
Happy Reading...
*****
Anan, Anta dan Arya lalu mendongak ke atas pohon mangga. Pocong berwajah hitam dengan kedua mata merah itu meringis memperlihatkan giginya yang penuh darah.
"Turun luh!" seru Anan.
Pocong itu kembali meringis.
"Eh, dia ngeledek lagi," seru Anan.
"Udah kamu aja, Nan, yang ambil mangga, punggung aku sakit," keluh Herdi.
"Tapi, Bunda Tasya kan maunya Ayah yang metik, gimana dong?" tanya Arya.
"Telepon Bunda kamu, sini Ayah mau ngomong!" pinta Herdi.
Arya langsung menghubungi Tasya. Tombol loud speaker sudah iya tekan. Ia menyodorkan ponsel miliknya ke sang ayah.
"Bunda... Aku jatuh dari pohon huhuhu..." Herdi mengadu sambil menangis.
"Lho, kok bisa?" pekik Tasya.
"Aku dikagetin sama pocong tuh!"
"Pocong di mana?"
"Di atas pohon mangga!"
"Lha, terus mangganya dapet nggak?" tanya Tasya.
"Ya ampun Tasya, masih aja nanyain mangga, ini bokong aku sakit nih. Mangganya beli aja ya, please..." pinta Herdi.
"Enggak mau! Aku maunya mangga di pohon itu, lagian siapa juga nyuruh kamu naik!"
"Lha, katanya kamu suruh aku yang manjat sendiri, ini malah marah-marah?"
"Kan ada Arya suruh dia yang baik!" pinta Tasya.
"Lho, Bunda kok jadi aku yang naik?" sahut Arya.
"Arya anak baik, mau ya naik ke pohon mangga demi Bunda, please...." pinta Tasya.
Arya menoleh pada Anta yang menganggukkan kepala mengiyakan.
"Ya udah aku naik!"
Arya menyerahkan ponselnya pada sang ayah.
"Anta, doakan aku ya!" ucap Arya.
"Siap. Mbak pocong, turun dong!" seru Anta.
Pocong itu menggeleng.
"Ya udah ambilin gue mangga itu!" seru Arya.
Pocong itu kembali menggeleng.
"Ya enggak bisa Arya, kan dia ke iket tuh tangannya!" sahut Anta.
"Oh iya ya, ya udah aku naik dulu."
"Om tungguin di bawah sini," sahut Anan.
Akhirnya, Arya bisa memanjat dan mengambil mangga tersebut.
"Geseran, Mbak Pocong, lagian demen banget nangkring di sini!" seru Arya.
"Arya, buruan turun malah ngobrol sama pocong!" seru Anan.
"Iya, Om."
Arya segera meraih mangga tersebut lalu bergantian dengan Anan.
***
Malam itu, Anta tengah mencari-cari sesuatu yang bisa dimakan dari dalam kulkas. Tiba-tiba, gorden yang berada di sampingnya bergerak sendiri. Hal yang sama pun terjadi pada gorden kaca di ruang tamu. Sesaat kemudian, aroma busuk menyeruak yang entah dari mana sumbernya.
Lantaran penasaran, ia memberanikan diri membuka gorden yang berada di sampingnya. Sesaat kemudian, ia dibuat terkejut aka penampakan pocong di kaca jendela. Wajahnya hitam dan kosong. Tak ada mata, hidung, atau mulut. Itu membuatnya benar-benar merinding.
"Kamu, pocong yang tadi ya? Kok, mukanya rata sih?" tanya Anta.
Pocong itu hanya diam saja. Anta yang cuek kembali ke kamarnya. Teror kembali berlanjut. Bahkan, di dalam kamar, ia melihat pocong dengan lebih jelas. Tentu penampakannya lebih mengerikan. Badannya lebih besar dengan tengkorak tanpa bola mata. Bahkan, sosok tersebut mengeluarkan suara mengeram yang menambah kesan mengerikan.
"Duh, kamu siapa lagi sih tau-tau nongol?" tanya Anta.
"Ngapain sih? Kamu mau minta tolong? Anta enggak buka praktek lagi, males!" seru Anta.
Sesaat kemudian, Dita yang haus datang menegur Anta.
"Kami ngapain, Nta?"
"Ini ada pocong nakuti Anta," sahutnya.
"Astagfirullah, amit amit jabang bayi, serem banget!" Dita tak mau menoleh.
Suara gaduh terdengar layaknya benda-benda kaca yang jatuh ke lantai dan pecah, disusul suara gemuruh. Tak berselang lama, Dita mencoba membangunkan Anan. Setelah Anan bangun, ia berusaha mengusir pocong itu.
