
Happy Reading
*****
Raja diantar oleh Anta mengendarai sepeda motor matic menuju rumah Robi. Sesampainya di sana, bendera kuning sudah dipasang di halaman rumah kawannya itu.
"Kak Anta parkir motor dulu, ya," ucap gadis itu.
Raja turun dari motor Anta dan langsung menuju ke arah Robi menghamburkan diri memeluk sahabatnya itu.
"Maafin aku, Bi, aku harusnya bilang sama kamu," ucap Raja.
"Bilang apa, Ja?"
"Kalau nyak kamu sebentar lagi meninggal, kan aku waktu itu bilang ke kamu supaya nemenin nyak kamu," ucap Raja.
"Oh, yang waktu itu. Kata babe semua udah ada jalannya dari Allah. Aku udah ikhlas, kok. Sekarang bantuin aku buat doain nyak, ya?" Robi menunjukkan senyum keikhlasan pada Raja.
"Iya, Bi."
"Yuk, ikut baca yasin buat nyak!" pinta Robi.
Sementara itu, Anta tak sengaja menabrak seorang pemuda yang ia kenal. Ternyata pemuda itu adalah Mike.
"Elo ngapain di sini?" hardik Mike.
"Anta lagi anterin adik Anta si Raja ke sini. Ini kan rumah temennya," sahut Anta.
"Oh ... begitu."
"Terus kamu sendiri ngapain di sini?" tanya Anta.
"Yang meninggal ini, ncang gue!"
"Encang?" Anta sampai mengernyitkan dahinya tak mengerti.
"Tante gue, kakaknya nyokap gue."
"Oh, begitu."
Anta lantas mengikuti Mike untuk duduk di sebuah kursi plastik warna hijau.
"Mike, ini sape?" tanya seorang wanita berusia empat puluh tahunan. Kedua matanya mirip seperti Mike.
"Ini Anta, temen sekelas aye di sekolah." Mike memperkenalkan Anta pada ibunya.
"Cakep ya, halo nama saya Munaroh, panggil aja Nyak Muna, saya nyaknya Mike. Dia bakal kaga di sekolah?" tanya wanita itu.
"Kaga Nyak," sahut Anta.
"Kenapa logat elo jadi sok sok an betawi?" hardik Mike.
"Dimakanin kuenya, minumin juga. Nyak ke dalam dulu ya," ucap wanita itu lantas bergegas melangkah ke dalam rumah Robi.
Anta melihat sekelebat bayangan hitam berasal dari punggung Nyak Muna. Namun, ketika ia mau melihat dengan saksama, bayangan itu menghilang.
"Elo ngeliatin apa?" Robi menyentak Anta dengan menepuk kedua telapak tangannya di hadapan wajah gadis itu.
"Ummm... nggak kenapa-kenapa. Ibu kamu cantik, ya?" Anta berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Cantiklah makanya anaknya ganteng kayak gue!" sahut Mike.
"Duh, agak mual dengernya. Anta mau minum aja."
"Rese, luh!"
"Anta boleh tanya, nggak?" lirih gadis itu.
"Tanya apaan? Oh, pasti mau tanya apa gue udah punya pacar apa belon, iya kan?" terka Mike dengan penuh percaya diri.
"Makin mual aja dengernya. Nggak jadi, deh."
Anta meraih kue cincin yang ada di meja di hadapannya.
"Gue belum punya pacar, elo mau jadi pacar gue?" tanya Mike secara tiba-tiba sampai membuat Anta tersedak.
"Lha, segitu girangnya ditembak gue sampai ketelek kue cincin," ucap Mike yang membantu menepuk punggung Anta untuk mengeluarkan separuh kue cincin yang tersangkut di awal kerongkongan gadis itu.
"Pede banget jadi orang! Anta udah punya pacar tau," sahut Anta yang langsung menghabiskan dua air mineral dalam kemasan gelas.
"Gue juga tau si Arya, kan? Jiah, tampang kaya dia doang mah bisa gue saingin, yang penting elo mau apa kaga jadi pacar gue?" Mike masih berusaha menggoda Anta.
"Gue kaga mau!" sahut gadis itu.
Tadinya Anta mau bangkit berdiri dan hendak menghampiri Raja untuk mengajak anak itu pulang, tetapi ia melihat kembali bayangan hitam di belakangnya Mike.
"Tuh kan mulai ngeliatin gue, suka kan sama gue?" tunjuk Mike.
"Ih, bukan kamu yang Anta liat, tapi ...."
"Tapi apa?" Mike jadi menoleh ke arah belakangnya.
"Ini yang Anta mau tanya, apa ada keluarga kamu yang sudah meninggal tapi meninggalnya secara nggak wajar?"
Pertanyaan Anta langsung membuat pemuda itu terperanjat seketika.
******
To be continue ....