
Hai semua, sebelum membaca, bayar
tulisanku dengan poin kalian, pokoknya jangan lupa VOTE…!
Terima kasih…
******
"Perhatian semuanya, hari
ketiga nanti adalah hari terakhir masa orientasi, jadi saya harap kalian semua
bisa menghadiri acara jurit malam di sekolah dan di wajibkan untuk menginap,
tolong persiapkan pakaian ganti, bekal dan obat-obatan masing-masing."
ucap Dion, siswa tampan yang menjabat sebagai ketua OSIS di SMA Angkasa.
Semua
mata tertuju pada suara anak muda yang menjadi idola sekolah karena wajah
tampan, bakatnya dalam renang serta kecerdasan yang ia miliki itu. Dion juga
pernah mewakili sekolahnya dalam lomba renang antar pelajar tingkat nasional,
dan dia mendapatkan medali emas.
Akan tetapi, bukan hanya Dion siswa
tampan di sekolah itu, masih ada Jonathan alias Jojo, si artis sinetron
kesukaan Mama Dewi.
Saat anak muda itu
datang, banyak siswi yang tertuju pada pemuda itu. Dengan senyum merekah anak
muda itu sengaja menebarkan pesonanya untuk menarik perhatian.
“Mey, kamu enggak ikutan ngejar tuh
cowok?” tanya Anta.
“Enggah, ah. Aku maunya Arya.”
“Ah, bucin pocong dasar!”
“Baiklah, karena jam istirahat
sudah berbunyi silahkan kalian menuju ke kantin, dan jangan lupa nanti kembali
lagi ke aula kita masih akan meneruskan kegiatan masa orientasi sekolah hari
ini,” tegas Dion.
“Baik, Kak!”
"Nta, anterin aku pipis, yuk!"
ajak Mey.
"Ayuk, sekalian aku mau pipis juga," jawab Anta.
Keduanya melangkah menuju toilet perempuan, akan tetapi saat hendak masuk ada
dua orang siswi kelas XII yang menghadang mereka dan melarang masuk.
“Anak baru, ya, anak kelas
tujuh,kan?” tanya siswi bertubuh tinggi semampai dan berambut lurus bak iklan shampoo
itu.
“Iya, Kak, permisi Kak, kita mau
pipis,” ucap Anta.
“Anak baru jangan pakai toilet ini,
tapi pakai yang ujung itu!” tunjuknya ke toilet yang berada di sudut koridor
sekolah itu.
“Oh begitu, baiklah, ayo, Mey kita
ke sana!” ajak Anta.
“Kenapa, sih, pakai ada pembagian
wilayah toilet segala, sekalian aja kantin sama perpus juga,” keluh Mey.
“Jangan ngomong macam-macam nanti
perkataan kamu dikabulkan, lho,” celetuk Anta seraya tertawa.
“Fan, gila elo, ya, itu kan toilet
angker banget ada hantunya, masa elo suruh mereka ke sana?” tanya Lisna sahabat
Fani.
“Biarin, biar tau rasa, yuk kita
jajan!”
Kedua gadis itu melenggang menuju
kantin sekolah.
Anta dan Mey memasuki toilet itu bersama-sama. Ada dua bilik toilet di sana.
“Aku pakai yang ini ya, Nta, kamu
yang ujung,” ucap Mey.
“Oke.”
Anta masuk ke dalam toilet
tersebut. Kloset duduk itu sudah menyambut gadis tersebut dengan bau yang
pesing seolah tak pernah dibersihkan.
“Duh, enggak bawa tisu lagi, siram
dulu aja deh,” gumam Anta.
Tiba-tiba, terdengar sayup-sayup
suara anak perempuan yang menangis.
"Hmmmm, ada yang nunggu nih toilet, tapi itu nangisnya dari mana,
ya?" gumamnya sambil menekan tombol flush pada kloset duduk di hadapannya
sebelum memakai.
Lantas kemudian sesuatu menngejutkan
gadis itu, terlihat kepala manusia dengan rambut hitam berantakan keluar dari
dalam kloset. Sedikit demi sedikit memperlihatkan wajahnya. Wajahnya yang rata,
tanpa mata, hidung, mulut dan segalanya makin menambah keseraman saat melihat
kepala hantu itu keluar dari lubang kloset.
"Astagfirullah."
Gadis itu berusaha membuka pintu
bilik toilet.
Cekrek...
“Anta lupa nih baca doa, makanya dia nongol.”
