Anta's Diary

Anta's Diary
Proses Persalinan



Happy Reading...


Anan Herdi dan raja datang ke Rumah Sakit Keluarga, mereka langsung mencari keberadaan Anta dan Arya setibanya di lobby rumah sakit. Herdi menghubungi ponsel Arya yang ternyata berada di lantai tiga. Lalu, setelah diberi tahu kalau mereka sedang berada di lantai tiga, ketiga orang itu segera menyusul ke sana.


Sesampainya di lantai tiga, ternyata Tasya dan Dita belum juga selesai menjalani proses persalinan. Tasya masih mengalami proses induksi karena pembukaannya belum lengkap. Sementara apa yang dirasakan Dita berbeda. Setelah ia mendapatkan suntikan induksi, anehnya rasa mulas yang diderita malah menghilang. Begitu juga dengan pembukaan yang terhenti di pembukaan tiga.


Namun sayangnya, Dita mengalami pecah ketuban yang meracuni janin sehingga harus dilakukan tindakan operasi secar. Seorang suster langsung mempersilakan Anan untuk mendatangani dokumen persetujuan operasi secar. Sementara itu, Pak Herdi mengikuti seorang suster yang menangani Tasya. Karena ia menyarankan Pak Herdi untuk menemani Tasya yang sedang melahirkan.


Anan kemudian menemui istrinya itu untuk memberikan kecupan san semangat sebelum masuk ruang operasi sesar karena Anan tidak boleh diperkenankan untuk masuk menemani.


"Bunda yang kuat ya, anak Yanda juga jangan nakal sama Bunda, harus nurut pas lahir jangan nyusahin Bunda," ucap Anan seraya mengusap perut Dita.


"Yanda doain Bunda, ya," pinta Dita.


"Pastinya Bunda," jawab Anan lalu memberikan kecupan di dahi Dita.


"Permisi Ibu Anandita, silakan ganti pakaian ini, lalu kita bersiap menuju ruang operasi ya," ucap seorang suster seraya memberikan pakaian pasien untuk operasi pada Dita.


"Ya, Suster."


Anan membantu Dita untuk berganti pakaian. Tak henti-hentinya ia memeluk istrinya dengan erat seraya memberi kecupan di kepala wanita itu.


"Bunda yang kuat ya, I love you so much!" seru Anan.


"I love you to, Yanda...."


Tak lama kemudian, Dita dibawa oleh dua orang suster memasuki ruangan operasi pembedahan mengeluarkan bayinya secara secar.


Sementara itu di ruang persalinan Tasya.


"Tasya istriku sayangku, cintaku kamu apa kabar?" Herdi langsung menghampiri tubuh Tasya yang berbaring terlentang dengan kaki menggantung di penopang khusus untuk orang bersalin.


Posisi ini terkesan pasif, karena sang ibu akan mengalami kesulitan dalam mengejan. Selain itu, dengan posisi seperti ini biasanya sang ibu pasti akan merasa pegal pada punggung. Posisi ini juga seringkali dapat meningkatkan tekanan pada perineum yang dapat menimbulkan robek pada jalan lahir.


"Heh, dari mana aja kamu!" Tasya menjambak rambut suaminya dengan tarikan kencang.


"Awww sakit, Bunda! Maaf ya, Bunda! Tadi aku udah berusaha untuk ngebut, aku bawa ikan yang banyak, lho."


"Bodo amat!" Tasya lalu menoleh ke arah suster.


"Sus..ter... eeeiighhh awww sakit banget ini kabarnya aduuhh...!" seru Tasya.


"Sabar ya, Bu, baru pembukaan tujuh, Ibu tarik napas, buang, tarik napas lagi, buang," ucap nya.


"Pembukaan tujuh itu apa sih, Sus?" tanya Herdi.


"Pembukaan lebar serviks menjelang persalinan pada tahap ini sudah sebesar 7 cm, kira-kira menyerupai buah tomat. Jika kontraksi Ibu masih terasa sakit, coba ubah posisi badan, bergerak, dan lebih banyak minum air putih untuk meredakannya sekaligus menjaga daya tahan tubuh Ibu," ucap suster itu.


"Lepasin jambakan kamu, aku ambilin minum dulu ya," ucap Herdi mencoba meraih air mineral dalam kemasan botol.


"Emang kebukanya aarrgghh... sampe angka... hufh hufh... berapa?" tanya Tasya seraya menahan sakit dan mencoba mengontrol napasnya.


"Biasanya sih satu sampai sepuluh, Bu," ucap Suster bernama Tita.


"Haduh... lama banget," keluh Tasya.


"Sabarin aja ya, Bu, tunggu sampai fase transisi, dan bayi siap keluar nanti dokter baru ke sini," ucapnya.


