Anta's Diary

Anta's Diary
Mencari Anta (Part 3)



Jangan lupa bayar cerita ini dengan cara kumpulin poin buat VOTE ya ke Anta. terima kasih...


*******


“Kak Arya, kaki Raja kok berasa


berat, ya?” ucap Raja yang menarik lengan Arya agar menghentikan langkahnya


sejenak.


“Kenapa lagi, sih?” tanya Arya


menoleh pada Raja dengan tatapan kesal.


“Kaki aku berat, ini ada apanya,”


ucap Raja.


Arya menelisik ke tubuh bagian


bawah anak itu.


“Ja, i-itu, itu…”


Sosok wajah perempuan muncul dengan wajah mendongak menatap Raja. Wajah perempuan itu tampak pucat dan menatap dengan senyum menyeringai.


"Ini pasti hantu ya, Kak?" tanya Raja.


"Ho oh, serem, Ja."


Arya mengangguk mengiyakan dengan tangan kanan menutup wajahnya. Pemuda itu tak berani melihat sosok hantu yang menahan kaki milik Raja.


Kedua kaki anak itu masih tertahan oleh tangan hantu perempuan tersebut saat Raja berusaha ingin lepas. Bahkan saking kesalnya anak laki-laki itu menendang wajah hantu perempuan tersebut saat berusaha melepasnya.


Bug!


"Tuh, aku bilang apa, lepasin, kan ketendang gitu sama aku, maaf ya, Kak," ucap Raja.


Setelah kakinya dilepas, ia coba melangkah lagi menghampiri Arya dan ingin bergegas mencari Anta kembali. Tapi, lagi-lagi kaki anak itu ditahan.


"Ih, aku bilang lepas, nanti aku enggak bisa jalan, Kak," ucap Raja.


Anak itu segera menyadari sesuatu yang menyeramkan saat ia menoleh melihat wajah hantu perempuan itu. Gadis itu hanya memiliki separuh badan. Setengah bagian tubuhnya yang bawah seperti terpotong oleh sesuatu.


"Astagfirullah, enggak ada kakinya!" pekik Raja yang langsung melingkarkan lengannya pada tangan Arya.


"Gue bilang apa, serem tau," ucap Arya.


"Kembalikan kakiku," pinta hantu itu.


"Lha, kaki yang mana, emang kakinya Kakak ke mana?" tanya Arya menunjuk hantu perempuan itu.


"Kembalikan kakiku...."


Hantu perempuan itu merangkak dengan kedua tangannya menghampiri Arya dan Raja. Wajah dengan senyum menyeringai itu makin terlihat menyeramkan. Rambut hitam panjangnya terurai sampai terlihat menyapu jalan.


"Kabur, Ja, ayo kita kabur aja!" ajak Arya.


"Kalau es krim, mau enggak?" tanya Raja pada hantu perempuan itu yang menghentikan gerakannya.


"Kembalikan kakiku...."


Hantu perempuan itu kembali merangkak mendekati Raja dan Arya.


"Ja, dia maunya kaki, bukan es krim!" seru Arya yang menarik lengan Raja.


"Ya kali, Kak, kan tadi hantu-hantu di sini mintanya es krim," ucap Raja.


Kedua laki-laki itu kembali berlari menghindari hantu perempuan setengah badan itu. Hantu perempuan itu masih mengejar. Tapi, Raja tak hilang akal. Ia gulingkan tong sampah di hadapannya sampai menabrak hantu tersebut.


Hantu itu terpeleset kulit pisang yang menjadi salah satu sampah dalam tong yang berceceran itu. Rambut hantu itu menutupi wajahnya dan membuatnya berguling.


"Hahaha... sukurin!" seru Raja.


"Wah, parah elo, hantu elo kerjain gitu, nanti kalau dia makin marah, gimana?" tanya Arya.


"Ya, jangan sampai ketemu lagi, ayo buruan kabur!" Raja berlari makin kencang menghindari hantu setengah badan itu.


***


Sementara itu, Tasya dan hantu Sherly berkeliling ke area yang berbeda untuk mencari Anta. Mereka juga berseru meneriaki nama gadis itu. Lalu, terdengar suara tawa cekikikan yang membuat bulu kuduk merinding.


Tasya langsung mendekat dan menempel pada hantu Sherly. Ia melingkarkan tangannya di lengan hantu itu seraya mengawasi dari mana asalnya suara tawa cekikikan tersebut.


"Ada yang ketawa tuh, pasti hantu," gumam Tasya.


"Tapi, bukankah aku juga hantu?" tanya Sherly menunjuk dirinya sendiri.


"Hadeh, sampai lupa kalau dari tadi aku juga jalan sama hantu," ucap Tasya buru-buru melepas tangannya dari lengan hantu perempuan di sampingnya itu.


Lalu kemudian, sosok wanita berdaster lusuh melayang terbang kesana kemari di atas kepala Tasya mengejutkan wanita itu.


"Apaan tuh, kampret apa codot tapi kok pake daster, ya?" gumam Tasya yang kembali merapatkan kembali tubuhnya ke hantu Sherly.


"Sherly, jangan nengok sini, belatungnya pada jatuh, tuh!" pinta Tasya memperingatkan Sherly dan mendorong pipi hantu itu pelan agar tak menoleh kepadanya.


Di hadapan Tasya dan Sherly kemudian, muncul kuntilanak bernama Nunik. Ia baru saja ke luar dari gedung yang akan digunakan untuk wahana rumah hantu itu dan terbang menakuti.


"Wah, kamu kan hantu yang di pohon besar itu kenapa ke sini, dan sama siapa ini?" tanya Nunik.


"Ini, ada manusia lagi nyari keponakannya seorang gadis yang belum ke luar dari wahana," jawab sherly.


Tasya memberanikan diri akhirnya menoleh pada Nunik setelah mengamati sedari tadi.


"Ha-halo, selamat malam, kamu lihat keponakan saya, wajahnya seperti ini?" tanya Tasya memperlihatkan layar ponselnya.


"Oh, anak ini... Dia lagi tidur di dalam, tadi katanya ada kakak kelas dia yang kunciin dia di dalam sini," ucap Nunik.


"Aaahhh, sukurlah kalau Anta enggak kenapa-napa," ucap Tasya.


"Mari, saya antar ke gadis itu!" ajak Nunik yang langsung masuk menembus pintu diikuti hantu Sherly.


Brug!


Tasya lupa kalau dia seorang manusia sehingga tak bisa ikut menembus pintu seperti yang duo hantu itu lakukan.


"Astagfirullah, kepalaku sakit banget...!" pekik Tasya mengusap dahinya sendiri yang barusan menabrak daun pintu wahana rumah hantu tersebut.


"Oh iya, dia manusia enggak bisa tembus hahahaha..." sahut Sherly menertawai Tasya.


"Awas kalian ya, nanti aku panggilin orang pinter buat ruqyah ini tempat lho, buat usir kalian sampai kepanasan," ancam Tasya.


"Yah, jangan dong, kan tadi aku cuma bercanda, Tante," ucap Sherly.


"Tante, Tante, emangnya aku Tante kamu, apa? Panggil Kakak aja, aku kan masih muda," sahut Tasya kesal.


"Ya udah, tunggu sini dulu, aku akan bangunkan Anta, ya," ucap Nunik.


"Ah, benar juga, coba kalian cari bantuan buat buka pintu ini, aku akan tetap bangunin Anta," ucap Nunik dengan langkah menuju ke alam.


Tasya mondar-mandir dan berpikir dengan keras bagaimana caranya membuka pintu tersebut. Tenaganya pasti tak akan kuat jika harus mendobrak paksa. Lalu, ia teringat dengan sosok Arya dan Raja. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi ponsel Raja di sakunya.


Akhirnya setelah mengikuti arah jalan dari Tasya melalui ponsel, sosok Arya dan Raja sampai juga ke area wahana rumah hantu tersebut. Arya berusaha membuka pintu dengan paksa tapi tenaganya juga tak kuat. Ia mencoba mengintip dari celah kaca jendela dan langsung terkejut kala mendapati sosok wajah seorang gadis di kaca jendela itu.


"Aaarrgghhh!" teriak Arya.


Anta yang sudah tersadar karena dibangunkan itu mengintip dari jendela dan menempelkannya ke kaca jendela. Sosok itulah yang dilihat Arya dan membuatnya ketakutan.


"Wooahhh, keren si Arya sampai ketakutan lihat Anta, hihihi," ucap gadis itu lirih.


"Haishhh, cumi albino ngagetin gue aja, nih!" keluh Arya yang menepuk kaca jendela ruangan tersebut.


"Buka dari dalam!" seru Tasya pada Anta.


Gadis itu mengangkat kedua bahunya.


"Enggak ada kunci dan enggak tau gimana bukanya," ucap Anta berteriak dari dalam.


"Ya udah, dobrak lagi bareng Raja!" perintah Tasya.


"Wah, Tante enggak lihat badannya Raja begeng gitu, gimana aku mau minta bantuan dobrak coba," protes Arya.


"Ya, terus... gimana cara buka pintunya, Arya?" Tasya mengetuk kepala Arya dengan gemas.


"Minta bantuan satpam atau siapapun gitu buat datang ke sini bantu bukain pintu," ucap Arya.


"Bentar, Anta mau manggil bantuan," ucap Anta dari dalam sana.


Ia menggoyangkan gelang gemerincing di tangannya memanggil sosok pocong Arya.


"Woi, gue udah ada di sini, siapa yang mau elo panggil?" hardik Arya.


"Oh iya, Anta lupa, terus ini gunannya apa, buat manggil siapa?" tanya Anta dengan nada suara berseru.


"Hai, Anta!"


Tiba-tiba sosok Dion datang di belakang Anta mengejutkan gadis itu.


"Whoaa, kenapa jadi Dion yang datang?" seru Anta.


"Gue juga enggak tau kenapa bisa datang sampe sini, mungkin jodoh kali kita ditemuin terus," ucap Dion yang tiba-tiba berkata manis pada Anta.


"Uwuuuu, manis banget sih, mana cakep banget mukanya mirip bias aku, tapi kok kembar sama di depan itu?" tanya Nunik seraya menunjuk Arya yang berada dalam tubuh Dion.


"Oh itu emang gue, dia aja yang masuk situ enggak jelas emang, mana enggak bisa ke luar lagi," jawab Dion.


Seekor kecoa terbang dan hinggap di rambut Anta sampai membuat gadis itu menjerit. Dion buru-buru meraih kecoa tersebut dan menghempaskannya ke lantai. Pemuda itu mengusap rambut Anta dan membersihkannya dari sentuhan kecoa tadi.


"Aaahhh... so sweet banget kayak adegan drama aja, ih...!" pekik Nunik dengan nada gemas.


Melihat sosok Dion hadir di belakang Anta dan mengusap rambut gadis itu malah membuat Arya semakin geram dengan kedua tangan mengepal.


"Aku bawa balok, nih," ucap Raja.


Anak itu membawa potongan balok kayu untuk membantu mendorong pintu itu saat didobrak.


"Minggir, Ja, gue kuat, kok!"


Arya langsung ambil ancang-ancang dan mengumpulkan kekuatannya saat mendobrak daun pintu tersebut.


Brak!


Arya jatuh tersungkur ke lantai saat pintu itu berhasil terbuka. Semua mata terperanjat dengan hasil kerja Arya. Bibir mereka sampai menganga melihat kekuatan tak terduga milik anak muda itu.


"Gila, Arya kesurupan apa gimana itu tiba-tiba kuat dobrak pintu sendirian?"


Tasya masih tak percaya dengan penglihatannya.


"Cumi albino, sini, bantuin gue berdiri!" seru Arya menunjuk ke arah Anta.


Anta langsung menghampiri Arya dan membantunya berdiri.


"Arya, elo lagi pake badan gue, kenapa jadi memar gitu!" pekik Dion memarahi Arya.


Siku kanan tubuh Dion yang didiami Arya itu terlihat memar dan berdarah.


"Udah sih, yang penting enggak mati ini," jawab Arya.


"Hebat juga tenaga kamu," puji Anta yang masih menatap takjub Arya.


"Iya dong, gue gitu loh!" sahut Arya dengan nada sombong.


"Eh, kalau dipikir-pikir yang kuat itu gue, kan si Arya lagi ada di dalam badan gue, berarti yang punya fisik kuat, ya gue, dong!" sahut Dion yang langsung berpindah di antara Arya dan Anta.


"Tetap aja, badan elo ini sinkron sama otak gue, jadi yang kuat itu ya gue, sama otak gue juga pinter," jawab Arya sambil mendorong bahu Dion.


"Jelas-jelas itu badan gue!" jawab Dion mendorong bahu Arya gantian.


Anta hanya menggelengkan kepalanya dan menghampiri Tasya meninggalkan Arya dan Dion yang masih bersiteru dan saling mendorong itu.


"Pulang aja, yuk, Anta ngantuk, hoammm...."


Gadis itu merentangkan kedua tangannya ke atas, ia kembali menoleh ke belakang dan mendapati sosok Arya sudah menjepit kepala Dion di ketiaknya.


"Itu, enggak mau dipisahkan, Nta?" tanya Tasya.


"Biarin aja, Tante, tuh orang berdua lagi kangen-kangenan," ucap Anta meraih lengan Tasya dan mengajaknya pulang.


Raja, hantu sherly, dan hantu Nunik masih menyimak dengan saksama.


"Aku pilih Kak Arya yang menang, ya," ucap Raja.


"Aku yang ganteng itu," tunjuk Sherly.


"Dua-duanya ganteng, kan mukanya sama," sahut Nunik.


"Oh, iya iya," ucap Sherly mengangguk-anggukan kepalanya.


*******


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”


biar nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni


Dan mampir juga ke novelku lainnya.