Setelah membaca doa masuk wc, Anta
“Berhubung mules, jadi maaf ya,
Tante wc, Anta enggak bisa nahan pup,” gumam gadis itu yang bersiap melemparkan
bom kotoran ke dalam kloset.
Saat Anta sedang mengejan terlihat
wajah hitam berbalut kain kafan. Sosok pocong itu bermata merah dan tersenyum
menyeringai pada Anta.
“Heh, kurang ajar banget jadi pocong,
kamu cewek apa cowok berani-beraninya ngintip Anta lagi boker?” hardik Anta.
“Yah, kok dia enggak takut sama
kita?”
Pocong itu buka suara memanggil
kawannya si perempuan muka rata tadi. Mereka memperhatikan Anta dengan saksama
sampai Anta selesai dengan buang hajatnya.
“Kalian tuh rese, ya masa orang
lagi pup diliatin?” keluh Anta seraya membersihkan bekas kotorannya.
“Kamu enggak takut sama kami?”
tanya si hantu muka rata.
“Enggak, udah bisa liat yang kayak
kalian,” sahut Anta.
“Kamu anak baru, ya?” tanyanya
lagi.
“Iya, coba minggir Anta mau ke luar
dulu, lagian enggak sempit apa tinggal di bilik ini berdua mana bau lagi,
sebagai penunggu yang baik harusnya kalian bersih-bersih toiet biar nyaman dan
wangi,” ucap Anta.
“Min, harga diri gue jatoh banget
sama nih anak masa kita enggak ditakutin, mana disuruh bersihin wc lagi,” ucap
si muka rata pada pocong hitam itu.
“Iya, mending kita gangguin yang di
sebelah, yuk!”
“Eh, jangan, itu temen Anta, kalau
macam-macam gangguin dia, maka kalian harus berhadapan dengan… bentar ya Anta
panggil.”
Anta ke luar dari bilik toilet dan
memanggil Arya.
“Astaga, cumi albino! Ngapain elo
panggil gue ke dalam wc, elo mau gue bintitan gara-gara ngintip?” keluh Arya.
“Tuh, datang, kan? Mirip Om Jin
tau-tau dating, keren, kan?” ucap Anta yang bangga memamerkan Arya.
“Ih, ganteng banget nih pocong, In.
Ini mah jodoh gue,” ucap si hantu muka rata.
“Heh! jelas-jelas bentuk dia sama ama
gue, sama-sama pocong. Lha ini mah jodoh gue,” ucap si Pocong.
Kedua hantu itu mendekati Arya.
“Anta, ini mereka pada kenapa, pada
mau ngapain gue?” tanya Arya mulai ketakutan.
“Ladenin dulu, Ya, Anta mau cuci
tangan dulu, Mey mana, ya?” gumam Anta.
“Temen kamu udah kabur pas denger
aku nangis, tadi aku lupa bilang hehehe…” ucap si hantu muka rata.
Seorang siswi membuka pintu
toiletnya dari luar membuat Anta terdorong sampai terjatuh.
"Kamu kenapa?" tanyanya memandang Anta jatuh di lantai.
"Lagi salto, Anta kedorong sama kamu barusan tau."
“Eh, maaf ya, aku mau pipis disuruh
ke toilet ini, tapi yang aku denger toilet ini angker,” ucapnya.
“Tenang aja, jangan lupa baca doa
masuk wc, nanti hantunya kabur, dah sana masuk Anta tungguin.”
“Makasih, ya.” Siswi itu masuk ke
dalam toilet.
“Awas, ya, kalau pada gangguin
anak-anak sini lagi,” ancam Anta.
“Iya janji, asal pocong tampan ini
buat aku,” ucap si Mimin hantu pocong.
“Ogah…..!” Arya melompat kabur
menembus dinding menghindari kedua hantu itu.
Kedua hantu itupun tak gentar dan
mengejar Arya kemudian sampai membuat Anta tertawa.
"Mey, ke mana, ya? Masa Anta ditinggal, sih?" keluh gadis itu.
"Eh. makasih ya kamu udah nungguin aku, kenalin nama aku Ria," ucap siswi baru itu.
Gadis itu mengulurkan tangannya untuk dijabat saat berkenalan.
"Nama aku, Anta," sahut Anta menjabat tangan Ria.
"Aku boleh jadi teman kamu?" tanya Ria.
Wajah Anta langsung berbinar. Semasa SMP dulu hanya Mey yang mau jadi temannya karena mereka sama-sama dianggap aneh. Semoga saat Anta berteman dengan Ria, dia tidak akan menganggap Anta aneh.
*******
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…