"Sabar gimana? Suster sih enggak ngerasain sakitnya!" Tasya sampai tak sadar ia sampai berteriak pada suster itu.


"Minum dulu, nih, kamu harus sabar," pinta Herdi seraya menyodorkan sedotan dalam botol air minum itu.


"Saya udah ngerasain, Bu, udah lima anak lahiran normal semua," sahut suster itu.


"Tuh, Bunda, dia lebih pengalaman," ucap Herdi.


"Tapi ini sakit!"


"Sabar ya, Bu."


Setelah menunggu sampai Tasya mengalami pembukaan 10, dokter datang untuk membantunya mengejan. Ketika dokter telah menyatakan pembukaan serviks ke-10, tandanya Tasya sudah siap untuk menjalani proses melahirkan normal.


"Bu, ikut senam hamil, kan? Nah, ingat-ingat waktu belajar atur napas, yuk kita terapkan!"


"Napas, Bu, tarik napas, buang, tarik napas, buang..."


"Iyalah napas, kalau enggak napas nanti gimana, Dok?" sahut Herdi yang mengikuti cara Tasya bernapas sambil menggenggam tangan istrinya dengan erat.


"Huff, hah, huff, hah, huff, hah...."


Tasya dan Herdi bergerak bersamaan.


Ketika serviks sudah terbuka sepenuhnya, dokter menganjurkan Tasya untuk lebih mengejan. Kemudian tubuh bayi akan bergerak menuju jalan lahir bayi dengan cara normal. Proses mengejan selama melahirkan normal ini bertujuan untuk mendorong bayi keluar.


Dokter terus memberikan instruksi kapan Tasya harus menarik napas dan kapan harus membuangnya. Akhirnya bayi yang ditunggu- tunggu tiba, seorang bayi perempuan lahir dengan sempurna. Tangisannya membuat Herdi langsung menangis terharu.


"Sya, anak kita perempuan... cantik banget," lirih Herdi sambil menangis.


"Iya, akhirnya keluar juga," ucap Tasya.


"Bu, satu lagi ya, tuh kepalanya udah nongol," ucap sang dokter memberi perintah.


"Ya ampun, masih satu lagi ya, bener kan dok cuma satu lagi?" tanya Tasya.


"Lha kan emang waktu usg ada dua bayi, Bu, yuk mengejan lagi!" seru sang dokter.


"Sayang, kamu pasti bisa yuk bisa yuk!"


"Ini semua gara-gara kamu, sih! Sakit tau!" seru Tasya.


"Yah, si Ibu, bikinnya bareng kan? Udah gitu sama-sama lagi enggak main salah-salahan, masa sekarang suaminya disalahin," ucap Dokter itu berusaha menenangkan Tasya.


"Apaan sih, Dokter Ina enggak jelas nih!" seru Tasya.


Proses persalinan pun berakhir dengan lahirnya bayi kedua Tasya dan Herdi yang berjenis kelamin laki-laki. Sang ayah langsung mengumandangkan azan di telinga para bayi dan tak henti-hentinya berucap syukur.


***


Sementara itu di ruang persalinan Dita, wanita itu juga sudah selesai melakukan persalinan secara operasi secar. Dua bayi kembar berjenis kelamin laki-laki dan perempuan pun telah lahir ke dunia. Anan segera mengumandangkan azan di telinga para bayinya.


Di ruang tunggu pasien, Dewi sudah hadir bersama Andri begitu juga dengan Aiko. Mereka mendoakan bersama-sama kelancaran proses persalinan Dita dan Tasya.


"Udah sih tenang, Tante Key!" sapa Anta ketika melihat kuntilanak itu sedang mondar-mandir juga menunggu proses persalinan Dita.


"Duh, aku penasaran mau lihat bayinya, tapi kata Anan aku enggak boleh masuk takut bayinya sawan," sahutnya dengan raut wajah kecewa.


"Ya udah sih, tunggu di sini aja!" sahut Anta.


"Tapi emangnya aku nyeremin ya, aku kan udah mode cantik, Nta?" tanya Tante Key.


"Jangankan bayi, yang namanya hantu mah manusia dewasa juga takut, Tante Key!" sahut Arya.


"Huh, masa sih! Ah, aku penasaran, aku coba masuk lagi, ah...!"


Kuntilanak itu menghilang ke dalam ruang persalinan dan ruang bayi.


Sementara itu, Raja masih saja cemberut. Anta mendekatinya.


"Kenapa lagi, sih?" tanya Anta.


"Aku takut gara-gara dedek bayi, aku enggak disayang!" ketus Raja.


"Ya ampun kan udah berkali- kali dijelaskan, pasti di sayang kok!" sahut Anta.


"Janji ya, Kak Anta juga enggak bakal nyuekin aku?"


"Janji!" sahut Anta.


***


To be continue...


Selamat menjalankan ibadah puasa.