"Pocongnya melayang di atas televisi, satunya lagi di depan pintu kamar tuh," ucap Anta.
Kendati demikian, teror pocong tersebut belum berhenti. Pocong tersebut terus menakuti dan berpindah tempat. Ia mengincar keberadaan Anta. Tak sekadar mengikuti, hantu pocong tersebut bahkan sempat meludahi punggung Anta.
Hal itu langsung membuat Anta marah dan menjambak ikatan pocong tersebut. Dita yang masih bergidik ketakutan mencoba menjauh. Raja bangun karena kegaduhan tersebut. Entah kenapa hanya mereka yang bangun, penghuni lainnya tidak.
Pocong itu malah terlihat makin marah. Ia menyeruduk layaknya seekor banteng. Anta berusaha menghindari.
"Ini kenapa ngincer Anta terus, sih?" pekik Anta.
"Bunda jadi inget, katanya kalau ada pocong marah itu tandanya bahwa pocong ini enggak murni datang sendiri alias dikendalikan seseorang. Karena sejatinya mereka itu sebenarnya takut juga buat menampakkan diri," ucap Dita.
"Heh, ngaku luh siapa, siapa yang nyuruh elu gangguin anak gue, hah?"
Anan berusaha menarik pocong seram tersebut dan memiting kepala pocong itu. Malam itu, mereka benar-benar kacau menghadapi pocong sampai dini hari. Sampai Dita akhirnya memberanikan diri mengeluarkan kekuatan Ratu Kencana Ungu.
Sementara itu, Hantu Sadako memanggil Raja dari luar. Anak itu menghampiri sang hantu kemudian.
"Coba liat di genteng kamu!" serunya.
"Emang ada apaan, Tante?" tanya Raja.
"Ada ibu-ibu datang ke sini barusan terus buang sesuatu ke loteng itu!" ucap Sadako.
"Hah, lempar sesuatu ke loteng rumah? Coba Aku bilang sama Yanda, makasih ya infonya."
Raja buru-buru memberitahukan kepada Anan dan dan lainnya.
"Tahan dia, Anta! Yanda sama Raja mau ke loteng."
Anan dan Raja kemudian naik ke atas genting untuk mencari sesuatu yang mencurigakan. Benar saja, di sana mereka menemukan dua bungkusan kain kafan berukuran kecil. Bentuknya lonjong. Saat dibuka, isinya terdiri dari tulang berukuran kecil-kecil tak beraturan yang dicampur tanah kuburan. Aroma tanah kuburan itu sangat terasa.
"Bener nih ada yang kirim pocong ini," ucap Anan memperlihatkan bungkusan tadi.
"Wah, kamu mau nyantet anak saya?" tanya Dita makin mengencangkan ikatannya dari tenaga dalam pada pocong itu.
"Saya dikirim ke sini buat nyantet yang punya rumah, gadis ini orangnya," jawab pocong itu.
"Lho, kenapa harus anak saya?" tanya Dita.
"Dia yang bernama Mella telah merebut suami dari majikan saya," sahutnya.
"Serius luh, Mbak?"
"Iya, dia merebut suaminya yang kirim saya, makanya saya datang tengah malam mau aku gangguin dia!" sahut pocong itu.
"Eh, apa kamu bilang, namanya Mella? Lha, anak saya ini namanya Anta! Salah orang kamu!" seru Dita.
"Tapi, majikan saya kirim saya ke sini," tuturnya.
"Eh, Anta, Mella itu bukannya yang perempuan seksi di rumah hijau tadi?" tanya Anan.
"Kayaknya iya deh," sahut Anta.
"Berarti yang bodoh majikan dia, salah alamat kirim ke sini, kata Tante Sadako tadi kan ada ibu ibu yang lempar benda ini," ucap Raja.
"Hadeh... untung Anta kuat mental, coba kalau yang kamu datangi dan salah alamat itu perempuan biasa, bisa mati dia ketakutan," sahut Anta.
"Lalu, bagaimana dengan pekerjaan saya, saya jan profesional harus tuntas kerjanya?" tanya pocong itu.
"Heh, segala kerjaan pocong nyantet pake profesional, huh! Udah sana pulang! Atau elu mau gue taro di botol kayak jin botol?" tanya Anan.
"Enggak, Pak, maaf ya salah alamat, saya pamit dulu, selamat malam semuanya," ucap pocong itu lalu melompat ke luar rumah dan menghilang.
"Ada pocong pamit gitu padahal tadi datangnya mendadak sama nakutin, huh...!" cibir Anta.
*****
To be continue...
Jangan lupa update Noveltoon biar bisa kasih vote sama hadiah ya. Ayo dong, mana votenya.🥰🥰🥰
Selamat menjalankan ibadah puasa.