Anta's Diary

Anta's Diary
Lapar Tengah Malam



Happy Reading...


*****


Semakin malam, suasana di rumah sakit tempat Raja dirawat malah membuat suasana semakin mencekam. Pasalnya orang-orang sudah semakin sepi dan hanya tersisa beberapa perawat saja yang lalu lalang. Dita terbangun dan meregangkan tubuhnya. Ia terkejut kala melihat Anan tertidur di samping sofa. Sementara Raja sudah tertidur dengan pulas. Apalagi suster sudah memberinya obat malam itu.


Perut Dita tiba-tiba berbunyi, wanita itu merasa sangat kelaparan, Anan sampai bangun dan menoleh ke arahnya.


"Hehehe... aku lapar," ucap Dita.


"Kamu mau makan apa?" tanya Anan.


"Kok kamu di sini?" tanya Dita.


"Anta yang minta sama aku, katanya Raja sakit dan butuh aku supaya ngerasain dirawat sama yandanya," ucap Anan.


"Tasya juga yang minta aku katanya Raja juga butuh Aku sebagai sosok bundanya," ucap Dita.


"Tadi aku tanya, kamu mau makan apa?" tanya Anan.


"Lucu ih aku, kamu, kita kayak udah kenal lama aja," ucap Dita.


"Enggak tau ya, kalau sama perempuan saya terbiasa ngomong aku kamu biar lebih halus menghargai aja."


Anan bangkit menuju meja kabinet samping ranjang Raja untuk meraih botol minum.


"Tadi aku tanya kamu kamu makan apa?" tanya Anan lagi.


"Udah jam setengah 12 malam gini, emang ada makanan apa ya di luar sana?" tanya Dita.


"Ada lah mini market 24 jam, terus kayaknya tukang nasi goreng masih ada, mau aku beliin?" tanya Anan.


"Boleh deh kalau gitu, tapi aku ikut."


"Lha, terus yang jagain si Raja siapa?" tanya Anan.


"Aku takut ketemu kuntilanak yang tadi, makanya aku mau ikut. Raja ada suster ini yang jaga, nanti kita minta jagain, lagian Raja juga pulas," ucap Dita.


"Hmm... ya udah deh, ayo beli makan."


Anan menoleh ke arah Raja yang terbaring pulas di atas ranjang. Ia memastikan kalau kondisi anak itu baik dan tertidur pulas. Keduanya lalu melangkah menuju ke luar rumah sakit.


***


Lift rumah sakit saat itu ternyata dalam perbaikan sehingga Anan dan Dita harus turun melewati tangga darurat. Namun, setibanya mereka di lantai satu, dari arah lorong koridor terdengar suara ranjang yang didorong oleh beberapa suster melintas di depan mereka.


Penasaran dengan suara tersebut, Anan pun keluar dan melihat ke arah luar dengan membuka pintu tangga darurat.


"Mau ngapain, sih?" bisik Dita.


"Mau liat, penasaran soalnya," sahut Anan.


Dita tak sengaja melingkarkan lengannya di tangan Anan saat ia merasa ketakutan melihat ranjang tersebut. Ternyata pasien yang didorong menggunakan ranjang tersebut telah meninggal dunia dan sedang dibawa menuju kamar jenazah.


Tangan kanan mayat itu sempat jatuh dan ke luar dari selimut yang menutupi tubuh mayat tersebut. Terlihat permukaan kulit yang gosong dan melepuh bahkan mengelupas seperti korban terbakar. Bulu kuduk pun seakan merinding dan takut kala melihatnya.


"Udah yuk, cari nasi goreng!" ajak Dita.


Anan mengangguk lalu membawa wanita itu menuju ke depan rumah sakit. Setelah memesan dua nasi goreng mereka menyantapnya. Keduanya bertemu dengan seorang bapak-bapak yang sedang beristirahat sambil merokok. Pria itu duduk di samping Anan. Dita terbatuk karena asap rokok tersebut.


"Pak, tolong matiin rokoknya!" pinta Anan.


"Oh, maaf ya, saya enggak tau kalau istrinya alergi asap rokok," ucapnya lalu mematikan puntung rokok itu.


Penasaran dengan rumah sakit tersebut, Anan pun mulai berbincang dengan bapak-bapak tersebut.


Bapak tersebut belum begitu tua, kira-kira usianya masih 40 tahun-an, Ia bernama Samsul yang memakai pakaian seragam rumah sakit.


Ternyata ia bertugas sebagai petugas kamar mayat yang suka memandikan jenazah. Hari itu ia kebagian tugas untuk piket malam dan berjaga untuk menangani jenazah yang datang. Saat sedang bersama Anan, ia sedang mendapat jatah istirahat.


“Di tempat ini emang seram buat yang enggak biasa. Semua korban jenazah yang ditemukan di kota ini, hampir semuanya dibawa ke rumah sakit ini baik untuk dibersihkan atau diotopsi,” tuturnya menjelaskan pada Anan dan Dita.


Seolah-olah ia ingin membicarakan betapa hebatnya dia sebagai penjaga kamar jenazah dan terlihat menyukai raut wajah ketakutan Dita saat diceritakan sesuatu yang seram itu.


Anan menjawab basa-basi seraya menyantap jadi gorengnya. Tentunya pernyataan Pak Samsul bukanlah sebuah hal yang aneh dan dapat diterima oleh nalar. Pasalnya rumah sakit ini merupakan rumah sakit bergengsi yang sangat besar dan menjadi andalan di kota tersebut. Lebih lanjut pria itupun menceritakan pengalaman mistisnya kepada Anan dan Dita.


"Mau denger cerita seram saya, enggak?" tanya Samsul.


"Cerita aja, Pak!"


"Anan, serem tau," bisik Dita.


"Enggak apa, ada aku."


Anan menepuk dadanya bangga. Pria di sampingnya itu pun melanjutkan ceritanya. Dia mengaku pernah didatangi oleh seorang remaja perempuan yang cantik saat bertugas di malam hari. Kala itu ia sedang beristirahat dan tiba-tiba dihampiri oleh remaja tersebut. Remaja tersebut menitipkan saudaranya yang akan datang ke rumah sakit itu kepadanya kala itu.


“Tau enggak mereka pada bilang apa ke saya?" tanya Samsul.


Anan dan Dita menggelengkan kepala bersamaan.


"Oh iya belum saya kasih tau, gini mereka bilang ke saya, 'Pak nanti saya titip sodara saya supaya pas datang nanti didandanin tetap cantik', katanya gitu."


"Terus, Pak?" tanya Anan.


"Ya saya bilang, iya aja ke dia. Kebetulan hanya saya petugas jenazah yang bertugas pada malam itu. Saya pun menyanggupi permintaan remaja itu sebelum dia pergi meninggalkan rumah sakit. Terus tau enggak?"


"Enggak."


Dita dan Anan kompak menyahut bersamaan sambil menggelengkan kepalanya.


"Oh iya, belum saya kasih tau, gini terusnya selang beberapa menit kemudian, terdengar tuh suara ambulans datang uwiuwiuwiuwi..."


Samsul menirukan suara ambulans seraya tangannya terbuka dan menutup.


"Lanjut, Pak, enggak penting ambulans itu," sanggah Anan.


"Hmmm... biar dramatis tau! Itu mobil jenazah bawa mayat—"


"Iyalah bawa mayat masa bawa sembako!" sahut Anan memotong pembicaraan pak Samsul.


"Anan, enggak sopan, dengerin dulu!" bisik Dita.


"Hehehe... lanjut, Pak!" seru Anan.


"Nih ya, terus saya bersiap untuk beraksi di kamar jenazah untuk segera memandikan mayat korban kecelakaan tersebut supaya bersih, tapi..."


"Tapi apa, Pak?"


Anan dan Dita yang makin penasaran jadi bertanya bersamaan.


"Tunggu ya, saya mau beli wedang jahe dulu," ucap pria itu.


Dia bangkit berdiri menuju gerobak tukang wedang jahe yang baru saja melintas.


"Ah dasar!" seru Anan sampai menggebrak meja dengan telapak tangannya.


"Bikin kepo ya si bapaknya," ucap Dita.


Tak lama kemudian pria bernama Samsul itu kembali duduk di tempatnya semula.


"Nungguin, ya?" tanyanya seraya menunjuk Anan dan Dita sembari melayangkan senyum meringis.


*****


To be continue…


Jangan lupa kepoin "DERING"


Novel baru aku di Noveltoon ya...


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni