
Hai semua, sebelum membaca, bayar
tulisanku dengan poin kalian, pokoknya jangan lupa VOTE…!
Di Like juga ya setiap Bab-nya!
Terima kasih…
******
Anta keluar dari toilet dan
dihadang oleh Dion yang menghalangi gadis itu dengan tangannya menempel di
dinding.
“Heh, anak baru, elo enggak takut
masuk sana?” tanya Dion.
“Enggak,” jawab Anta tegas.
“Elo enggak ketemu hantu apa denger
ada yang nangis, gitu?” tanya Dion lagi.
“Enggak.”
“Di situ serem, lho, katanya ada
hantu, ada pocong, ih serem,” ucap Doni mencoba menakuti Anta.
“Gini ya, eh maksudnya iyakah, ada
hantu, hiyyy merinding Anta tuh dengernya,” ucap Anta yang memilih berpura-pura
ketakutan mendengar pernyataan Dion barusan.
“Udahlah, Dion, jangan digangguin,”
ucap Jojo.
“Siapa yang ganggu, gue kan cuma
nanya doang sama dia,” sahut Dion.
“Kak, ibu kamu udah meninggal, ya?”
tanya Anta.
“Kok tau? Nah, pasti mau ngerayu
gue, nih!”
“Mana ada orang ngerayu bawa-bawa
meninggal? Kan harusnya gini, Ibu kamu tukang gado-gado, ya? nanti jawab, kok
tau? Iya, karena kamu telah mengulek-ulek hatiku, eyaaaa….” Ucap Jojo.
Anta dan Dion melirik tajam ke
arahnya yang masih terpingkal-pingkal sendiri itu.
“Garing, luh!” seru Dion
Ia menoleh lagi ke Anta.
“Kenapa memangnya kalau nyokap gue
udah meninggal?” tanya Dion.
“Soalnya dia selalu ada di sisi
Kakak terus, mungkin minta didoain,” sahut Anta lalu menepis tangan Dion. dan
berlari menuju gerbang.
“Itu anak ngerayu gue apa gimana
sih, pakai bilang nyokap gue selalu ada di sisi gue terus, kocak tuh cewek,”
gumam Dion.
***
“Kita ke restoran The Anan’s dulu,
ya,” ucap Tasya seraya melajukan mobilnya menuju restoran milik Andri dan Doni.
“Ini milkshake satu lagi buat
siapa?” tanya Anta.
“Buat Arya.”
“Terus Arya mana?” tanya Mey.
“Mana Anta tau,” ucap gadis itu
seraya mengangkat kedua bahunya.
“Kan kamu bisa panggil—“
“Tante emang ada masalah apa kita
di ajak ke restoran?” tanya Anta berusaha memotong pembicaraan Tasya. Ia tak
mau jika Mey tau kalau gelang ditangannya itu bisa memanggil Arya karena
sebelumnya Mey belum menyadari itu.
“Katanya Andri dia butuh pasukan,”
jawab Tasya.
“Pasukan? Emang kita mau diajak perang?” celetuk Raja.
“Bukan, maksudnya pasukan buat
bantu-bantu soalnya hari minggu nanti kita bakal melayani tamu undagan lima
ratus orang.”
“Tamu undangan?” tanya Anta.
“Iya, tamu undangan pernikahan Pak
Herdi sama Hyena.”
“Apa, uhuk uhuk?” Anta sampai
tersedak dengan minuman susu stroberi di tangannya.
“Biasa kali, Nta,” cicit Tasya.
“Emangnya Tante enggak sedih gitu
lihat Pak Herdi nikah?”
“Kok, nanyanya begitu, emangnya aku
siapanya Pak Herdi?”
Tasya mencoba tersenyum meski getir
terasa. Anta tau kalau senyum di wajah wanita yang ia sayang itu tak tulus dari
hati. Mereka lalu saling diam dan tak melanjutkan pembicaraan lagi.
Sesampainya di restoran, Andri
langsung menceritakan secara detail mengenai pembagian tugas. Anta dan Mey akan berada di meja makanan
cemilan seperti dimsum dan eskrim. Sementara Raja akan berada di meja es buah
untuk menyiapkan gelas bagi para tamu.
Tasya akan membantu Andri di bagian
pengecekan makanan catering bersama Dewi. Biar bagaimanapun uang yang
ditawarkan oleh Hyena cukup menggiurkan sehingga Andri mengambil tawaran ini.
“Aku udah siapin seragam apron buat
kalian, jadi kalian hanya pakai kemeja putih dan rok hitam,” ucap Andri,
“Aku juga pakai rok?” tanya Raja
menunjuk dirinya sendiri.
menawarkan.
“Enggaklah, enak aja emangnya aku
cowok apaan, masa cowok paling ganteng di sekolah pakai rok, huh!” keluh Raja
yang langsung disambut gelak tawa dari semuanya.
***
Arya berusaha memohon pada Silla
agar dapat dilatih untuk mengendalikan benda-benda yang ingin dia sentuh. Bahkan
dia juga memohon bersama Pocong Uli agar dilatih bersama agar bisa terbang di
sekolah hantu. Akhirnya, hantu perempuan itu membawa Arya ke sekolah hantu.
Tak aneh lagi bagi Silla, benar
saja menurut pendapatnya sosok Arya akan menjadi idola di sana. Penampilan
kostum pocong yang berbeda ditambah wajah tampan dan kulit mulus bak perosotan
tanpa luka, makin membuatnya terlihat menonjol di sekolah hantu.
Awalnya, Arya sangat ketakutan saat
sampai di sana. Ia menarik tangan Silla agar dibawa pulang kembali dan pergi
secepatnya dari sana. Namun, kepala sekolah Nyonya Uwo yang sangat mengagumi
Arya akhirnya membuat perintah agar para hantu lainnya menampakan diri sebagai
wujud saat mennjadi manusia. Nanti perlahan-lahan Arya harus belajar tahan berhadapan
dengan hantu seram lainnya.
“Gue baru tau kalau hantu ada
sekolahnya kayak gini,” ucap Arya. Ia bersama Uli sedang duduk di pinggir
beranda lantai lima gedung sekolah Raja yang baru dibuat itu.
“Ya, gitu deh, gue juga baru tau
dari Silla. Tadinya mah gue pikir gue mau tenang aja selesai gentayangan dan
makam gue dipindahin ke tempat layak dari tempat pembakaran sampah. Tapi, pas
gue tau tempat ini ya udah gue mau sekolah buat jadi hantu gentayangan yang
nakutin para pelajar yang suka pacaran berlebihan alias mesum di bawah pohon
atau kebun kosong,” jawab Uli menjelaskan.
“Emang ada yang kayak gitu?” tanya
Arya.
“Banyak, Ya. Tuh. Lihat si hantu
kepala buntung perutnya terbuka groak macam gitu banyak belatung!” tunjuk Uli.
“Idih serem,” sahut Arya.
“Nah, serem kan? Tapi, masih ada
aja manusia yang berpasangan terus enggak takut berbuat yang tidak-tidak di
dalam bilik bambu reyot, kotor, padahal udah ditakutin.”
“Kok, bisa?”
“Yah, mungkin nanggung kali hahaha…”
“Nanggung?”
“Heh, Uli! Ini bocah masih polos
jangan elo jadiin dia mesum kayak elo!”Silla datang langsung menoyor kepala Uli
sampai kafan pocong itu merosot menutupi wajahnya.
“Eh, bebep Silla udah datang aja,
bukannya tadi sibuk sama Bu Kepsek?” tanya Uli.
“Iya, aku disuruh jadi guru di
sini, tapi enggah ah, aku mau nemenin Anta aja, mau jagain rumah dia aja,
lagian ribet kalau jadi guru di sini,” ucapnya.
“kenapa ribet, Tante?” tanya Arya.
“Ribet lah, semua hantu baru pasti
datangnya ke aku enggak mau ke guru lain, kan aku jadi capek, ribet!”
“Iyalah, kan bebep Silla paling
cantik, makanya para hantu baru betah kalau belajar sama bebep Silla,” sahut
Uli yang mendekatkan diri ke samping Silla.
“Ngomong babap bebep sekali lagi,
habis kau sama aku!” Silla mendorong Uli sampai jatuh ke lantai bawah.
“Bebep Sila, kamu jahat!” seru Uli
dari bawah ia masuk ke dalam semak-semak belukar.
“Waduh tuh pocong nyusruk!” seru
Arya.
“Eh, gimana belajarnya?”
“Gue udah bisa sentuh barang, besok
mau belajar menampakkan diri depan manusia,” jawab Arya.
“Jangan, aku saranin jangan, hantu
yang keliatan sama manusia itu bakal sial tau!”
“Tapi kan kalau mau nakuti manusia
emang harus menampakkan diri,” sahut Arya.
“Nah, habis gitu kena sial, deh.”
“Contohnya?”
“Ya sial aja, banyak contohnya, apa
kamu masuk septic tank, apa disiram air got, dikencingin jaing. Banyak sial
lainnya.”
“Tapi, kalau dilihat Anta sama
Tante Tasya sama orang-orang yang bisa lihat kita gimana?” tanya Arya.
“Itu beda lagi, mereka punya
kemampuan untuk lihat kita. Pulang, yuk!” ajak Silla.
“Itu, Om Uli gimana?”
“Biarin aja entar juga nyampe balik
ke rumah hahaha.…”
*******
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN” biar
nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni
Dan mampir juga ke novelku lainnya.