengan wajah berbinar.
"Artis?" tanya Arga dan Arya bersamaan.
Perlahan demi perlahan, sosok hantu perempuan itu ke luar merangkak dari dalam sumur. Wajah hantu itu tertutup rambut hitam panjang yang lurus bak iklan shampo. Sosok itu terlihat mengenakan dress putih yang warnanya sudah lusuh.
"Tuh, keren kan kayak artis," ucap Anta.
"Apanya yang keren?" tanya Arya yang bersembunyi di balik tubuh Arga.
"Keren tau, si Raja juga pasti suka lihat ini soalnya dia juga suka lihat film hantu itu," sahut Anta.
"Apanya yang keren, ya?" tanya Arga yang juga masih tak mengerti dengan apa yang Anta maksud.
Dita juga sudah bersembunyi di belakang tubuh Anta ketakutan.
"Kalian pada lihat apa, sih?" tanya Dion.
"Tuh, dibelakang kamu!" tunjuk Anta.
"Mana, belakang gue enggak ada siapa-siapa," jawab Dion.
Anta langsung mendekat ke arah Dion dan menyentuh tangan pemuda itu.
"Tuh, kamu perhatikan dia baik-baik, hantunya mirip artis!" tunjuk Anta.
Dion menoleh dan berteriak saat melihat hantu penunggu sumur lalu jatuh tak sadarkan diri.
"Huuu... gaya elo sok pemberani, taunya klepek -kelepek, tepar!"
Arya menendang pelan dengan ujung sepatunya bahu Dion yang tergeletak di tanah itu.
"Coba pada lihat nih, kayak artis, kan?"
Anta menunjuk si hantu perempuan.
"Artis siapa, sih, muka dia aja enggak kelihatan gitu," sahut Dita.
"Mirip artis yang main film dalam sumur The Ring," sahut Anta.
"Artis pemain film yang mana, sih?" tanya Arga.
"SADAKO."
"Astaga, maksud kamu artis itu hantunya, kirain yang main film-nya," ucap Arga menepuk jidatnya lalu mendekati Dion.
"Ini bocah pake pingsan lagi, nanti elo gotong, Ya!" seru Arga.
"Ogah, elo aja!" sahut Arya.
"Dih, tuaan gue sama elo!" sahut Arga.
"Enggak usah bawa tua!"
"Heh, apa yang kalian lakukan di sini?" tanya hantu perempuan penunggu sumur itu dengan suara berat, parau dan menyeramkan menghardik kedua pemuda yang masih ribut itu.
"Tuh kan keren Sadako kalau muncul di film enggak bisa ngomong, nah yang ini bisa," ucap Anta.
"Bodo amat!" sahut Arya.
Anta berjongkok di hadapan hantu itu seraya menyibak rambut yang menutupi wajahnya.
"Haaaaaaa...!"
Semburan hawa panas dan bau busuk menyeruak sampai ke wajah Anta.
"Ih, masih bau aja, mana matanya mau copot lagi. Sini aku benerin, biar enggak nakutin banget," ucap gadis itu.
"Kayaknya enggak mirip deh sama Sadako, cakepan Sadako," celetuk Dita yang baru saja mengamati si hantu penunggu sumur.
"Kenapa kalian tidak takut kepadaku?" tanya hantu perempuan itu.
"Kenapa harus takut? Udah biasa kita liat yang sejenis sama Tante," jawab Anta.
"Hmmm... tapi kalau aku lihat, kenapa para anak muda ini ganteng-ganteng, ya?"
Suara hantu perempuan itu berubah menjadi suara yang lebih manusiawi tidak menyeramkan seperti tadi. Lebih lemah lembut layaknya dia saat menjadi manusia.
"Dih, langsung ganjen, enggak bisa lihat cowok bening dikit, ckckckkc." Dita mulai berani mencibir.
Hantu perempuan itu merangkak ke luar dari sumur sampai seluruh tubuh dia sudah semua keluar. Ia perlahan mencoba berdiri dan terdengar suara gemerutuk tulang saat ia meluruskan tubuhnya.
Krek krek krek!
"Pegel apa encok tuh hantu," celetuk Arya.
"Hehehe... aku selalu merangkak sama meringkuk dalam sumur. Apa kalian membawakan persembahan bayi untukku?" tanya hantu perempuan itu.
"Hah, bayi?" tanya Dita dengan suara meninggi.
Terdengar suara azan magrib dari kejauhan.
"Saya pergi dulu!"
Hantu perempuan itu langsung melompat masuk ke dalam sumur saat mendengar suara azan.
"Lah, pertanyaan aku belum dijawab," ucap Dita.
"Anta laper, nih, masuk dulu yuk buat solat sama makan!" ajak Anta.
"Ini Dion gimana?" tanya Arga.
"Kalau kalian enggak mau gendong dia, biar Anta yang gendong," sahut gadis itu.
"Eh, jangan! Kita aja yang gendong," sahut Arga.
"Ya udah, kalau gitu Anta sama Bunda duluan, ya."
Anta dan Dita lantas melangkah menuju pantai asuhan.
"Elo mau gendong, Ya?" tanya Arga.
"Ogah, kan elo yang nawarin diri buat gendong," jawab Arya.
"Tapi gue males gendong, pasti dia berat," ucap Arga menoleh ke tubuh Dion.
"Ya udah, kita seret aja!"
Ide gila Arya barusan dijawab senyuman oleh Arga.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni