
Happy Reading...
******
Setibanya dirumah, Anji segera mandi di dan berganti pakaian. Badan anak itu juga terasa pegal dan matanya pun mulai terasa berat. Dia menuju ke ruang makan untuk makan malam bersama dengan keluarga.
Rasa kantuk mulai menghinggapi, sehingga membuat Anji segera beranjak menaiki anak tangga dan masuk kamar. Anak itu membaringkan dirinya di atas ranjang empuk miliknya. Dia juga menyalakan musik dari radio yang ada di meja belajar.
Kamarnya yang terasa sejuk sangat terasa dengan AC di suhu delapan belas derajat celcius. Dia membiarkan alunan musik pop itu terus menyala. Dia juga memadamkan lampu sebelum mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk.
Seketika itu juga, tubuhnya sudah terasa rileks. Alunan musik yang syahdu itu membuat kedua matanya terasa berat. Anji sudah tak tahan lagi dan mulai memejamkan kedua matanya. Namun, selang beberapa menit kemudian, anak itu kembali terjaga. Dia mendengar pintu kamarnya terbuka lalu tertutup kembali.
"Siapa itu?" tanya Anji.
Namun, tak ada suara yang menjawab. Dia malah mulai mengendus aroma singkong goreng yang merebak ke seluruh ruangan. Serentak bulu romanya meremang tak karuan. Peluh mulai bercucuran seperti butir jagung yang membasahi wajah dan lehernya.
Ekor matanya seketika menangkap sekelebat bayangan yang mengambang secara horizontal menuju ke meja belajarnya. Benda itu persis berada di depan ranjangnya. Seketika itu juga, Anji tidak mampu menggerakkan badannya sedikit pun. Perlahan-lahan lantunan lagu pop tadi menghilang.
Sekelabat bayangan itu mulai membentuk sosok yang makin jelas terlihat oleh Anji. Makhluk dengan rambut panjang berantakan sampai menutupi wajah itu menoleh ke arah Anji. Sosok itu memakai daster lusuh dengan bau singkong goreng yang tercium tetapi kali ini aromanya mulai tercium bau gosong.
Suara makhluk itu terdengar seperti geraman marah di telinga Anji. Sosok itu makin mendekat bahkan sekarang seperti menggelitik kakinya dengan ujung rambut berantakan milik sosok itu.
"A-a-apa itu?" gumam Anji.
Mata makhluk itu merah menyala dan gusinya terlihat penuh darah kala tersenyum menyeringai. Makhluk itu menggeram penuh amarah dan tiba-tiba mengambang lebih rendah. Wajah hantu itu mulai mendekat hanya terpaut kurang lebih lima sentimeter dari wajah Anji.
"Apa yang kamu lakukan di rumahku?" tanya hantu itu.
Sontak saja Anji merasa ketakutan dan gemetar. Bahkan anak itu sampai mengompol si celana. Namun, anak itu hanya pasrah dan tak mampu melakukan apapun. Setelah menatap Anji dengan tajam, makhluk itu bergerak mundur. Rambutnya yang panjang sekali lagi menyapu sekujur tubuh anak itu.
Setelah, makhluk itu menghilang, Anji mulai bisa menggerakkan tubuhnya lagi. Keringat dingin sampai membasahi piyama yang ia kenakan. Detak jantungnya masih terasa cepat dan berdebar-debar tak terkendali.
Setelah agak tenang, Anji mulai bangkit dari kasurnya. Dia meraih ponsel miliknya dan berniat menghubungi Robi dan Raja. Namun saat anak itu membuka ponselnya, ada beberapa panggilan dan pesan whatsapp dari Robi.
"Ada sepuluh panggilan tak terjawab dari Robi," gumamnya.
Anji lantas membuka pesan whatsapp dari Robi itu. Ternyata sahabatnya itu mengalami kejadian serupa dengannya. Kawannya itu sudah lebih dulu meninggalkan pesan dengan kronologis kejadian yang hampir sama dengan yang dia alami.
Anji segera menghubungi Robi dan menceritakan hal yang mereka alami. Akan tetapi, mereka tak bisa menghubungi Raja karena ponsel anak itu mati karena sedang di charge. Mereka lantas berpikir pasti Raja juya mengalami hal yang mereka alami malam itu dia sedang ketakutan. Namun, mereka salah terhadap yang Raja alami.
******
To be continue...
Jangan lupa vote, favorit, like dan komentarnya. Terima kasih...